
Jordan membawa Luna ketaman kota. Berhubung ini malam Minggu jadi suasana taman kota cukup ramai, Jordan membuka pintu mobil di samping kirinya kemudian turun. Berjalan memutar lalu membukakan pintu untuk Luna.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kios di pinggir jalan yang menjual burger. Jordan mencari tempat untuk Ia dan Luna duduk, sedangkan Luna berjalan kearah penjual untuk memesan dua burger
"Tidak apa-apakan jika kita malam di sini, itung-itung sebagai makanan pembuka." Ucap Jordan setelah Luna kembali dengan membawa dua piring burger. Satu untuknya, satu lagi untuk Jordan
Luna tersenyum lalu menggeleng. "Tidak apa-apa. Dimana pun yang penting kenyang." ucap Luna sambil mengangkat bahunya, membuat senyum Jordan terbentuk walau hanya setipis kertas.
Mereka menggigit burger masing-masing di waktu hampir bersamaan. "Ternyata makanan pinggir jalan tidak seburuk yang aku bayangkan." Ucap Jordan setelah gigitan pertama.
Luna terkekeh. "Tentu saja, dan tidak semua makanan mewah seenak tampilannya." Balas Luna menimpali. "Lagipula makanan mewah dan mahal belum tentu membuat kita kenyang."
Setelah perbincangan singkat itu sudah tidak ada lagi percakapan antara Luna dan Jordan, mereka sama-sama menikmati burgernya yang hanya tinggal setengah. Banyak sekali yang Jordan pikirkan, tapi Ia tidak ingin bersikap tidak wajar di depan Luna dan membuat gadis itu ketakutan seperti tadi.
Bukan niat Jordan untuk menakuti wanitanya saat melihat sisi gelap dirinya, Jordan benar-benar tidak tau jika tadi Luna ada di kamarnya. Meskipun Luna sudah melupakannya, tapi Jordan tetap dihantui rasa bersalah.
Keberadaan Luna dan Jordan di kedai burger cukup menarik perhatian, cantik dan tampan. Mereka berdua perpaduan yang sangat sempurna. Jordan terlihat tampan dengan kaos hitam di padu blazer hitam kombinasi merah marun yang melekat pas di tubuh kekarnya dan jeans biru tua panjang, tampak sempurna meskipun perban masih tetap enggan beranjak dari keningnya.
Sementara Luna, dia terlihat cantik dengan dress putih berlengan sedikit mengembang di bagian bawahnya dengan ikat pinggang kecil berwarna hitam. Rambut coklat panjangnya di biarkan tergerai indah.
"Ge, lihatlah kita jadi pusat perhatian." Luna merasa sedikit risih dengan keadaan sekitar. Jordan tak langsung merespon dan hanya mengangkat bahunya acuh. Melanjutkan makan malamnya yang hanya tinggal sedikit lagi "Ge." Panggil Luna gemas. Kesal karena dia tidak merespon ucapannya.
Jordan mendengus kesal. "Sudah abaikan saja." Luna menggembungkan pipinya lalu mendelik kesal. Jika bukan karena Jordan tampan, mungkin Luna sudah melemparnya ke kutub utara. Karena menurutnya di sana adalah tempat yang paling tepat untuk manusia es seperti Jordan.
Jordan menghela nafas panjang. Luna benar-benar ngambek padanya, mungkin bagi orang lain sikap Luna sangat kekanakan. Tapi bagi Jordan itu sangat mengemaskan. "Sudah jangan cemberut lagi." Dengan gemas Luna mencubit pipi Jordan
"Ge, sakit." Jeritnya histeris.
Jordan mengacak gemas rambut panjang Luna sambil tersenyum tipis. "Cepat habiskan, bukankah kita masih harus jalan-jalan lagi. Kau ingin membeli sesuatu? Setelah puas jalan-jalan kita ke mall, sekalian aku ingin membeli sesuatu."
Jordan membuka dompetnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan pada Luna."Tidak perlu, Ge." Luna mendorong mundur tangan Jordan dengan halus "Selama ini setiap kali kita makan di luar selalu kau yang membayarnya. Jadi untuk kali ini biar aku yang membayarnya." Ucap Luna.
Jordan mengacak rambut Luna untuk yang kesekian kalinya. Semakin gemas melihat wanita itu menggembungkan pipinya "Baiklah, terserah kau saja. Aku mengalah."
xxx
Beberapa orang sedang duduk di sebuah ruang tamu sambil meminum wine, pesta kecil-kecilan untuk menyambut kemenangan yang sudah ada di depan mata. Berbincang di iringi tawa renyah.
