
Luna sedang duduk di ranjang inap Jordan ketika seorang perawat masuk untuk mengganti perban yang menutup luka di pelipis dan tulang pipi kiri kekasihnya. Gadis itu melepaskan tautan tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya dan segera turun lalu berjalan menuju sofa.
"Disini saja." Sebuah genggaman lembut pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.
Luna tersenyum lalu mengangguk "Baiklah."
Gadis itu ikut meringis melihat ekspresi Jordan yang seperti menahan sakit saat kapas yang telah di lumuri cairan obat mulai menyentuh luka jahit di pelipis kirinya. Sedikit cairan merah segar mengalir dari sela-sela benang yang mengatupkan luka menganga di pelipis sang kekasih.
Dokter mengatakan jika luka robeknya cukup dalam, dan setelah selesai. Suster menutup kembali luka itu dengan perban baru selebar 3 jari orang dewasa dan merekatkannya dengan plester. Suster juga melakukan hal yang sama pada luka di tulang pipinya.
"Sudah selesai. Tuan Muda, Nona, saya permisi dulu." Pamit suster tersebut yang di balas anggukan oleh mereka berdua.
"Ge, pasti sakit ya." Mutiara sewarna batu onyx milik Jordan bergulir pada gadis yang duduk di sampingnya.
Dia tersenyum lalu mengangguk. "Sedikit." Jawabnya singkat "Kemari lah." Jordan mengulurkan tangannya pada Luna yang segera di sambut oleh gadis itu. Menempatkan gadis itu di atas pangkuannya.
Jordan memandang sosok cantik di depannya dengan lembut, tangan kirinya membelai wajah dan memainkan rambut panjang Luna yang terurai. Memainkannya sambil sesekali mencium aromanya. Aroma bunga Sakura yang menenangkan, sungguh betapa Jordan menyukai aroma ini. Aroma menenangkan yang memberi candu untuknya, perlahan Ia mendekatkan wajahnya.
Bibirnya kemudian bergerak menuju bibir ranum Luna, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Jordan memberikan lumattan-lumattan kecil pada bibir ranum gadisnya.
"Morning Kiss, Sayang." Bisiknya lembut.
"Uhhh, selalu saja ciuman sepi------ emmhhhpp." Kalimat Luna di hentikan oleh ciuman kedua Jordan.
Jordan kembali melumatt bibir Luna, lidahnya mengabsen deretan gigi putih gadisnya, sedikit memberi tekanan agar Luna membuka mulutnya. Tau apa yang di inginkan oleh Jordan, Luna segera membuka bibirnya, dan detik itu juga lidah Jordan meluncur masuk ke dalam mulut Luna.
Pria itu mengajak lidah Luna untuk menari bersama, saling memiliin hingga bertukar saliva. Lidah Jordan kian gencar bermain di dalam mulut Luna. Gadis itu yang dasarnya awam dalam french kiss, membiarkan lidah Jordan terus bermain di dalam mulutnya. Sampai akhirnya pria itu mengakhiri french kiss nya, karena mereka berdua sama-sama membutuhkan pasokan oksigen.
"Kau masih sedikit kaku, Sayang." Ucap Jordan dengan smrik mematikan yang mampu meluluh lantangkan hati Luna.
"Dasar menyebalkan, berhenti menggombal." Luna memalingkan wajahnya yang telah merona dari pandangan Jordan. Pria itu terkekeh. "Kau sangat menggemaskan, Sayang."
"Aku ingin melihatnya." Bisik Luna parau.
Seolah mengerti, Jordan segera membuka dan melepas piyama rumah sakitnya. Menyisakan singlet putih yang menjadi lapisan dalamnya.
Luna tak berkedip memandang tribal di lengan kiri kekasihnya. Tribal yang sangat Ia kagumi, Luna dapat merasakan tubuh Jordan menegang. Tubuhnya memberikan respon yang luar biasa pada sentuhan-sentuhan tangan Luna yang bergerak mengikuti polo tribal di lengannya.
Reaksi pada tubuhnya mengirimkan getaran menuju pita suaranya hingga berkali-kali terdengar erangan keluar dari mulut Jordan, Tang bungsu itu mulai terangsang oleh sentuhan Luna.
"Hm, kau terangsangg ya," Goda Luna dengan senyum jahilnya. Di gerakkan jari-jarinya menuju area sensitif Jordan di sekitar lehernya. Luna menyeringai. Namun gerakan tangannya di hentikan oleh Jordan.
