
Marissa membuka matanya yang terasa berat. Dia merasakan kepalanya seperti dihantam batu besar. Ia memperhatikan sekelilingnya, asing.. Marissa tidak mengenali tempat dimana dia berada saat ini.
Gadis itu mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi tidak bisa, seperti ada yang membatasi gerakannya. Marissa mencoba menggerakkan kaki dan tangannya, tapi tidak bisa. Tangannya diikat keatas dengan posisi terlentang, begitu pula dengan kakinya.
Marissa mencoba untuk berteriak. Tapi suaranya tidak mau keluar. Marissa benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mungkinkah dia sedang diculik?! Satu pertanyaan yang ada dibenak Marissa saat ini.
Cklekk...
Decitan suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatiannya. Marissa menoleh dan mendapati kedatangan Mario. Setelah menutup kembali pintu bercat putih tersebut, Mario menghampiri Marissa yang melotot kearahnya.
"Jangan marah begitu, Sayang. Kau terlihat jelek loh. Dan aku tidak suka saat kau melotot begitu padaku." Ucap Mario dengan seringai liciknya. "Kenapa? Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Kalau begitu ayo katakan saja, aku akan mendengarkannya." Pinta Mario.
Pandangan Mario lalu bergulir pada tubuh Marissa yang masih berpakaian lengkap. Mario mendekati gadis itu lalu menarik kaos putih yang dia pakai sampai robek. Marissa berteriak tanpa suara sambil melotot pada Mario.
"Aku bilang jangan melotot padaku, aku tidak suka!!" Bentak pemuda itu lalu men*suk salah satu m*ta Marissa dengan belati kecil yang terletak diatas keranjang buah. Membuat mulut gadis itu kembali terbuka seolah-olah ingin berteriak, tapi suaranya tetap tidak mau keluar.
Darah segar mengucur deras dari mata kiri Marissa bersamaan dengan jatuhnya air mata dari mata kanannya. Mario menatap gadis itu dengan sendu. Dengan perlahan dia mencabut belati itu dari m*ta Marissa, Mario merobek kemeja putihnya yang kemudian dia ikatkan pada mata kiri Marissa agar pendarahannya berhenti.
"Maafkan aku, Sayang. Kau yang memaksaku melakukannya. Jika kau tidak melotot padaku, aku juga tidak akan mencongkel matamu. Dan jika tidak ingin kehilangan mata kananmu juga. Jadi sebaiknya menurut ya, jangan melotot lagi. Oya, malam ini sangat dingin, temani aku berolah rasa sebentar." Ujar Mario dengan seringai setannya.
Marissa menggeleng melihat Mario melepas pakaiannya, tak sehelai benang pun ditubuh pemuda itu.
Mario melepas celana Marissa dan mulai memompakan senjata tempurnya. Mario tak peduli dengan isakan tangis gadis itu, dia terus mengerakkan tubuhnya diatas Marissa yang hanya bisa pasrah.
"Ini adalah hukuman untuk gadis tak tau balas budi sepertimu. Aku sudah sangat baik dan melakukan apapun untukmu, tapi kau selalu memandang rendah diriku dengan sebelah matamu. Dan sekarang aku kabulkan, kau benar-benar bisa memandangku dengan sebelah matamu!!"
-
-
__ADS_1
Nathan keluar kamarnya dan mendapati sang ayah yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, pukul 23.00 malam. Penasaran kenapa sang ayah belum tidur, Nathan memutuskan untuk menghampirinya.
"Kenapa belum tidur?"
Luis mengangkat wajahnya setelah mendengar suara berat dan dingin seorang pemuda berkaur di dalam telinganya. Sudut bibir Luis tertarik ke atas.
"Daddy terusir dari kamar. Mami-mu ngambek gara-gara Daddy menolak untuk memberinya jatah malam ini. Pinggang Daddy seperti patah setelah disiksa mamimu semalam, dan sekarang dia malah minta jatah lagi." Jelas Luis.