"Hahaha aku pikir David adalah seekor Singa, ternyata dia tidak lebih baik dari seekor Tikus. Dia tidak lebih tangguh dari Ayahnya yang sudah rata menjadi tanah."
"Kau benar, Jimmy. Ternyata menumbangkan David Tang tidak sesulit yang kita bayangkan. Meskipun ada dukungan penuh dari tiga perusahaan raksasa negeri ini. Tapi itu tidak berpengaruh untuk kehancuran mereka."
"Hm , maksudmu bocah-bocah ingusan itu?"
"Ya. David Tang, mendapatkan dukungan penuh dari tiga bocah sialan itu. Dan kau tau sendiri, jika mereka begitu menyusahkan." Jawab pria bernama Jimmy tersebut.
"Kalian semua lupa, jika ketiga bocah itu bersahabat baik dengan bungsu Tang yang menyebalkan itu. Itulah kenapa mereka mau memberikan bantuan penuh pada, David. Dan ngomong-ngomong soal Jordan, apakah kita juga harus waspada padanya?" Tanya Bryan.
"Jordan, ya? Dia bukanlah seseorang yang perlu kita waspadai. Bocah itu lebih memilih menjadi dosen dari pada harus mengelola perusahaan, itu artinya dia tidak memiliki potensi. Dan dalam pertemuan para tetua besok siang, tidak ada lagi yang berani menentang ku. Dengan dokumen palsu itu, semua orang akan menunjukku sebagai ketua yang baru menggantikan posisi ketua terdahulu, termasuk David dan si tua bangka Tang Yuan." Ujar Jimmy dengan seringai nya.
"Jangan terlalu meremehkan seseorang, Paman." ucap satu-satunya wanita yang ada di ruangan tersebut. "Selama ini dia tidak pernah menunjukkan batang hidungnya dan memilih hidup di luar negeri, bahkan wajahnya saja kita tidak pernah tau apalagi potensinya." Tutur wanita itu lagi.
"Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Dia sangat tampan. Dan aku jamin, Laura. Kau akan bungkam saat bertemu dengannya, tapi sayang dia dingin dan tidak mudah tersentuh. Dia tidak terlihat berbahaya sama sekali, beda dengan ayah dan kakaknya."Sahut Jimmy.
Bryan menghela nafas "Tapi jika dia sama menyusahkan dengan ayahnya, tidak ada pilihan lain selain menyingkirkannya." Sambungnya.
"Hahaha aku anggap itu sebuah masukan." Jimmy mengangkat gelas wine nya dan bersulang bersama tiga orang di depannya. Mereka tengah merencanakan untuk merebut Tang Group dari tangan David dan mendapatkan posisi ketua.
xxx
"YAHHHH MELESET LAGI."
__ADS_1
"AHHHH, PADAHAL TINGGAL SEDIKIT LAGI."
"SEDIKIT LAGI, AYOLAH. YA! YA! TIDAAAKKKKK...."
"UGHHH, KENAPA HARUS LOLOS LAGI DAN LAGI. PADAHAL SEDIKIT LAGI."
"AAAHHH PADAHAL SUDAH KENA."
Luna tak henti-henti menjerit histeris saat usahanya untuk mendapatkan boneka dalam permainan robot pengambil boneka gagal untuk yang kesekian kalinya.
Tidak jarang Ia menghentak-hentakkan kakinya karena terlalu frustasi. Dan Jordan yang melihat tingkah kekanakan kekasihnya itu hanya bisa menggelengkan kepala, Ia begitu serius dan entah sudah berapa koin yang telah Ia habiskan untuk permainan yang satu ini.
"Ckk, sudahlah Luna. Menyerah saja, jika kau mau. Aku bisa membelikan banyak boneka untukmu tanpa harus bersusah payah seperti ini." Jordan menghampiri Luna sambil menepuk bahunya. Dia terlihat mulai jengah.
"Ge, aku ingin boneka di dalam kapsul ini. Aku ingin boneka yang itu dan tidak mau yang lain lagi." Luna merengek sambil bergelayut manja di lengan kekar pria itu dengan tatapan memohon. Melihat ekspresi wajah Luna membuat Jordan mendesah untuk yang kesekian kalinya.
"Hm, tunggu sebentar." Akhirnya Jordan menuruti keinginan sang kekasih. Dia mengambil alih permainan.
30 detik ..
40 detik ..
60 detik ..
"KKKYYYYAAAAAAA.... GE, KAU HEBAT." Luna tak dapat menyembunyikan kegembiraannya, gadis itu menjerit histeris melihat Jordan mendapatkan boneka yang Ia inginkan. Dia pun segera berhambur memeluk Jordan dengan erat.