"Hentikan, Luna." Geram Jordan dengan nada rendah.
"Ehh." Luna menyeringai jail. "Apa sebesar itu sentuhanku berpengaruh pa---- Euummpp," Ucapan Luna terpotong oleh tarikan pada tengkuknya, dan sekali lagi Satu ciuman mendarat mulus di bibir ranumnya.
Jordan mencium bibir Luna dengan sangat rakus. Awalnya hanya ingin memberi morning kiss, tapi dia malah ketagihan dan tak bisa berhenti untuk menikmatinya. Jordan menekan tengkuk Luna untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Tangan Luna kini bergelayut manja pada leher sang kekasih,
Dia ikut merotasi kan kepalanya. Menyamai permainan Jordan dan mencoba mengimbanginya, tapi dia masih sangat payah dalam french kiss. Jadi sangat sulit untuk Ia bisa mengimbangi permainan Jordan.
"JORDAN, LUNA, KAMI DATANG!!"
Suara berisik Martin mengakhiri french Kiss Jordan dan Luna. Jordan mendecih karena momennya bersama Luna di hancurkan oleh kedatangan Martin dan teman-teman lainnya. Dengan terpaksa dan sangat tidak rela, dia mengakhiri ciumannya. Luna juga sudah turun dari pangkuan Jordan.
"Segera rapikan penampilan mu sebelum mereka masuk." Pinta Jordan dan dibalas anggukan oleh Luhan.
Luna mengangguk. "Baiklah," buru-buru Luna merapikan penampilannya karena tidak ingin dihujani berbagai pertanyaan oleh mereka yang datang.
"RUSA." Martin berteriak dan langsung memeluk Jordan dengan erah. "Huaaa, rusa maafkan kembar siam tak serupa mu ini karena baru sempat mengunjungimu." Martin menumpahkan air matanya di bahu Jordan, bukan air mata sesungguhnya melainkan obat tetes mata yang sengaja dia teteskan ke matanya agar lebih terlihat dramatis.
"Cihh." Bukannya merasa terharu. Jordan justru merasa mual dengan tingkah sahabatnya itu. Dengan kasar, Jordan mendorong Martin nggak pelukannya terlepas. "Lepaskan, bodoh, kau membuatku tidak bisa bernafas." Desisnya kesal.
"Rusa China ku tersayang, kenapa kau jahat sekali sih? Aku kan mencemaskan mu." Rajuk Martin sambil mencerutkan bibirnya.
"Sudahlah Oppa, cukup dan berhenti mempermalukan diri sendiri." Karin mengusap punggung Martin mencoba menenangkan sang kekasih.
Martin menatap Karin dan berhambur memeluknya, drama di mulai. "Baby, si rusa jahat." Raungnya seperti anak kecil yang tidak di belikan permen oleh orang tuanya.
Jordan hanya memutar matanya jengah melihat tingkah kekanakan sahabatnya itu. Dan tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Jordan dari Martin. "Sudahlah kawan, tidak perlu hiraukan dia. Seperti kau tidak mengenal bagaimana tingkah bocah satu itu." Ucap Dean.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ren.
"Seperti yang kalian lihat, aku sudah jauh lebih baik." Jawabnya.
Ren mengerutkan dahinya melihat tubuh atas Jordan yang hanya berbalut kaus dalam. Namun dia tidak ingin terlalu memikirkannya, toh itu bukan urusannya 'Mungkin lepas baju karena gerah.' Batinnya. Dia paling anti dengan urusan orang lain, berenda dengan Martin yang selalu ingin tahu.
"Lalu apa si jelek ini merawat mu dengan baik." Tunjuk Key pada Luna.
"Yakk!! Berhenti memanggilku jelek, seperti kau mengenalku dengan baik saja. Dasar mayat hidup!!" amuk Luna kesal. Dia tidak terima disebut jelek oleh Key.
__ADS_1
"Hehehe, maaf." Ucapnya penuh sesal.
"Cih," Luna mendecih lalu meninggalkan para pria dan menghampiri teman-temannya. Tiffany dan Devan juga ikut datang karena ajakan Karin.
Dari Jordan, pandangan Key bergulir pada Luna dan menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Gadis itu tampak asik berbincang dengan teman-temannya.
Dia masih secantik dulu, tanpa Jordan ketahui, dia dan Luna telah lama saling mengenal dan Luna adalah cinta pertamanya.Namun Key memilih mundur saat tau saingannya adalah Jordan. Dia sadar dirinya tidak akan menang.
