Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Saudara Kembar Vivian


__ADS_3

"Nathan, awas!!"


Tubuh itu roboh di pelukan Nathan setelah sebuah belati tajam dan beracun menghujam punggungnya. Darah segar keluar dari sudut bibirnya yang kemudian turun melewati dagunya.


"Aiden, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau harus melakukan ini? Kenapa kau harus mengorbankan dirimu demi aku?! KENAPA?!" bentak Nathan penuh emosi.


Aiden menggenggam tangan Nathan. Bibir pucatnya menyungging senyum tipis. "Karena kau sudah seperti kakak bagiku. Kau berkali-kali melindungiku, dan sekarang giliranku yang membalas semua kebaikanmu."


"Jangan banyak bicara lagi. Tutup mulutmu dan kita segera ke rumah sakit."


Aiden menggeleng. "Waktuku sudah tidak banyak lagi, aku sudah tidak kuat. Nathan, bantu aku menemukan keluargaku, aku tidak tau siapa mereka, hanya ini yang aku miliki sebagai petunjuk. Tolong temukan keluargaku dan sampaikan jika aku sangat merindukan mereka."


Aiden menyerahkan sebuah sapu tangan dan foto usang pada Nathan sebelum akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya. Nathan mengguncang tubuh dingin Aiden namun tidak ada respon sama sekali.


Mata Nathan berkilat penuh amarah menatap orang-orang yang menyebabkan Aiden meninggal. Dan hari ini juga dia akan membuat mereka membayar mahal perbuatannya pada pemuda tersebut. Karena bagaimana pun juga, nyawa haruslah dibayar dengan nyawa.


-Flashback End-


Nathan membuka matanya yang semula tertutup dan menghela napas berat. Meskipun bertahun-tahun sudah berlalu, tapi Nathan tetap tidak bisa melupakan tragedi malam itu. Tragedi dimana dia harus kehilangan salah satu temannya.


Di tangannya menggenggam sebuah sapu tangan dan foto usang. Nathan menatap foto itu dengan sendu. "Aiden, maaf. Aku belum bisa menemukan keluargamu sampai detik ini. Padahal aku sudah berjanji padamu, aku akan tetap mencari mereka dan mengembalikan saputangan ini. Aku harap kau bisa tenang di alam sana."


Derap langkah seseorang yang datang berkaur di telinga Nathan. Pria itu menoleh kebelakang dan mendapati Vivian berjalan menghampirinya. "Aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau ada disini." Ucap Vivian kemudian berdiri disamping Nathan.


Lalu pandangan Vivian bergulir pada sapu tangan ditangan Nathan. "Sapu tangan itu, Nathan bagaimana bisa kau memilikinya?" Tanya Vivian penasaran.


Nathan mengangkat sapi tangan itu dan menunjukkan pada Vivian. "Maksudmu sapu tangan ini?" Vivian mengangguk. "Seorang teman yang memberikannya padaku sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya. Selain sapu tangan, dia juga memberikan sebuah foto usang padaku. Dia berharap aku bisa membantunya menemukan keluarga kandungnya." Jelas Nathan.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun. Vivian berlari ke dalam kamar. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah sapu tangan berwarna pink dengan sulaman yang sama.


"Aku juga memiliki sapu tangan yang sama dengan sapi tangan itu. Dan foto bayi kembar itu, aku pernah melihatnya di sebuah kotak usang yang di dalamnya berisi barang-barang peninggalan mendiang ibuku." Jelasnya. "Aku akan mencarinya. Tunggu sebentar."


Vivian pergi ke gudang untuk mencari kotak itu. Dan dia sangat yakin jika foto itu ada di dalam kotak tersebut. Nathan yang penasaran pun segera menyusul Vivian.


Gadis itu terus mencari diantara tumpukan kardus dan beberapa barang yang tidak terpakai. Dan Nathan juga ikut membantunya, setelah 5 menit mencari, akhirnya Vivian menemukan kotak tersebut.


"Aku menemukannya!!" Serunya.


