
Jesslyn dan Luis meninggalkan sekolah baru putranya. Mereka tidak memiliki rencana apapun sepulang dari sekolah Nathan. Baik Jesslyn maupun Luis tak merencanakan apapun, mau pergi berbelanja stok di rumah masih aman.
Mereka hanya berputar-putar saja, sejauh ini tidak ada yang menarik. Karena yang mereka lihat hanya hal-hal itu saja. Sampai sesuatu yang sangat menarik tertangkap oleh oleh netra Luis.
Mobil Luis berhenti saat mata coklatnya tanpa sengaja melihat dua orang yang sangat dia kenal meninggalkan sebuah gedung bertingkat. Jesslyn yang penasaran kemudian mengikuti arah pandang suaminya.
Mata Jesslyn memicing. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh, memangnya apa yang dilihat oleh Luis dengan begitu serius. "Apa yang sebenarnya kau lihat?" Tanya wanita itu penasaran.
"Kau lihat pasangan suami-istri itu. Mereka adalah ibumu dan ayahku, orang yang telah menyebabkan kematian ibuku," jawab Luis tanpa melepaskan pandangannya dari dua orang yang paling dia benci itu.
Apa yang Luis katakan membuat Jesslyn terdiam. Rasa bersalah kembali menggerogoti ruang kosong di dalam hatinya, membuatnya teringat pada cerita lama.
Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, tapi Jesslyn tidak pernah bisa melupakan kenyataan bahwa dirinya adalah putri dari orang yang merenggut kebahagiaan Luis.
Di dunia ini, takdir apapun pasti bisa dihapus dan dirubah, asal ada keinginan dan niat. Namun ada satu takdir yang tidak mungkin pernah bisa Jesslyn hapus dan ubah dari garis takdir hidupnya, yakni kenyataan jika dia adalah putri dari seorang wanita yang tidak berhati.
"Kalau begitu habisi saja wanita itu, agar impas!!"
Sontak Luis menoleh setelah mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Jesslyn. Matanya memicing. "Kau ingin supaya aku menyingkirkannya?! Apa kau bercanda, bagaimana pun juga dia adalah orang yang telah~!!"
"Aku tidak peduli!!" Jesslyn menyela cepat. Matanya mengunci mata Luis. "Karena dimataku dia tidak lebih rendah dari seekor binatang!!"
Luis menghidupkan kembali mesin mobilnya. Mobil itu kembali melaju dengan kecepatan tinggi. "Sebaiknya tidak usah membahas masalah ini lagi. Aku akan mengantarmu pulang, setelah ini aku harus bertemu dengan klien. Tidak perlu menunggu, mungkin aku pulang sedikit terlambat."
Bukan maksud Luis ingin menyinggung perasaan Jesslyn, hanya saja dia tidak ingin wanitanya ini semakin merasa bersalah atas apa yang telah dilakukan oleh ibunya. Dan sebuah kesalahan fatal karena Luis membahas mengenai wanita itu di depan Jesslyn, memang tidak seharusnya dia membahasnya.
"Huft, terserah kau saja lah." Jesslyn membuang muka kearah lain. Dia kehilangan moodnya.
.
.
__ADS_1
Usai mengantarkan istrinya pulang. Luis kembali ke tempat tadi. Dia mendatangi tempat yang di datangi oleh Yuna dan ayahnya. Luis sangat penasaran dengan apa yang kedua manusia itu lakukan di gedung tersebut.
"Selamat siang, Tuan Qin. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Seorang karyawan wanita menyambut kedatangan Luis dengan sangat baik.
"Aku cuma ingin bertanya, apa yang dilakukan oleh pasangan paruh baya itu disini?" Tanya Luis tanpa basa-basi.
"Maksud Tuan pasangan yang mana? Apakah Pasangan yang meninggalkan gedung ini sekitar 30 menit yang lalu?"
Luis mengangguk. "Ya,"
"Mereka mengajukan pinjaman besar pada kami. Tapi kami menolaknya, karena hutang yang sebelumnya belum dilunasi." Jawab si karyawan.
"Apa yang mereka jadikan jaminan untuk hutangnya kali ini?"
"Perusahaan. Sebelumnya mereka mengadaikan rumahnya, dan sekarang mereka mengadaikan perusahaannya." Jelas pegawai wanita tersebut.
"Panggil Managermu, aku ingin berbicara 4 mata dengannya."
Melihat ada kesempatan emas ada di depan mata. Tentu saja Luis tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia akan memanfaatkan hal tersebut untuk menghancurkan mereka berdua. Yuna dan laki-laki itu harus menerima balasan yang setimpal. Karena sudah saatnya mereka menerima kehancuran.