"Jelek, aku rasa management memang tidak cocok untukmu. Kau berbakat menjadi seorang Dokter, kenapa tidak ambil jurusan kedokteran dan gapai impianmu saja?" Luna tampak syok mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Key.
Sontak Ia menundukkan wajahnya. Membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan serba putih itu kebingungan tak terkecuali Jordan. Tidak banyak yang tau tentang Impian Luna yang sesungguhnya dan alasan kenapa Ia bisa berada di Fakultas Ekonomi, hanya Key, Tiffany, Karin dan Devan yang tau alasannya.
Gadis itu menunduk semakin dalam, Ia tidak tau kenapa tiba-tiba Key harus membahas masalah ini lagi. "Key, kenapa harus membahas apa yang seharusnya tidak perlu dibahas? Kau membuatnya menjadi sedih." Ucap Martin sambil memberikan tatapan tajamnya pada Key. Martin mengetahui tentang impian Luna ingin menjadi Dokter dari Karin.
"Apa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya ingin menyadarkan gadis ini akan impiannya sejak kecil. Aku masih ingat betul saat dia duduk di bangku menengah pertama. Luna, selalu mengatakan jika suatu saat nanti ia akan menjadi Dokter yang hebat. Luna, selalu mengatakan jika itu adalah impian terbesarnya dan cita-citanya sejak kecil. Bahkan aku sampai muak mendengar hampir setiap hari dia selalu mengatakan kalimat yang sama, tapi aku juga merasa bangga sebagai seniornya karena Junior ku memiliki impian yang sangat mulia."
"Tapi beberapa tahun lalu dia mengatakan ingin melepas impiannya dan masuk ke dunia bisnis. Aku selalu memperhatikannya, karena Luna sudah seperti adikku sendiri. Dan katakan padaku, Martin, Apakah yang aku katakan ini salah?" Key memandang Martin yang sejak tadi memilih bungkam, dia kehilangan kata-katanya.
Tidak ada yang salah, karena yang di katakan Key memang benar adanya. Menjadi Dokter memang impian Luna sejak masih anak-anak, lalu tiba-tiba gadis itu melepaskan impiannya dan memutuskan untuk masuk dunia bisnis.
Tiffany yang merasa atmosfer di dalam ruangan itu mulai memanas tak lantas diam begitu saja, terlebih saat melihat perubahan pada raut wajah Luna. "Hei Mao, kau tidak lupa dengan agenda sabtu kita bukan?" Tiffany menepuk keras bahu Luna. Gadis itu hanya menoleh dan menatapnya sekilas. "Hei, ekspresi macam apa itu." Tunjuknya pada wajah muram Luna.
Luna memutar matanya jengah "Tentu saja tidak, Tiffany Panny Panny. Tapi masalahnya jika aku pergi berbelanja bersama kalian, lalu yang menjaganya siapa?"
"Pergilah, dan ikutlah asa bersama mereka." Martin menepuk bahu Luna. "Masih ada kami di sini, ya meskipun tampangnya menyebalkan begitu. Tapi Deen adalah seorang perawat yang hebat."
Mendengar namanya di sebut, Dean menoleh dan menatap Martin tajam. "Memangnya sejak kapan aku berubah profesi menjadi perawat?" ucapnya kesal.
Jordan bangkit dari duduknya saat melihat kebimbangan Luna, gadis itu tampak khawatir dan seperti tidak rela meninggalkannya. Ia tidak mungkin mempercayakan Jordan pada salah satu dari mereka berlima.
"Pergilah, aku akan baik-baik saja bersama mereka." Jordan mengambil dompetnya yang ada di laci samping ranjang inapnya, mengeluarkan Black cart dan memberikan pada Luna. "Gunakan ini untuk membeli keperluanmu, apa pun yang kau butuhkan."
Perempatan siku-siku muncul di dahi Luna saat itu juga. Luna menggeleng. "Tidak perlu, Ge. Aku ada uang kok." Luna menolak halus, tidak mungkin Ia menerima card itu dan menghabiskan sebagian dari uang Jordan untuk membeli kebutuhannya.
Jordan mendengus. "Aku tidak suka penolakan, Nona Muda." Ucapnya tak mau di bantah "Belikan 2-3 kemeja dan celana untukku, jangan lupa membeli isi kulkas terutama apel dan anggur. Persedian di kulkas sudah menipis." Lanjutnya. Luna menatap Jordan dengan wajah protes.
