
"Mama siapkan saja uangnya. Soal penculikan Vivian serahkan saja padaku. Biar aku yang mengurusnya!!"
Gio menghentikan langkahnya saat tanpa sengaja dia mendengar percakapan ibu dan kakaknya. Mereka sedang membahas rencana untuk menculik Vivian.
"Pastikan berhasil. Mama tidak ingin sampai ada kesalahan sedikit pun, karena harapan kita satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan adalah gadis itu. Vivian adalah kunci agar Xia Empire mau berinvestasi di perusahaan kita lagi."
"Mama tenang saja, aku akan mengaturnya. Aku pastikan malam ini juga gadis itu ada ditangan kita. Mereka adalah orang pilihan, menculik, membunuh sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Intinya mereka adalah seorang yang profesional."
"Bagus sekali, Vano. Kau memang paling bisa diandalkan. Tidak salah kau menjadi kesayangan Mama. Ya sudah, Mama keluar dulu. Setelah ini keluar untuk makan siang,"
Gio meninggalkan kamar kakaknya dengan terburu-buru. Vivian dalam bahaya dan dia tidak bisa diam saja.
Gio aku, dia memang seorang bajingan, tapi ia tidak akan melibatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya dengan menghalalkan segala cara. Dan Gio tau siapa yang bisa menyelamatkan Vivian dari petaka ini.
Pemuda itu menuruni tangga rumahnya sambil setengah berlari. Ditengah langkahnya tak lupa dia mengetik pesan singkat untuk seseorang dan sia mengajak orang itu untuk bertemu. Gio tidak bisa jika hanya menyampaikan melalui pesan singkat saja. Karena mereka harus mengatur strategi juga.
-
-
Nathan meninggalkan kampus setelah mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Padahal kuliah belum berakhir, dia beralasan sedang kurang enak badan dan dosen mengijinkannya untuk pulang. Nathan juga tidak mengatakan apapun pada Vivian, tapi gadis itu tau jika sesuatu sedang terjadi.
Vivian mengangkat tangannya. Membuat perhatian dosen kini teralihkan padanya. "Iya, Vivian ada apa?" Tanya dosen itu.
"Saya ijin untuk menyusul Nathan. Dia sedang tidak enak badan dan akan sangat berbahaya jika mengemudi sendiri." Ujarnya. Dosen itu mengangguk. Dan dia mengijinkan gadis itu untuk pergi.
Vivian membereskan buku-bukunya lalu mengejar Nathan yang sudah semakin menjauh. Gadis itu mempercepat langkahnya dan beberapa sampai terjatuh karena heels yang dipakainya. Tapi Vivian tidak peduli, dia melihat pemuda itu menuju parkiran dan Vivian pun segera memanggilnya.
"Nathan, tunggu!!" Seru Vivian dan menghentikan langkah pemuda itu.
Nathan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. "Vivian, sedang apa kau disini? Bukankah kelas masih belum selesai, lalu kenapa kau menenteng sepatumu?" Tanya Nathan sambil menunjuk heels ditangan Vivian.
"Aku akan pergi denganmu. Kau langsung pergi begitu saja setelah menerima pesan singkat dari seseorang. Bahkan kau sampai membohongi dosen dengan berpura-pura tidak enak badan."
"Seseorang ingin bertemu denganku dan katanya penting. Jadi aku harus pergi menemuinya."
"Siapa?"
__ADS_1
Nathan menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, nomor asing. Makanya aku pergi untuk mencari tahunya. Dan sepertinya itu sangat penting. Ya sudah, cepat naik." Pinta Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian.
Vivian memang tidak mengenali nomor itu. Tapi dia tau itu tulisan siapa. Meskipun tulisan itu dikirim dari ponsel, tapi Vivian sangat mengenalnya.
.
.
Mereka tiba ditempat yang telah disepakati. Dan benar dugaan Vivian, memang Gio yang mengirim pesan singkat itu. Dan yang menjadi pertanyaannya, kenapa dan untuk apa Gio mengajak Nathan bertemu. Apa pemuda itu ingin mencari ribut lagi.
Nathan turun dari mobilnya diikuti Vivian. Mereka menghampiri Gio yang sudah menunggu dari tadi.
"Untuk apa kau mengajakku bertemu disini?" Tanya Nathan tanpa basa basi.
"Vivian berada dalam bahaya, dan hanya kau yang bisa menyelamatkannya." Jawab Gio lalu menatap keduanya bergantian.
Nathan dan Vivian saling bertukar pandang. Tidak mengerti dengan apa yang Gio katakan. Kemudian pemuda itu mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman pembicaraan ibu dan kakaknya yang ia rekam di ponselnya.
"Pastikan berhasil. Mama tidak ingin sampai ada kesalahan sedikit pun, karena harapan kita satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan adalah gadis itu. Vivian adalah kunci agar Xia Empire mau berinvestasi di perusahaan kita lagi."
"Mama tenang saja, aku akan mengaturnya. Aku pastikan malam ini juga gadis itu ada ditangan kita. Mereka adalah orang pilihan, menculik, membunuh sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Intinya mereka adalah seorang yang profesional."
