
"Nathan!!"
Vivian memekik keras saat dia keluar dari Mansion mewahnya dan mendapati seorang pemuda berpenampilan serampangan berdiri tepat dihadapannya. Tanpa mengatakan apapun pemuda itu langsung menerjang tubuh Vivian dan memeluknya.
"Kenapa kau bisa ada disini? Kenapa kau tidak mengabariku dulu jika ingin datang?"
"Aku merindukanmu, Vivian. Sejak kau pergi hari itu. Aku merasa sangat kesepian, dan ternyata aku tidak bisa tanpamu."
"Nathan, apa yang kau katakan?"
"Vivian, aku menyukaimu. Bukan, tapi aku mencintaimu."
"Hah!!"
"Aku mencintaimu, Vivian."
Kemudian Nathan menarik tengkuk Vivian dan mencium bibirnya dengan brutal. Nathan terus memagut dan mel*mat bibir ranum tipis itu. Membuat si empunya bibir menjadi sangat kewalahan. Tapi dia juga tidak bisa menolaknya, ciuman Nathan benar-benar memabukkan.
Vivian mendorong Nathan bermaksud untuk merubah posisi mereka. Tapi yang terjadi malah... "Aaahhh," gadis itu terjatuh dari tempat tidur dengan tidak elitnya. Lalu Vivian menyapukan pandangannya, dia berada di kamar megahnya. Tidak ada siapa-siapa di sana, apalagi Nathan.
Gadis itu memukul kepalanya sendiri. Ternyata itu hanya mimpi. "Sial, kenapa aku malah memimpikan rusa kutub itu?! Mimpinya mengerikan lagi, tapi dalam mimpi itu bibirnya terasa manis." Vivian terkekeh. Dia merasa geli sendiri membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
"Vivian, apa yang sedang kau lakukan di lantai? Apa semalam kau tidur dibawa sana?" Seorang wanita paruh baya masuk dan terkejut mendapati gadis itu duduk dilantai.
"Mama," seru Vivian lalu bangkit dari posisinya itu. "Aku bermimpi aneh, dan tiba-tiba aku terjatuh dari tempat tidur. Ma, pinggangku sakit." Rengek Vivian sambil memegangi pinggangnya.
"Dasar kau ini, kenapa mimpi saja bisa sampai jatuh?! Sudah cepat mandi, papamu sudah menunggu dibawah,"
"Huft, baiklah. Oya, Ma. Apa Kakak sudah pergi?"
"Ya, Kakakmu kembali ke Paris pagi-pagi sekali. Dia bilang pekerjaannya tidak bisa ditunda lagi. Setelah bercerai dari bajingan itu, Kakakmu seolah menemukan kembali hidupnya yang pernah hilang."
"Itu semua karena Papa. Jika saja papa tidak ngotot menjodohkan dia dengan bajingan itu, pasti hidup Kakak akan lebih baik lagi. Papa terlalu baik jadi orang, makanya mudah terhasut."
__ADS_1
"Jangan ngoceh lagi, cepat sana mandi."
"Iya, iya, aku mandi."
Nyonya Rossa menghela napas dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya. Meskipun Vivian bukanlah putri kandungnya, tapi dia begitu mencintai dan menyayanginya. Dan begitupun sebaliknya, dan dari Nyonya Rossa-lah Vivian bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia dapatkan sejak kecil.
Saat ini Vivian sedang berada di London. Dia sangat merindukan orang tuanya makanya memutuskan untuk kembali ke sana dan mengunjungi mereka. Sudah hampir satu Minggu dia di sana, dan rencananya Vivian akan kembali lusa malam.
-
Melamun dan termenung. Adalah hal yang Nathan lakukan setelah Vivian kembali ke London. Sudah satu Minggu gadis itu pergi, dan Nathan merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kehadiran Vivian disisinya.
Tidak ada yang spesial pada hubungan mereka. Vivian dan Nathan hanya berteman baik, mereka memang saling menyayangi tapi rasa sayang itu tak lebih dari sayang seorang teman.
"Hyung," Nathan yang baru saja turun dari motor besarnya lekas menoleh pada sumber suara. Terlihat Dio yang melambaikan tangan padanya.
"Nathan, apa kau sudah dengar, kampus kita kedatangan mahasiswi baru pindahan dari luar negeri. Dan dia sangat cantik," ucap Arya begitu antusias.
"Lalu?" Nathan memicingkan matanya.
Deggg...
