Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Tikus Dan Kucing


__ADS_3

Ckittt...


Nathan mengerem secara mendadak dan membuat ban belakang motor besarnya sedikit terangkat. Membuat gadis yang diboncengnya itu refleks mengeratkan pelukannya pada pinggangnya sambil menutup matanya.


Sebuah pohon melintang di tengah jalan. Lalu beberapa pemuda keluar dari balik semak-semak. Mereka menghampiri Nathan sambil membawa senjata ditangan masing-masing. Dan Nathan sangat-sangat mengenali orang-orang itu.


"Nathan, sepertinya kita dalam masalah besar." Ucap Vivian setengah berbisik.


"Ya, dan maaf jika harus melibatkanmu."


"Tidak masalah, kebetulan sekali saat ini aku memang sedang membutuhkan sebuah pelampiasan untuk meluapkan kekesalanku!!" Jawab Vivian.


Vivian lekas turun dari motor besar Nathan begitu pun sebaliknya. Keduanya menghampiri si penghadang yang jumlahnya lebih dari 10 orang. "Nathan Qin, hari ini adalah hari terakhirmu. Karena nyawa di bayar dengan nyawa!!"


"Heh!! Sungguh manusia sampah, kau memang tidak pernah belajar dari kesalahan!! Jika kau ingin nyawa dibayar nyawa, kalau begitu kembalikan nyawa temanku yang melayang di tangan kakakmu. Bukankah sudah impas, nyawa dibayar dengan nyawa?! Dia membunuh temanku dengan sadis, dan aku membunuh pembunuhnya!!"


"Banyak bacot!! Maju dan habisi bocah sombong ini!!"


Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Nathan dan Vivian yang hanya berdua dikeroyok sedikitnya 10 orang.


Meskipun Vivian adalah gadis yang terlihat anggun dan lemah lembut, tapi siapa sangka dia memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Bahkan dia bisa bergerak bebas meskipun memakai dress dan heels.


Meskipun tehnik bela diri Vivian tidak meragukan. Namun Nathan tetap tidak lepas tangan, dia membayangi sang kekasih agar Vivian tak tersentuh oleh lawannya. Dia tidak bisa membiarkan Vivian sampai terluka.


Nathan menarik kepala belakang Vivian ke dalam pelukannya saat melihat seseorang hendak memukulnya dari belakang. Balok kayu itu menghantam kepala depan Nathan, membuat darah segar mengucur di sisi kanan wajahnya.


Pemuda itu menoleh, mata coklatnya berkilat tajam penuh emosi. Pria itu nyaris saja melukai kekasihnya, dan Nathan tidak bisa menerimanya. "Minggirlah, biar aku yang membereskan mereka!!" Ucap Nathan tanpa menatap lawan bicaranya. Vivian mengangguk.


Gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang. Melihat Nathan yang mulai dikuasai emosi membuat orang-orang itu menjadi ragu untuk melawan lagi.


"Berani sekali kau membahayakan gadisku. Maju kau, biar aku patahkan lehermu!!"


"Ini belum selesai, ingat Nathan Qin, kami pasti akan kembali untuk menghabisimu!! Mundur,"


Vivian menghampiri Nathan. Matanya membelalak melihat sisi wajah kanan kekasihnya berlumur darah. "Nathan, kau terluka!!" Ucap Vivian sambil menatap pemuda itu berkaca-kaca.

__ADS_1


Vivian mengusap darah di wajah Nathan dengan lengan cardigan putihnya, bahkan dia tidak peduli meskipun kain berharga mahal itu akan kotor oleh darah Nathan.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Jangan menangis," Nathan menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata Vivian dengan jarinya.


"Tapi kau terluka karena aku,"


"Sebagai kekasihmu, tugasku adalah melindungimu. Ayo, kita bisa terlambat tiba di kampus."


"Tapi setidaknya kita obati dulu lukanya."


Nathan menatap ke dalam manik mata Vivian yang berembun lalu mengangguk. "Baiklah." Jawabnya sambil mengurai senyum tipis. Tangan kanannya mengusap kepala coklat Vivian penuh sayang.


-


-


Bruggg...


Tubuh Sania dan Gio sama-sama terhempas kelantai setelah mereka tidak sengaja bertabrakan. Sania dan Gio yang sama-sama terburu-buru tidak memperhatikan jalan, dan beginilah endingnya.


