
Vivian dan Sania bertukar pandang dan saling menatap dengan bingung saat melihat beberapa polisi mendatangi kampus. Tidak biasanya dan ini pertama kalinya. Penasaran apa yang terjadi. Vivian dan Sania memberanikan diri untuk bertanya.
"Permisi, maaf kami ingin bertanya. Apa terjadi hal kasus kriminal di kampus ini? Kenapa banyak sekali polisi dan aparat yang datang?" Tanya Vivian dengan sopan.
"Ya, kami sedang mencari seorang DPO kasus pembunuhan berantai dan penculikan. Korbannya adalah perempuan muda antara 20-25 tahun. Dan menurut informasi yang kami dapatkan, dia bersembunyi di kampus ini dan menyamar sebagai mahasiswa." Jawab polisi tersebut menjelaskan.
"Ciri-cirinya, mungkin kami bisa membantu." Sania ikut buka suara.
"Berkulit sawo matang, memiliki tinggi sekitar 170 cm, rambut hitam lurus. Menurut informasi yang kami dapat, dia sering memakai kaca mata."
Vivian dan Sania saling bertukar pandanga. Dan ada satu nama yang langsung terbesit di kepala mereka berdua, Mario. Dari ciri-ciri yang disebutkan, semuanya mengarah padanya. Kemudian Sania mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto pada polisi tersebut.
"Apa yang sedang dicari adalah orang di dalam foto ini. Yang pakai kaca mata dan memakai kemeja biru hitam,"
Polisi itu memperhatikan dan melihat dengan seksama foto tersebut lalu membandingkan dengan sketsa yang dia miliki, dan sama. "Ya, dia adalah orang yang sedang kami cari. Namanya Romeo Kim."
"Dia menggunakan nama samaran. Dan di kampus dia di kenal dengan nama Mario. Tapi sayangnya dia menghilang sejak dua atau tiga hari yang lalu, teman kampus kami juga ikut menghilang, namanya Marissa." Ujar Vivian.
"Terimakasih informasinya, informasi yang kalian berikan sangat membantu untuk penyelidikan. Kalau begitu bapak permisi dulu." Sania dan Vivian mengangguk. Keduanya segera mencari Nathan dan yang lain. Mereka harus tau mengenai masalah ini.
.
.
"WHAT?! JADI SEBENARNYA MARIO ADALAH SEORANG DPO?!" Arya memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar apa yang Sania dan Vivian sampaikan. Saat ini mereka sedang berada di atap gedung.
Sungguh mereka tidak menyangka dan menduga jika sebenarnya Mario adalah seorang buronan yang selama ini di cari oleh polisi. Dan dengan kepolosannya, dia berhasil mengelabuhi semua orang. Kemungkinan besar menghilangnya Marissa adalah hubungannya dengan dia.
"Apa lagi yang kau lamunkan sekarang?" Tegur Nathan melihat kediaman Vivian.
"Marissa, mungkin saja menghilangnya dia ada hubungannya dengan Mario."
"Sebaiknya jangan ikut campur, biarkan polisi yang menyelesaikannya. Mario bukan orang sembarangan, dia sangat berbahaya dan sebaiknya kita tidak melibatkan diri dalam masalah apapun yang berhubungan dengannya."
__ADS_1
"Benar yang Nathan katakan, kita harus waspada dan hati-hati. Kemungkinan saat ini dia sedang bersembunyi di suatu tempat." Kata Gio menimpali.
Arya menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba dia teringat pada saran konyol yang sudah ia berikan pada Mario. "Gawat!!! Bagaimana kalau Mario mengikuti saranku," ucapnya yang membuat perhatian Vivian, Nathan, Gio dan Sania teralih padanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Vivian penasaran.
"Aku menyarankan pada Gio supaya dia menghamili Marissa jika dia tetap tidak mau menerima cintanya,"
"Bodoh!!" Bentak Vivian emosi. "Kenapa kau malah memberi saran tak masuk akal seperti itu padanya?! Bagaimana jika dia benar-benar melakukannya dan membuat hidup Marissa hancur?!"
"Aku~" Arya tidak melanjutkan kata-katanya. Rasa bersalah menyelimuti perasaannya.
