Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Keras Kepala


__ADS_3

"Nathan?!"


Vivian dan Marissa sama-sama berseru menyebut satu nama, Nathan. Karena orang yang melindungi Vivian dari tindakan brutal Marissa adalah Nathan. Pemuda itu menggunakan punggungnya untuk melindungi Vivian, bahkan dia tidak peduli dengan bau tidak sedap yang berasal dari telor dan tomat busuk tersebut.


Nathan dan Vivian saling menatap selama beberapa saat. Mata berbeda warna milik mereka saling mengunci, membuat jantung keduanya sama-sama berdegup kencang. Namun kontak mata itu berakhir ketika Nathan berbalik dan menghampiri Marissa.


PLAKKK...


Tamparan keras mendarat mulus di pipi Marissa, saking kerasnya membuat wajah gadis itu menoleh kesamping. Siapa lagi pelakunya jika bukan Nathan. Dan tentu saja itu mengejutkan semua yang ada di sana. Termasuk Vivian.


"Nathan, kenapa kau malah menamparku?" Tanya Marissa sambil memegangi pipinya.


"Kau semakin keterlaluan saja, aku pikir awalnya mau adalah gadis yang baik. Makanya aku tidak menolak ketika kau ingin berteman denganku, tapi ternyata aslimu seperti ini?! Kau benar-benar mengerikan, Marissa. Jujur aku menyesal pernah memiliki teman sepertimu!!"


Bruggg...


Tiba-tiba Mario menghampiri Nathan dan langsung memukulnya dengan keras. Karena terlalu terkejut dan tiba-tiba, tubuh Nathan sampai tersungkur di tanah.


Bukan hanya satu kali saja Mario memukulnya, tapi sampai tiga kali. Membuat sudut bibir Nathan terkelupas dan berdarah. Serta luka di-pelipisnya yang sudah mengering kembali terbuka.


Dan di pukulan keempat, Nathan baru bereaksi. Dia menahan kepala tangan Mario dan balik memukulnya. Pemuda itu tumbang hanya dengan satu kali pukulan dari Nathan. Bahkan Mario tidak memiliki tenaga untuk membalasnya. Dan endingnya dia malah menangis memanggil ibunya.


"Huaaa.. Mami, anakmu dipukul berandalan. Rasanya sakit sekali, kau sudah bosan hidup ya. Kau belum tau siapa aku, aku pasti akan mengadukanmu pada papi-ku biar dia memberikan hukuman pada manusia kotor dan penuh dosa sepertimu!!"


"Cih, pengecut saja berani mencari masalah denganku!! Dan kau Marissa, ini peringatan terakhir untukmu. Sekali lagi kau berani menyentuh apalagi menyakiti Vivian, maka kau akan berhadapan denganku. Vi, ayo kita pergi dari sini." Nathan menggenggam tangan Vivian dan membawanya pergi meninggalkan kampus.


Ditengah langkahnya, Nathan melepas jaketnya yang kotor lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Semua orang menatap kepergian mereka berdua dengan berbagai tatapan yang sulit dijelaskan.


.


.


Disini mereka sekarang. Vivian membawa Nathan pulang ke rumahnya. Sekujur tubuh Nathan kotor dan beraroma tidak sedap karena telor dan tomat busuk. Sambil menunggu Nathan selesai membersihkan tubuhnya, Vivian menyiapkan kotak P3K, luka di-pelipisnya kembali terbuka akibat pukulan Mario tadi.

__ADS_1


Decitan suara pintu di buka menyita perhatiannya. Nathan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, celana jeans dan kemeja hitam lengan terbuka. Pakaian yang Nathan beli dalam perjalanan ke rumah Vivian tadi.


"Dimana tempat sampahnya?"


"Untuk apa kau mencari tempat sampah?" Tanya Vivian. Nathan menunjukkan celana dan t-shirt putihnya. "Letakkan saja di keranjang pakaian kotor. Biar sekalian aku cuci nanti,"


"Tidak perlu, biar aku buang saja." Nathan tidak mau merepotkan Vivian. Lagipula mereka hanya berteman, jadi tidak baik jika Nathan membiarkan gadis itu mencucikan pakaian kotornya.


"Tidak apa-apa. Dari pada dibuang kan sayang, apalagi kau membelinya dengan uang, bukan dengan daun. Letakkan saja, tidak perlu merasa tidak enak. Bukankah kita teman,"


Dengan sedikit paksaan dari Vivian, akhirnya Nathan setuju untuk membiarkan gadis itu mencuci pakaiannya. Ya meskipun sebenarnya bukan Vivian sendiri yang mencucinya karena gadis itu selalu membawa pakaiannya ke laundry, tapi tetap saja Nathan merasa tidak enak.