"Tapi, Ge."
" -----Tidak ada tapi-tapian, gunakan card ini. Paham."
Luna mendesah berat, berdebat dengan si keras kepala Jordan memang tidak akan pernah menang, dengan berat hati dia mengambil golden card itu dari tangan Jordan. "Baiklah, lalu kemeja seperti apa yang ha----"
"Terserah, yang menurutmu bagus. Apa pun pilihanmu, dengan senang hati aku akan memakainya." Luna tersenyum lebar mendengar jawaban Jordan.
"Kalian bertiga Pergilah bersama mereka. Dan pastikan jika gadisku baik-baik saja." Pinta Jordan pada ketiga sahabatnya. Minho, Dean dan Key, ketiganya pun mengangguk mengerti.
"Tidak perlu cemas, aku pasti menjaga si jelek ini." Ucapnya sambil menepuk kepala Luna. Para gadis bersama para pria tampan itu melangkah keluar meninggalkan ruang inap Jordan.
xxx
Ketiga gadis itu sedang duduk dan menikmati makan siangnya disebuah cafe yang bisa mereka kunjungi. Jam menunjukkan pukul 12.30 siang, hari ini adalah hari sabtu. Dimana mall terbesar di Seoul selalu mengadakan diskon besar-besaran.
Sedangkan para pria yang mengawal mereka memutuskan untuk makan di meja terpisah, mereka bertiga memilih meja di luar cafe agar bisa leluasa merokok tanpa ada teguran dari pihak mana pun. Terutama dari para gadis.
Bagi Luna, hal itu tidak memiliki daya tarik apa pun. Dia tidak terlalu hobi berbelanja, dan setiap berbelanja bersama Tiffany dan lainnya, dia hanya beli apa yang di butuhkan saja. Tapi hal itu berbeda untuk Tiffany dan Karin yang memang dasarnya memiliki hobi shopping itu.
Shopping adalah hal wajib bagi mereka berdua pada setiap sabtu tiba. Bagi mereka hari sabtu adalah keberuntungannya dalam seminggu, karna mereka bisa mendapatkan banyak baju, tas dan sepatu dengan berbagai model dengan harga murah.
Dan karena sudah kesepakatan bersama, jadi Luna tidak keberatan untuk ikut berbelanja bersama mereka. Toh dia juga memiliki sesuatu yang harus di beli, mungkin beberapa helai dress, rok dan atasan cantik serta 2-3 pasang sepatu baru juga 1-2 buah tas. Lagi pula Luna juga harus membelikan pakaian untuk Jordan yang sepertinya sudah tidak nyaman dengan pakaian rumah sakitnya.
"Hei Mao. Kau sangat beruntung memiliki kekasih seperti Tang Songsaenim, dia sangat baik dan perhatian padamu." Ucap salah satu dari kedua gadis itu. Matanya tak lepas dari gadis cantik di depannya itu.
Luna mengukir lengkungan tipis di sudut bibirnya, benar kata Tiffany, dia sangat beruntung. "Kau benar Tiff, meskipun sifatnya kadang dingin dan selalu memasang wajah datar. Tapi dia adalah tipikal pria yang baik dan penuh kasih sayang, dan betapa beruntungnya aku memiliki dia." ujar Luna.
Luna tak dapat menahan lengkungan di bibirnya yang mengembang semakin lebar, Ia tak segan-segan memuji dan membanggakan Jordan pada teman-temannya. Menjelaskan jika sang kekasih tidaklah sedingin yang mereka pikirkan.
"Ya, dan Tang Songsaenim adalah satu-satunya pria yang mampu meluluhlantakkan hatimu." Sahut Karin."Martin, pernah mengatakan padaku. Jika Tang Songsaenim belum pernah pacaran apalagi jatuh cinta sebelumnya. Padahal setau Martin, dia itu sangat terkenal di antara pada gadis. Banyak yang memuji dan mengharapkan cintanya." ujar Karin menambahkan, dan apa yang baru saja dia ucapkan membuat wajah Luna semakin memerah.
"Wow, itu artinya kau adalah gadis yang paling beruntung, Mao. Kau tidak hanya berhasil mencuri hati sang pangeran es. Tapi kau juga mendapatkan cintanya dan sekarang malah resmi menjadi kekasihnya." Tiffany berkedip jail pada Luna.