Vivian membawa kotak itu pada Nathan lalu membuka tutupnya. Di dalam kotak usang itu terdapat selembar foto dan sebuah liontin. Di dalam liontin itu juga ada foto bayi kembar seperti foto yang ada di tangan Nathan dan juga di kotak tersebut.


Dan foto itu benar-benar sama. "Nathan, apa maksudnya semua ini? Lalu apakah temanmu itu juga memberikan sebuah liontin padamu?" Tanya Vivian memastikan.


Nathan menggeleng. "Tidak, hanya saputangan dan foto ini saja. Vi, jangan-jangan saudara kembarmu bukankah Gio tapi mendiang Aiden. Aku ingat, dia juga memiliki sebuah tanda lahir dilehernya. Dan dibandingkan dengan tanda lahir yang Gio miliki, tanda lahir Aiden sama persis dengan bayi di foto ini." Ujar Nathan.


Mata Vivian berkaca-kaca. "Ja..Jadi maksudmu, saudara kembarku sudah tiada dan dia bukan Gio?" Nathan mengangguk. Vivian berhambur ke pulang suaminya dan menangis terisak.


"Dimana dia dimakamkan? Ayo kita ke sana, aku ingin pergi ke makamnya."


Nathan menghapus air mata Vivian. "Dia dimakamkan di Seoul. Baiklah malam ini juga kita pulang dan besok aku akan mengantar dan menemanimu pergi menemuinya." Vivian mengangguk.


"Jangan menangis lagi, jangan sampai mama dan yang lain melihat matamu sembab. Kau bisa diberondong berbagai pertanyaan oleh mereka." Ucap Nathan. Vivian mengangguk.


"Tapi kita harus tetap memberitahu Mama dan kak Sivia jika sebenarnya saudara kembarku sudah tiada dan dia bukan Gio." Nathan mengangguk lalu memeluk Vivian sekali lagi. Kali ini lebih erat dan lebih hangat.


-

__ADS_1


-


Marissa berdiri di depan cermin dengan sebuah gunting di tangannya. Wanita itu menatap pantulan dirinya.


Keadaannya benar-benar sangat menyenangkan. Tubuhnya agak kurusan, wajahnya kusam dan tidak terawat. Bulatan hitam disekitar mata kanannya. Sedangkan mata kirinya masih tertutup perban.


Marissa mengangkat gunting di tangannya dan mengarahkan pada kepalanya. Dengan perlahan tapi pasti Marissa memotong rambut panjangnya sendiri. Helaian demi helaian berjatuhan di lantai kamarnya. Rambut panjangnya terpangkas pendek.


Dia telah kehilangan hidupnya dan juga masa depannya. Marissa ingin membuka lembaran baru dan memulai hidup baru. Dan itu dia awali dengan memangkas pendek rambutnya.


"Tidak buruk juga. Sudah saatnya kau bangkit Marissa, dan balas sakit hatimu pada mereka yang sudah membuatmu seperti ini, terutama gadis sialan itu. Dia harus menerima balasannya dan merasakan penderitaanmu!!"


Dendam Marissa pada Vivian memang bukan rahasia lagi. Wanita itu berniat membuat perhitungan pada Vivian meski sebenarnya dia tidak melakukan kesalahan apa-apa pada Marissa. Dia hanya terlalu iri pada Vivian, pada semua yang dia miliki. Apalagi Nathan yang lebih memilihnya.


"Kenapa kau kembali lagi ke rumah ini? Bukankah kau sendiri yang sudah tidak Sudi untuk tinggal disini lagi?"


Marissa menoleh pada Anna yang berbaring di sofa. "Itu bukan urusanmu. Aku kembali ke rumah ini atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu!! Jadi sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bicara!!" Sinis Marissa.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada mata kirimu, ke apa kau tidak membuka perbannya sejak kembali ke rumah ini?!"


"Itu bukan urusanmu, jadi jangan banyak bertanya!!"


"Dasar gadis tidak tau sopan santun. Tau begitu aku sudah membunuhmu sejak kau masih bayi, aku sangat menyesal sudah melahirkan anak tak tau diri sepertimu!!" Geram Anna sambil menatap tajam putrinya.


"Aku juga menyesal terlahir dari rahim wanita busuk sepertimu!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2