Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Jesslyn Tertusuk


__ADS_3

Luis melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Mereka baru saja selesai menyantap makan malamnya dan tidak berencana langsung pulang.


Jesslyn tidak menolak ketika Luis menawarkan untuk jalan-jalan mengelilingi kota. Apalagi saat malam hari Seoul terlihat lebih hidup.


Jesslyn sedang menikmati pemandangan kota. Bukan lagi rahasia jika gadis itu sangat menyukai pemandangan Seoul saat malam hari. Lampu-lampu yang menghiasi di sepanjang jalan terlihat seperti ribuan manik-manik langit.


Disampingnya Luis sedang fokus mengemudi. Sesekali dia menoleh kearah Jesslyn. Sudut bibirnya tertarik keatas melihat senyum lebar dibibir gadis itu.


Setelah bercerai dari Anna, itu artinya hanya Jesslyn satu-satunya istri yang Luis miliki. Tapi sayangnya kebersamaan mereka tidak berlangsung selamanya, karena pernikahan itu akan berakhir setelah kontrak nikah mereka habis.


Ada rasa tidak rela di hati Luis untuk berpisah dengan gadis disampingnya ini. Tapi perjanjian tetaplah perjanjian, dan percuma saja Luis ingin mempertahankannya jika akhirnya Jesslyn memilih untuk tetap berpisah. Apalagi Luis merasa jika gadis itu sangat tertekan selama menjadi istrinya.


Wajar, karena Luis merebut kebebasannya secara paksa. Mengikatnya dalam sebuah hubungan yang cukup rumit, dan yang paling menggores hati adalah ia menjauhkan Jesslyn dengan orang yang paling dia cintai di dunia ini, yakni ayahnya


"Kau ingin kemana lagi setelah ini?" Tanya Luis sambil menatap Jesslyn sekilas.


Gadis itu tampak berpikir lalu menggeleng."Aku tidak tau, kau sendiri punya ide kita harus kemana tidak?" Jesslyn balik bertanya dan menatap pria yang sedang mengemudi tenang disampingnya.


"Lotte World, bagaimana?'


"Hah, tidak disangka pria dingin sepertimu menyarankan untuk pergi ke Lotte World, tapi sepertinya seru juga." Ujar Jesslyn begitu bersemangat.


Melihat senyum lebar dibibir Jesslyn membuat Luis ikut tersenyum juga. Dia mengacak rambut coklat Jesslyn lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Seketika keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Jesslyn maupun Luis.


.


.


Mereka tiba di Lotte World. Setelah memarkirkan mobilnya. Luis dan Jesslyn masuk ke dalam wahana permainan tersebut. Jesslyn tampak begitu girang, sementara Luis hanya memasang wajah datarnya.


Lotte World saat ini sangat ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Mungkin karena ini hari malam Minggu jadi banyak yang memilih untuk mengajak keluarga atau pasangannya ke taman bermain. Jesslyn tampak begitu antusias sedangkan Luis biasa-biasa saja.


"Lu, kau ingin naik wahana apa?" tanya Jesslyn pada pria disampingnya.


Sedangkan yang ditanya melihat kesekelilingnya, dan dia tidak menemukan sebuah permainan yang menarik dimatanya. Semua sama saja Dimata Luis.


"Hn, terserah kau saja." Jawabnya datar.


"Bagaimana kalau bianglala saja?" Usul Jesslyn, dan Luis hanya mengangguk, menyetujui usulan istri kontraknya ini.


Jesslyn terlihat sangat bersemangat menaiki wahana itu. Mereka berjalan beriringan dan jangan lupa sebuah bando berbentuk telinga kucing menghiasi kepala mereka. Awalnya Luis menolak untuk memakainya. Tapi Jesslyn memaksanya sehingga dia tidak memiliki pilihan selain menyetujuinya, meskipun terpaksa.


Jesslyn tiba-tiba mengehentikan langkahnya. Membuat Luis yang berjalan disampingnya ikut berhenti juga. Dia menatap Jesslyn dengan bingung.


"Kenapa berhenti?" tanya Luis.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus kekamar kecil. Kau tak apakan kalau menunggu dulu disini?" tanya Jesslyn. Luis mengangguk.


"Tentu. Sebaiknya jangan buang waktu. Aku tak ingin melihatmu mengompol di celana," canda Luis namun wajahnya tetap serius.


Jesslyn mendengus. "Aishhh bercandamu tidak lucu. Kalau begitu tunggulah disini dan jangan kemana-mana," setelahnya Jesslyn berlari menuju kamar kecil.


Luis menarik sudut bibirnya dan tersenyum kecil melihat kelakuan gadis itu. Dirinya kemudian berbalik, berjalan kearah bangku yang tersedia.


Langkahnya terpaksa terhenti saat merasakan nyeri di kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur. Luis menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk fokus kembali. Dan berhasil, nyerinya sedikit hilang. Mungkin karena efek kurang tidur selama beberapa hari terakhir.


Selang beberapa saat Jesslyn kembali dengan wajah yang terlihat sumringah. Namun senyum diwajahnya langsung pudar saat melihat wajah pucat Luis. "Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Jesslyn memastikan.


Luis menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja. Ayo, katanya kau ingin naik bianglala." Jesslyn menahan lengan terbuka Luis lalu menggeleng.


"Lain kali saja, sebaiknya kita pulang. Kau pucat dan perlu istirahat." Ucapnya.


"Tapi bagaimana dengan tiket yang sudah kita beli?"