"Hm, ini boneka untukmu." Langsung Luna memeluk boneka itu kemudian mencium pipi Jordan dan berlari menjauh, sempat terkejut karena Luna melakukannya di tempat umum. Namun sedetik kemudian sudut bibir Jordan tertarik keatas menciptakan lengkungan tipis terpatri di wajah tampannya.
"Luna, tunggu."
-Skip Time-
"Kau lelah? Bagaimana jika kita Istirahat di cafe." Usul Jordan memberi tawaran.
Luna yang semula sibuk dengan boneka pemberian Jordan langsung mengangkat wajahnya kemudian mengangguk antusias. "Boleh, aku juga sudah sangat haus." Jawabnya sambil memegangi lehernya yang terasa kering.
Keduanya berada di salah satu cafe yang ada di mall yang mereka kunjungi. Beruntung suasana cafe tidak terlalu ramai dan cukup tenang, jadi mereka tidak terlalu menjadi pusat perhatian dan Luna tidak perlu merasa kesal karna tidak banyak yang mencuri pandang pada kekasihnya.
"Setelah ini kau ingin kemana lagi?" Tanya Jordan disela-sela menikmati jus apel favoritnya.
Tampak Luna berpikir. "Ada sesuatu yang ingin ku beli. Jika tidak keberatan, aku ingin kau menemaniku." Ujarnya.
Alis Jordan mengerut. "Memangnya apa yang ingin kau beli?" Tanya pria itu penasaran
Luna menatap sekeliling memastikan tidak ada yang akan mendengar apa yang akan Ia katakan, kemudian dia berbisik pelan di telinga Jordan. Jordan menyeringai, menatap Luna dengan satu alis terangkat.
"Beli sebanyak yang kau mau, aku akan membelikannya untukmu." Ucap nya tanpa menanggalkan seringai misteriusnya.
"Hum, dan ada lagi. Tadi di sana aku melihat dress cantik. Ge, mau membelikan dress itu juga kan?" Luna menatap Jordan penuh harap. Dia berharap Jordan bersedia membelikan dress itu untuknya.
"Apa pun, jika perlu mall ini aku beli untukmu." Seketika wajah Luna merona mendengar jawaban Jordan.
"Ge, jangan mengatakan omong kosong. Kau membuatku malu saja."
"Aku serius, Luna." Kemudian Jordan bangkit dari duduknya "Tunggulah di sini sebentar. Aku akan segera kembali." Luna mendongak menatap wajah kekasihnya. "Ge mau kemana.??" Tanyanya.
"Mengurus sesuatu, aku akan segera kembali." Satu kecupan Jordan daratkan pada kening Luna sebelum meninggalkan sang kekasih.
.
Begitu Jordan membuka kenop pintu rumahnya, pintu besar itu terbuka dan menampilkan ruangan utama rumah pribadi miliknya. Segera Luna masuk dan berlari menuju sofa.
__ADS_1
"Capeknya." Seru Luna lalu merebahkan tubuhnya pada sofa ruang tamu setelah meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Sedangkan Jordan pergi ke kamarnya untuk menganti pakaiannya.
Luna bangkit dari berbaringnya, mengambil salah satu tas belanjaannya yang berisi beberapa pakaian yang Ia beli di mall tadi. Ada beberapa helai yang merupakan pilihannya sendiri dan dua pilihan Jordan.
"Malam ini kau akan langsung memakainya?" Jordan muncul dari kamarnya dengan hanya memakai jeans hitam sepanjang lutut dan kaos hitam polos tanpa lengan.
"Ehhh." Luna terkejut dan menoleh, Jordan sudah ada di sampingnya sambil menyeringai nakal.
"Bukankah kau membeli baju-baju ini untuk memanjakan ku, sayang." Bisik Jordan sambil memainkan rambut panjang Luna.
Wajah Luna tersipu dan memerah, lalu pandangannya bergulir pada lengan kiri Jordan di mana tribal kesayangannya terlukis "Tidak malam ini, Ge." Kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Jordan lalu membisikkan sesuatu.
Jordan mengangkat bahunya. "Tidak masalah, aku bisa menunggunya." Jawab Jordan dan mencium bibir Luna.
Tubuh Luna yang semula bersandar pada sofa kini berpindah keatas pangkuan Jordan. Salah satu tangan pria itu memeluk pinggang ramping sang wanita, sedangkan tangan satu lagi Ia gunakan untuk menekan tengkuk Luna agar ciuman itu tidak mudah terlepas.
Tanpa keraguan, Luna membalas kecupan demi kecupan bibir Jordan, menyadari Luna membalas ciumannya. Jordan pun semakin memperdalam ciumannya.
