Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Tidak Percaya


__ADS_3

Jordan merintih sambil memegangi pelipisnya yang terasa perih dan berdenyut, cairan merah segar menetes dari sela-sela jarinya, di waktu yang sama. Pintu ruangannya terbuka, muncul sosok Martin yang tanpa permisi nyelonong dan terbelalak mendapati Jordan yang berlumur darah.


"HUEEEE, RUSA!!" Pekiknya dan segera menghampiri Jordan. "A-apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa begini?" Tanyanya saat sudah ada di depan Jordan.


"Aku rasa jahitannya terbuka." Jawab Jordan di sela rintihannya. Dia merasa kesakitan


"Kita ke UKS sekarang." Kemudian Martin membantu sahabatnya itu berdiri dan merangkulnya menuju UKS, tapi tangan Martin segera di tepis oleh Jordan.


"Aku ada kelas setelah ini." Ucapnya,


Martin mendecih. Menatap kesal sahabat kutub utaranya itu. "Bodoh, mana mungkin kau pergi ke kelas dalam keadaan seperti ini. Lihatlah kau sangat berantakan, kau mengerikan dengan pakaian penuh darah. Bisa-bisa seluruh orang yang ada di kelas akan histeris dan Luna akan pingsan karena melihatmu berlumur darah, asal kau tau. Sebenarnya Luna itu phobia sama darah." Jelasnya sedikit mencak-mencak agar sahabatnya itu.


Jordan memutar matanya jengah, tingkah Martin membuatnya merasa geli "Baiklah, setelah ini minta si mesum itu mengisi kelasku. Aku akan bertukar jam pelajaran dengannya." Martin tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya.


"Oke."


Setibanya di UKS, Jordan langsung mendapatkan perawatan segera. Sedangkan Martin sudah menghilang sejak beberapa menit yang lalu. Perawat yang berjaga segera memberikan pertolongan, pertama-tama Ia bersihkan dulu darah yang mengotori wajahnya sebelum memeriksa jahitannya.


Dan benar, memang ada jahitannya yang terbuka. Tanpa mengulur waktu, suster itu segera membenahi jahitan itu sebelum menutupnya kembali dengan perban.


Mencari jalan aman, perawat itu pun melilitkan perban baru di dahi Jordan dengan rapi, menarik dua lilitan terakhir kebawah untuk menutupi perban yang sebelumnya telah Ia letakkan di atas luka jahitnya sebagai lapisan dalamnya. Karena dengan begini perbannya tidak akan mudah terlepas, dan kemungkinan untuk luka jahitnya kembali terbuka sangat kecil.


"Nah selesai Tang Songsaenim, sebaiknya Anda istirahat dulu di sini." Saran Perawat itu dan segera meninggalkan Jordan.


Jordan meletakkan tangannya di atas dahinya yang terlilit perban, mencoba menutup matanya yang terasa berat. Karena Istirahat adalah jalan satu-satunya untuk menghilangkan pening di kepalanya, dan Ia masih memiliki waktu beberapa jam sebelum kelasnya di mulai. Jordan menukar kelasnya dengan Hans Songsaenim karena tidak memiliki pilihan lain.


Sementara itu, di dalam kelas telah riuh. Para mahasiswi termasuk Luna sudah tidak sabar menunggu kedatangan sang dosen tampan, karena semua tau jika hari ini Jordan sudah masuk kembali. Tapi semua harus menelan kekecewaannya karena yang masuk bukannya Jordan melainkan Hans Songsaenim.


"Pagi anak-anak." Sapanya setelah meletakkan novel laknat miliknya di atas meja.


"Pagi, Songsaenim." Jawab malas para Mahasiswi.


"Ehh ada apa dengan kalian? Kenapa tidak bersemangat? Apa tidak suka melihatku di si----"


"Tidak." Jawab mahasiswi serempak.


Hans Songsaenim mendesah panjang, Ia tau apa alasannya. Karena seharusnya Jordan lah yang saat ini berdiri menyampaikan materi, bukan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, Martin menemuinya dan mengatakan jika Jordan ingin bertukar kelas dengannya.