"Yakk!!! Pria cantik, jalan pakai mata, jangan pakai dengkul!!"


"Ck, kau ini laki-laki tapi kenapa mulutmu bawel sekali, udah gitu muka cantik. Tapi kepribadian menyebalkan!!"


"Minta maaf," pinta Gio menuntut.


"Tidak mau!! Jelas-jelas kau yang salah, jadi kau yang seharusnya minta maaf." Sania tidak mau kalah.


Gio berdecak sebal. Dia bangkit dari posisinya lalu memungut buku-bukunya yang berserakan di lantai. Sania pun melakukan hal yang sama, tapi sebuah insiden tak sengaja malah terjadi. Dimana mereka yang tanpa sengaja berpegangan tangan.


Gio dan Sania sama-sama mengangkat wajahnya, mata mereka saling bersirobok dan menatap selama beberapa detik. Sampai akhirnya sebuah suara deheman menginterupsi keduanya.


"Ekhem... Wah, wah, wah, sepertinya akan segera ada couple baru lagi di kampus ini."


"Sembarangan, siapa juga yang mau jadi couple pemuda cantik tapi menyebalkan seperti dia, mulutnya saja licin seperti perempuan!!" Jawab Sania menegaskan.

__ADS_1


"Aku juga ogah, siapa juga yang mau jadi couple gadis pendek dan menyebalkan sepertimu!!" Sahut Gio tak mau kalah.


Lalu pandangan Gio bergulir pada pemuda serampangan yang berdiri disamping gadis cantik berparas Barbie yang pastinya adalah Vivian. "Nathan, apa yang terjadi pada keningmu? Gio menunjuk perban putih yang melingkari kening Nathan dengan bercak darah tepat diatas alis kanannya.


"Terjadi insiden kecil tadi." Jawabnya datar.


"Oya, aku tidak melihat Mario sama sekali sejak dia hari terakhir, Marissa juga, apa mereka berdua kompakan tidak masuk kuliah?" Ucap Vivian.


"Betul juga, kemana perginya si bucin dan gadis menyebalkan itu?! Jangan-jangan mereka sudah akur lalu memutuskan kawin lari." Kata Sania menimpali.


Vivian mengangkat bahunya. "Entahlah, ayo ke kelas." Dia memeluk lengan terbuka kekasihnya dan mereka berempat berjalan beriringan menuju kelas.


Sebenarnya Vivian sangat penasaran kemana Marissa dan Mario pergi. Tidak biasanya mereka tidak masuk secara bersamaan. Meskipun Marissa sering kali membuatnya jengkel dan kesal karena sifatnya, tapi bagaimana pun juga dia adalah teman satu kampusnya.


.


.


Nathan memicingkan matanya melihat Vivian yang sejak tadi hanya diam melamun. Pemuda itu duduk disamping kekasihnya dan menatapnya penuh tanya. "Ada apa? Kenapa melamun disini?" Tanya Nathan.


Gadis itu menoleh dan membalas tatapan Nathan. "Aku memikirkan Marissa, entah kenapa perasaanku sedikit tidak enak. Meskipun dia menyebalkan dan suka mencari masalah denganku, tapi bagaimana pun juga dia adalah teman satu kampus kita." Tuturnya.


Nathan terdiam. "Mungkin saja dia sedang ada urusan yang membuatnya tidak bisa masuk kuliah. Jangan terlalu dipikirkan, ayo ke kantin. Kau belum makan apapun sejak pagi,"


Vivian menggeleng. "Aku tidak lapar. Beli roti dan ice cream saja ya." Ucapnya memohon. Nathan menghela napas berat.


Dengan berat dia menganggukkan kepala. Karena jika tidak dituruti pasti Vivian akan terus merengek seperti bocah yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.


"Baiklah."


Dan sesampainya di kantin. Mereka berdua langsung disuguhi sebuah pemandangan yang begitu menggelikan. Dimana Sania dan Gio sedang berdebat memperebutkan minuman kaleng yang hanya tinggal satu-satunya.


Vivian menghela napas berat. Kenapa mereka malah jadi kucing dan tikus, yang selalu bertengkar setiap kali bertemu.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2