Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Hangat Dan Lembut


__ADS_3

Keindahan di pulau Jeju memang sudah tidak bisa terbantahkan lagi. Pulau Jeju adalah pulau yang terletak di selatan semenanjung Korea.


Pulau ini termasuk dalam keajaiban alam karena keindahannya. Udara yang segar dan alami, hamparan laut biru dan sinar matahari yang hangat. hamparan bunga-bunga indah dan padang rumput yang luas dengan berbagai macam tanaman yang kian menambah keindahan pulau itu.


Jesslyn membuka jendela kamar lebar-lebar. Hal pertama yang tertangkap oleh mata Hazel-nya adalah hamparan pasir putih dan birunya lautan serta hijaunya pepohonan. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, dia mengambil napas dalam-dalam dan melepaskan secara perlahan.


Dia merasakan udara yang begitu alami dan segar. Suasana di Jeju memang sangat berbanding balik dengan suasana di kota yang padat dan berpolusi. Jika boleh memilih, dia lebih suka tinggal di tempat seperti ini.


"Kau urus dia, dan jangan biarkan dia membuat keributan. Aku tidak pulang malam ini,"


Perhatian Jesslyn teralihkan oleh suara suaminya yang sedang berbicara di telfon. Tanpa harus bertanya pun, tentu saja Jesslyn tau siapa yang Luis hubungi.


Gadis itu kembali pada objek awalnya. Bahkan perhatiannya tak teralihkan sedikit pun meskipun indera pendengarnya menangkap suara derap langkah seseorang yang mendekat. Sampai dia merasakan sepasang tangan yang memeluknya dari belakang.


"Luis, apa yang kau lakukan?!" Kaget Jesslyn.


"Hanya ingin memeluk istriku, udara malam ini lumayan dingin. Bukankah seperti ini justru membuat kita merasa hangat," ucapnya.


"Bilang saja jika kau sengaja ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan," Jesslyn melirik pria itu dari ekor matanya.


"Jangan membuat moodku buruk, hari ini adalah ulang tahunku, jadi biarkan aku merasa senang sebentar saja."


Kali ini Jesslyn tidak berkata apa-pun lagi. Dia membiarkan Luis memeluknya seperti ini. Dia mencoba bersikap tenang meskipun jantungnya tidak baik-baik saja.


Kedua tangan Jesslyn menggenggam jari-jari besar yang memeluknya itu. Kepalanya bersandar pada dada bidang yang tersembunyi dibalik kain hitam itu. Jesslyn merasa begitu nyaman.


"Apa besok kita kembali ke Seoul?" Tanya Jesslyn memecah keheningan.


"Kenapa? Apa kau masih ingin disini?" Alih-alih menjawab, Luis malah balik bertanya.

__ADS_1


"Sebenarnya sih begitu. Tapi kalau kau sibuk aku tidak akan memaksa, lain kali aku bisa kembali ke tempat ini."


"Aku tidak sibuk, jika kau masih ingin disini, kita bisa kembali lusa. Jangan terlalu lama berdiri disini, udara malam ini cukup dingin. Aku mandi dulu, setelah ini kita makan malam sama-sama." Ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.


"Baiklah,"


Jesslyn memang tidak rela jika harus kembali besok. Dia masih ingin menikmati pulau cantik ini, karena pergi ke Jeju adalah impiannya sejak lama. Jadi mana mungkin Jesslyn akan menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki ini?!


Sambil menunggu Luis selesai mandi. Jesslyn membuka tempat penyimpanan baju milik Luis. Ini adalah Vila pribadi, jadi wajar jika ada pakaian milik pria itu disini.


Jesslyn berniat menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Sebuah kemeja hitam lengan pendek dan rompi putih berkerah tinggi, serta jeans panjang yang senada dengan warna kemejanya.


Tokk.. Tokk.. Tokk...


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Jesslyn. Gadis itu meletakkan pakaian untuk suaminya diatas tempat tidur lalu berjalan kearah pintu. Seorang pelayan datang membawakan pakaian untuknya. Luis yang memesan pakaian itu untuk Jesslyn.