Seharusnya pelajaran Jordan di mulai di jam pelajaran kedua, dan sekarang malah di undur pada jam pelajaran terakhir yang seharusnya kelas Hans Songsaenim. "Hufftt, pasti karena Tang Songsaenim bukan? Hahaha aku sudah menduganya, kelasnya di undur ke jam pelajaran terakhir. Sekarang buka buku kalian dan simak materi yang akan ku sampaikan."


Selama satu jam mereka lewati penuh kebosanan, rasa kecewa mereka belum hilang karena pertukaran waktu antara kelas Jordan dan Tang Songsaenim.


Seharusnya ini jam paling membahagiakan bagi mereka, karena berhadapan dengan dosen tertampan di S.N.U. Meskipun Jordan slalu bersikap dingin dan tidak pernah sekali pun tersenyum sepanjang mata kuliahnya berlangsung, tapi justru itulah yang menjadi daya tariknya. Wajah stoic tanpa ekspresi sang adonis benar-benar mampu mengobrak-abrik perasaan para gadis.


"Tiff, menurutmu kemana perginya Jordan? Kenapa kelasnya malah di gantikan oleh dosen messum ini." Rengek Luna dengan suara rendahnya, kepalanya terkulai begitu saja di atas meja.


Tiffany menoleh dan mengangkat bahunya acuh."Mana aku tau, sebaiknya fokus saja pada materi si messum itu sebelum kau terkena masalah." Nasehat Tiffany pada sahabatnya itu.


"Haah, benar-benar membosankan." Keluh Luna dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lengannya yang di lipat.


"Luna,"


Deggg .. !!


Luna terkejut mendengar suara tegas Hans Songsaenim memanggilnya, sontak Ia mengangkat wajahnya dan menatap Hans Songsaenim penuh tanya. "I-iya Songsaenim." Ucapnya.


"Pergilah keruang kesehatan. Sepertinya seseorang membutuhkanmu di sana." Luna terkejut? Tentu saja, Hans Songsaenim baru saja memberi perintah yang sama sekali tak Ia ketahui maksudnya.


" A-apa!!"


.


.


Setibanya di ruang kesehatan, Luna menemukan Jordan yang tengah berbaring dengan satu tangan menutupi bagian matanya. Dia melihat ada perban melingkari dahinya yang memutar sampai belakang kepalanya. Muncul perempatan siku-siku di dahi lebarnya 'Perban baru, mungkinkah jahitannya terbuka.' Pikir Luna.


Luna mendekati Jordan kemudian berdiri di depan ranjangnya. Menatap wajah tampan sang kekasih tanpa jengah, wajah tegas dan datar namun memiliki pahatan sempurna.


Selain sepasang jade nya yang tajam, hidung mancung dan bibir bibir tipis yang menggoda. Juga rahang kokoh di sisi wajahnya, yang membuat para wanita di luar sana akan berteriak histeris hanya dengan menatapnya. Bahkan mereka rela membuka kakinya lebar-lebar asal Jordan mau menerima perasaanya.


Tapi sayangnya pil kekecewaan harus mereka telan bulat-bulat karena disisi Jordan telah bersanding sosok jelita bernama Luna. Gadis berambut panjang berwarna coklat terang, membuat siapa pun akan berdecak kagum ketika melihatnya. Ia cantik, dengan sepasang bola mata Hazel bening yang menawan.


Ya, Luna memang telah resmi menjadi kekasih Jordan sejak beberapa bulan yang lalu. Jordan sangat mencintainya dan memperlakukan Luna dengan sangat istimewa, jika pada yang lainnya dia selalu bersikap dingin dan acuh bahkan pada kakak dan kakeknya sendiri.


Tapi itu pengecualian untuk Luna, Jordan selalu bersikap hangat meskipun sisi dinginnya masih kental namun itu cukup membuat Luna selalu merasa nyaman saat berada di sisinya.