Nathan meringis ngilu. Cerita ayahnya membuatnya merinding sendiri. Bukankah biasanya laki-laki yang bernafsu soal bercocok tanam, tapi kenapa ini malah kebalikannya?! Terkadang wanita memang sulit dimengerti.
"Kalau begitu Daddy bisa tidur di kamar tamu. Lagipula salah Daddy juga, kenapa tidak menuruti kemauan mami, kan jadi rumit urusannya!!"
"Benar juga, apalagi mamimu bisa marah dan mendiami Daddy selama 3 hari 3 malam. Apa sebaiknya Daddy kembali ke kamar saja dan membujuk mamimu supaya tidak marah lagi?"
Nathan mengangkat bahunya. "Entah, kenapa Daddy malah bertanya padaku. Mana aku tau," dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Luis begitu saja. Nathan berjalan ke dapur untuk mengambil minuman dingin dan sepotong roti tuna, dia merasa lapar.
Sedangkan Luis masih belum beranjak dari duduknya. Otaknya sedang berpikir keras antara membujuk Jesslyn atau tidak.
Luis mengacak rambut hitamnya. Dia benar-benar frustasi. Dan ini bukan pertama kalinya Luis dihadapkan dengan masalah rumit semacam ini.
Mengabaikan ayahnya yang sedang berperang dengan kegalauannya. Nathan kembali ke kamarnya untuk lanjut tidur. Besok ada kuliah pagi dan dia harus menjemput Vivian tepat waktu.
-
-
"SANIA, APA YANG KAU LAKUKAN PADA DAPURKU?!"
Vivian yang baru saja tiba di dapur di kejutkan dengan keadaan dapurnya yang seperti kapal pecah. Sedangkan si tersangka utama hanya bisa tersenyum tiga jari sambil mengangkat tangannya, dan jarinya membentuk huruf V.
__ADS_1
Niatnya Sania ingin membuat sarapan untuk dirinya dan Vivian. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sarapan gagal dibuat dan dapur malah berantakan.
"Maaf, Vi. Tadinya aku mau menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Tapi malah berending seperti ini," ucap Sania penuh sesal.
"Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus membereskan dapurku dan membuatnya kembali bersih seperti semula!! Apa kau tidak jika aku baru saja membersihkannya semalam, dan sekarang malah kau buat berantakan lagi. Sania, KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!"
Sania menutup matanya dan bahunya sedikit terangkat mendengar teriakan frustasi Vivian. Sania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Niatnya sih baik, tapi endingnya malah membuat tuan rumah marah besar.
"Iya, iya aku bersihkan dan bereskan. Tapi tidak perlu berteriak juga, kau membuatku hampir terkena serangan jantung dadakan!!" Gerutu Sania. Vivian memutar jengah matanya, dia beranjak dari dapur dan pergi begitu saja.
-
-
Nathan menghentikan motor besarnya dihalaman rumah Vivian. Dan disaat bersamaan, gadis itu keluar sambil menekuk wajahnya. Mulutnya terus berkomat-kamit tidak jelas.
Penasaran apa yang terjadi pada kekasihnya. Pemuda dalam balutan pakaian serba hitam itu pun segera menghampiri Vivian. "Kau baik-baik saja?" Tanya Nathan memastikan.
"Buruk!!" Balas gadis itu sedikit ketus.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Nathan memastikan.
"Sania membuat dapurku seperti kapal pecah, padahal aku baru membereskannya semalam. Dan aku tidur sampai larut malam karena ulahnya, dan pagi ini dia malah mengulanginya lagi." Jelas Vivian.
Nathan menghela napas panjang. "Tidak perlu marah dan cemberut. Asalkan dia mau bertanggung jawab bukankah itu sudah cukup." Ucapnya sambil menepuk kepala coklat gelap Vivian. Gadis itu mengangguk.
Kemudian mereka berdua berangkat ke kampus bersama. Sementara Sania masih di dalam membersihkan dapur Vivian. Sania tidak bisa pergi sebelum dapur itu kembali bersih dan rapi.
-
__ADS_1
-
Bersambung.