
Waktu berlalu begitu cepat. Siang yang terik telah berlalu, dan sore datang menjelang. Kuliah telah usai dan kampus mulai kosong, hanya tersisa segelintir orang saja, salah satunya adalah Luna yang sedang menunggu Jordan. Jika bukan karena pria itu mengirim pesan singkat dan memintanya untuk menunggu, pasti Luna sudah pulang dari tadi.
Gadis itu menghela napas. Sudah lebih dari sepuluh menit, tapi batang hidung yang ditunggu-tunggu belum tampak juga, dan hal itu membuat Luna kesal setengah mati.
Baru saja berencana pergi. Sebuah mobil sport tiba-tiba berhenti di depan Luna. Bukan Jordan, melainkan senior yang siang tadi tidak sengaja bertabrakan dengan Luna ketika di kantin, dan senior itu menawarkan tumpangan padanya.
"Luna, kenapa kau belum pulang? Apa kau sedang menunggu seseorang, bagaimana kalau aku mengantarmu saja?" usul senior itu memberi penawaran.
Luna menggeleng. "Terimakasih, Senior. Kau duluan saja, aku sudah ada janji untuk pulang dengan orang lain." jawab Luna.
"Tapi ini sudah sore, Luna. Sampai kapan kau akan menunggunya? Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." sang senior bersikeras untuk mengantarkan Luna pulang, tapi lagi-lagi gadis itu menolaknya.
Luna menggeleng untuk kedua kalinya. "Terimakasih senior, kau pulang duluan saja." pinta Luna sekali lagi.
Senior Luna menatapnya sekilas, kemudian menganggukkan kepala. "Baiklah." Dia tidak bisa memaksa Luna. Takutnya hal itu malah membuatnya ilfil padanya. Akhirnya senior itu pun pergi dan meninggalkan Luna begitu saja.
Tidak berselang lama setelah kepergiannya, sebuah mobil sport hitam tiba-tiba berhenti di depan Luna. Tanpa diminta sekalipun, Luna masuk ke mobil tersebut yang memang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi.
"Kenapa lama sekali? Apa kau tahu, aku hampir saja lumutan menunggumu." Ujar Luna setibanya dia di dalam mobil itu yang tentu saja dikemudikan oleh Jordan.
Namun tidak ada tanggapan dari pria itu. Jordan hanya menatapnya sekilas, lelaki itu kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan S.N.U. Luna menghela napas. Terkadang dia merasa, berbicara dengan Jordan sama saja dengan bicara dengan tembok.
"Kita mampir dulu dipusat perbelanjaan, persediaan bulanan di rumah sudah semakin menipis. Kau tidak keberatan bukan?" Jordan menoleh, menatap Luna yang juga menatapnya.
Gadis itu menggeleng. "Tentu saja tidak. Apalagi berbelanja adalah bagian paling aku sukai di dunia ini." Jawabnya.
Mendengar kata berbelanja membuat senyum di bibir Luna mengembang lebar, dia sudah tidak sekesal sebelumnya. Jordan mengangguk. Kemudian dia menambah kecepatan pada mobilnya dan melesat menuju pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Selang Sepuluh menit. Mereka tiba di pusat perbelanjaan kota. Luna dan Jordan sama-sama turun untuk mengambil troli, sebelumnya masuk ke dalam dan mencari apa yang dibutuhkan. Belanja bulanan kali ini jauh lebih banyak dari bulan lalu, karena bukan hanya ada satu kepala di rumah Jordan, tapi dua kepala.
Setelah satu jam berkeliling, mereka berdua menyelesaikan belanjanya. Mulai dari bahan pokok, buah dan sayur, sampai per-dagingan serta per-bumbuan, semua ada. Tak lupa mereka juga membeli cemilan ringan, minuman bersoda sampai ber-perisa buah.
"Apa sudah semua?" tanya Luna memastikan.
Jordan mengangguk. "Apa kau tidak mau beli apapun? Bukankah wanita sangat suka membeli make up dan sejenisnya? Pergilah, aku akan menunggu di cafe depan." Pinta Jordan.