Dan itulah kenapa Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, secantik apa pun para wanita di luaran sana. Tapi Jordan lebih memilih dirinya, bahkan dia tak tergoda sedikit pun oleh sosok Selena yang sangat cantik, sexy dan cukup mengairahkan. Karena Jordan telah menjatuhkan hatinya pada Luna, dan hanya dia satu-satunya gadis yang mampu memegang kunci hati seorang Jordan Tang.


"Kurang sopan mencuri ciuman di saat orangnya sedang tidur, Nona." Onyx itu terbuka perlahan-lahan.


Dengan kesadaran yang belum kembali sepenuhnya. Tangan besarnya mencengkram pergelangan tangan Luna. "Ehhh," Luna terkejut, matanya mengerjap beberapa kali. Seringai khas tercetak di wajah tampannya "Ge, Itu tadi aku--- Emmmpp." Ucapan Luna terpotong saat bibirnya di cium Jordan dengan ganas dan melumatt-nya penuh hasrat.


Jordan menekan tengkuk Luna untuk semakin memperdalam ciumannya, dihisapnya bibir wanita kesayangannya lembut namun kuat. Kedua tangan Luna kini bergelayut manja pada leher Jordan, merespon balik apa yang dilakukan oleh kekasih tampannya ini. Manis, hangat, penuh hasrat, semua yang mereka rasakan tersalur dalam ciuman itu.


Ciuman itu semakin panas, lidah Jordan mengajak lidah Luna untuk menari. Dan sadar dimana mereka saat ini, Jordan memilih mengakhiri ciuman itu meski sebenarnya Ia tak rela.


"Bagaimana kau tau jika aku ada di sini?" Jordan mengusap lelehan saliva yang menetes di dagu Luna dengan jarinya. "Hans Songsaenim, yang mengatakan padaku, memintaku untuk pergi kesini. Dia bilang mungkin seseorang membutuhkanku." Ujarnya. Jordan mengangguk paham.


Jordan kembali berbaring, memeluk pinggang Luna yang masih dalam posisi duduknya dengan posesif "Ge." Rengek Luna karena perlakuan posesif kekasihnya. Jordan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Dia mengabaikan protes Luna, dan hanya meresponnya dengan kata ambigu andalannya. Luma masih mencoba melepaskan pelukan sang kekasih dari pinggangnya "Diam lah, Luna. Biarkan aku istirahat dan menutup mata sebentar saja." Jordan berucap dengan nada dingin yang membekukan. Luna mendesah panjang, tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan Jordan.


.


.


.


Jordan mendesah lega. Akhirnya Ia bisa pulang dan bersantai di rumahnya setelah hampir 1 jam berdiri di depan kelas menyampaikan materi dengan nada tegas dan lugas. Namun dia harus mengubur keinginannya untuk segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah di tambah rasa pening di kepalanya. Luka akibat hantaman keras yang Ia dapatkan tiga hari yang lalu membuat kepalanya berdenyut-denyut.


Martin dan Karin memutuskan untuk berkunjung ke rumahnya. Jordan tidak bisa menolak keinginan mereka dan melarangnya untuk datang. Yang lain tidak bisa ikut di karenakan kesibukan mereka di tambah tuntutan pekerjaan.


Para pria sibuk berbincang di ruang tamu sedangkan para gadis sibuk menyiapkan makan malam. Ya, sebelum mendatangi rumah Jordan. Karin menyempatkan diri untuk mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli apa pun yang dibutuhkan untuk makan malam, termasuk beberapa botol soju.


"Huwaaa." Jeritan histeris Luna mengalihkan Karin dari kesibukannya. Tampak gadis itu terkejut mendapati Luna berdiri lumayan jauh dari penggorengan, membalik tempura dengan spatula dari jarak yang lumayan jauh.


"Astaga, Luna. Apa yang kau lakukan?" Karin bertanya dengan penuh keheranan.


"Karin, tempura nya meletup-letup. Minyaknya berhamburan kemana-mana, dan lihatlah lenganku merah-merah karna minyak sialan ini." Tutur Luna panjang lebar. Kari menepuk jidatnya sendiri kemudian menggeleng seraya mendengus panjang.


