
"Menyingkir dari jalanku, sialan." Bentak Luna pada tiga pria yang menghalangi jalannya.
Alih-alih menuruti permintaan wanita itu, ketiga pria tersebut malah menghimpit tubuh Luna pada tembok hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
"Tenyata kau memang cantik, Nona. Pantas saja si bocah sialan itu begitu tergila-gila padamu."
Luna menepis kasar tangan Boy yang membelai wajahnya dan menatapnya tajam. "Sialan, jangan menyentuhku dengan tangan kotor mu itu." Bentaknya marah.
"Hahahah."
Kepala Luna terangkat karena cengkraman Boy pada rahangnya, wanita itu memicingkan mata kirinya karena rasa sakit akibat cengkraman itu.
Sejak bahu kanannya mengalami cidera, Luna tidak pernah lagi memakai bela dirinya. Satu tahun lalu Luna mengalami cidera yang cukup patah, tulang bahunya mengalami kegeseran, sehingga dia tidak dianjurkan untuk memakai bela dirinya lagi.
Tiffany pun tidak tinggal diam, Ia segera pergi untuk mencari bantuan. Dia tau pasti siapa orang yang tepat, yang bisa Ia mintai bantuan untuk menyelamatkan Luna dari tangan Boy dan teman-temannya.
BRAKKK .. !! Dobrakan keras pada pintu menyita perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan itu, Tiffany datang dengan nafas ngos-ngosan. Peluh membanjiri hampir sekujur tubuhnya. Devan yang kebetulan juga ikut berkumpul segera bangkit dan menghampiri kekasihnya itu.
"Sayang ada apa?" Tanyanya cemas.
Dua mengatur nafasnya "Songsaenim, Luna, Luna, dia--"
" ----Ada apa dengan, Luna?" Jordan berdiri dan langsung menyela ucapan Tiffany.
"Selamatkan dia. Boy, dan teman-temannya mencoba mellecehkannya. Anjing gila itu ingin membalas dendam padamu." Tuturnya.
"BRENGSEK." Tanpa menghiraukan teman-temannya, Jordan berlari meninggalkan ruangan tersebut dan mencari Luna, Ia bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk sampai menimpa gadis itu.
Tidak sulit bagi Jordan untuk menemukan Luna di tengah lautan manusia, Ia harus berterimakasih pada rambut gaun putih yang dia pakai, karena warna itu sangat mempermudahkan dirinya untuk menemukannya sang wanita.
Tubuh Boy terjengkang kebelakang karena tendangan Jordan pada perutnya. "Ugghh." Pemuda itu mengeram sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Brengsek, berani sekali kau menyentuh wanitaku." Geram Jordan merah.
Teman-teman Boy langsung menelan ludahnya melihat tatapan membunuh Jordan, auranya begitu kelam dan berbahaya. "Bangun kau." Tubuh Boy Tertarik ke depan karena cengkraman Sasuke pada pakaiannya.
Tubuh Boy kembali terhempas dengan hidung patah dan mengeluarkan banyak darah. Tidak hanya satu kali saja, Jordan melakukannya hingga berkali-kali hingga muka Boy tak berbentuk lagi. Dia kehilangan empat gigi depannya, tangan kirinya terkulai seperti tak memiliki tulang lagi. Keadaan Boy begitu mengenaskan.
Luna hanya bisa menutup matanya melihat bagaimana Jordan menghajar pemuda itu, dia tidak sanggup jika harus melihat darah. Dan akibatnya matanya menjadi berkunang-kunang, pandangannya semakin kabur hingga akhirnya??
Bruggg -------
"LUNA!!"
.
Cklekkk .. !!
Jordan yang sedari tadi bersandar pada tembok samping pintu kamar Luna segera beranjak saat mendengar pintu terbuka, terlihat sosok wanita berambut pirang berusia lanjut keluar dari kamar itu.
"Tidak perlu cemas, dia baik-baik saja. Dia hanya syok karena melihat darah." Jelasnya.
Jordan dapat menghela nafas lega, dia memberi kode pada Martin agar mengantarkan Dokter Lee pulang, sedangkan Jordan dia langsung menghampiri Luna.
"Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?" Tanya Jordan cemas.
Luna tersenyum kemudian menggeleng "Aku tidak apa-apa. Aku hanya syok saja." Ujarnya.
Jordan menghela nafas, di raihnya bahu Luna dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. "Maaf." Jordan berkata lirih. Di eratkan pelukannya pada tubuh Luna. Luna mengusap punggung sang kekasih sambil menggeleng dalam pelukan pemuda itu.
"Sudah Ge, aku tidak apa-apa." Ucapnya meyakinkan.
"Tapi kau pingsan karena aku, Luna. Jika aku bisa mengontrol emosiku, pasti kau tidak akan pingsan karena ketakutan saat melihat darah." Ucap Jordan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Jordan telah berjanji pada Luna untuk selalu menjaganya, tapi hari ini Ia malah menempatkannya dalam bahaya. Jika saja tadi saat di bar Ia tidak membiarkan Luna pergi ke toilet hanya dengan Tiffany, pasti hal semacam ini tidak akan pernah terjadi.
Luna menggeleng "Tidak Ge, aku mohon jangan menyalahkan dirimu lagi." Mohon Luna sambil mencengkram rompi kulit hitam yang Jordan kenakan. "Aku hanya merasa trauma saat melihat darah, sungguh aku baik-baik saja." Lagi, kata Luna meyakinkan.
Luna tidak ingin Jordan terus menyalahkan dirinya sendiri, Ia pingsan bukan karena kesalahan pria itu tapi karena Ia memang phobia jika melihat darah.
Jordan melonggarkan pelukannya dan menatap sendu wajah sang kekasih. "Tidurlah, sayang. Aku akan menemanimu di sini." Jordan membelai rambut Luna dan mencium lama keningnya. Luna tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah."
Jordan ikut berbaring di samping Luna sambil memeluk tubuhnya, erat. Memberikan rasa aman dan nyaman untuk sang kekasih, dia membelai surai Luna berkali-kali sambil mencium keningnya. Jordan tidak akan membiarkan hal semacam ini terjadi lagi.
Mungkin Ia memang berhati dingin, tapi Ia juga memiliki sisi hangat yang hanya bisa Ia perlihatkan pada Luna. Dan Luna adalah satu-satunya wanita yang bisa meruntuhkan bongkahan es raksasa yang menyelimuti hati Jordan dan meluluhkan.
"Ge." Panggil Luna dalam posisinya.
"Hn."
"Apa Tiffany dan yang lain masih di sini?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap dalam manik onyx milik Jordan.
Jordan mengangguk. "Ya, mereka masih ada di ruang tamu." Jawabnya.
Luna berpikir sejenak. "Apa tidak apa-apa membiarkan mereka di sana tanpa kita? Sebagai tuan rumah seharusnya ki------ euummmppp.???."
Jordan membekap bibir Luna dengan bibirnya sebelum gadis itu semakin banyak bicara, tapi ciuman itu tidak bertahan lama karena dia sendiri yang mengakhirinya. Luna mendesah kecewa, padahal Ia masih ingin ciuman itu di lanjutkan dan jika perlu ketahap berikutnya pun Luna tidak akan menolaknya. Tapi sepertinya, Jordan l tidak berminat untuk itu.
"Tidurlah, Luna." Pinta Jordan dengan tegas, penuh penekanan. Buru-buru Luna menutup matanya dan mencoba masuk ke alam mimpi. Bergelayut manja pada lengan Jordan, memposisikan dirinya senyaman mungkin dalam dekapan sang Adonis.
.
Bersambung
__ADS_1