
Glukk...
Susah payah Amanda menelan salivanya saat melihat Luis yang baru selesai berolahraga. Peluh tampak membahasi sekujur tubuhnya, membuat kaos tanpa lengan yang dia pakai basah dan melekat pas di tubuhnya. Membuat pesonanya kian terpancar.
Amanda menghampiri Luis sambil membawa handuk dan minuman dingin. Dia berencana memberikannya pada Luis. Namun senggolan pada bahunya membuat langkah wanita itu terhenti.
Jesslyn menoleh dan menyeringai padanya. Wanita itu melewatinya begitu saja dan itu membuat Amanda kesal setengah mati. "Ini, aku bawakan handuk kering dan minuman untukmu." Jesslyn menyerahkan handuk dan air mineral itu pada Luis.
Kecupan sayang Luis hadiahkan untuk sang istri. Jesslyn sengaja memegang lengan terbuka Luis yang basah oleh keringat untuk memanas-manasi Amanda. "Terimakasih, Sayang. Kau memang Istri yang terbaik."
Jesslyn tersenyum. "Mandilah dulu, setelah ini kita ganti perban di pelipismu. Seharusnya kau tidak bandel dan setuju untuk pergi ke rumah sakit, pasti lukanya sudah kering dari dua hari yang lalu."
"Bukankah seperti ini jauh lebih baik. Jadi kau lebih sering menyentuhku," Luis menyeringai.
Jesslyn menangkup wajah Luis lalu mengecup singkat bibirnya. Jesslyn sengaja melakukannya, dia benar-benar puas melihat wajah kesal dan marah Amanda. Seorang perawat ingin bersaing dengannya, dia bermimpi terlalu tinggi.
"Jangan banyak mengatakan omong kosong, ayo masuk." Luis mengangguk.
Pasangan itu melewati Amanda begitu saja. Bahkan Luis tak melirik sedikit pun padanya. Dia bersikap dingin dan acuh, dan itu membuat Amanda kesal setengah mati. Amanda membuang minuman dan handuk yang dia bawa lalu pergi begitu saja.
Sebelum Jesslyn datang. Dia sudah kesulitan mendekati Luis, dan setelah wanita itu kembali, itu malah membuatnya lebih sulit lagi. Dia benar-benar tidak memiliki kesempatan sama sekali, tapi Amanda tidak akan menyerah dan dia akan tetap maju untuk mendapatkan hati dan cinta Luis.
"Amanda, ini baru awal. Kau harus lebih berusaha lagi. Luis adalah takdirmu, dia diciptakan untuk menjadi jodohmu, berusaha!!" Amanda menyelamati dirinya sendiri.
"Dasar tukang menghayal. Sampai kapan kau akan terus bermimpi disiang bolong?! Apa kau ingin sampai tuan mendepakmu dari sini baru sadar diri!! Dasar wanita menggelikan!!"
"Panda sialan, kenapa kau selalu saja membuatku kesal dan naik darah?! Berhenti mencampuri urusanku, urus saja urusanmu sendiri!!" Amanda menyenggol bahu Tao dan pergi begitu saja.
Tao mengangkat bahunya acuh. Dia tidak peduli dengan apa yang Amanda katakan tadi, wanita itu terlalu banyak berharap dan itu sangatlah menggelikan dan memuakkan.
-
__ADS_1
-
Nathan masih merasa asing dengan rumah barunya. Tempat ini 10X lebih besar dari kediaman lamanya. Selain banyak pria berpakaian rapi yang berjaga di luar, banyak juga pelayan yang berseliweran mengerjakan tugasnya masing-masing.
Dia tau jika Ayahnya adalah orang yang sangat kaya, tapi Nathan tidak pernah menduga jika kekayaan ayahnya lebih melimpah dari yang ia bayangkan.
"Tuan Muda, Anda mau kemana?" Perhatian Nathan teralihkan oleh teguran seorang wanita. Mia berdiri dibelakangnya sambil memegang sebuah nampan yang berisi segelas susu hangat.
"Aku hanya ingin jalan-jalan dan menghapal bagian-bagian dari Mansion ini." Jawabnya datar.
"Akan saya temani. Ini susu untuk, Tuan Muda. Nyonya yang meminta saya untuk menyiapkannya. Setelah Tuan datang, sebaiknya Tuan Muda sarapan dulu setelah itu baru jalan-jalan mengelilingi Mansion ini. Saya akan menunjukkan setiap bagian dari rumah ini." Ujar Mia.