"Minggir Lah, kau potong sayurannya dan siapkan salad nya. Biar aku yang menggoreng tempura nya." Ucap Karin menegaskan. Luna nyengir kuda, menatap Karin tanpa rasa bersalah. Sementara Karin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Luna mencuci dan mulai menyiapkan buah-buahan segar sebagai bahan membuat salad, dia juga memasukkan banyak apel dan anggur kedalam wadah yang telah Ia siapkan. Bukan tanpa alasan, Luna sangat tau jika kekasihnya itu sangat menyukai Apel dan Anggur. Luna juga sudah menyiapkan jus Anggur serta beberapa apel segar yang sudah Ia potong-potong untuk Jordan.


"Aku tadi mendengar teriakan Luna, memangnya ada apa?" Tanya Martin yang muncul di dapur seraya tiba-tiba.


Karin dan Luna sontak menoleh. Karin tersenyum lalu berbalik untuk menjawab pertanyaan kekasihnya itu. "Luna, ceroboh dan terkena cipratan minyak panas saat menggoreng tempura." Ujarnya memberi penjelasan. Mata Jordan terbelalak, segera Ia menghampiri Luna dan memastikan jika wanitanya itu baik-baik saja.


Jordan meraih tangan Luna dan mendapati ada bercak merah di lengan wanitanya. "Tunggu di sini, aku ambilkan salep."


Tak sampai lima menit Jordan kembali dengan salep di genggamannya, lalu menuntun Luna menuju sofa "Makanya, lain kali hati-hati." dia mengomeli Luna, bukannya merasa takut. Luna malah terkikik geli melihat ekspresi kesal Jordan yang bercampur cemas.


"Jangan berlebihan Ge, aku baik-baik saja." Dustanya. Karena sebenarnya lengan Luna terasa seperti di bakar meskipun lukanya tak seberapa.


"Baik katamu. Kau bukan pembohong yang hebat, Nona." Jordan mencibir Luna seraya menatapnya tajam.


Glukkk .. !!


Susah payah Luna menelan ludahnya, melihat tatapan Jordan tajam setajam ucapannya. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Luna, menghindari tatapan tajam Jordan dengan menundukkan kepalanya.


Jordan mengambil nafas panjang dan menghelanya."Maaf jika sikapku sudah melukai perasaanmu. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan apalagi terluka oleh kalimat tajam ku." dia berkata penuh penyesalan. Di raihnya tangan Luna dan mengoleskan salep di atas luka bakarnya.


Sementara itu. Martin yang melihat moment itu hanya bisa terbengong-bengong, dari kecil dia mengenal Jordan dan tak pernah sekali pun sahabat dinginnya itu bisa sehangat itu pada orang lain, apalagi itu seorang gadis.


Awalnya dia mengira jika kisah percintaan Luna dan Jordan adalah kisah yang cukup membosankan, mengingat bagaimana kaku dan dinginnya pria itu, bahkan Martin sampai bertaruh dengan teman-temannya untuk usia hubungan mereka yang tak mungkin tahan sampai satu Minggu.


Dean terutama, dia malah memprediksi hubungan Luna dan Jordan hanya berjalan tiga hari saja dengan alasan Luna tidak mungkin tahan untuk menjalin hubungan dengan patung es berjalan. Namun melihat bagaimana sehatnya hubungan mereka malam ini, di tambah cara Jordan memperlakukan Luna mematahkan semua pemikiran jelek mereka .


"Heeee, Rubah tolong cubit lenganku dan katakan padaku jika yang aku lihat itu hanya mimpi." Ucap Dena yang entah sejak kapan sudah ada di rumah Jordan dengan raut muka yang sulit di jelaskan, segera Ia mengulurkan lengannya agar Martin segera mencubitnya. Dean ingin membuktikan jika apa yang Ia lihat itu mimpi atau nyata.


Martin menggerutu. "Sudah muncul seperti hantu, memerintah pula." Dia memutar matanya jengah, menarik kasar lengan Dean dan mencubitnya keras. Ini adalah kesempatan bagus, pikir Martin.


"Ahhh, sakit." Terdengar jerit kesakitan Dean. "Bodoh, kenapa tidak pelan-pelan." Omel Dean sambil mendelik sebal pada Martin.


