
Jordan mengembangkan senyumnya melihat wajah polos gadis yang saat ini telah resmi menjadi kekasihnya.
Di sibakkan helaian coklat yang menutupi sebagian wajah cantiknya, lalu mengarahkan bibirnya pada kening sang gadis. Di kecupnya lama kening itu, hingga sang empunya menggeliat merasakan ada benda lunak dan basah menempel di keningnya. Kelopak itu perlahan terbuka, menampilkan sepasang emerald indah miliknya.
Wajah Jordan lah yang pertama tertangkap oleh sepasang mutiara Hazel miliknya "Pagi Baby." Sapa Jordan yang langsung mencium bibir Luna. "Morning kiss." Bisiknya dan langsung membuat rona merah di wajah Luna.
"Ge, jangan membuatku malu." Ucapnya tersipu. Luna menunduk dalam posisi berbaringnya.
Jordan terkekeh. "Lihatlah wajahmu yang seperti kepiting rebus itu. Kau sangat menggemaskan, Luna." ucapnya.
Luna merenggut kesal dan menatap Jordan dengan sebal. "Apa yang kau tertawakan? Memangnya ada yang lucu?" ucapnya setengah menggerutu. Dia sebal ditertawakan oleh Jordan.
Jordan menggeleng. "Tidak ada." Jawabnya Singkat. Kemudian Jordan menjauhkan tubuhnya dari atas tubuh Luna. "Mandilah, setelah ini kita sarapan bersama. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita, dan bekal untuk makan siang nanti." Setelah mengacak gemas rambut coklat itu, Jordan bangkit dan melenggang begitu saja.
Luna tidak dapat menyembunyikan senyum bahagia nya. Rasanya seperti mimpi dengan status baru yang Ia sandang sejak bulan lalu, bukan lagi gadis jomblo. Ia telah berstatus sebagai kekasih Jordan Tang. Pemuda dingin dengan wajah stoic tapi digilai banyak wanita. Jordan bagaikan reinkarnasi Adonis dengan pahatan sempurna tanpa celah.
.
.
"Apa itu?"
Jordan menghentikan langkahnya saat melihat benda mencurigakan yang ada di sisi meja ruang tengah kediamannya. Dia mengambil benda itu dan ternyata itu adalah sebuah lensa kamera. Jordan menggenggam kuat benda kecil itu dan menggeram marah.
"Ohh, shitt." dia mengumpat.
Jordan langsung memasukkan benda itu kedalam kopi pahit miliknya yang masih tinggal setengah. Lalu dia melangkahkan kakinya menyusuri setiap jengkal dari kediaman mewah miliknya, Jordan yakin tidak hanya ada 1 benda semacam itu. Pasti masih ada lagi dan dia harus segera menemukannya.
Setelah berkeliling hampir 10 menit, akhirnya semua kamera itu dapat Jordan temukan. Ada sekitar 5 kamera di letakkan di tempat yang berbeda, menggenggam kuat-kuat kamera itu sambil menggeramkan satu nama.
"DAVID TANG!!"
Sungguh, Jordan tidak memperkirakan jika kakaknya itu akan bertindak sejauh ini, Ia tidak tau apa sebenarnya tujuan kakaknya itu. Dengan emosi yang telah sampai ubun-ubun, Jordan mengeluarkan benda tipis dari saku celana bahan miliknya. Mencari kontak nama David.Dia harus segara membuat perhitungan dengannya.
Panggilan Jordan tersambung, tak lama kemudian terdengar sahutan dari seberang sana.
"Adikku tercinta, tumben sekali kau menghubungi Kakak? Pasti rindu, ya?"
"David, kau sudah bosan hidup ya?" Suara Jordan dingin penuh intimidasi, mata hitamnya semakin kelam karna memendam kemarahan.
__ADS_1
"Apa maksudmu, huh? kakak benar-benar tidak mengerti? Apa kau sedang ada masalah?"
"Kamera-kamera itu. Pasti ulahmu kan?" tebak Jordan 100% benar.
"Ka..Kamera apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Kali ini kau ku ampuni, lihat saja saat kau datang kemari. Aku tidak akan melepaskan mu." Jordan melontarkan sebuah ancaman pada David
Jordan memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia melihat sekilas benda-benda kecil di genggamannya, kemudian membanting kamera itu kelantai hingga hancur berkeping-keping, di waktu bersamaan Luna datang dan sedikit terkejut saat melihat Jordan sedang marah besar.
