Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Dengan kasar Nathan menyentak tangan Marissa dan melepaskan pelukannya dengan paksa, hingga gadis itu terhuyung kebelakang. Nathan memperhatikan sekeliling, orang-orang di dalam ruangan itu tengah membicarakan Vivian dan menatapnya dengan berbagai tatapan.


Namun anehnya Vivian malah terlihat santai dan biasa saja. Seolah sudah terbiasa dengan sikap dan perlakuan semacam ini. Dan Marissa yang tidak terima dengan apa yang Nathan lakukan pun segera mengambil tindakan.


"Nathan, kenapa kau bersikap sekasar ini padaku? Dulu diawal kita bersama kau sangat lembut dan selalu memperlakukanku dengan hangat. Tapi kenapa setelah bertemu dengan gadis itu kau jadi sangat acuh dan selalu bersikap dingin padaku. Apakah dia sekarang lebih berarti dari pada diriku?!"


Nathan menyeringai sinis. "Wow, kau sungguh Queen of drama yang sangat hebat ya Marissa. Dalam sekejap saja kau berhasil menarik perhatian semua orang dan membuat nama baik orang lain rusak karena fitnah dan kalimatmu yang tidak bermutu itu."


"Nathan, lihatlah caramu bicara ini, kau sungguh keterlaluan!!" Marissa langsung memeluk mahasiswi disampingnya dan pura-pura menangis. Dia benar-benar memanfaatkan situasi dan kondisi dengan sangat baik.


"Marissa, kau~"


"Kau jangan bodoh, Marissa. Hukum di negeri ini masih berlaku. Menyebar fitnah dan mencemarkan nama baik seseorang dengan sengaja tanpa bukti yang nyata dan akurat, bisa dijatuhi hukum penjara dan mendapatkan denda."


"Dan jika masalah ini terus berlanjut namun tidak ada bukti nyata dari apa yang kau katakan. Perlukah kita menghitung hukuman apa yang nantinya akan kau tanggung dari kata-katamu itu?!" Vivian menyela ucapan Nathan dan membungkam mulut Marissa serta beberapa orang yang ada di kelas dengan ucapannya.


Semua orang bungkam dan tidak ada yang berkata apa-apa lagi, apalagi membicarakan Vivian dengan berbagai cibiran dan hinaan seperti tadi. Sedangkan Marissa tampak ketakutan setelah mendengar apa yang Vivian katakan, pasalnya dia tidak berpikir sampai sana. Perkataan Vivian benar-benar menamparnya dengan keras.


Nathan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman Video pada semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Sebaiknya kalian lihat lagi dan perhatikan baik-baik video permintaan tolong yang Marissa kirim malam itu. Buka mata kalian dan lihat dengan jelas, apakah itu real atau hanya settingan saja."


"Nathan!! Apa maksudmu berkata seperti itu?! Apa menurutmu aku sedang bercanda dan bergurau tentang kejadian malam itu?!" Sela Marissa.


"Sebaiknya kau diam dan jangan bicara lagi!! Jika itu real dan bulan settingan, kau tidak perlu merasa takut dan gelisah, Marissa. Jika malam itu kau benar-benar dalam bahaya, pasti kau tidak akan terpikir untuk membuat Video segala."


"Sebenarnya ada dua video yang kau kirim malam itu, versi asli dan versi editan. Yang versi asli ada percakapanmu dengan beberapa pria, karena kau sadar dan itu bisa menjadi Boomerang untukmu, makanya kau menghapus yang versi pertama lalu kau edit dan kau potong sebelum kau kirim kembali." Tutur Nathan panjang lebar.

__ADS_1


Tubuh Marissa gemetar hebat. Keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya. Nathan, ternyata sudah melihat video yang asli. Kini dirinya benar-benar dalam masalah besar. Semua berbalik menyerangnya, dan inilah yang dinamakan senjata makan Tuan.


"Jadi yang kau katakan semua itu bohong, dan video yang kau kirim malam itu hanya settingan?! Kau sangat keterlaluan Marissa, hampir saja kita menghakimi orang yang tidak bersalah. Kau sangat keterlaluan!!"


"Tu..Tunggu dulu, bukan begitu. Kalian hanya salah paham, bukan maksudku untuk~"


"Dasar sampah!! Sekali sampah tetaplah sampah, dan sampah sepertimu sampai kapan pun tidak akan bisa menjadi bunga. Sudahlah, jangan hiraukan gadis gila ini lagi. Ayo pergi."