"Duduklah, aku akan obati lukamu."


"Ahh,"


Nathan meringis ngilu ketika kapas ditangan Vivian menyentuh luka mengelupas disudut bibirnya. Refleks Nathan menggenggam pergelangan tangan Vivian, hingga terjadi kontak mata diantara mereka berdua. Buru-buru Vivian mengakhiri kontak mata itu seraya menarik tangannya yang digenggam oleh Nathan.


"A..Aku akan melakukannya lebih pelan lagi," ucap Vivian sambil menyembunyikan kegugupannya. Bukan hanya Vivian yang merasa gugup, tapi Nathan juga. Muncul rona merah samar dikedua pipi Nathan.


Setelah mengoleskan obat luka, kemudian Vivian menutupnya dengan perban. Luka lamanya baru kering dan malah terbuka lagi akibat ulah Mario tadi.


"Aku akan menyiapkan makan siang. Kalau kau merasa pusing akibat pukulan tadi, kau boleh istirahat disini atau mungkin dikamar lain, tidak perlu sungkan karena hanya aku yang tinggal disini."


"Kau mau masak apa?" Nathan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Vivian.


Gadis itu menggeleng. "Entah, mungkin hanya membuat pasta dan telor gulung saja. Aku kehabisan bahan makanan, kebetulan bulan ini belum sempat berbelanja." Jawabnya.


"Kalau begitu aku akan membantumu."


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau tetap disini saja dan istirahat. Aku tau kepalamu pasti pusing, apalagi Mario memukulmu dengan sekuat tenaga tadi."


"Jangan keras kepala, aku akan membantumu!!"

__ADS_1


"Jelas-jelas kau yang keras kepala, tidak mau menurut dan selalu sesuka hati. Kalau aku menyuruhmu istirahat ya istirahat, jangan membantah. Bagaimana pun juga kau ini pasien sekarang, harus menurut pada orang yang merawatmu!!"


Nathan mendengus geli. "Kenapa kau semakin bawel saja, Mao?! Dan jangan memperlakukan aku seperti pasien gawat darurat. Lagipula ini hanya luka lama yang terbuka. Jadi jangan berlebihan begitu!!" Ujar Nathan. Dia memang paling tidak suka diatur seperti ini.


"Huft, terserah kau sajalah. Dasar manusia keras kepala!!"


-


-


Marissa menjadi pusat perhatian orang-orang disekelilingnya karena keadaannya. Bahkan orang-orang memilih menyisih ketika berpapasan dengannya. Mereka tidak tahan dengan aroma tidak sedap yang berasal dari tubuhnya.


Tidak ada satu pun taksi ataupun bus yang mau dia naiki. Sehingga Marissa terpaksa harus berjalan kaki. "Uhh, dasar wanita jorok. Kenapa dia berkeliaran dengan aroma tubuh yang menjijikan seperti itu?!"


"Dasar tidak tau malu!! Cantik-cantik tapi jorok, eeeuuhhh... Aku ingin muntah!!"


Marissa hanya diam mendengar ucapan orang-orang itu. Padahal dia ingin sekali merobek dan menyumpal mulut mereka satu persatu. Tapi jika dia sampai melakukannya, bisa-bisa dia malah menjadi bulan-bulanan mereka apalagi ia hanya sendiri.


"Sial!! Ini semua karena gadis menyebalkan itu. Kenapa aku selalu saja kalah darinya, apa yang membuatnya selalu lebih beruntung dariku?!" Marissa mengeram marah, dia kesal sendiri.


Sebuah mobil tua tiba-tiba berhenti di depan Marissa. Dan orang yang di dalam itu adalah Mario. Mario meminta Marissa untuk naik tapi gadis itu menolaknya dan malah menghinanya.


"Marissa, cepat naik. Aku akan mengantarkanmu pulang."


"Cih, aku tidak sudi. Daripada naik mobil bututmu itu, lebih baik aku jalan kaki saja. Lagipula tidak level gadis sepertiku naik mobil bobrok milikmu!! Pergilah dan berhenti menggangguku!!" Marissa menolak dan pergi begitu saja. Tapi Mario tetap tidak menyerah, dia mengejar Marissa.


"Marissa, tunggu!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2