"Bagus sekali, Vano. Kau memang paling bisa diandalkan. Tidak salah kau menjadi kesayangan Mama. Ya sudah, Mama keluar dulu. Setelah ini keluar untuk makan siang,"
Gio menyimpan kembali ponselnya. "Inilah alasanku mengajakmu bertemu, karena aku tau hanya kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan Vivian." Ucap Gio sambil menatap langsung ke dalam mata Nathan.
"Aku memang seorang bajingan dan suka mencari masalah dengan kalian. Tapi aku paling tidak suka jika ada orang yang memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadinya. Apalagi Vivian adalah teman satu kampusku, bukan hanya nama baik keluarga kami yang rusak dan hancur, tapi nama baik Papa juga yang tidak tau apa-apa pasti akan terseret."
Nathan menghela napas berat. "Ini akan rumit. Pertama-tama kita harus menemukan orang-orang yang sudah disewa oleh kakakmu untuk menculik Vivian. Kita pancing mereka, kita buat mereka datang sendiri pada kita."
"Ide yang brilian, tapi bagaimana caranya?"
"Orang yang mengejar mereka adalah Vivian, sebagai umpannya kita harus menggunakan dia, kau setuju kan Vi?" Pandangan Nathan lalu bergulir pada Vivian.
Gadis itu mengangguk. "Aku setuju,"
"Tapi apakah ini tidak terlalu berbahaya untuk, Vivian?" Gio mendadak cemas.
__ADS_1
"Vivian bukanlah gadis yang lemah. Jika hanya menghadapi amatiran seperti mereka, tentu bukan sesuatu yang sulit untuknya. Lagipula ada kita berdua yang akan memantau mereka. Dan satu lagi, untuk keberhasilan rencana ini, kita harus melibatkan Arya CS. Meskipun mereka konyol dan menggelikan, tapi mereka cukup berguna." Tutur Nathan.
"Rencana yang sempurna, kau bisa mengaturnya sendiri. Aku akan membantu semampuku."
"Masih ada 7 jam lebih menuju malam. Kita bisa mengatur strategi yang lebih matang. Sebaiknya kita pergi ke rumahku saja. Nathan, hubungi trio semprul dan minta mereka untuk datang. Sekalian kirimkan alamat rumahku." Ucap Vivian yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Vivian tidak menyangka jika Vano akan mengambil tindakan sejauh ini hanya demi tujuannya tercapai. Tapi dia tidak akan membiarkannya apalagi membiarkan rencananya berjalan sempurna. Vano masih belum mengenalnya dengan baik. Dan orang seperti dia, tentu perlu diberi pelajaran yang berharga.
-
-
Gio menatap pantulan dirinya di cermin. Nyaris saja dia tidak mengenali dirinya sendiri. Rencana berubah, bukan Vivian tapi Gio-lah yang akan menjadi umpan untuk memancing mereka.
Pemuda itu didandani menyerupai Vivian, mulai dari rambut sampai gaya berpakaiannya. Bahkan pakaian yang melekat ditubuhnya adalah milik Vivian. "Ya Tuhan, Gio. Kau cantik sekali! Sampai-sampai aku tidak percaya jika ini adalah dirimu!!" Seru Arya setibanya Gio dari kamar Vivian.
Bukan cuma Arya yang terpesona pada kecantikannya, tapi Sean dan Dio juga. Hanya Nathan yang tidak terpengaruh sama sekali oleh kecantikan pemuda itu ketika Vivian menyulapnya menjadi sedemikian rupa.
"Bagaimana? Cantik kan?" Ucap Vivian sambil merangkul Gio. Tapi segera ditarik oleh Nathan.
"Jangan sembarangan merangkul pria lain saat kau sudah memiliki kekasih. Meskipun wujudnya berubah, tapi jiwanya tetap seorang pria!!"
Sontak tiga kepala itu menoleh pada Nathan dan Vivian. Alis mereka saling bertautan. Mereka butuh penjelasan dari mereka sekarang. Dan sepanjang mereka mengenal Nathan, itu pertama kalinya mereka melihat sahabatnya yang mirip kutub Utara itu bersikap protektif pada seorang perempuan.
"Nathan, Vivian, kalian berhutang penjelasan pada kami." Ucap Arya dengan seringai tengilnya. "Jangan bilang jika kalian berdua sudah jadian secara diam-diam dibelakang kita bertiga ya?" Tebaknya 100% benar.
"Kenapa mulutmu bawel sekali. Kita berdua jadian atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan kalian bertiga!!" Jawab Vivian menimpali.
"Dasar menyebalkan. Aku bertanya baik-baik, tapi kenapa jawabanmu malah melukai perasaanku. Oh, hatiku yang lemah lembut kini terluka." Arya memegang dadanya.
"Dasar tiang gila!!"
Vivian tidak tau bagaimana Nathan bisa mendapatkan tiga teman abstrud seperti mereka bertiga. Yang tingkahnya selalu membuat orang lain geleng-geleng kepala. Tapi meskipun begitu, tanpa mereka bertiga hidup juga akan terasa sepi karena tidak ada yang jahil dan menyebalkan lagi.
-
-
__ADS_1
Bersambung.