"Tuan Qin, Anda memanggil saya. Mari kita bicara di ruangan saya saja." Ucap manager itu mempersilahkan Luis, keduanya berjalan beriringan menuju ruang kerja pria paruh baya tersebut. "Tuan Qin, hal penting apa yang sebenarnya ingin Anda bicarakan dengan saya." Tanya pria itu.
"Tulis nominal uang yang ingin dipinjam oleh Dante dan istrinya di cek kosong ini. Panggil mereka kembali dan setujui pengajuan pinjaman yang di ajukan tadi." Pinta Luis.
"Tapi, Tuan. Jika mereka tidak bisa melunasi semua hutang-hutangnya, maka Anda sendiri yang akan mengalami kerugian besar. Apalagi saat ini perusahaannya hampir gulung tikar."
Luis menyeringai. "Memang, segala sesuatu pasti ada resikonya, untung rugi sudah biasa dalam dunia bisnis. Dan aku tidak akan mengalami kerugian apapun, karena aku akan mendapatkan perusahaan itu!!"
-
-
__ADS_1
Mobil Luis memasuki halaman luas Mansion Qin. Seorang pria langsung menghampiri mobil itu lalu mengambil alih kunci dari tangan sang majikan, kemudian mobil mewah tersebut dipindahkan ke dalam bagasi.
Waktu sudah menunjuk angka 9 malam. Wajar jika Mansion dalam keadaan sepi. Tak terlihat batang hidung si kembar, Nathan maupun Jesslyn. Sebelum pergi ke kamarnya. Luis lebih dulu mendatangi kamar Nathan dan mendapati putranya itu sedang tertidur pulas.
Tak ingin mengganggu tidur nyenyak putranya, Luis menutup kembali pintu bercat putih itu lalu pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Suara decitan pada pintu mengalihkan perhatian Jesslyn yang sedang menghapus riasan tipis di wajah cantiknya. Tubuh rampingnya dalam balutan gaun merah yang mampu membuat senjata tempur Luis langsung berdiri.
Jesslyn bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang suami. "Kau sudah pulang," dia membantu Luis melepas jas dan dasinya. Menyisakan kemeja putih lengan panjang dan Vest hitamnya.
Tubuh Jesslyn tertarik ke depan, jarak antara dia dan Luis terbunuh sepenuhnya. "Kau sengaja ingin menggodaku, hm." Bisik Luis lalu mel*mat bibir Jesslyn dengan keras. Sebelah tangan Luis menuntun lengan Jesslyn untuk memeluk lehernya.
Luis terus mel*mat dan memagut bibir Jesslyn tanpa ampun. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan pada wanitanya itu untuk membalas apalagi mengambil alih ciuman tersebut. Ciuman Luis semakin menuntut. Benar-benar bukan ciuman lembut penuh perasaan, tapi ciuman yang mampu membangkitkan g*irah.
Des*han yang keluar dari sela-sela bibir Jesslyn Luis manfaatkan untuk mendapatkan akses lebih. Lidahnya menelusup masuk dan mulai menginvasi rongga mulut Jesslyn.
Dan ciuman mereka baru berakhir ketika Luis merasakan pukulan pelan pada dadanya. Jesslyn sudah tidak kuat dan ingin mengakhiri ciuman panas tersebut. "Kenapa kau masih sangat payah, Sayang?!" Cibir Luis sambil menghapus jejak liur dibibir Jesslyn.
"Karena kau begitu bersemangat, kau membuatku tidak bisa bernapas, Lu." Balas Jesslyn tak mau kalah. "Apa kita akan melakukannya?" Dia menatap sang suami penuh harap.
"Jika kau memang menginginkannya, kenapa tidak!!" Jawab Luis lalu mendorong Jesslyn dan mengungkungnya di tempat tidur.
Luis semakin agresif dan membuat des*han Jesslyn semakin hebat. Satu persatu kain yang melekat dit*buh wanita itu Luis tanggalkan, menyisakan br* dan celana dal*m yang masih melindungi titik sensit*fnya.
"Malam ini aku akan membuatmu mend*sahkan namaku sampai pagi, Nyonya Qin." Luis menyeringai dan kembali menyergap bibir Jesslyn, dan mel*matnya seperti tadi.
Jesslyn memiliki firasat yang buruk setelah mendengar kata-kata suaminya. Pasti Luis membuatnya kesulitan berjalan lagi esok pagi. Dan bisa-bisa dirinya menjadi bahan cibiran Tao yang sejatinya super super menyebalkan.
-
Bersambung.
__ADS_1