Jesslyn menutup kembali pintu kamarnya. Dia meletakkan kota berukuran sedang itu diatas tempat tidur, ia sangat penasaran dengan isinya. Tiga helai dress, dua helai rok+blus cantik serta dua buah gaun tidur.


Tepat saat kain berharga mahal itu tertanggal dari tubuh Jesslyn, pintu kamar mandi terbuka. Dan Luis terlihat keluar dari sana, laki-laki itu membeku, begitu pula dengan Jesslyn yang kini diam mematung.


Luis tak berkedip menatap pemandangan yang sangat menakjubkan itu. Kulit putih mulus tanpa cacat sedikit pun, benar-benar terlihat seperti boneka porselen yang baru dibuka dari bungkusnya.


Sadar dari lamunannya. Buru-buru Luis berbalik badan sedangkan Jesslyn memakai bajunya dengan cepat.


Antara terkejut, gugup dan malu. Berbeda dengan ketika membantunya mandi beberapa bulan lalu, Luis melihat sekujur tub*hnya meskipun bagian int!mya masih tertutup pengaman(CD&BR*).


"Mau keluar kenapa tidak bilang-bilang dulu," ucap Jesslyn setengah gugup.


"Bukan aku yang salah, tapi kau yang ceroboh. Seharusnya menunggu sampai aku selesai mandi dan keluar dari kamar ini!!" Luis tak terima disalahkan langsung melayangkan protesnya.

__ADS_1


"Mana aku tau jika kau akan keluar secepat itu. Sebaiknya lupakan kejadian barusan dan anggap saja kau tidak pernah melihat apapun,"


"Hn,"


Kemudian Luis mengambil pakaian yang telah Jesslyn siapkan untuknya lalu membawanya ke kamar mandi. Dia tidak ingin membuat gadis itu sampai histeris jika melihatnya tel*njang di depan matanya.


Lima menit kemudian Luis keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Salah satu tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.


Pandangannya bergulir pada Jesslyn yang terlihat gugup, laki-laki itu mendengus berat. Pasti Jesslyn merasa malu karena insiden tak terduga itu.


"Apa kau menyukai pakaian yang aku siapkan untukmu?" Luis mencoba mencairkan suasana dengan bertanya sesuatu pada Jesslyn.


Jesslyn mengangguk. "Ya, semua sesuai dengan seleraku. Ukurannya juga pas dan nyaman dipakai, terimakasih Lu. Tau kau akan membawaku kemari, aku pasti membawa baju ganti." Ujarnya.


Luis menepuk kepala coklat Jesslyn sambil mengukir senyum tipis. "Baguslah kalau kau suka, bawa mantel hangatmu. Kita makan di luar, kau pasti belum pernah makan malam romantis dipinggir pantai." Ucap Luis.


"Apakah ini semacam Dinner?" Jesslyn menatap Luis dengan serius.


"Ya, anggap saja begitu. Ayo, pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Luis mengulurkan tangannya pada Jesslyn, gadis itu lantas tersenyum manis. Dia menerima uluran tangan Luis. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamar.


Hatinya menghangat. Jesslyn tidak tau jika pria dingin seperti Luis ternyata bisa bersikap hangat dan romantis juga. Selama mereka menikah, baru kali ini Jesslyn melihat sisi yang berbeda dari suami kontraknya tersebut.


Jika saja hubungan mereka resmi tanpa terikat kontrak, Jesslyn pasti akan merasa sangat bahagia. Tapi sayangnya hubungan mereka bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Meskipun sebentar, Jesslyn ingin merasakan bahagia bersama pria yang telah menikahinya.


Setidaknya ada sesuatu yang bisa dia kenang ketika ia dan Luis berpisah nanti. Setidaknya Jesslyn ingat jika dulu ada pernah seseorang yang memperlakukannya dengan begitu hangat dan Istimewa.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2