Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"GIO?!"


Nyonya Bella dan Vano memekik keras saat melihat Gio menjadi bagian dari orang-orang yang telah menipunya. Gio menghampiri ibu dan kakaknya yang kini menatapnya penuh kemarahan.


"Jadi kau orangnya, orang yang sudah menggagalkan rencana ku dan Mama?!" Tanya Vano sambil menatap Gio tak percaya.


"Ya, memang aku yang melakukannya. Aku yang sudah menggagalkan rencana busuk kalian berdua!!" Jawab Gio membenarkan.


"Anak kurang ajar!! Kau benar-benar keterlaluan!!" Teriak Nyonya Bella. "Bagaimana bisa kau melakukan hal ini pada kakak dan ibumu sendiri?!"


"Kau bukan ibuku, dan dia bukan kakakku!! Kalian adalah dua monster yang menghancurkan keluargaku!! Kau, adalah wanita tak tau diri yang seenaknya merebut posisi ibuku sebagai nyonya besar. Kau juga yang sudah menghasut papa untuk menceraikan mama dan mendepaknya keluar dari rumah kami!! Kemudian dia meninggal dan itu semua karena kau!!" Teriak Gio.


Setelah cukup lama memendamnya. Akhirnya Gio bisa melepaskan semua emosi yang selama ini tertahan di dalam dadanya. Gio terlalu takut untuk menghadapi ibu dan kakak tirinya, tapi akhirnya dia menemukan kekuatan untuk melawan mereka.


Nathan menghampiri Gio lalu menepuk pundaknya. "Sudah saatnya kau membuat mereka membayar semua kejahatannya. Karena nyawa harus dibayar nyawa!" Ucap Nathan sambil menyerahkan sebuah pistol pada Gio.


Mata Vivian membelalak sempurna, terkejut melihat Nathan memiliki sebuah pistol. Bukan hanya Nathan saja yang terkejut tapi Dio juga.


Gio menggeleng. Dia menolak senjata itu."Jika aku melakukannya, lalu apa bedanya aku dengan mereka. Biarkan hukum yang mengadili mereka."


Nathan tersenyum tipis. "Aku tau kau adalah pemuda yang baik."


Pintu ruangan terbuka beberapa polisi datang bersama Arya dan Sean. Nathan menghampiri salah seorang polisi itu lalu mengembalikan pistol yang sempat dia pinjam tadi. Nyonya Bella dan Vano ditahan dan dibawah ke kantor polisi.


Gio menjatuhkan diri ke lantai, dia menangis keras sambil memukul dadanya yang terasa sesak dengan brutal. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya hari ini tiba juga. Dimana kedua pembunuh ibunya mendapatkan balasannya.


Nathan mengulurkan tangannya pada Gio. Arya, Sean dan Dio ikut berdiri disampingnya. Melihat mereka yang begitu peduli padanya membuat Gio merasa terharu. "Semua sudah selesai, ayo kita pulang." Gio mengangguk. Bersama Nathan, Vivian dan trio ajaib, Gio meninggalkan bangunan tak bertuan tersebut.

__ADS_1


-


-


Nathan menghentikan mobil mewahnya di halaman luas sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Lalu pandangannya bergulir pada sosok jelita yang sedang tertidur pulas disampingnya.


Sudut bibir Nathan tertarik keatas. Melihat Vivian yang tampak lelah membuat Nathan tidak tega untuk membangunkannya. Ia pun hanya bisa menunggu sampai Vivian bangun sendiri.


Nathan menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Kedua matanya tertutup rapat. Rasa lelah mulai menggerogoti tubuhnya, dia ingin mengistirahatkan sejenak tubuhnya sambil menunggu Vivian bangun.


Terlihat sebuah pergerakan kecil dari Vivian. Matanya perlahan terbuka, dia tampak kebingungan. "Eh, ini dimana? Bukankah ini rumahku?! Jangan-jangan aku ketiduran, lalu Nathan?!" Pandangan Vivian bergulir ke samping kanannya dan mendapati Nathan yang sedang menutup matanya.


Vivian melepas sabuk pengamannya agar bisa memandang wajah Nathan yang sedang tertidur dengan puas. Vivian mengangkat tangannya, jari-jari lentiknya menyusuri setiap inci wajah Nathan mulai dari kening, kemudian turun ke mata, hidung dan terakhir bibir kiss able-nya.


