
"Ugghhh..."
Jesslyn meringis karena rasa ngilu pada paha dalamnya ketika dia hendak pergi ke kamar mandi. Luis benar-benar keterlaluan semalam. Bagaimana bisa dia menghajarnya habis-habisan dan membuatnya kesulitan berjalan pagi ini.
Salah Jesslyn sendiri, jika saja dia tidak memakai pakaian h*ram itu dan menggoda Luis, pasti dia tidak akan berkahir mengenaskan seperti ini.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Jesslyn pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, bukan maksud Jesslyn tidak mempercayai para pelayannya.
Tapi dia hanya ingin menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu dengan baik. Karena menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya sudah menjadi tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga.
"Ekhem, pantas saja semalam tiba-tiba ada gempa. Ternyata oh ternyata~" Tao tidak melanjutkan ucapannya, dia malah menaik-turunkan alisnya dan terus menggoda Jesslyn.
"Dasar manusia pemakan bambu, apa mulutmu tidak bisa diam?! Kenapa kau suka sekali membuatku kesal. Daripada kau sibuk menggangguku, lebih baik kondisikan senjata tempurmu itu!!"
Lalu pandangan Tao turun kebawah, matanya membelalak melihat sesuatu menyembul dari balik celananya. Membuat perhatian beberapa pelayan teralihkan padanya, pantas saja dari tadi mereka terus memperhatikan dirinya, dan sekarang Tao tau alasannya.
"Kenapa kau masih disini, apa kau sengaja ingin membuat mereka tidak fokus karena senjata mengerikan mu itu?!" Bentak Jesslyn dan membuat Tao langsung kalang kabut. Dia pun segera pergi sebelum terkena amukan istri dari majikannya itu.
Jika saja ditempat lain, pasti Tao sudah kena pecat karena berani pada majikannya. Dan sepertinya hanya Tao satu-satunya anak buah yang berani mengganggu dan menggoda majikannya, tak jarang dia sampai membuat Jesslyn uring-uringan tidak jelas karena tingkahnya.
"KYYYAAA... BANJIR!!!"
Perhatian Jesslyn dan semua orang yang ada dilantai satu teralihkan oleh teriakan yang berasal dari kamar si kembar. Jesslyn tidak tau hal gila dan menggelikan apa lagi yang terjadi di sana.
Tak ingin mati penasaran. Jesslyn pun mendatangi kamar Rio dan Marcell. Setibanya di sana, dia malah mendapati mereka berdua yang sedang beradu mulut. Rupanya Rio ngompol lagi, dan parahnya... Ompolnya itu sampai membasahi sekujur tubuh Marcell.
"Jangan menyalahkanku, tapi salahkan mimpiku. Aku tadi mimpi pipis dibawah pohon, eh pas bangun taunya yang aku k*ncingi bukan pohon, tapi itu malah dirimu..." Rio membela diri.
"Terus saja ngeles dan membela diri, aku tidak mau tau, pokoknya kau harus membuat tempat tidurku wangi lagi, kalau tidak jangan harap aku mau berbagi kamar lagi denganmu!!"
"Jangan begitu dong. Kita kan saudara kembar, masa kau tega membiarkan aku tidur sendirian. Kau tau sendiri kan kalau aku sangat takut tidur di kamar sendirian." Rio membujuk.
"Bodoh amat!! Awas, aku mau mandi. Ompolmu membuatku hampir pingsan!!" Marcell turun dari ranjangnya dan pergi begitu saja.
Sebenarnya Rio dan Marcell memiliki kamar sendiri-sendiri. Tapi Rio tidak mau tidur sendirian karena dia takut ada nenek sihir yang menculiknya, jangankan tidur di kamar terpisah, tidur di ranjang terpisah pun dia tidak mau. Itulah kenapa mereka tidur di satu ranjang yang sama.
__ADS_1
.
.
Luis memicingkan matanya melihat wajah cemberut Jesslyn. Apa mungkin karena pergulatan mereka semalam? Apa Jesslyn kesal karena kesulitan berjalan pagi ini? Bukankah semalam dia juga begitu menikmatinya!!
Pria itu melangkahkan kakinya dan menghampiri sang dara. "Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu kusut seperti pakaian belum disetrika?" Tanya Luis penasaran.
Alih-alih menjawab, Jesslyn malah menghela napas berat. "Panda gila itu lagi-lagi meledekku, dia mencibirku ini dan itu. Dan itu karena dirimu, jika saja semalam tidak bermain gila pasti aku tidak akan menderita seperti ini!!"
