Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Kecupan Manis


__ADS_3

Luis dan Jesslyn tiba di rumah tapi semua lampu sudah dimatikan, kecuali lampu di ruang keluarga. Tidak heran, semua orang pasti sudah tidur mengingat jika ini sudah lewat pukul 22.00 malam.


Mereka pergi ke kamar Nathan dan bocah laki-laki itu sudah tertidur pulas. "Malam ini kau tidur dimana? Kamar Nathan atau kamarku?" Jesslyn menatap Luis, dia sangat berharap malam ini bisa tidur satu ranjang dengan mantan suami kontraknya ini.


"Kamarmu saja," senyum dibibir Jesslyn merekah seketika. Dia senang senang setengah mati mendengar jawaban Luis. Karena memang itu yang dia harapkan.


Jesslyn membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Pandangannya tak lepas sedikit pun dari Luis yang sedang melepas pakaiannya, rompi dan kemeja putih itu telah dia tanggalkan dari tubuhnya, menyisakan singlet hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.


Wanita itu langsung bangkit dari posisinya saat iris Hazel-nya melihat tribal yang menghiasi tubuh Luis. "Wow, jadi ini juga terlukis di dada kiri dan punggungmu?" Luis mengangguk.


Jesslyn berdiri dibelakang Luis, jari-jarinya mengusap sebagian tribal yang menyembul dari balik singlet hitamnya, indah. Lalu Jesslyn berpindah ke depan, matanya tak berkedip sedikit pun ketika melihat tribal yang menghiasi dadanya.


"Ini sempurna," dia mengangkat wajahnya, mengunci mata Luis dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


Luis menggenggam tangan Jesslyn lalu menariknya hingga tubuh mereka menyatu sempurna. Kali ini Jesslyn mengambil inisiatif untuk mencium Luis lebih dulu, tapi ciuman itu tak lebih dari tiga puluh detik.


"Malam ini sangat dingin, apa kau tidak ingin menghangatkan ku?" Bisik Jesslyn, jarinya mengusap bibir kiss able itu dengan sensual.


Tanpa banyak basa-basi. Luis mengangkat tubuh Jesslyn bridal style lalu membaringkannya di tempat tidur. "Kau yang memulainya lebih dulu, Nyonya. Dan jangan salahkan aku jika besok pagi kau tidak bisa berjalan karena kenakalanmu ini!!" Luis menyeringai.


Jesslyn memeluk leher Luis ketika laki-laki itu mencium bibirnya dengan ganas. Mel*mat, memagut, menghisap, Jesslyn menerima semua itu dengan senang hati.


Luis mengakhiri ciumannya dan menatap Jesslyn yang mulai diselimuti kabut nafsu."Apa kau tegang?" Bisik Luis dengan suara rendah.


Jesslyn mengangguk. "Sedikit," meskipun mereka pernah melakukannya, tapi saat itu ia dalam keadaan tidak sadar. Sehingga Jesslyn tidak begitu ingat bagaimana rasanya ketika Luis memasukinya.


"Apa kau ingin melakukannya?" Luis kembali mengunci mata itu. "Tapi jika kau tidak siap, aku tidak akan memaksamu. Kita bisa melakukannya setelah resmi menikah," lanjut Luis.


"Kau kecewa?"


Luis menggeleng. "Sama sekali tidak, aku bisa menunggu sampai kau benar-benar siap." Kemudian dia mengecup kening Jesslyn cukup lama. "Tidurlah, ini sudah malam." Pinta Luis.


Jesslyn menarik lengan Luis dan meminta pria itu untuk berbaring disampingnya. Dia ingin tidur dalam dekapan Luis malam ini. Dan tentu saja Luis tidak menolaknya, dia melakukannya dengan senang hati.

__ADS_1


-


-


Suara burung berbunyi nyaring menyambut datangnya sang mentari di pagi yang cerah ini, berusaha untuk membangunkan setiap manusia yang masih nyaman terlelap di atas ranjang empuknya, supaya tidak melewatkan momen terindah yang tercetak jelas pada pagi hari seperti ini.


Disaat yang lain masih terlelap tidur. Jesslyn justru menjadi orang yang paling awal bangun. Selain menyiapkan sarapan untuk semua orang, dia juga harus mempersiapkan keperluan Nathan sebelum pergi ke sekolah.


Saat ini Nathan baru saja duduk di kelas satu sekolah dasar.