"Jadi kapan kita akan pergi ke mall nya? Aku sudah tidak sabar ingin berbelanja." Nada antusias keluar begitu saja dari mulut Karin, dan semangat gadis itu akan membara jika sudah berhubungan dengan shopping dan fashion.
"Sekarang boleh." Jawab Tiffany
"Tapi kita mampir ke toko kaset ya, aku ingin membeli beberapa video game terbaru." Ucap Karin dengan wajah serius, Tiffany mendecih mendengar ucapan sahabatnya itu. Ya wajar saja, karena Karin adalah gadis yang sedikit tomboy.
"Maniak game." Desis Tiffany yang fokusnya tak lepas dari ponsel pintar miliknya. Dia mendelik sebal pada Tiffany.
"Maniak fashion." Balas Karin tak kalah tajam, membuat gadis itu menatap tajam pada manik biru milik Tiffany.
__ADS_1
"Ck, selalu saja ribut. Sebaiknya kita pergi sekarang, sudah terlalu lama kita pergi dan belum mendapatkan satu benda pun." Ucap Luna seraya bangkit daru duduknya dan berjalan mendahului kedua sahabatnya.
.
.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam, akhirnya para gadis itu pun mendapatkan semua barang yang mereka inginkan. Termasuk Luna yang juga sudah mendapatkan barang-barang nya, tidak sebanyak belanjaan milik Karin dan Tiffany.
Luna hanya membeli 2 helai dress, 3 rok dan beberapa potong atasan manis yang selalu menunjukkan sisi feminimnya. Tak lupa pakaian milik Jordan. 2 kemeja dan 3 kaos lengan terbuka, 3 kemeja lengan panjang, vest dan dua celana hitam. Tak ketinggalan juga belanjaan untuk 1 bulan ke depan. Terutama apel dan anggur, Luna tau jika kekasihnya itu sangat menyukai kedua jenis buah tersebut.
"Sudah selesai?" Tegur Key saat melihat kedatangan para gadis.
dia mengerutkan dahinya melihat belanjaan Luna tak lebih dari 3 kantong, berbeda dengan Karin dan Tiffany yang seperti mau buka boutique sendiri. Belanjaan milik Luna yang membuatnya terlihat banyak adalah bahan-bahan segar seperti sayur, daging, buah-buahan dan beberapa ramen.
"Key, bisa kau antarkan aku ke rumah Jordan. Tidak mungkin aku membawa semua belanjaan ini ke rumah sakit. Aku juga mau mengganti pakaianku." ucap Luna dan segera di balas anggukan oleh Key.
Dalam benaknya dia bertanya-tanya, rumah Jordan? Mungkinkah mereka tinggal bersama? Tapi dia tidak mau terlalu ambil pusing. "Tentu." Jawabnya dan segera memasukkan belanjaan milik Luna ke dalam mobilnya.
"Lun, aku ikut bersamamu ya." Kata Karin sambil menatap Luna penuh harap. Gadis bermata Hazel itu pun tersenyum dan mengangguk.
xxx
Tawa Nathan hampir saja meledak setelah mendengar cerita Reno dan Leo Sementara David, mendelik kesal pada dua sahabatnya itu yang baru saja menceritakan mengenai apa yang Ia alami saat di rumah sakit ketika mengunjungi adik kesayangannya itu.
"Benar, jika saja kau tadi melihat wajah pucat nya saat mendapat ancaman dari Jordan, pasti kau akan terpingkal-pingkal." ucap Leo menambahi.
"Cihh." David mendecih, Ia sudah menduga jika Ia akan menjadi bulan-bulanan mereka bertiga setelah mereka tau apa yang telah Ia alami saat di rumah sakit tadi. "Jangan senang dulu kau Nathan, bisa saja Luna akan menggantung mu hidup-hidup jika dia mengetahui kau juga terlibat."
"Oh itu tidak mungkin terjadi, karena adikku itu manis tidak menyeramkan seperti adikmu itu." Ucap Nathan menanggapi. "Dan Luna tidak mungkin percaya begitu saja tanpa ada bukti yang nyata." Imbuhnya.
"David Tang, ternyata kau tidak jauh lebih pintar dari, Jordan. Buktinya dia menemukan semua kamera yang sengaja kau pasang dan sembunyikan di rumahnya."