"Aku hanya melakukan apa yang kau katakan." Ucap Martin dengan tampang sok polos yang membuat Dean ingin sekali menonjok wajahnya.


"Ada apa ribut-ribut?" Sunny muncul dari dapur dengan panik setelah mendengar teriakan Dean.


Bukannya menjawab, Dean melah nyengir kuda menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya "Aku bertanya, bodoh. Bukan memintamu nyengir Kuda." Marah Sunny melihat respon Dean yang tak sesuai harapannya. Alhasil dia langsung diserang oleh sang kekasih.


"Cari kamar kosong Sunny, aku tidak ingin jika si bodoh ini sampai memakai mu di sini." Celetuk Luna dan sedikit memberi hadiah untuk sahabatnya itu.


"LUNA, SAKIT!!"


xxx


Acara makan malam pun telah usai, dua pasangan itu juga telah pulang ke rumah masing-masing. Menyisakan Luna dan Jordan yang sedang duduk bersantai di ruang tengah.


"Ge, kau berhutang satu penjelasan padaku. Bagaimana kau bisa tiba-tiba ada di UKS?" Jordan yang sibuk pada layar ponselnya menoleh setelah mendengar satu pertanyaan yang keluar dari bibir Luna.


"Ini," Jordan memegang dahinya yang terbebat perban. "Jahitannya terbuka, dan detik berikutnya kau tau sendiri apa yang terjadi bukan?" Luna mengangguk-anggukkan wajahnya tanda Ia mengerti.


Dalam hati Ia sangat bersyukur karena Ia tak ada di sana saat itu, bisa-bisa Ia jatuh pingsan saat melihat Jordan yang berlumur darah. "Lalu siapa yang membawamu ke ruang kesehatan?"


"Martin." Jordan memotong ucapan Puna dengan cepat, yang kemudian hanya di balas kata Oh saja tanpa suara.


"Luna." Panggil Jordan dengan suara beratnya, Luna menoleh menatap wajah Jordan dengan bingung.


Jordan mencium helaian coklat milik sang kekasih, kemudian ciuman itu merambat naik menuju bibirnya. Jordan mencium bibir itu singkat dan sedikit melumatt-nya, bukan french kiss yang seperti biasanya mereka lakukan. Hanya ciuman selamat malam, singkat yang penuh perasaan.


"Aku lelah, aku ingin Istirahat. Kau segeralah tidur, sayang." Satu ciuman mendarat di atas kening Luna, gadis itu tersenyum lalu mengangguk.


Keduanya pun berpisah dan menuju kamar masing-masing, pintu kedua kamar itu pun tertutup rapat seiring sang empunya menempati kamar masing-masing.


xxx


Leo membuka matanya perlahan kemudian mengerakkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal karna semalaman tidur tanpa alas selain karpet tipis dan satu buah bantal serta selimut yang tidak terlalu tebal.


Semalam dia kalah taruhan bola dan sebagai hukumannya Ia tidak boleh tidur di kamar dan paginya harus menyiapkan sarapan untuk semua anggota geng yang ada termasuk dua sosok gadis yang baru tiba semalam. Jia dan Vivian, kedua perempuan itu menyusul pasangannya mereka ke Busa dengan alasan merindukan pasangan mereka.

__ADS_1


Leo pergi ke dapur setelah mencuci muka asal-asalan dan menggosok giginya, dari semua anggota Balsem. Selain dirinya masih ada David yang pandai memasak, sedangkan yang lain melakukan pekerjaan ala kadarnya seperti menyapu, mengepel lantai dan mencuci piring.


Bisa saja mereka menyewa jasa orang lain jika saja David tidak pelit dan menolak dengan tegas saat Reno mengusulkan untuk mencari pembantu.


"Na Na Na," Leo bersenandung tidak jelas dan asal-asalan dengan menggunakan kosa kata kebanggaannya.


"Heee." Dan kemunculan Leo mengagetkan Reno yang sedang membuat telor ceplok karena kelaparan.


