Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Benci Jadi Cinta


__ADS_3

Jordan tiba di rumahnya tepat pukul 16.00 sore. Bekerja seharian membuatnya lelah. Setelah mandi dan berganti pakaian. Jordan pergi ke kamar Luna untuk melihat keadaannya. Tak lupa Ia membeli makanan untuk gadis itu.


Decitan pada pintu mengalihkan perhatian Luna yang sedang duduk di kusen jendela kamarnya sambil menikmati angin sore yang menyejukkan, senyum lembut terpatri di wajah cantiknya mana kala melihat kedatangan Jordan.


"Jordan," Serunya dengan wajah berseri.


Melihat kedatangan pria itu membuat Luna seperti mendapatkan oasis di tengah Padang pasir yang tandus. Bagaimana tidak, setelah seharian kesepian tanpa ada teman satupun, akhirnya sekarang dirinya memiliki teman mengobrol.


"Hm,"


"Kau sudah pulang?" Luna bangkit dari duduknya, dengan langkah tertatih dia menghampiri Jordan yang berdiri disamping tempat tidurnya.


Jordan beranjak dan menghampiri Luna. "Jangan banyak bergerak, kau ingin kakimu semakin parah." Dia mengomeli gadis itu sambil menuntun Luna dan memintanya untuk duduk maupun berbaring.

__ADS_1


Menghiraukan gadis itu yang terus menolak dengan dalih jika Ia sudah tidak apa-apa. Tapi sekeras apa pun Ia berusaha, toh pada akhirnya Jordan akan menang darinya. Dia memang tidak suka di bantah, seolah keputusannya itu mutlak.


"Kau sudah makan?" Tanya Jordan, Luna menggeleng pelan.


"Sudah ku duga, aku membelikan mu kare pedas saat dalam perjalanan pulang. Akan aku siapkan, tunggu di sini." pinta Jordan.


Jordan hendak berbalik dan meninggalkan kamar Luna, jika saja tangan gadis itu tidak menahannya. Jordan berbalik badan, matanya menatap datar Luba. Dengan pandangan bertanya, seolah berkata.'Ada apa '


"Aku bosan jika.berada di kamar terus-menerus. Aku ingin memakannya di luar." Seakan membaca isi pikiran Jordan, Luna segera menjawab kebingungannya.


Luna mati-matian menahan nyeri di pergelangan kakinya yang cidera ketika menuruni setiap anak tangga. Cidera itu membuatnya harus berusaha lebih kuat lagi. Ini menyakitkan, tapi dia tetap memaksakan diri. Luna benar-benar bosan karena hampir satu hari berdiam diri di kamar tanpa melakukan apa pun.


Melihat raut wajah Luna yang seperti menunjukkan ekspresi kesakitan, membuat Jordan merasa tidak tega. Tanpa berkata apa-pun, dia mengangkat tubuh Luna bridal style dan membuat gadis itu tersentak kaget.

__ADS_1


Dengan ragu Ia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap mata Jordan yang sehitam malam 'Sial, kenapa kau begitu tampan Songsaenim.' Gumamnya membatin.


Luna memandang wajah sang Adonis dengan penuh kekaguman, perlahan Ia mengangkat tangannya dan mengarahkan pada wajah Jordan. Menyusuri rahang kokoh yang lebih tinggi darinya itu, kemudian pandangan Luna bergulir pada lengan kirinya. Tribal Tatto yang sangat Ia kagumi mengintip dari balik kemeja Jordan yang di lipat sampai atas sikunya. Memandangnya tanpa bosan penuh kekaguman.


Dan entah siapa yang pertama kali memulainya, bibir mereka saling berpagut, melumatt dan menghisap. Luna duduk di atas meja makan dengan Jordan berdiri tepat di hadapannya, jika di perhatikan. Posisi mereka pasti banyak orang yang akan salah paham.


Luna tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ia dan lelaki yang amat dia tidak sukai justru akan berciuman seperti ini, rasanya otaknya tidak mau bekerja untuk mencerna hal luar biasa yang sedang terjadi.


Luna merasakan jika Dewi bayinya sedang melonjak kegirangan, karena ciuman pertamanya di ambil oleh Jordan. Membuat Luna benar-benar tidak percaya.


"Ya Tuhan, apakah ini yang dinamakan benci jadi cinta?"


-

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2