"Biarkan saja, kita bisa memberikannya pada orang lain."


Jesslyn menghampiri sepasang kakak beradik yang hanya diam sambil menatap bianglala yang sedang berputar itu. Dari raut wajahnya, mereka ingin sekali menaiki wahana tersebut. Tapi mungkin uang mereka tidak cukup. Kemudian Jesslyn memberikan tiketnya pada mereka berdua.


Kakak beradik itu pun terlihat sangat gembira. Mereka begitu girang karena keinginannya untuk menaiki wahana raksasa itu akhirnya terwujud juga. Jesslyn tersenyum lebar, dia senang bisa membantu mereka berdua.


"Ayo," Jesslyn menggenggam tangan Luis, keduanya kemudian berjalan meninggalkan Lotte World.


-


-


Saat ini Anna sedang dalam perjalanan menuju kediaman Luis, karena berjalan kaki jadi jarak waktu yang tempuh menjadi sangat panjang. Tidak hanya lelah, tapi lapar juga. Seumur-umur, baru kali ini Anna sampai kelaparan seperti ini.


Anna menghentikan langkahnya, dia melihat sebuah mobil mewah berhenti di dekat tong sampah. Yakin yang dibuang oleh penumpang dalam mobil itu adalah makanan, Anna pun bergegas mengambilnya.


Dia tidak peduli meskipun itu makanan sisa, yang penting dia bisa makan dan perutnya terisi.


"Ma, lihatlah kakak itu. Menjijikkan sekali, dia mengambil makanan dari tempat sampah. Apa dia tidak punya uang untuk membeli makanan yang bersih dan baru, apa dia semiskin itu?!" Ujar seorang anak kecil sambil menunjuk Anna.


"Jaga mulutmu!! Kenapa kau malah mengurusi urusan orang lain, sudah biarkan saja. Mungkin dia mendapatkan karma!!" Jawab si ibu lalu membawa anaknya pergi dari sana.


Anna langsung membanting makanan itu ke tanah. Dia berteriak dan mengeram marah, hidupnya berubah 180°. Dan itu semua karena Luis yang tiba-tiba menceraikannya.


"Luis Qin, aku akan membunuhmu!!"


-

__ADS_1


-


Luis memarkirkan mobilnya di halaman Mansion mewahnya. Dia keluar dari mobil itu begitu pula dengan Jesslyn. Luis terus memegangi kepalanya yang semakin terasa berat. Tubuhnya sedikit limbung tapi beruntung Jesslyn segera menahannya.


Jesslyn menatap laki-laki itu dengan cemas. Dia tau jika Luis tidak baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja." Ia mencoba meyakinkan Jesslyn.


"Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas kau itu tidak baik-baik saja. Seharusnya jangan keras kepala, jika kau tadi menurut dan mau aku bawa ke dokter. Pasti kau sudah mendapatkan perawatan sekarang!!"


"Jangan bawel, aku tidak apa-apa," Luis menyentil kening Jesslyn saking gemasnya.


Jesslyn mempoutkan bibirnya. Kenapa laki-laki ini suka sekali menjitak dan menyentil keningnya? Apa Luis pikir kepalanya tidak berharga.


"LUIS QIN!!"


Keduanya menoleh. Anna berlari menghampiri mereka dengan mata belikat tajam. Mata Jesslyn membelalak melihat sesuatu yang Anna sembunyikan digenggaman tangannya.


Luis melepaskan rengkuhan Jesslyn pada punggungnya. Lalu dia mendekati Anna. "Mau apa lagi kau datang kemari?" Tanya laki-laki itu tanpa basa-basi.


"Aku datang kemari untuk MEMBUNUHMU!! Luis Qin, kau harus mati!!"


Jress...


Pisau itu bukannya menusuk perut Luis tapi malah menusuk perut Jesslyn, entah apa yang dipikirkan gadis itu. Tiba-tiba dia menghadang pisau yang Anna tujukan pada Luis.


Luis menahan tubuh Jesslyn yang hampir roboh. Matanya membelalak melihat cairan merah segar yang keluar dari perut Jesslyn. Gadis itu menatap Luis sambil tersenyum tipis. "Untung kau tidak apa-apa!!" Ucapnya lirih.


Tangan kekar itu merengkuh tubuh Jesslyn yang bersimbah darah, kakinya gemetar, sungguh ia merasa lemas seketika hingga perlahan tubuhnya terduduk diatas tanah.


"Jesslyn," lirih Luis bergumam.


Seakan waktu berjalan lambat ketika Luis masih bisa melihat istri kontraknya ini tersenyum dalam keadaan yang seperti ini. Ia masih bisa tersenyum bahkan disaat terlemahnya.


"BODOH.. APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!" Bentak Luis penuh emosi.


Jesslyn tersenyum lemah mendengar bentakan Luis, rasanya miris mendengar teriakan laki-laki ini yang berbeda dari biasanya.


"Aku—"


"HAHAHA... kau hancur Luis, kau hancur.. HAHAHA...mati saja kau wanita ******!! Mati, MATI!" ucapan Jesslyn terpotong oleh racauan Anna yang bertingkah layaknya orang tak waras.


Emosi Luis memuncak. Kris berlari keluar dan terkejut melihat apa yang terjadi. Kemudian Luis menyerahkan Jesslyn pada Kris untuk dibawah ke rumah sakit. Dan Luis akan memberi pelajaran pada wanita tak tau diri itu.


"Yang harusnya mati itu, kau!! Bukan dia!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2