Nathan mengangguk. "Baiklah,"
-
-
Sudah 8 tahun lebih Bram menjadi penghuni tempat tidur. Makan, mandi, buang air besar/kecil di tempat tidur. Sungguh Bram menyesali apa yang terjadi dalam hidupnya, semua rencananya untuk menguasai seluruh harta keluarga Qin gagal total.
"Amanda, aku lapar, suami aku dan letakkan ponselmu!!"
"Cih, siapa kau berani memerintahkan?! Jika lapar, ya tinggal makan saja, apa sulitnya. Kau punya tangan bukan, jadi makan sendiri. Diam dan jangan menggangguku!!"
"BANGSAT!! WANITA TAK TAU DIUNTUNG, KAU DIPEKERJAKAN DISINI UNTUK MERAWATKU, TAPI KENAPA KAU TIDAK PERNAH BEKERJA DENGAN BAIK!!" teriak Bram emosi.
Byurrr ..
Amanda menyiram muka Bram dengan segelas air putih. "Siapa kau, berani sekali berteriak dan menyebutku bangsat?! Apa kau sudah bosan hidup?! Kau mau mati?!" Ucap Amanda tak kalah emosi.
Amanda hanya bersikap baik pada Bram ketika ada orang lain saja, jika tidak, ya beginilah sikapnya. Menyebalkan dan suka semena-mena.
__ADS_1
Mengabaikan Bram, Amanda kembali sibuk dengan ponselnya. Dia tidak mau ambil pusing dengan pria tak berguna seperti Bram. Sebaiknya dia memikirkan cara untuk menaklukan Luis.
-
-
Jesslyn membuka perban yang masih setia melekat di pelipis suaminya. Ini sudah hari ke 6, tapi lukanya masih belum kering sepenuhnya dan terlihat basah. Seharusnya luka di pelipis Luis dijahit, tapi dia menolak untuk dipanggilkan dokter apalagi dibawa ke rumah sakit.
Hati-hati Jesslyn membersihkan keringat disekitar lukanya. Untuk sementara dia membaurkan luka itu terbuka dan tidak menutupnya. Supaya terkena angin. "Kenapa tidak kau tutup lagi?" Tanya Luis karena Jesslyn membiarkan lukanya tetap terbuka.
"Nanti saja, biarkan terkena angin supaya lukanya cepat mengering." Jawab wanita itu seraya bangkit dari duduknya.
"Tapi ini membuatku tidak nyaman, Jess. Sebaiknya tutup saja, terserah mau berapa lama sembuhnya. Itu tidak masalah bagiku, terlalu lama dibuka hanya akan membuat bakteri masuk dan menghambat kesembuhan lukanya." Ujar Luis.
Jesslyn menatap suaminya itu lalu mengangguk. "Baiklah," ia kembali duduk lalu menempelkan perban pada lukanya dan merekatkannya dengan plester.
"Sudah selesai, pakai kemejamu dan jangan sampai orang lain menjerit melihatmu hanya memakai singlet saja." Ucap Jesslyn seraya bangkit dari duduknya. Tapi tarikan pada lengannya membuat langkah wanita itu terhenti.
Tubuh Jesslyn tertarik dan jatuh dipangkuan Luis. Dia menyeringai. "Tapi setelah aku mendapatkan sarapan pembukaku!!" Ucapnya lalu mengecup bibir Jesslyn. Wanita itu reflek menutup matanya ketika bibir Luis mulai menyapu dan memagut permukaan bibirnya.
Kedua tangan Jesslyn memeluk leher suaminya, dia begitu menikmati sentuhan bibir Luis pada bibirnya. Ketika pria itu memagut dan mel*matnya, sensasi basah dan lembut membuat Jesslyn candu. Dia ingin terus merasakannya setiap detik menitnya.
Namun ciuman itu tak lebih dari 30 detik. Luis mengakhiri ciumannya karena tidak ingin membuat ayah mertuanya sampai lama menunggu. Pasti semua orang sudah sekumpul dimeja makan.
"Ambilkan kemejaku." Pinta Luis, Jesslyn mengangguk.
Wanita itu tampak menimbang dan memilih kemeja mana yang akan Luis pakai pagi ini, dan pilihannya jatuh pada kemeja hitam lengan panjang. Dia mengambil kemeja itu lalu memberikannya pada Luis.
"Aku tunggu dibawa," ucap Jesslyn dan pergi begitu saja. Sedangkan Luis masih di kamar untuk merapikan penampilannya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.