
Dobrakan keras pada pintu mengejutkan Anna. Wanita itu menoleh pada sumber suara dan mendapati seorang gadis muda masuk ke rumah sambil uring-uringan tidak jelas. Seorang wanita tua keluar dari dapur dan menghampiri Anna.
"Ada apa dengan Marissa, An? Kenapa dia pulang sambil uring-uringan?" Tanya wanita itu penasaran.
"Mana aku tau, kalau penasaran tanya saja sendiri padanya." Jawabnya ketus.
"Dia adalah putrimu, Anna. Kenapa sedikit saja kau tidak pernah bisa bersikap baik padanya. Bukan salah Marissa, tapi salah para bajingan itu yang sudah menggilirmu secara bergantian."
"Dia bukan putriku!! Tapi Iblis, aku menyesal sudah mengandung dan melahirkan anak iblis seperti dia!! Dan sampai kapanpun, aku tidak akan mengakuinya, apalagi menganggap dia sebagai putriku!!"
"Hatimu benar-benar terbuat dari batu, Anna. Ibu sungguh kecewa memiliki putri sepertimu. Seharusnya sebagai seorang ibu bisa lebih berperasaan, apalagi Marissa adalah putri kandungmu sendiri."
"Terserah!!"
Brakkk ..
Anna dan ibunya terlonjak kaget karena bantingan pada pintu. Marissa keluar dari kamarnya sambil menenteng tas besar.
"Kau pikir aku mau memiliki ibu cacat dan tidak berguna sepertimu?! Aku juga malu terlahir dari rahim wanita tidak berguna dan miskin sepertimu!! Dan sampai kapanpun, aku tidak akan mengakuimu sebagai Ibuku!!" Teriak Marissa di depan muka Anna.
Ya, Marissa adalah putri Anna. Saat berada di rumah sakit jiwa, Anna selalu digilir oleh para perawat setiap malamnya hingga dia hamil. Bukan hanya sekali dua kali, apalagi satu dua orang saja. Tak ada yang bisa Anna lakukan, selain pasrah dan menangis. Berteriak pun percuma, karena tidak ada yang mendengarkannya.
Dan tidak sampai disitu, setelah dia ditemukan oleh ayah dan ibunya. Anna menjadi pelampiasan hasrat para pemuda desa tempat orang tuanya tinggal. Setiap malam bergonta-ganti pemuda yang mendatangi kamarnya dan menunggangi Anna.
Marissa adalah anak yang terlahir dari hasil persilangan beberapa pria. Tidak tau siapa ayah biologisnya, karena yang menidurinya bukan hanya satu dua orang saja.
"Marissa, kau mau pergi kemana, Nak?" Wanita tua itu menahan Marissa ketika dia hendak meninggalkan rumah.
"Lebih baik aku jadi pel*cur diluar sana daripada harus hidup susah dan tinggal di gubuk jelek seperti ini!! Sebaiknya Nenek jangan menahanku apalagi melarang ku pergi!!"
"Marissa, jangan pergi Nak. Marissa, Marissa!!"
Marissa tak menghiraukan teriakan neneknya meskipun sebenarnya dia mendengarnya. Dia sudah bosan hidup susah dan miskin, dan Marissa akan merubah hidupnya dengan menjadi simpanan om-om berdompet tebal.
__ADS_1
-
-
Seorang gadis bertubuh mungil melangkahkan kakinya ke suatu tempat. Padahal malam ini bukan satnight, tapi banyak pasangan yang sedang kencan disini. Ya, menikmati indahnya sungai Han saat malam hari sangat indah terlebih bersama orang yang kita cintai
Gadis ini duduk di tepi sungai, tepat dibawah pohon ek yang hanya satu-satunya di tepi sungai ini. Gadis itu menyandarkan dirinya pada pohon sambil sesekali mengelus kulit pohon yang kasar itu.
Memorinya berputar, kejadian demi kejadian berputar silih berganti bak film yang sedang diputar di kepalanya. Gadis itu menghela napas panjang. Tidak seharusnya dia mengingat sesuatu yang telah lama berlalu.
Semilir angin dingin semakin bertiup kencang hingga menusuk tulang, namun gadis cantik ini enggan beranjak. Meskipun pakaian yang dia pakai sangat kontras dengan udara dan cuaca malam ini.
"Apa kau sudah tidak waras, duduk disini dengan pakaian setipis itu?!" Tegur seseorang yang duduk dibalik pohon tempatnya bersandar.
"Omo!! Bagaimana pohon bisa bicara, dan kenapa suaranya mirip sekali dengan rusa kutub itu?! Jangan-jangan aku sedang berhalusinasi dan mulai tidak waras," ujar gadis itu entah pada siapa.
