Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Special Part (Luis-Jesslyn)


__ADS_3

Susah payah Luis menelan salivanya saat melihat Jesslyn keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutup dada sampai sebatas paha. Dan melihat penampilan istrinya yang begitu menggoda, membuat senjata tempur Luis seketika berdiri tegak.


Bagaimana tidak, sebagian tubuh putih dan mulus Jesslyn terbuka dan expose di depan matanya. Dan Kebetulan sekali, Luis sedang ingin bercocok tanam sejak semalam.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" jesslyn menatap suaminya dengan was-was, entah kenapa dia memiliki sebuah firasat buruk.


"Hehehe. Sayang, apa kau tidak melihat sesuatu yang sedang berdiri tegak?" ucap Luis sambil menunjuk bagian bawahnya. Dan tentu saja Jesslyn mengerti dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Lalu kenapa?"


Luis mempoutkan bibirnya. "Ayolah sayang, masa kau tidak mengerti juga. Cuaca hari ini sangat dingin. Bagaimana kalau kita itu, twing twing.. kau mengerti maksudku bukan?" ucap Luis sambil memainkan tangannya, seolah memberi isyarat agar Jesslyn mengerti.


Jesslyn menghela nafas berat. "Hari ini sampai beberapa hari ke depan tidak bisa, aku sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi kau harus menahannya sampai tamuku pergi!!" jawab Jesslyn menjelaskan.


Seketika senjata tempur Luis kembali menyusut. Antara sedih dan kecewa, padahal senjata tempurnya sudah siap untuk memanjakan istri tercintanya itu. Tapi Dewi Fortuna tidak berpihak padanya, karena Jesslyn kedatangan tamu tak diundang di waktu yang tidak tepat.


"Huft, baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus puasa lagi. Tapi tidak apa-apa, aku bisa menunggu dan menahan nya." Ucap Luis sambil tersenyum hambar.


Jesslyn melewati Luis begitu saja, wanita itu mengambil sehelai dress dari lemari pakaiannya lalu memakainya. Tak ketinggalan dia juga memoles wajah cantiknya dengan make up tipis agar terlihat lebih natural. Rencananya hari ini Jesslyn akan pergi untuk melihat pameran lukisan yang selalu diadakan di akhir bulan di musim dingin.


"Kenapa kau belum siap-siap juga? Apakah lupa jadwal kita hari ini?" Jesslyn menatap Luis dari pantulan cermin.


Menghela nafas panjang. Luis pun bangkit dari duduknya. "Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang." dia begitu tidak bersemangat, karena keinginannya untuk bercocok tanam tidak terpenuhi.


-


-


Jesslyn dan Luis berkeliling untuk melihat lukisan-lukisan para pelukis dunia yang dipamerkan hari ini. Hampir semua yang datang adalah para tamu VIP, hal itu terlihat jelas dari pakaian dan perhiasan yang mereka pakai.


Mungkin hanya Jesslyn yang terlihat biasa-biasa saja pada penampilannya. Dia memakai dress selutut motif bunga dengan tambahan anting dan kalung berlian, serta flat shoes perhiasan Tiara dan berlian murni. Sementara yang lain, tampil begitu glamor dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


"Jujur saja aku heran dengan orang-orang di sini, hanya menghadiri sebuah pameran lukisan tapi penampilan mereka begitu heboh. Bukankah itu, terlalu berlebihan?" ucap Jesslyn terheran-heran.


"Kita dan mereka berbeda, Sayang. Termasuk budaya dan kebiasaannya. Apa yang menurut kita berlebihan, justru bagi mereka itu adalah hal yang biasa." jawab Luis menjelaskan.


Jesslyn mengangguk membenarkan ucapan suaminya. "Ya, kau benar. Budaya dan kebiasaan kita bersama dengan mereka." ucapnya menimpali.


Mereka berdua lanjut berkeliling untuk melihat-lihat karena diapa tahu mereka menemukan lukisan yang cocok dan sesuai. Jesslyn berencana membeli sebuah lukisan jika memang ada yang menarik. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menantu kesayangannya, siapa lagi jika bukan Vivian.


