Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kerinduan Luna


__ADS_3

Kerinduan terlihat jelas di Mata Hazel Luna akan orang tuanya. Berbulan-bulan tidak bertemu dengannya membuat Luna sangat merindukan mereka berdua, terutama ibunya. Apalagi Luna jarang sekali berpisah dari Jesslyn. Jadi tidak heran jika sepanjang perjalanan dari Bandara dia nemplok terus pada Ibunya.


"Mi, Pi, Kenapa kalian berdua tega sekali padaku? Meninggalkanku begitu lama, aku pikir kalian mau jadi bang Toyib dan Nyonya Toyib, yang lupa gak pulang-pulang." Ujar Luna.


Alis Jesslyn saling bertautan. "Bang Toyib dan Nyonya Toyib, Mama tidak pernah mendengarnya. Memangnya itu judul lagu atau apa?" tanya Jesslyn penasaran.


"Judul lagu asal indo, jadi wajar kalau Mami tidak tahu. Oya, Mi, apa kalian membawa kado untukku? Beberapa hari lagi aku ulang tahun, jadi aku minta kado yang sangat istimewa." Tukas Luna.


"Kado apa?" tanya Jesslyn


Luna tampak berpikir kemudian menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu. Bahkan aku belum memikirkannya. Hanya saja, aku menginginkan sesuatu yang sangat spesial di hari spesial ku." jawab Luna.


"Kalau begitu akan Mami pikirkan dulu, kira-kira kado apa yang cocok untukmu." Ucap Jesslyn.


Luna mengangguk. Kembali dia memeluk ibunya dengan erat. Sikap manja Luna yang begitu berlebihan terkadang membuat Jesslyn merasa kurang nyaman, bagaimana tidak, Luna selalu nemplok padanya dan tidak mau jauh-jauh darinya.


Terkadang ibu dua anak itu sampai tidak bisa melakukan aktifitas apapun jika penyakit manja Luna sedang kambuh. Tapi bukan berarti Jesslyn tidak menyukainya. Karena itu artinya, Luna masih sangat membutuhkannya.

__ADS_1


"Jordan, Paman harap kau tidak terkejut melihat sikap Luna yang seperti anak kecil. Dia memang semenjak itu pada ibunya. Terkadang Bibi Jesslyn sampai tidak bisa melakukan aktivitas apapun jika Luna sudah nemplok seperti cicak padanya." Ujar Luis sambil melihat ke belakang melalui spion depan.


Jordan menggeleng. "Tentu saja tidak, Paman. Bahkan saya sudah terbiasa dengan sikapnya, karena memang begitulah dia, manja dan selalu ingin dimanja." Ucapnya tersenyum.


"Apa dia juga bersikap begitu ketika bersamamu?" tanya Luis memastikan.


Jordan mengangguk. "Ya, meskipun tidak setiap hari." Jawabnya membenarkan.


Luis tersenyum tipis. Sepertinya dia tidak perlu mencemaskan apapun lagi sekarang, karena Jordan adalah tipe pria penyabar dalam menghadapi Luna yang terkadang seperti bocah TK. Luis juga melihat cinta yang begitu besar di mata Jordan untuk Luna. Apalagi Jordan adalah tipe-tipe pria seperti dirinya, dingin diluar namun memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang.


"Baguslah kalau begitu. Kita mampir dulu ke cafe. Ini sudah masuk waktunya makan siang." Ucap Luis sambil melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.


xxx


Jimmy marah besar saat melihat kondisi Boy yang begitu mengenaskan. Semalam dia dihajar habis-habisan oleh Jordan, Dia kehilangan beberapa gigi depannya, patah tulang sana-sini, belum lagi babak belur pada wajah dan sekujur tubuhnya. Membuat wajah Boy tidak berbentuk lagi.


Tangannya terkepal kuat. Dia bersumpah pasti akan membalas perbuatan Jordan dan menghabisinya. Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Jimmy, dia menoleh dan menatap Bryan.

__ADS_1


"Hal ini membuktikan jika dia bukanlah orang yang bisa diremehkan. Boy, yang memiliki kemampuan bela diri dan pemegang sabuk hitam saja bisa dikalahkan. Jimmy, kita harus berhati-hati." ucap Bryan mengingatkan.


Jimmy menyentak tangan Bryan dari bahunya dan menatapnya tajam. "Sebahaya apapun dia, aku pasti akan menghabisinya. Dia sudah membuat putraku menjadi seperti ini. Lihat saja wajahnya yang jelek itu, jadi semakin jelek dan berantakan." Ujar Jimmy sambil menunjuk muka Boy yang terbungkus perban.


"Maka dari itu Papa harus memberiku uang untuk operasi plastik, supaya aku bisa tampan seperti Oh Sehun EXO." Sahut Boy.


"Diam lah, sebaiknya kau jangan banyak bicara. Rahangmu patah dan dokter melarang mu untuk banyak supaya tulangnya tidak geser lagi." ucap Jimmy.


"Pa, kau harus membalaskan dendamku pada bajiingan itu. Kau harus menghancurkan dia sampai sehancur-hancurnya, tidak mau tahu pokoknya dia harus hancur!!"


"Kau tenang saja, Boy. Papa, pasti akan menghancurkannya. Kau tunggu saja tanggal mainnya, semua miliknya akan menjadi milik kita. papa akan membuat bajiingan kecil itu dan keluarganya menjadi gelandangan." Tukas Jimmy.


"Dia bukan bajiingan kecil, Pa. Karena aku dan dia lebih tua bajiingan itu."


"Tapi Papa dan dia lebih tua, Papa. Lalu apa jika bukan bajiingan kecil? Sebaiknya kau jangan berisik. istirahatlah, Papa masih ada urusan."Ucap Jimmy dan pergi begitu saja.


Boy mengepalkan tangannya. Dia menyimpan dendam begitu besar pada Jordan, karena sudah membuatnya babak belur. Dan Boy sudah tidak sabar menunggu kehancurannya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2