"Diam lah kau Iblis kutub, siapa bilang aku jauh lebih bodoh dari adik kesayanganku itu. Jelas-jelas ini karena dewi fortuna tidak berpihak padaku." David mencoba membela diri, Ia memang tidak pernah terima jika ada yang mengatakan bila Jordan jauh lebih pintar darinya. Meskipun pada kenyataannya itu adalah fakta
Mendengar perdebatan mereka berdua memang tidak akan pernah ada habisnya, terlebih David yang keras kepala dan selalu ingin menang sendiri. Dan satu-satunya orang yang dapat mengimbangi sifat menyebalkan sang Leader Balsem itu adalah Nathan, tak jarang dia sampai kehilangan kata-katanya jika sudah terlibat perdebatan dengan pria dingin itu.
"Tunggu dulu, jangan bilang jika kau kembali kesini karena ingin melarikan diri dari, Jordan?" Tebak Nathan yang 100% banar.
" .... "
Dan kediaman David memperkuat tebakan Nathan akan alasannya kembali ke Busan, Nathan menyeringai. "Begitu masih tidak terima jika aku mengatakan bila dia jauh lebih jenius dari pada dirimu." Ucapnya.
"Diam lah manusia kutub, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Ketus David sebelum menangis meraung seperti anak kecil "Dasar adik durhaka, bisa-bisanya menempatkan kakaknya yang tampan ini dalam masalah."
Tubuh David berakhir di lantai, setelah Reno mundur dan menolak pelukannya. "Hiaaa, Reno kenapa kau kejam sekali padaku." Teriaknya dengan air mata buayanya. Reno mendecih, geli sendiri dengan tingkah kekanakan David. Sementara yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang Leader yang mirip bocah 5 tahun.
"Terlalu lama berada di tengah-tengah mereka, lama-lama aku bisa gila. Lebih baik aku baca novel panas saja."
xxx
'Duaaaaaarrrrr'
Suara kembang api yang terdapat di taman kota terlihat sangat meriah. Terdapat sepasang kekasih yang sedang menikmati festival tahunan yang sangat meriah itu di balik jendela rumah sakit tempat sang pria di rawat.
Ya, malam ini adalah festival bunga yang selalu di adakan setiap tahunnya, tapi sayang mereka tidak bisa menikmatinya langsung karna sang pria masih harus menjalani rawat inap sampai esok pagi.
Tak ada raut sesal yang tampak di wajah ayu sang gadis, Ia tidak kecewa meskipun tidak bisa melihat festival itu secara langsung. Ia jauh lebih menikmati kebersamaannya dengan sang kekasih.
Malam ini hanya ada Luna dan Jordan saja, teman-teman mereka sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Para gadis merengek ingin melihat dan datang festival itu.
"Maaf, tidak bisa membawamu kesana." Ucap Jordan penuh sesal. Pandangan Luna yang semula tertuju pada kembang api itu beralih pada sosok tampak di sampingnya.
Muncul 4 siku-siku di jidatnya "Tidak perlu minta maaf juga, aku tidak menyesal kok meskipun tidak bisa datang kesana. Lagi pula aku tidak terlalu menyukai keramaian, jujur saja. Lebih menyenangkan bersamamu di sini dari pada harus pergi ke sana." Jawab Luna dengan senyum terbaiknya.
Jordan ikut tersenyum, di usapnya kepala berhelaian coklat milik sang kekasih penuh sayang. Senyum Luna menjadi jauh lebih lebar melihat Jordan yang tersenyum seperti itu.
Masih dengan senyum tipisnya, Jordan berkata pada Luna. "Tapi aku harap kau tidak akan keberatan jika tahun depan aku ingin membawamu melihat festival itu secara langsung." Sambil menatap penuh cinta, Luna segera mengangguk penuh antusias.
"Tentu." Jordan menarik lengan Luna dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Tanpa Jordan sadari, ada semburat merah di wajah kekasihnya.
BRAKKKK .. !!! ..
Suara dobrakan pada pintu mengejutkan sepasang kekasih yang sedang berpelukan menikmati pertunjukan kembang api yang tampak indah menghiasi langit malam yang gelap dan berbintang. Keduanya menoleh pada sumber suara, dan mendapati dua lelaki tua berkepala 7 namun masih tampak awet muda di usianya yang tak lagi remaja.
"JORDAN, HANNY, BUNNY SWEETIE. KAKEK TAMPANMU DATANG." Teriaknya penuh kehebohan. Mata Jordan terbelalak tak percaya, terlihat dengan tingkah dua pria tua yang berjalan menghampirinya.
" Kakek!!"
.
__ADS_1
.
Bersambung