French kiss itu membuat Luna gelagapan, pasalnya Jordan memberikan ciuman bertubi-tubi di bibirnya. Bahkan dia tak memberinya kesempatan untuk menghirup udara, hingga Ia tidak memiliki pilihan selain mendorong tubuh kekar Jordan agar melepaskan ciuman itu, dan akhirnya Luna dapat bernafas lega. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Jordan kembali ******* bibirnya untuk yang kesekian kalinya.
Dan ciuman itu berakhir setelah 5 menit kemudian, wajah Luna telah memerah padam. Selama 5 menit, Jordan hanya memberinya kesempatan untuk bernafas selama beberapa detik saja. Jordan melumatt bibirnya lagi dan lagi, dan Luna merutuki kegilaan sang kekasih yang sudah membuat bibirnya bengkak. Tapi tidak ada penyesalan, karena ciuman itu tidak hanya di landasi naffsu namun juga cinta.
xxx
"Jadi keputusannya sudah final jika adikmu akan mengambil alih Tang group, dan menduduki posisinya sebagai ketua?" Reno memekik tak percaya setelah mendengar ucapan David.
David menarik nafas panjang lalu menghelanya."Sayangnya, iya. Karena aku pikir memang sudah saatnya Ia mengambil posisinya. Jordan, sudah cukup umur untuk menjadi seorang pemimpin. Selama ini aku hanyalah pemimpin pengganti sampai dia benar-benar telah siap, lagi pula aku sudah lelah untuk berhadapan dengan tumpukan dokumen yang membuat kepala ingin meledak." Tutur David panjang lebar.
Saat ini David dan gengnya sedang berkumpul di mini bar yang ada di vila pribadinya, membahas mengenai keputusan Jordan untuk mengambil alih kepemimpinan Tang Group dari tangan David. Bukan tanpa alasan, Tang Group sedang mengalami krisis dan di ambang kehancuran karena sabotase orang dalam yang tak lain dan tak bukan adalah Jimmy Tang.
Dia masih kerabat Jordan dan David, sudah sejak dulu dia berobsesi untuk menjadi pemimpin setelah kemunduran Tang Yuan yang memutuskan untuk pensiun. Namun sayangnya posisi itu Yuan berikan pada putra keduanya yang merupakan ayah David dan Jordan, dan Jimmy tidak bisa menerimanya.
Semua hal dia lakukan untuk mendapatkan posisi ketua, sampai dia bertaruh nyawa, namun pengorbanan berdarahnya tidak membuahkan hasil karena pada akhirnya posisi ketua di berikan pada Jordan, dia sendiri yang menunjuknya karena menurutnya Jordan lebih berpotensi menjadi seorang pemimpin dari pada dirinya karena apa yang di butuhkan menjadi seorang pemimpin ada pada diri Jordan.
Namun karena pada saat itu usia Jordan masih terlalu muda, ia belum terlalu siap untuk menjadi seorang pemimpin hingga posisi itu diambil alih oleh David untuk sementara waktu, sampai Jordan merasa siap.
Dan keputusan itu hanya di ketahui oleh Tang Yuan dan beberapa tetua yang bisa di percaya, bahkan David menyiapkan saham sebesar 60% untuk Jordan. Namun selama beberapa tahun itu kepemilikan saham di rahasiakan, alasan David hanya karena tidak ingin bila Jordan berada dalam bahaya.
Meskipun sang adik selalu bersikap dingin dan menyebalkan padanya, namun David begitu menyayangi sang adik. Dan menurut David ini sudah saatnya sang adik mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Tunggu, bukankah ketua harus memiliki seorang pendamping dan seperti kita ketahui jika Jordan belum menikah dan----"
" ----Luna, dia telah memiliki Luna. Jadi apa lagi yang perlu di cemaskan?" Sabut David menyela ucapan Leo. "RASANYA SUDAH TIDAK SABAR UNTUK MELIHAT MEREKA BERSANDING." Teriak David penuh semangat.
"Hahaha dan aku lebih tidak sabar lagi untuk melihat Reno menjalani hukumannya." Sahut Leo sambil menggerlingkan matanya pada Hidan, sedangkan Reno sang penganut Dewa Cinta pura-pura tidak mendengarnya.
"Beruntung kau, Reno. Hukumanmu di tunda lagi." Ucap Roy.
"Ahhhh, sialan. Kenapa kalian masih saja membahas masalah hukuman itu? Ohh Dewa Cinta junjunganku." Teriak Reno frustasi, yang menghantarkan gelak tawa di antara teman-temannya.
"Hahahah, mampus kau, Reno." Ucap David sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu lama tertawa.
Reno berlari meninggalkan teman-temannya."OHHH, DEWA CINTAKU----."
" Hahahaha."
.
.
Bersambung
__ADS_1