Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kau Harus Bertahan!!


__ADS_3

"LUIS, KELUARKAN AKU DARI SINI!! BR*NGSEK, KAU TIDAK BISA MENGURUNGKU DI TEMPAT TERKUTUK INI. LUIS, AKU TIDAK GILA, AKU TIDAK GILA!!"


Tidak hanya membuat kedua kaki dan tangan Anna lumpuh. Luis juga memasukkan wanita itu ke rumah sakit j!wa. Menurut Luis, itu adalah satu-satunya tempat yang paling tepat untuk wanita tidak waras seperti Anna.


Bagus Luis hanya melumpuhkan kaki dan tangannya, tidak sampai membuatnya buta, tuli dan bisu. Karena dengan keadaannya sekarang Anna tidak akan bisa macam-macam lagi.


"LUIS QIN!! LEPASKAN AKU, BR*NGSEK!!"


Anna terus saja berteriak meminta agar dia dilepaskan, tapi tak ada respon sedikit pun dari semua orang yang ada di sana. Para perawat dan dokter mengabaikannya, persis seperti yang Luis perintahkan. Hanya ketika waktunya makan dia dilayani, karena Anna tidak bisa makan sendiri.


Sementara itu...


Luis yang baru saja tiba di rumah sakit di beri tahu oleh Kris jika keadaan Jesslyn sedang kritis. Dia kehilangan banyak darah.


Luis duduk termenung di depan ruang operasi, pandangannya kosong. 'Jangan ambil dia, Tuhan. Aku kumohon jangan ambil dia, jangan ambil Jesslyn.' Batinnya.


Laki-laki itu mengusap kasar permukaan wajahnya, matanya yang melihat kebawah memandang bajunya yang merah karena darah Jesslyn ketika menahan tubuhnya tadi.


Ia baru sadar jika gadis itu berdarah sangat banyaknya, pikiran negatif kembali menghampiri otaknya, bagaimana jika ia tidak selamat? bagaimana jika Jesslyn tidak bisa bertahan? bagaimana jika akhirnya gadis itu pergi dari dunia ini untuk selamanya. Apakah Luis bisa memaafkan dirinya sendiri?


"Jesslyn kau adalah gadis yang kuat, kau harus bertahan," Gumamnya, kepalanya menggeleng mengenyahkan pikiran yang tadi hinggap di otak cerdasnya.


"Tuan."


Luis mendongakkan kepalanya, Kris datang membawakan pakaian ganti untuknya. Karena pakaian yang Luis pakai berlumur darah.


"Sebaiknya ganti dulu pakaian Anda, Tuan." Ucap Kris, tangannya terulur membawakan baju ganti untuk tuannya ini. Kris menunggu dengan sabar Luis yang hanya memandang kosong kearah bajunya.


"Kau tunggu disini." Ucap Luis setelah ia menerima pakaiannya dan berdiri, pemuda itu lalu berjalan menjauhi Kris yang masih berdiri memandang punggung Luis yang semakin menjauh.


'Samoga semuanya baik-baik saja. Nyonya, saya mohon bertahanlah.'

__ADS_1


.


.


Luis berdiri ketika lampu ruang operasi yang tadinya menyala kini mati, seorang dokter yang menangani operasi Jesslyn keluar dengan wajah lelahnya, seakan mengerti maksud Luis. Dokter paruh baya itu tersenyum tipis.


"Operasinya berhasil."


Luis menghela nafas leganya, penantiannya selama 3 jam berbuah manis. Saat menunggu tadi, dirinya menyuruh Kris untuk meninggalkannya sendiri, meskipun sangat berat, akhirnya Kris pun meninggalkan majikannya tersebut seperti yang Luis inginkan.


"Tapi, keadaannya masih lemah. Nyonya Jesslyn masih harus ditempatkan diruang ICU karena kondisinya belum stabil—" Dokter itu memandang serius wajah Luis, "Jika dia bisa melewati malam ini, berarti dia sudah melewati masa kritisnya."


"Apa aku boleh melihatnya?"


Dokter itu tampak berpikir sejenak. "Anda bisa melihatnya dibalik kaca ruang ICU—" Tangannya menepuk pelan pundak Luis, "Saya harap Anda mengerti."