"Hei penganut Dewa Cinta, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Leo pada Reno yang sedang menatap nanar hasil telor ceploknya yang menghitam karena gosong.


"Bodoh, kau buta ya. Jelas-jelas aku sedang membuat telor ceplok, masih nanya lagi." Dumal Reno dengan nada ketus.


"Heee." Leo sweatdroop mendengar jawaban Reno, di tambah lagi melihat bentuk telor yang tidak bisa di katakan layak konsumsi. Leo menggeleng-gelengkan kepalanya di iringi desahhan panjang dari mulutnya.


"Tapi Ren, sebenarnya kau memasak telor itu untuk siapa?" Tanya Leo yang merasa penasaran.


Reno memutar matanya jengah dengan pertanyaan konyol Leo. "Tentu saja untuk persembahan pada Dewa Cinta junjunganku, kau ini bagaimana. Ini kan ritual yang selalu aku lakukan setiap pagi dan sore hari." Jawab Reno yang langsung membuat Leo sweatdroop seketika. "Kau sendiri ngapain di sini? Ahhh aku ingat, kau kan kalah taruhan semalam. Baiklah, karena sudah ada dirimu di sini. Sekalian buatkan dua telor ceplok untukku ya, tanpa gosong dan tidak pakai lama. Titik, tanpa koma." Tutur Reno santai yang langsung di sambut death-glare Leo yang berarti 'WHAT THE HEEL'.


Leo mendengus kasar "Nasib jadi babu, hm." dia mencoba meratapi nasibnya yang kelewat sial karena taruhan bodoh itu.


Setelah berkutat di dapur kurang lebih satu jam, akhirnya banyak masakan dengan berbagai jenis mulai tersaji di atas meja makan termasuk pesanan Reno dua telor ceplok tanpa gosong. Semua anggota geng mulai menduduki mejanya termasuk David, Vivian dan Jia. Semua siap menyantap masakan chef Leo yang sudah terkenal kelezatannya.


"Bagaimana perjalanan kalian?" Roy menatap Jia dan Vivian bergantian, kedua perempuan cantik itu tersenyum lebar.


"Cukup melelahkan." Jawab keduanya serempak.


"Tapi juga menyenangkan." Sabut Jia menambahkan."Apalagi setelah bertemu David, dan pelepasan rindu kami semalam." Ujar Jia dengan wajah sedikit memerah.


"Wow." Semua memekik terkejut, terutama Roy.


Wajah David sudah mirip kepiting rebus, tapi Ia tidak bisa menyalahkan Jia yang kelepasan bicara. Itu bukan salahnya.


"Berapa ronde yang kalian habiskan?" Tanya Leo begitu antusias.


David dan Jia sama-sama beefikir mencoba mengingat sesuatu "Lima." Jawab keduanya kompak, yang langsung di sambut riuh oleh teman-temannya sementara Reno langsu sweatdrop mendengarnya.


"Kalian gila, bagaimana jika Jia sampai kebobolan?" dia menatap sang leader dan kekasihnya itu secara bergantian.


"Pengaman." Sahut keduanya kompak.


"Kami tidak mungkin seceroboh itu Reno, lagipula aku masih belum siap jika harus mempunyai anak dalam waktu dekat ini." Ujar Jia menuturkan.


"Lagipula aku sudah menyiapkan pengaman itu sebelum Jia datang kesini." Ucap Sasori menambahkan.


Puas dengan pasangan mereka, kini semua mata beralih pada Nathan dan Vivian yang jelas adalah pasangan suami-istri. Mereka penasaran dengan ronde yang mereka mainkan. "Ohh ,, kenapa kalian menatapku dan Nathan seperti itu?" ucap Vivian.


"Kalian semalam berapa ronde?" Leo yang tidak tahan langsung saja bertanya.


"Tidak ada, Vivian sedang datang tamu bulanan. Jadi kami tidak melakukannya." Jawab Nathan dengan santai.