Sudut bibir Vivian tertarik keatas. Ternyata kekasihnya ini benar-benar tampan meskipun penampilannya sedikit urakan, dan terkadang dia juga terlihat cantik. Benar-benar tipe Vivian.


Gerakan tangan Vivian terhenti saat kelopak mata itu perlahan terbuka. Memperlihatkan sepasang mutiara coklat yang dingin.


"Apa yang kau lakukan, turunkan aku," pinta Vivian. Vivian sedikit gugup dan salah karena ditatap begitu dalam oleh Nathan.


"Wajahmu memerah, Sayang. Kenapa kau sangat gugup, hm?" Gumam Nathan.


"Si..Siapa yang gugup, kau jangan asal bicara. Dan wajahku memerah karena udara malam ini yang lumayan dingin," elaknya. Vivian membuang muka kearah lain. Kemana saja asal jangan wajah Nathan.


Pemuda itu terkekeh. Nathan memegang dagu Vivian dan mencium bibirnya dengan keras. Nathan mel*mat bibir itu dengan rakus. Meskipun awalnya terkejut dan merasa sedikit terancam, namun akhirnya dia bisa menerima ciuman itu dengan baik. Bahkan Vivian tak ragu membalas ciuman itu.


Nathan semakin memperdalam ciumannya, dia mengarahkan tangan kirinya untuk merengkuh pinggang gadis itu, kemudian dia menaikkan tangan kanannya ke arah tengkuk Vivian untuk semakin memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


Vivian sendiri saat ini sedang mencengkram erat rambut Nathan berusaha menyalurkan perasaan menggebu di hatinya, dan perasaan menggelitik yang dia rasakan di perutnya.


Nathan melepaskan ciumannya saat dirasakannya Vivian telah kehabisan nafas. Dia menatap wajah cantik merona gadis yang saat ini ada di hadapannya.


Nathan tidak tahan, dia memajukan wajahnya kembali untuk mencuri bibir Vivian seperti tadi.


Ciuman kedua ini terasa lebih dalam. Nathan menyapu seluruh bibir Vivian menggunakan bibirnya. Kemudian dia menggigit pelan bibir bawah kekasihnya yang reflek membuatnya membuka bibir, hal ini dimanfaatkan Nathan untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga hangat Vivian. Lidah Nathan menari-nari menikmati setiap sisi lidah dan pipi dalam Vivian.


Lidah Nathan membelit lidah Vivian seolah mengajaknya untuk menari bersama. Nathan tidak bisa menghentikannya, bibir Vivian terasa nikmat dengan sensasi manis yang dia rasakan.


Dan ciuman mereka berakhir ketika Nathan merasakan pukulan pada dadanya. Sejak mengencani Vivian beberapa hari lalu, ini pertama kalinya mereka berciuman sedalam ini.


"Masuklah, ini sudah larut malam. Besok pagi aku akan datang lagi untuk menjemputmu." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Vivian.


"Kau hati-hati dan jangan mengebut."


Nathan menepuk kepala Vivian dengan lembut seraya menganggukkan kepala. "Aku tau, masuklah dan segera tidur. Aku mencintaimu," Nathan mengecup kening Vivian sebelum gadis itu turun dari mobilnya.


Vivian mencengkram dadanya yang berdegup kencang. Nathan benar-benar membuatnya merasakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan yang dia rasakan saat ini tak sama seperti yang ia rasakan ketika bersama Vano dulu. Nathan memberikan kasih sayang yang begitu berlimpah. Meskipun dingin dan tertutup, tapi dia memiliki cara sendiri untuk mencintainya.


Vivian tidak akan menuntut Nathan menjadi orang lain. Vivian hanya ingin agar Nathan mencintainya dengan caranya. Karena cinta yang tulus tak harus menuntut orang itu menjadi apa dan bagaimana, namun cinta bisa menerima dengan tulus dan apa adanya.


"Nathan Qin, aku mencintaimu."


Vivian meletakkan kedua tangannya di depan dadanya yang berdebar tak karuan. Dan setelah memastikan Nathan sudah pergi, ia pun melenggang masuk ke dalam rumahnya.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2