Luis terkekeh, dia geli sendiri melihat wajah Jesslyn saat sedang kesal. Dia terlihat begitu menggemaskan. "Baiklah, lain kali aku akan lebih lembut lagi. Dimana Nathan, apa dia belum bangun?"
"Aku disini," sahut bocah itu dari arah tangga.
Nathan telah rapi dan siap untuk pergi ke sekolah. Senyum lebar seketika tercetak dibibir ranum wanita itu saat melihat kedatangan sang putra tercinta.
"Mami sudah menyiapkan bekal makan siang untukmu, kau bilang makanan di kantin tidak enak. Jadi Mami membuatkan bekal makan siang untukmu. Mami juga membuat untuk ketiga teman barumu, jadi kalian bisa memakannya bersama-sama." Nathan mengangguk.
Luis tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Melihat senyum dibibir Jesslyn dan Nathan membuat hatinya menghangat.
"Kris segera panggil Tao, kita sarapan sama-sama." Perintah Luis.
Kris mengangguk. "Baik, Tuan."
-
-
"NATHAN!!"
Baru juga turun dari mobil, Nathan sudah disambut oleh ketiga teman barunya. Aria, Sean dan Dio ternyata sudah menunggu kedatangannya dari tadi. Kali ini Nathan datang dengan diantar oleh Tao.
"Paman Panda, terimakasih sudah mengantar Nathan sampai di sekolah dengan selamat. Kami pergi dulu ya, bye-bye." Arya berseru dan melambaikan tangannya pada Tao.
Tao merasa iri melihat pertemanan mereka berempat. Meskipun masih anak-anak, tapi mereka begitu dekat dan akrab.
__ADS_1
"Andaikan aku juga memiliki teman seperti mereka, pasti sangat menyenangkan. Apalagi kalau mereka sama gilanya sepertiku. Betapa indahnya dunia ini. Huft, kenyataan hidup ini tidak seindah angan-angan." Tao menghela napas.
.
.
Mata Nathan memicing melihat Sean mengeluarkan sebuah buket bunga dari dalam tasnya. Lalu dia menarik Dio untuk berdiri di depannya, Nathan benar-benar penasaran dengan apa yang hendak dilakukan oleh mereka berdua.
Tiba-tiba Sean berlutut di depan Dio sambil menyodorkan bunga itu. "Mona, aku menyukaimu. Bisakah kau menerima aku menjadi kekasihmu?"
Rupanya Sean sedang latihan menyatakan cintanya pada sang gadis yang menjadi pujaan hatinya. Gadis itu bernama Mona dan dia dari kelas 1C.
Nathan memijit pelipisnya, baru juga berusia 7 tahun, tapi malah sudah memikirkan soal percintaan. Seharusnya dia fokus pada sekolah dan belajar. Kemudian Nathan meninggalkan kelasnya dan melenggang pergi.
-
-
"Kau tidak ke kantor hari ini?"
Luis menggeleng. Dia memeluk Jesslyn dan enggan untuk melepaskannya. "Aku sedang malas untuk pergi kemana pun, jadi biarkan aku memelukmu seperti ini sepanjang hari." Ucap Luis setengah berbisik.
"Jangan manja!! Ingat, bagaimana pun juga kau sudah menjadi seorang ayah. Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat kau bermanja-manja seperti ini?!"
"Aku tidak peduli. Toh tidak ada undang-undangnya yang melarang seorang suami manja pada istrinya," jawab Luis.
Jesslyn mendengus berat. Apa ini sungguh Luis sang kepala keluarga Qin yang dikenal dingin dan arogan, bahkan sifat itu saat ini tak tampak sedikit pun padanya. Tapi dia suka Luis yang seperti ini, daripada Luis yang dingin dan selalu memasang muka datar.
"Baiklah, terserah kau saja." Jesslyn menangkup wajah Luis lalu mencium singkat bibirnya.
Luis membawa Jesslyn ke dalam pelukannya. Menjadikan kepala coklatnya sebagai sandaran dagunya. Senyum tipis terlukis dibibir Kiss ablenya. Seperti inilah yang Luis inginkan, memeluk Jesslyn setiap detik dan setiap waktu.
Dan Luis tidak pernah ingin melepaskan pelukannya walaupun hanya satu detik saja. Karena Luis takut, Jesslyn akan menghilang lagi dari sisinya jika ia sampai melepaskan pelukannya.
-
__ADS_1
Bersambung.