"Ge, ada apa." Tanya Luna. Dia memandang takut Jordan yang di selimuti aura hitam. Gadis cantik itu menggigit bibir bawahnya saat manik kelam milik Jordan menatapnya tajam. "Ke-kenapa menatapku seperti itu?" Buru-buru Luna menundukkan wajahnya.
Jordan mendesah panjang, di raihnya tangan Luna dan menuntunnya kemeja makan. "Kita sarapan sekarang." Ucapnya dingin. Tidak ada penolakan, Luna berjalan bersebelahan dengan pria itu.
Luna tidak tau apa yang terjadi dan membuat Jordan sampai semarah itu, yang Ia tau saat tiba di ruang tamu. Dia menemukan Jordan yang tengah di kuasai emosi, ada serpihan-serpihan benda yang berceceran di lantai yang dia yakini hancur karena di banting oleh Jordan. Luna tidak ingin bertanya lebih jauh lagi dan membuat Jordan semakin terbakar emosi.
.
.
Jordan melajukan mobil sportnya dengan kecepatan sedang, di sampingnya duduk sosok jelita berhelaian coklat. Suasana di dalam mobil Jordan begitu sunyi, mereka tidak bicara sama sekali.
Sedari tadi Luna hanya menatap keluar jendela, pikirannya melayang. Dalam hatinya terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sang kekasih, hingga membuat dia menjadi sangat marah.
Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju kampus, tiba-tiba Jordan menghentikan mobilnya di tengah perjalanan karena lampu jalan berubah warna ke merah. Luna masih menatap keluar jendela, dia memilih tetap diam. Walaupun diam bukanlah bagian dari sikapnya yang aktif dan ceria.
Lampu merah telah berganti hijau, Jordan mengemudikan kembali mobilnya menuju tempat yang dituju. Suasana di dalam mobil masih tetap hening. Tidak ada obrolan diantara mereka berdua, membuat Luna merasa tidak nyaman dengan suasana sekarang.
Luna mengalihkan pandangannya, dan menatap Jordan. Pria itu masih diam dengan raut wajah yang sama. Luna mendesah panjang, Ia sangat benci suasana semacam ini. Dan dia telah memutuskan.
"Tepi kan mobilnya." pinta Luna tiba-tiba.
Lantas Jordan menoleh, dan kembali fokus pada jalanan di depannya. "Kenapa?" Tanya Jordan tanpa menoleh, pandangannya tetap fokus ke jalanan.
"Aku ingin naik kendaraan umum saja," Jawabnya datar.
Jordan mengerutkan dahinya. "Kau tidak suka berangkat bersamaku?" Tanyanya datar, Luna menggeleng. "Lantas." Lanjutnya.
Jordan menepikan mobilnya, kedua tangannya masih berpengan pada stir mobilnya namun pandangannya terkunci pada manik Hazel Luna yang diliputi kekesalan. "Katakan, kenapa kau ingin agar aku menurunkan mu di sini? Dan apa alasanmu ingin naik kendaraan umum, jika bukan karena tidak suka datang bersamaku.?"
__ADS_1
Tatapan Jordan begitu tajam dan dingin dari sebelumnya, aura di sekelilingnya begitu menyeramkan. Luna menghela napas. "Aku tidak tahan dengan suasana seperti ini. Sedari tadi kau terus mendiami ku. Kau bersikap seolah-olah aku tidak ada. Memangnya siapa yang bisa tahan diacuhkan?!"
"Pagi ini kau bersikap sangat tidak biasa, Jordan Tang. Padahal saat kau membangunkan ku semua masih baik-baik saja, tapi saat aku turun dan menghampirimu untuk sarapan bersama. Wajahmu merah padam, seperti menahan amarah. Aku juga melihat kedua tanganmu yang terkepal kuat, aku tidak tau apa yang sebabnya terjadi hingga membuatmu bisa terbakar emosi. Sikap diam mu sungguh membuatku tidak nyaman." Ujar Luna panjang lebar.