Sebenarnya pihak sekolah menyarankan supaya bocah laki-laki itu langsung duduk dikelas dua, tapi Jesslyn menolaknya. Dia tidak ingin jika putranya diperlakukan berbeda karena IQ nya yang berada diatas rata-rata anak seusianya.


Sebagai orang tua, tentu saja Jesslyn merasa bangga akan kelebihan yang dimiliki oleh Nathan. Tuan Eric sempat bingung, sebenarnya IQ siapa yang menurun pada cucunya, mengingat jika IQ Jesslyn tidak setinggi itu. Tapi akhirnya dia tau jawabannya.


Perhatian Jesslyn sedikit teralihkan oleh kedatangan seseorang, siapa lagi jika bukan Luis. Pria itu bangun lebih awal dari penghuni yang lain.


"Pagi," sapa Jesslyn sambil tersenyum lebar.


"Mau aku buatkan kopi?" Wanita itu memberi penawaran.


"Non gula," jawab Luis cepat.


"Aku masih mengingatnya, Tuan Qin." Jesslyn mencubit pipi Luis dengan gemas dan masih dengan senyum yang sama.


Kemudian dia mengambil satu cangkir + tatakannya lalu meletakkan di atas meja. Tanpa Luis ingatkan pun, tentu saja Jesslyn ingat betul apa yang dia suka dan tidak suka.


"Aahh, Luis apa yang kau lakukan?!" Pekik Jesslyn saat Luis tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Kita ada di dapur, bagaimana jika Nathan atau papa tiba-tiba bangun lalu melihat kita seperti ini?!" Panik Jesslyn.


"Pagi ini lumayan dingin, sebenarnya aku masih ingin memelukmu tapi kau malah kabur lebih awal dariku,"


Jesslyn mendengus. "Itu karena aku harus menyiapkan sarapan dan keperluan sekolah untuk Nathan," wanita itu menjawab.


Luis melepaskan pelukannya, dan berjalan mengekor dibelakang Jesslyn. Dia menarik salah satu kursi dimeja makan lalu mendaratkan pantatnya dengan nyaman disana.

__ADS_1


"Hari ini biarkan aku saja yang mengantar Nathan ke sekolahnya, sekaligus untuk mengurus kepindahannya. Setelah menikah aku akan membawa kalian bertiga pulang ke Korea."


"Bagaimana kalau setelah kenaikan kelas sekalian, itu akan lebih memudahkan prosesnya. Jika kau sibuk, kau bisa pulang lebih dulu dan kami akan menyusul setelah Nathan naik kelas,"


Luis menggeleng. "Kalau begitu aku akan tetap disini bersama kalian, masalah pekerjaan bisa aku serahkan pada Kris. Dia yang akan menghandle semua selama aku tidak ada." Ujarnya.


Jesslyn mengangguk setuju. "Baiklah, jika menurutmu begitu. Aku lanjut memasak dulu, setelah ini kita sarapan sama-sama." Kemudian dia beranjak dari hadapan Luis dan kembali ke dapur.


-


-


Kedatangan Nathan di sekolah menyita perhatian banyak pasang mata. Pasalnya ada yang berbeda pada bocah laki-laki itu, dia datang dengan naik mobil mewah dan yang mengantarnya adalah seorang pria tampan.


Mereka penasaran, dan Nathan tau itu. Tapi dia tak mau peduli apalagi memusingkannya. Nathan menggenggam tangan Luis, dan keduanya berjalan menuju kelasnya.


"Ayo, jangan hiraukan mereka."


"Apakah mereka anak-anak yang sering menindasmu di sekolah?" Tanya Luis memastikan.


"Ya, tapi aku tidak pernah peduli. Toh nantinya mereka akan capek sendiri, semua begitu tidak baik padaku, kecuali satu orang. Kau lihat gadis berambut coklat di sana, namanya Vivian dan hanya dia yang baik padaku. Tapi aku juga tidak peduli."


Luis memicingkan matanya. "Kenapa?"


"Karena perempuan terlalu merepotkan!!"


Luis mendengus. Nathan benar-benar dirinya versi mini, seperti yang sering Jesslyn katakan.


Dan apa yang dialami oleh putranya mengingatkan Luis pada masa kecilnya dulu, dimana dia sangat membenci anak perempuan, karena menurutnya mereka itu merepotkan. Ternyata benar kata orang, jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2