Nathan sedikit terkejut saat mendengar ciri-ciri yang disebut oleh Arya. Dan pikirannya terarah ke satu orang 'Karina' mantan kekasihnya. Mengabaikan mereka bertiga, Nathan pun bergegas pergi. Dia harus memastikannya, itu benar-benar Karina atau bukan.
Dan setibanya di kelas, ternyata benar. Mahasiswi baru itu adalah Karina, mantan kekasihnya. Dan yang menjadi pertanyaaan Nathan, kenapa gadis itu bisa ada disini. Nathan menghampiri Karina yang sedang berbincang dengan teman sekelasnya.
"Karina, ikut aku." Seru Nathan lalu membawa Karina meninggalkan kelas.
Dan semua yang ada di sana sangat terkejut. Ternyata Nathan mengenal mahasiswi baru yang tengah digandrungi oleh para pemuda itu. Gio tampak marah dan kesal, pasalnya Karina yang telah mencuri perhatiannya malah dibawa pergi oleh Nathan.
"Nathan, kenapa kau menarikku? Dan kau mau membawaku kemana?"
Mereka menaiki tangga menuju atap gedung. Nathan tetap tak melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Karina meskipun gadis itu memintanya. Kemudian Nathan membuka pintu yang menjadi penghubung tangga dan atap gedung.
__ADS_1
Dan disini mereka sekarang. Nathan baru melepaskan genggamannya setelah mereka tiba. "Kau kenapa? Kenapa kasar sekali padaku?! Apa kau kesal dan cemburu melihatku berbincang dengan pria lain?"
"Sedang apa kau disini?"
"Pertanyaan macam apa itu? Seharusnya kau langsung memelukku seraya bertanya 'Karin, kapan kau datang?! Aku sangat merindukanmu,' bukannya malah bertanya hal menyebalkan seperti itu. Nathan, aku kesini untukmu. Aku datang karena sangat merindukanmu." Ucap Karina dan langsung memeluk pemuda itu.
Bukannya membalas pelukan mantan kekasihnya itu. Nathan malah melepaskannya dengan paksa. "Ingat, Karin. Hubungan kita sudah berakhir, dan kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi mulai sekarang kita jalani hidup masing-masing. Karena kita hanya orang asing!!"
"Apa?! Tidak mau, aku tidak setuju untuk putus denganmu. Aku mencintaimu, Nathan. Bukankah kau juga mencintaiku, jadi ayo kita kembali lagi seperti dulu." Karina kembali memeluk Nathan dengan erat.
Nathan melepas pelukan Karina. "Aku tidak bisa. Cari saja orang lain yang bisa mencintai dan menyayangimu melebihi perasaanku padamu dulu, aku pergi." Nathan beranjak dari hadapan Karina dan pergi begitu saja.
"NATHAN!! TAPI AKU MASIH MENCINTAIMU!!"
-
Nyonya Bella menghampiri Vano yang sedang duduk termenung di ruang keluarga. Dia tampak kacau. Vano sangat menyesali perpisahannya dengan Silvia, bukan karena dia merasa bersalah dan kehilangan, tapi karena ia berada diambang kehancuran.
Ayah Silvia mencabut semua investasi yang ditanam di perusahaan milik keluarganya, beberapa investor pun turut menarik kembali sahamnya. Jika hal itu terus berlanjut dan tak ada jalan keluar, sudah bisa dipastikan perusahaannya akan bangkrut.
"Daripada kau hanya diam diri seperti orang bodoh. Sebaiknya kejar kembali Vivian, bukankah gadis itu sangat mencintaimu. Jadi mana mungkin Vivian bisa menolakmu!!"
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Ma. Vivian sudah terlanjur membenciku. Dia bahkan ikut memecahkan telor ku. Jadi mana mungkin dia mau kembali padaku. Lagipula Papanya tidak akan setuju jika aku dan dia sampai kembali lagi. Apalagi Silvia, dia pasti akan menggantungku hidup-hidup."
"Gampang saja, culik gadis itu dan minta supaya papanya kembali berinvestasi di perusahaan kita. Jika dia menolak, ancam kau akan membunuh putrinya!!"
Vano menyeringai. "Rencana yang sangat brilian, Ma. Baiklah, aku akan segera menjalankan rencana itu. Kenapa aku tidak terpikir dari kemarin-kemarin saja,"
"Itu karena kau bodoh dan berotak udang!!"
"Ck, apa bedanya dengan Mama yang bisanya cuma ngomel dan menyalahkan saja. Kita 11-12, Ma."
"Vano, dasar kau anak kurang ajar!!"
__ADS_1
-
Bersambung.