Jordan mendengus kasar, seharusnya Ia bisa lebih sedikit peka dan tidak memperlakukan Luna sedingin ini. Baru semalam Ia berjanji akan selalu memperlakukannya dengan baik. Tapi pagi ini dia malah membuatnya tidak nyaman. Jordan sungguh kekasih yang payah.
Jordan menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan "Maaf Luna, sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitimu dengan sikapku, aku sadar jika aku adalah kekasih yang buruk. Tapi kemarahanku bukan tanpa alasan, setelah dari kamarmu. Tanpa sengaja aku menemukan kamera terpasang di sisi kanan meja ruang tengah yang berhimpitan dengan tembok. Setelah aku telusuri, ada 5 kamera yang di pasang dengan sengaja di apartemenku." Tuturnya menjelaskan.
"Apa?" Ia terkejut, bukan karena penjelasan Jordan yang membahas soal kamera.
Tetapi Luna terkejut karena Jordan berbicara panjang kali lebar tanpa jeda, bahkan suaranya jauh lebih lembut, dan ini pertama kalinya, sungguh rekor yang bagus untukmu Jordan Tang. Dan memang hanya di depan Luna saja bisa dia bisa bersikap berbeda.
"Aku rasa kakakmu juga terlibat dalam masalah ini, karena itu perbuatan , David. Aku sendiri tidak tau apa motifnya, tapi yang jelas aku tidak bisa memaafkan mereka. Dan aku akan menyiapkan sedikit kejutan untuk si bodoh itu jika dia datang lagi ke rumah."
Luna terdiam dan mencoba mencerna ucapan Jordan. 'Jika CCTV itu terpasang di sana? Artinya? Semalam? Mereka----.??'
Deggg .. !!
Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam kepalanya. Luna berharap agar bumi menelannya, betapa malunya dia jika David menyaksikan hot kiss nya bersama Jordan. Bukankah itu sangat mengerikan? Luna menggeleng, Ia tidak ingin memikirkan hal memalukan itu lagi. Seperti yang di lakukan Jordan, Ia pun tidak akan memaafkan kakaknya jika memang mereka terlibat.
"Luna,"
Panggilan dan sentuhan lembut di wajahnya menyadarkan Luna dari lamunan panjangnya. Dia sedikit terlonjak mendapati jaraknya dan Jordan begitu dekat, saking dekatnya hingga Luna dapat merasakan hembusan nafas Jordan menerpa wajahnya, sampai akhirnya bibir mereka bertemu.
Awalnya kedua bibir itu hanya saling menempel dengan kecupan-kecupan ringan. Namun bibir manis Luna terlalu menggoda untuk tidak di nikmati terlalu jauh, Jordan melumatt bibir atas dan bawah Luna secara bergantian.
Puas dengan lumattan bibir mungil itu, di jillatinya belahan bibir Luna yang tertutup rapat. Luna yang mengerti keinginan Jordan pun membuka bibirnya, tentu kesempatan itu tidak akan di sia-siakan oleh olehnya. Lidahnya mengabsen setiap inci di dalam mulut Luna yang hangat dan basah.
Luna tidak dapat menahan desahhannya saat lidah nakal Jordan sesekali menggelitik liar langit-langit mulutnya. Sensasi geli yang Luna rasakan membuat tubuhnya bergetar. Tangan Luna meremas lengan kekar Jordan yang tertutup lengan kemejanya.
Tangan besar Jordan menekan tengkuk Luna untuk semakin memperdalam ciumannya, lidah mereka saling menyambut dan sesekali dia menghisap lidah gadisnya.
Meskipun ini bukan ciuman pertamanya dengan Jordan, tapi Luna masih sedikit kaku. Maklum saja, karena Luna memang tidak berpengalaman. Melihat Luna yang kewalahan membuat Jordan terkekeh di tengah-tengah ciumannya, wajahnya memerah karena mulai kehabisan nafasnya. Jordan menghentikan ciuman itu, menempelkan keningnya pada kening Luna.
"Maaf." Ucap Jordan penuh sesal.
"Aku akan memaafkan mu, tapi malam ini kau harus mentraktirku makan malam di restoran bintang lima. Anggap saja itu sebagai hukuman dariku karena kau berani mendiami ku dan membuat ku tidak nyaman." Tukas Luna.
Jordan mengangkat bahunya. "Bukan masalah," jawabnya lalu melajukan kembali mobil mewahnya.
__ADS_1
xxx
Bersambung