Luna menggeleng. "Tidak, kita langsung pulang saja. Kebetulan make up dan parfum ku masih ada. Sebaiknya kita makan malam saja sekalian, kebetulan aku sangat lapar." Ucap Luna dan dibalas anggukan oleh Jordan.
"Baiklah kalau begitu." Jordan dan Luna kemudian meninggalkan pusat perbelanjaan dan menuju cafe terdekat untuk makan malam.
xxx
"OMO!!! Bukankah itu Luna, bagaimana bisa dia bersama Jordan Songsaenim?" Tiffany berseru kaget saat melihat kebersamaan Luna dosen barunya. Dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, memangnya sejak kapan mereka berdua menjadi akrab? karena seingatnya Luna sangat tidak menyukainya.
"Apa kau ingin masuk ke dalam?" tanya Devan memastikan.
Tiffany menggeleng. "Devan, coba lihat ke sana. Bukannya itu Luna dan Jordan Songsaenim, kenapa mereka berdua bisa bersama?" ucap Tiffany kebingungan.
Devan mengikuti arah tunjuk Tiffany, sama halnya dengan gadis itu, Devan juga tampak terkejut melihat kebersamaan mereka berdua yang jelas-jelas sangat tidak biasa.
"Jangan-jangan mereka memiliki hubungan spesial. Hanya saja mereka pura-pura saja bersikap acuh dan tidak saling kenal, terutama Luna, mungkinkah itu hanya sandiwara?" tebal Devan.
Tiffany menggeleng. "Aku sendiri tidak yakin, jika dia memang memiliki hubungan spesial dengan seseorang, pasti Luna bercerita padaku. Mungkin saja itu hanya kebetulan mereka bersama atau tidak sengaja bertemu," tutur Tiffany.
Devan mengangguk setuju. "Ya, aku rasa juga begitu. Tapi jika dilihat-lihat mereka berdua cocok juga. Jordan Songsaenim yang dingin seperti kutub Utara, dan Luna yang bar-bar dan suka membuat huru-hara. mereka berdua sampai bersama pasti bisa menjadi sebuah kesatuan yang sempurna." Ujar Devan.
__ADS_1
Tiffany menggeleng. "Aku rasa itu tidak mungkin. Jelas-jelas Luna sangat tidak menyukainya, bahkan dia seringkali dibuat kesal oleh sikap Jordan Songsaenim. Jadi mana mungkin mereka bisa menjadi pasangan, Aku benar-benar tidak yakin." tutur Tiffany.
"Sudahlah, untuk apa juga kita malah berdebat tentang mereka berdua. Aku lapar, kau harus mentraktirku makan malam yang lezat dan mewah." Ucap Devan.
Tiffany mengangkat bahunya. "Bukan masalah."
xxx
Luna buru-buru turun setibanya mereka di rumah. Dia sudah tidak tahan untuk cepat-cepat ke belakang. Perut Luna mulas dan tidak bisa diajak kompromi lagi. Sedangkan Jordan sibuk dengan belanjaannya yang jelas-jelas tidak sedikit.
Usai makan malam. Mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang dan tidak kemana-mana lagi. Jordan menatap Luna dan mendengus. Tingkahnya yang seperti bocah terkadang membuatnya geli sendiri. Jordan menggelengkan kepala, kemudian melanggar masuk sambil membawa semua belanjaannya.
Luna datang setelah selesai membuang hajat. dia menghampiri Jordan dan membantunya membawa serta menata semua barang belanjaan mereka berdua.
"Maaf aku tidak membantumu. Perutku benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi." ucap Luna penuh sesal.
Jordan menggeleng. "Bukan masalah." Ucapnya singkat.
Mereka berdua bersama-sama menatap barang-barang belanjaan itu ke tempat-tempat yang seharusnya. Dan kebersamaan mereka diwarnai obrolan-obrolan kecil. Jarak diantara mereka berdua perlahan terkikis, bahkan Luna sudah bisa jauh lebih terbuka dan tidak ketus lagi pada Jordan, dan begitu pun sebaliknya.
"Ini sudah malam. sebaiknya pergi ke kamarmu dan istirahat," pinta Jordan dan dibalas anggukan oleh Luna.
"Baiklah kalau begitu. Aku duluan." ucapnya dan pergi begitu saja.
xxx
Bersambung
__ADS_1