Dengan berat, kepala bersurai blonde itu mengangguk. Lalu seorang perawat mengantar Luis sampai depan ruang ICU. Setelah pamit, perawat itu berlalu dari hadapan Luis yang memandang seseorang dibalik kaca sana dengan pandangan yang sulit diartikan.


Isri kontraknya, yang di dalam itu adalah gadis bodoh yang rela membahayakan nyawanya demi dirinya. "Jangan pergi, Jesslyn. Aku mohon jangan pergi,"


-


-


Sedikit meringis saat ia melihat lagi-lagi alat medis itu melekat ditubuh gadis bodoh ini. Ini kedua kalinya bagi Luis menemani seseorang di rumah sakit, dulu ketika ibunya terluka parah, dan dia merasa Dejavu.


Perlahan laki-laki itu berdiri dan membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah sang gadis yang masih tertidur, bibir tipis itu mencium lembut kening pucat sang gadis cukup lama.


Pemuda itu kembali pada posisi semula, duduk di kursi sebelah ranjang Jesslyn sambil menggenggam erat tangannya. Rasa bersalah kembali memenuhi rongga kosong di dada Luis, dan dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpanya.


"Bangunlah pemalas, ini sudah pagi. Kau dengar? bahkan burung diluar mengejekmu karena belum bangun, gadis bodoh cepat bangun."

__ADS_1


Luis tahu, sangat tahu bahwa gadis itu takkan merespon apapun yang diucapkannya, tapi ia yakin jika Jesslyn bisa mendengarkannya saat ini. "Bangunlah, Jess." Gumam pemuda itu lirih sambil mengeratkan genggamannya pada tangan mungil itu.


Jesslyn telah berhasil melewati masa kritisnya semalam, membuat Luis yang kacau balau dengan perasaan takut bisa menghela nafas lega.


Kondisi Jesslyn yang sudah mulai stabil membuatnya dipindahkan dari ruang ICU keruang rawat inap, sehingga Luis bisa berada disampingnya, pria itu merasa cukup tersiksa semalaman hanya bisa memandang gadis itu dari kaca.


"Dasar iblis, kenapa kau tidak bisa membiarkanku tenang sebentar saja. Aku hanya merasa lelah, tapi kenapa kau terus menyuruhku untuk bangun?"


Mata Luis yang sebelumnya tertutup rapat seketika terbuka. Dia terkejut sekaligus senang melihat Jesslyn yang akhirnya membuka kembali matanya setalah tertutup selama satu malam penuh.


"Jesslyn, kau sudah sadar. Aku akan memanggil dokter." Jesslyn hanya mengangguk memberi jawaban.


Mata itu memandang sekitarnya, sedikit meringis ketika dirasa perutnya berdenyut. Masih belum kembali sadar seratus persen, membuat Jesslyn terdiam dan berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sebenarnya terjadi padanya sebelum ia berakhir ditempat ini.


Gadis itu mendengus berat. Dia mengingatnya, jika bukan karena Anna. Mungkin dia tidak akan berkahir di tempat ini. Dan Jesslyn beruntung dia tidak mati karena kenekatannya itu.


Jika dipikir-pikir, kenapa dia rela membahayakan nyawanya demi Luis? Sementara diantara mereka tidak ada sesuatu yang spesial, mereka memang terikat oleh sesuatu, yakni terikat oleh pernikahan kontrak.


Tapi Jesslyn tidak bisa hanya diam ketika melihat bahaya mengintai Luis tepat di depannya. Tubuhnya bergerak sendiri dan menahan pisau yang seharusnya ditunjukkan pada Luis.


Cklekk...


Perhatian Jesslyn teralihkan. Luis kembali dengan dokter yang kemudian memeriksanya. Dokter mengatakan jika keadaan Jesslyn sudah baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dicemaskan. Mendengar hal itu Luis merasa lega.


Selepas kepergian dokter itu. Di ruang inap hanya menyisakan Luis dan Jesslyn berdua saja. Luis menatap gadis itu dengan serius, tatapannya dingin dan sedikit menusuk. Dan itu membuat Jesslyn tidak nyaman.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tatapanmu terlalu mengerikan," gadis itu bergumam.


"Kenapa kau harus mengatakan nyawamu demi aku, Jess?!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2