Andaikan saja dia tidak memberikan saran konyol itu, pasti Marissa tidak akan menghilang. Dan bagaimana jika Mario benar-benar melakukannya, apalagi dia seorang Psychopat?! Arya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Marissa saat ini.
Meskipun Marissa selalu bersikap buruk dan kasar padanya. Tapi Vivian tetap peduli padanya. Dia hanya membayangkan bagaimana jika berada diposisi Marissa saat ini. Pasti Marissa sangat ketakutan jika hal tersebut benar-benar terjadi dan menimpa dirinya.
"Kita tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Kita serahkan semua pada pihak kepolisian. Mereka yang lebih tau dan lebih berhak untuk menangani kasus ini."
"Dan untukmu, Ar. Sebaiknya kau bersiap-siap saja. Jika Marissa benar-benar menjadi korban si gila Mario, kau yang akan menanggung akibatnya!!" Ancam Sania bersungguh-sungguh.
"Jangan membuatku takut, San. Aku kan hanya memberi sedikit solusi pada Mario, tapi siapa yang menduga jika dia ternyata seorang Psychopat."
"Sial!! Bagaimana bisa seorang Psychopat bisa masuk ke kampus ini!!" Geram Nathan sambil mengepalkan tangannya.
Mereka adalah para anak muda yang memiliki rasa toleransi yang sangat tinggi terhadap teman mereka.
Meskipun Marissa selalu bersikap menyebalkan, namun mereka tetap saja peduli pada keselamatannya. Dan sebagai sesama perempuan, Vivian dan Sania tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi dia saat ini.
"Sudahlah, kita ke kelas saja!!"
-
-
__ADS_1
Marissa merasakan nyeri yang luar biasa pada mata kirinya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangis, tangan dan kakinya terikat. Dia benar-benar dalam keadaan yang sangat memperihatinkan.
Tidak ada pengobatan yang layak pada mata kirinya. Mario hanya mengoleskan salep dan mengganti perbannya sebanyak dua kali sehari. Seharusnya matanya membutuhkan perawatan yang lebih intensif.
Bukan hanya mata kirinya yang terus berdenyut. Tapi bagian bawahnya juga. Mario menusuknya hampir setiap saat, dia benar-benar seorang Psychopat.
"Sial, kenapa harus aku yang mengalami nasib buruk ini? Kenapa bukan Vivian saja, kenapa dia selalu lebih beruntung dariku?!" Teriak Marissa membatin.
Lagi-lagi Marissa menyalahkan orang lain atas semua yang terjadi dan menimpa hidupnya. Padahal semua itu tidak ada hubungannya dengan Vivian.
"Lihat saja, setelah aku berhasil lolos dan lepas dari bajingan itu. Aku juga akan membuatmu kehilangan penglihatan, aku tidak sudi jika cacat sendirian!!" Marissa menyeringai.
Brakk...
Dorrr...
Marissa terkejut mendengar suara dobrakan disusul dengan tembakan. Dia tidak tau apa yang terjadi di luar sana, Marissa ingin sekali melihatnya tapi tidak bisa. Keadaannya benar-benar tidak memungkinkan. Dia terikat kaki dan tangannya.
Mata Marissa membulat. Beberapa pria berseragam masuk ke dalam kamar tempat dia di rawat. Namun mereka langsung berbalik badan melihat kondisinya yang tidak berbusana sama sekali.
Salah satu dari mereka keluar dan meminta polisi perempuan untuk masuk. Setelah berhasil melepaskan rantai pada kaki dan tangannya, Marissa di beri pakaian, dan dia pun di larikan ke rumah sakit. Mario berhasil di tangkap, karena berusaha melawan, petugas terpaksa menembak kakinya.
"Kalian mau membawanya kemana? Jangan bawa dia, Marissa milikku!!" Teriak Mario.
Marissa mendekati pria itu lalu berbisik di telinganya. Mata Mario membelalak sementara Marissa menyeringai. "Bajingan kau Marissa, sialan!! Tau begitu aku membunuhmu sejak awal. Marissa, kau wanita iblis!!"
Setelah hampir satu Minggu terkurung. Akhirnya Marissa bisa merasakan udara bebas lagi. Dia hanya perlu pemilihan, setelah ini yang perlu dia lakukan adalah mencari Vivian, membuat matanya buta sama seperti dirinya lalu merebut Nathan dari sisinya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1