
Pagi ini suasa terasa begitu tenang, semilir angin bertiup menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di tanah setela berguguran dari rantingnya, terdengar suara burung-burung berkicau saling bersahutan bak sebuah nyanyian merdu untuk menyambut datangnya sang mentari pagi..
Luna terbangun dari tidur nyenyak nya meskipun matanya sangat berat untuk ia buka. Kemudian dia memperhatikan keadaan sekitar nya, ini bukan kamar nya. Lalu kamar siapa? Otaknya berpikir keras mencoba untuk mengingat sesuatu.
Tidak tidak tidak, ini adalah kamarnya karena dirinya berada di kamar ini. Luna baru ingat jika dia tidak lagi tinggal di kediaman orang tuanya, tetapi di kediaman pria super menyebalkan bernama Jordan Tang.
Ketika Luna hendak bangkit dari tempat tidurnya tiba-tiba saja tubuh nya menegang, ada sesuatu yang hangat menempel dibalik punggungnya. Luna mencoba menggerakkan kakinya, dan dia merasakan sesuatu di balik selimut tebal bermotif bulan bintang yang ia pakai.
Dengan ragu, Luna menoleh kebelakang. Pupil matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang berbaring di sampingnya.
"Huuuwwwaaaa.......!!" suara teriakan nyaring Luna sukses mengacaukan pagi yang sebelumnya hening dan tenang, dengan refleks dia menendang pantat orang itu yang pastinya adalah Jordan hingga dia jatuh dari atas tempat tidurnya. Tendangan Luna benar-benar mematikan.
"Yakk!! Dasar pria messum menyebalkan, bagaimana kau bisa berada di kamar ku, lewat mana kau masuk.....? " Luna berteriak dengan heboh, beruntung kamar itu kedap suara, sehingga teriakan nya tidak sampai keluar.
"Kenapa masih di sana? Cepat turun, pergi kau dari kamar ku." Luna berusaha mengusir Jordan dari kamarnya. Namun dia tetap tidak bereaksi juga, dan itu membuat Luna kesal setengah mati. "Kenapa kau malah menatapku seperti itu? Cepat keluar dari kamarku, dasar dosen messum!!"
Jordan memutar jengah matanya. Dia bangkit dari posisinya. Pantatnya agak sedikit ngilu karena ulah Luna.
"Yang seharusnya pergi dari kamar ini bukan aku, tapi kau!! Buka matamu dan perhatikan baik-baik, Ini kamarku atau kamarmu?!" Jordan meminta Luna untuk membuka matanya baik-baik. Karena jelas-jelas ini adalah kamar Jordan, bukan Luna.
"Eh?" gadis Itu tampak kebingungan. Kemudian dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, Luna merasa asing dengan tempat ia berada sekarang. Ini bukan kamarnya, lalu kamar siapa? Pandangannya kembali pada Jordan, Luna mengedipkan matanya dengan lucu. "Mungkinkah kamar ini, adalah kamarmu?" dia berkata ragu-ragu.
Jordan mendengus. "Bagus sekali, akhirnya kau sadar juga. Jadi yang seharusnya keluar itu aku atau kau?!"
Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia benar-benar merasa tidak enak pada Jordan karena sudah menuduhnya macam-macam. "Maaf, aku yang salah. Aku ingat semalam tiba-tiba ada petir lalu aku berlari dan masuk ke kamar ini. A..Aku akan kembali ke kamarku sekarang juga." Ucap Luna lalu berlari meninggalkan kamar Jordan.
__ADS_1
Dia benar-benar merutuki kebodohannya. Dia telah mempermalukan dirinya sendiri di depan pria menyebalkan itu. Pasti Jordan sedang mengolok-olok dirinya sekarang karena kebodohannya tersebut. Dan rasanya Luna sudah tidak memiliki muka lagi untuk berhadapan dengan Jordan.
Pria itu menghela nafas dan mendengus geli. Bisa-bisanya dia diusir dari kamarnya sendiri oleh Luna yang notabenenya adalah tamu di rumahnya. Dan yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahpahaman.
Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Jordan meninggalkan kamarnya lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Dia berencana membuat sandwich sebagai menu sarapan pagi ini. Meskipun dia kesal pada Luna, tapi Jordan tetap tidak bisa abai padanya, karena bagaimanapun juga yang memiliki tanggung jawab penuh untuk menjaganya.
.
.
"Luna, cepat turun sarapan sudah siap!!"
Setelah memastikan tidak ada yang kurang pada penampilannya, Luna bergegas turun untuk sarapan bersama Jordan.
Luna menatap Jordan sekilas. Dan dia buru-buru menundukkan kepalanya ketika menyadari pria itu membalas tatapannya. Dia merasa tidak enak pada Jordan akibat kejadian pagi ini, sudah marah-marah dan menuduhnya macam-macam, ternyata hanya salah paham. Rasanya Luna ingin bersembunyi di Antartika supaya dia tidak bertemu dengan Jordan.
"Sampai kapan kau akan terus diam seperti orang bodoh, sebaiknya segera habiskan sarapan mu, kita bisa kesiangan sampai di kampus." Dan ucapan tajam Jordan membuyarkan lamunan Luna. Sontak dia mengangkat kepalanya dan matanya bersirobok dengan mata Jordan.
Luna menghela napas. "Aku tahu tapi tidak perlu menyebutku bodoh juga, dasar dungu!!" Luna tidak mau kalah, dia menimpali ucapan Jordan dan membalasnya dengan menyebutnya dungu.
Pria itu berdecak sebal. Mengabaikan Luna, Jordan menyantap sarapannya dengan tenang.
xxx
__ADS_1
Sepanjang mata pelajaran berlangsung. Luna tidak bisa fokus pada materi yang Jordan sampaikan. Kejadian pagi ini benar-benar membuyarkan fokus Luna dari apa yang dipelajari saat ini. Gadis itu sedari tadi hanya diam tanpa bersuara, sementara telinganya terasa panas mendengar bisik-bisik para teman-temannya.
Kehadiran Jordan Tang di kampus mereka sukses menghipnotis para mahasiswi yang 1 angkatan dengannya, termasuk sahabat Luna salah satunya.
Gadis yang telah berstatus sebagai tunangan Jason Wong itu terlihat melepas ikatan rambutnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi punggungnya. Luna tau, jika Tiffany mencoba menarik perhatian Jordan saja.
Luna mendengus, Ia sangat hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu. Kebiasaan buruk Tiffany saat melihat pemuda tampan, bahkan Ia melupakan statusnya sebagai tunangan dari pria tampan bernama Jason.
"Apa kau ingin Jason menggiling mu hidup-hidup?" bisik Luna.
Luna menoleh dan berbicara dengan nada rendah agar suaranya tidak sampai tertangkap oleh dosen tampan berwajah stoic yang sukses mengalihkan fokusnya itu. Luna benar-benar tidak ingin terkena masalah oleh Jordan, lalu diusir keluar dari kelasnya.
Tiffany segera tersadar, Ia buru-buru mengikat kembali rambut panjangnya seperti semula. Ucapan Luna ada benarnya juga, bisa-bisa Jason marah dan menolak memberikan dirinya barang-barang branded lagi.
"Hehehe. Aku lepas kendali, Lun." Luna memutar matanya malas, selalu jawaban yang sama. Dan Luna sampai bosan mendengar alasan sahabatnya tersebut.
"Cihh, dasar playgirl." Desis Luna memberikan cibiran. Bukannya tersinggung atau marah, Tiffany malah nyengir Kuda kearah Luna. Luna memang yang paling memahami dirinya, termasuk kebiasaan buruknya.
"Hehehe, maaf." ucap Tiffany.
Tidak ada obrolan lagi setelah perbincangan singkat itu. Luna dan Tiffany sama-sama fokus pada materi yang sedang disampaikan oleh dosen mereka di depan sana, baik Luna maupun Tiffany sama-sama tidak ingin diusir keluar dari kelas dosen galak tersebut.
xxx
Bersambung
__ADS_1