Selanjutnya mereka menghentikan obrolan konyolnya. Tidak ada lagi percakapan, suasana di meja makan itu mendadak hening. Yang terdengar hanya dentingan sendok, piring dan garpu yang saling berbenturan.


xxx


Jordan sangat-sangat bersyukur karena hari ini adalah hari minggu, itu artinya Ia bisa menambah jam tidurnya selama beberapa jam. Ia butuh istirahat lebih, karena sejak keluar dari rumah sakit lusa lagi. Jordan tidak memiliki waktu lebih untuk beristirahat, dan minggu ini Ia ingin memanfaatkan waktu yang Ia miliki sebaik-baiknya.


Sementara itu. Di saat Jordan sedang berkutat dengan dunia mimpinya, di dapur Luna sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga sang kekasih.


Selama 2 Minggu lebih, diam-diam Luna mengambil les memasak dan dalam waktu sesingkat itu Ia sudah bisa menguasai beberapa jenis masakan khas Jepang dan Eropa. Mengejutkan memang, namun tidak ada yang tidak mungkin bagi nya yang memiliki kejeniusan di atas rata-rata.


Luna melirik jam yang menggantung di dinding dapur. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, dan pekerjaannya telah selesai. Kemudian melangkah menuju kamar kekasih tampannya dan berniat untuk membangunkan pria itu.


Dan saat pintu terbuka. Luna melihat Jordan yang masih terlelap, melihat wajah lelah kekasihnya membuat dia tidak sampai hati untuk membangunkannya. Akhirnya Ia memutuskan untuk membiarkan Jordan dan menutup kembali pintu kamarnya.


Sejenak Ia menghentikan langkahnya di depan calender yang ada di dinding dapur. Melihat tanggal yang tertera di sana, beberapa hari lagi adalah ulang tahunnya. Mungkinkah ada yang mengingat hari jadinya? Pasalnya kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri dan kakaknya sedang sibuk oleh pekerjaan kantor, sedangkan teman-temannya sibuk dengan kehidupan masing-masing.


Lalu Jordan? Luna tak yakin jika pemuda berwajah stoic itu tau jika beberapa hari lagi adalah ulang tahunnya. Senyum miris tersungging di sudut bibirnya.


"Aku tidak yakin jika mereka semua akan mengingatnya." Ucapnya lirih.


"Memangnya mengingat apa?" Sahut seseorang dari arah belakang. Luna menoleh dan mendapati Jordan bersandar pada tembok yang tak jauh dari tempatnya berada.


"Ge, kau sudah bangun." Sapanya riang, Jordan menatap wajah itu kemudian mengangguk.


"Ya,"


"Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Dan jangan cemas, masakanku layak konsumsi kok. Aku sudah mengambil les memasak." Jelas Luna melihat keraguan di wajah Jordan.


"Hn, aku mandi dulu." Jordan berbalik dan sosoknya menghilang di balik pintu kamar.


Tidak sampai 30 menit dia telah kembali, Ia lebih segar dari sebelumnya meskipun perban masih belum mau beranjak dari kepalanya. Untuk sejenak Luna memperhatikan penampilan Jordan, kaos putih polos lengan pendek di padu dengan vest abu-abu dan jeans biru tua yang melekat pas di pinggulnya.


Piercing dark silver di telinga kanannya, rambut coklat terangnya yang di tata asal-asalan. Penampilan Jordan pagi ini membuat Luna harus melupakan caranya bernafas untuk beberapa saat. kekasihnya itu sangatlah tampan.


Jordan menarik tengkuk Luna dan melumatt singkat bibirnya "Hn, morning kiss baby." Luna tak dapat menahan semburat merah di pipinya. dia tersipu malu


Tanpa diberi tau pun, Jordan sudah tau apa yang membuat raut wajah Luna berubah sendu saat berhadapan dengan kalender. Mungkin Ia berfikir jika tidak ada satu pun orang yang mengingat hari ulang tahunnya termasuk, kakak dan kedua orang tuanya. Namun pemikiran Luna salah, karena mereka ingat betul jika beberapa hari lagi adalah ulang tahunnya. Dan Jordan juga telah menyiapkan sebuah kejutan yang mungkin tidak akan pernah Luna lupakan seumur hidupnya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2