-


-


Usai dari pameran, Luis dan Jesslyn pergi ke restoran untuk makan siang. Kebetulan mereka berdua sudah sangat lapar, apalagi mereka melewatkan jam makan siangnya selama 30 menit.


Restoran yang mereka datangi tentu saja bukan restoran biasa yang bisa didatangi semua orang dari berbagai kalangan. Karena hanya mereka yang berdompet tebal yang datang ke restoran itu, mengingat jika satu porsi makanan bisa setengah harga motor baru.


Kali ini mereka berdua memilih makan restoran Itali. Sedikitnya ada 6 warna berbeda yang mereka pesan, plus minuman dan juga dessert.


"Oya, Lu. Kira-kira Kapan pekerjaanmu di sini Selesai, aku sudah sangat merindukan anak-anak terutama Lovely. Ini adalah pertama kalinya kita pergi tanpa membawanya," Ucap Jesslyn sambil menikmati makan siangnya.


"Lalu bagaimana denganmu?" Jesslyn menyela ucapan Luis.


"Ya aku sendirian di sini, meskipun rasanya tidak menyenangkan dan hampa. Tapi aku rasa tidak masalah, aku tidak ingin menjadi suami yang jahat karena melarangmu pulang lebih dulu untuk bertemu anak-anak." Ujarnya.


Jesslyn mendecih sebal. "Apa yang kau katakan, menemukan aku bisa pulang duluan dan meninggalkanmu sendirian!!" jawab Jesslyn menimpali. "Kita berangkat sama-sama, maka pulang juga harus sama-sama," imbuhnya.


Luis tersenyum lebar. Istrinya ini memang paling pengertian. "Baiklah sayang, kita pulang sama-sama saja. Sudah lanjut makan lagi, makanannya Nanti keburu dingin." ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.


"Baiklah."


.

__ADS_1


.


Usai makan siang. Jesslyn mengatakan ingin mampir ke salon untuk perawatan kulitnya. Luis tidak menolak dan menuruti kemauan istrinya, bahkan dia rela menunggu selama berjam-jam sampai perawatan Jesslyn selesai.


Bukan tanpa alasan. Luis tidak ingin jika istrinya itu sampai ngambek dan mendiaminya selama berhari-hari karena tidak mau menemaninya di salon. Padahal Menunggu adalah hal yang paling Luis benci sepanjang hidupnya, tetapi demi istri tercintanya, maka apa yang tidak.


-


-


Jesslyn menghidupkan penghangat ruangan karena udara yang semakin dingin. Maklum saja, mengingat jika ini adalah musim dingin. Jadi wajar jika udara lebih dingin dari bulan-bulan sebelumnya.


Jesslyn bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur untuk membuat coklat panas untuk dirinya sendiri, dan kopi untuk Luis. Suaminya itu tidak suka makanan dan minuman manis, jadi Jesslyn membuatkan kopi dan gula untuk Luis.


"Lu, ini kopimu."


Luis tersenyum lebar, seraya mengambil kopi itu dari tangan Jesslyn. "Terima kasih sayang," ucapnya lalu menyeruput minuman dengan rasa pahit tersebut.


"Oh ya, Lovely menelepon dan minta untuk di bawakan oleh-oleh yang banyak dari sini. Jadi besok kau harus menemaniku berbelanja, aku ingin membeli oleh-oleh untuk anak-anak."


Luis mengangguk. Tidak masalah, tapi setelah aku pulang kerja. "Besok siang ada pertemuan penting dengan beberapa kolega dari luar negeri. Jika pertemuan itu membuahkan hasil yang baik, kita bisa pulang lebih awal." ucapnya menuturkan.


Luis memang berencana menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Kasihan Lovely karena ia dan Jesslyn sudah meninggalkannya terlalu lama. Jesslyn juga pasti sudah sangat merindukan Putri kecilnya itu, menantu dan putra sulungnya. Sama seperti dirinya.


"Ya, semoga saja hasilnya baik agar kita bisa pulang lebih awal." Balas Jesslyn menimpali.


"Sudah malam, sebaiknya kau pergi tidur. Aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai."


Jesslyn mengangguk. "Baiklah,"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2