"Vivian, maaf ya. Kami sudah salah paham padamu, jika saja kita tidak mendengarkan ocehannya, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi."


"Tidak apa-apa, lupakan saja."


"Kau memang seorang Dewi Vivian, kami sangat bangga memiliki teman satu kampus sepertimu. Jangan membenci kami ya. Dan kami pergi dulu."


Marrisa mengeram marah. Semua rencananya berantakan dan bukan Vivian, malah dirinya yang hancur. Tapi Marissa tidak tinggal diam, dia harus memberi Vivian pelajaran. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Marissa meninggalkan kelasnya. Termasuk dua orang yang masih bertahan di dalam ruangan tersebut.


Vivian menoleh kebelakang dan sosok Marissa sudah tidak terlihat lagi, entah kenapa Vivian memiliki firasat buruk. Pasti Marissa akan berusaha mencari masalah dengannya lagi. Karena dia adalah tipe gadis pendendam.


-


-


Seorang pria muda lengkap dengan jas mahalnya mengayunkan kedua kakinya secara bergantian memasuki sebuah gedung perkantoran. Para pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengannya langsung membungkuk memberi hormat.


Disampingnya seorang wanita muda yang sangat cantik berjalan beriringan dengannya. Wanita itu memiliki tubuh yang tinggi, ramping dan putih. Rambut hitam sebahu dengan sepasang anting panjang disebelah telinganya yang terlihat dari helaian rambutnya yang ditarik kebelakang.


Orang-orang terpesona dengan kecantikannya. Meskipun wajah cantiknya terlihat angkuh dan tak menunjukkan sikap ramah sedikit pun.

__ADS_1


"Tuan Vano, selamat datang kembali." Seorang pria paruh baya membungkuk pada pria itu yang ternyata adalah Vano.


Mulai hari ini Vano akan menggantikan sang ibu untuk memimpin perusahaan. Ayahnya memilih menjadi rektor di S.N.U, jadi perusahaan peninggalan kakeknya dikelola oleh sang ibu.


"Nyonya, Silvia," sapa pria itu pada wanita disamping Vano.


Silvia sendiri adalah istri Vano. Dan dia adalah alasan kenapa Vano meninggalkan Vivian beberapa tahun yang lalu. Dia memang mencintai Vivian, tapi perusahaannya juga sangat penting. Ditambah lagi Ibunya yang tidak menyukai Vivian, demi memisahkan Vano dari gadis itu, kemudian ibunya menjodohkan Vano dengan Silvia.


"Kau tidak perlu menemaniku seharian disini, kau pasti bosan. Pergilah jalan-jalan, bukankah kau bilang ingin mencari adik kecilmu yang juga ada di kota ini."


Silvia mengangguk. "Baiklah, memang itu juga rencanaku. Aku pergi dulu, mobilmu aku pakai." Ucap Silvia dan pergi begitu saja.


Meskipun tidak ada cinta diantara mereka berdua. Tapi Vano dan Silvia saling menghargai sebagai sepasang suami-istri. Mereka berdua saling terbuka dan tidak pernah ada rahasia diantara mereka.


Silvia mengemudikan mobil suaminya dengan kecepatan sedang. Wanita itu hendak berkeliling kota dan mencari kampus tempat adik kecilnya berkuliah. Sudah lebih dari tiga tahun Silvia tidak bertemu dengannya, dan dia sangat merindukan adiknya itu.


Terakhir mereka bertemu adalah saat sang adik terpuruk karena kepergian sang kekasih yang tanpa kabar. Silvia sampai menyempatkan pulang untuk menguatkan sang adik, padahal dia baru saja menikah. Tapi Vano tidak ikut, karena dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Selama ini Silvia dan sang adik tinggal di negara terpisah karena wanita bertubuh tinggi itu sedang mengejar karirnya sebagai model. Sebenarnya Silvia dan gadis itu bukanlah saudara kandung, tapi mereka saling menyayangi. Apalagi mereka tumbuh dan besar bersama.


Saat ibunya menikah dengan ayah tirinya. Adik kecilnya itu baru berusia 1 tahun. Silvia yang sejak kecil ingin memiliki seorang adik tentu saja sangat senang dan bahagia. Usia mereka hanya terpaut 5 tahun saja. Dan Silvia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2