"Ck, memangnya sejak kapan benda mati bisa bicara?!" Dan seorang pemuda keluar dari balik pohon tersebut. "Sedang apa kau disini?!"
"Nathan?!" Alih-alih menjawab, gadis itu yang pastinya adalah Vivian malah memekik keras. Ternyata yang bicara dengannya adalah Nathan, bukan pohon yang menyerupai suaranya. "Lalu kau sendiri sedang apa disini?!"
"Memangnya harus ya aku menjawabnya?! Dan kau mengomentari pakaian yang aku pakai, sedangkan kau sendiri juga memakai pakaian yang sangat kontras dengan malam ini," ujar Vivian tak mau kalah.
Nathan memakai singlet putih yang dibungkus Vest V-Neck abu-abu gelap dan jeans belel hitam. "Aku sudah terbiasa, dan udara dingin semacam ini tidak mungkin membunuhku!!" Jawabnya.
Kemudian Nathan mengambil tempat disamping Vivian, keduanya duduk bersebelahan memandang sungai Han yang mengalir tenang di depan sana.
Udara dingin Sungai Han menerpa wajah Nathan dan Vivian yang sedang duduk menikmati pemandangannya di malam hari. Gadis itu terlihat menutup matanya, terpaan angin membuatnya merasa nyaman, dingin namun terasa sejuk.
"Tentang, Marissa. Pasti dia akan melakukan sesuatu untuk membalas apa yang kita lakukan tadi padanya." Sebuah kalimat terlontar dari bibirnya, namun matanya masih tertutup rapat.
"Itu juga yang aku cemaskan. Aku mengenal gadis itu cukup baik, dia memiliki sifat pendendam, iri dan dengki. Dan aku cemas dia melakukan sesuatu padamu." Ujar Nathan menimpali.
"Aku tidak takut!! Lagipula dia yang memulainya duluan dan aku hanya membela diri, jika Marissa tidak mengibarkan bendera perang terlebih dulu. Aku juga tidak mungkin menanggapinya. Dan dia salah besar jika menganggap aku adalah gadis lemah yang mudah ditindas."
__ADS_1
Membicarakan tentang keberanian, mengingatkan Nathan pada masa kecil mereka. Dia masih ingat betul saat Vivian menghajar kakak kelas mereka dan membuatnya terluka karena mengganggu dirinya. Endingnya ia dan Vivian dipanggil ke ruang kepala sekolah dan mereka dihukum membersihkan halaman.
Nathan tersenyum tipis. Masa lalunya bersama Vivian begitu banyak meninggalkan cerita. Penuh kekonyolan dan juga hal yang tidak masuk akal, meskipun gadis itu selalu membuatnya kesal, tapi anehnya Nathan tidak pernah membencinya.
"Apa yang kau tertawakan?" Vivian memicingkan matanya.
Nathan menggelengkan kepala. "Tidak ada, aku sedang bosan. Temani aku keliling kota," ia bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Vivian.
"Boleh, tapi dengan satu syarat. Traktir dulu aku makan. Aku lapar dan belum makan malam." Rengek Vivian sambil mengusap perutnya.
Nathan mendengus geli. Satu jitakan keras mendarat mulus pada kepala coklat gelapnya. Dan lagi-lagi Nathan tidak bisa menolak permintaan Vivian "Ayo,"
-
-
Jesslyn menghampiri putri bungsunya yang sedang sibuk membuat kalung dari butiran mutiara. Bukan hanya kalung yang Lovely bikin, tapi ada gelang, hiasan rambut dan anting juga. Meskipun baru berupa 14 tahun, tapi Lovely sangat mahir membuat berbagai aksesoris.
Ibu dua anak itu kemudian duduk disamping sang putri. "Mi, bagaimana menurutmu? Cantik tidak? Aku ingin memberikan ini pada Kak Vivian."
"Jadi kau membuat aksesoris ini untuknya?" Lovely mengangguk. "Sepertinya kau sangat menyukainya."
"Ya, dan aku ingin dia dan kakak menikah. Bahkan kalau perlu aku akan menjadi Mak comblang untuk mereka berdua." Tutur Lovely.
Belum pernah Jesslyn melihat putrinya seantusias ini pada teman kakaknya, terlebih lagi itu adalah teman perempuan. Lovely bersikap dingin dan acuh pada Marissa, bahkan dia selalu ketus ketika bicara dengannya.
Tapi sikap berbeda justru Lovely tunjukkan ketika dia bertemu dengan Vivian. Lovely langsung berasa nyaman dan mereka dekat. Dan hal itu tentu saja adalah sesuatu yang sangat langkah.
"Baiklah, tapi cepat tidur. Ini sudah larut malam, Mami keluar dulu."
"Oke, Mi."
-
__ADS_1
-
Bersambung.