Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Terlalu Pengecut!!


__ADS_3

Nathan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, sampai-sampai membuat Jesslyn yang sedang merangkai bunga di kamarnya terlonjak kaget. Tau dari mana suara itu berasal, Jesslyn buru-buru meninggalkan kamarnya dan pergi ke kamar putra sulungnya.


Ibu dua anak itu melihat sang putra yang sedang berbaring dengan sebelah lengan menutupi sebagian wajah tampannya. Jesslyn mendekati Nathan dan terkejut melihat sesuatu yang melekat di pelipis kiri putranya.


"Nathan, apa yang terjadi pada pelipismu?!" Kaget Jesslyn saat melihat putranya itu pulang dengan keadaan pelipis kirinya ditutup perban. Bercak darah pada perban itu menandakan jika lukanya masih baru.


Nathan membuka matanya dan menatap sang ibu sedikit datar. "Hanya luka kecil, tidak sengaja terbentur saat naik bus," jawabnya datar.


"Biar Mami lihat, sepertinya parah." Jesslyn hendak membuka perban itu namun tangannya di tepian pelan oleh Nathan. "Kau jangan keras kepala, biarkan Mami melihat lukanya!!"


"Tidak perlu, Mi. Lukanya juga sudah di obati. Mami keluarlah, aku mau istirahat." Kemudian Nathan merubah posisinya, yang terlihat oleh Jesslyn hanya punggung yang tersembunyi di balik t-shirt tanpa lengannya.


Jesslyn menarik napas panjang dan menghelanya. "Baiklah, kau istirahat saja. Mami keluar dulu," kemudian ibu dua anak itu meninggalkan kamar putra sulungnya.


Baru dua hari, tapi Nathan merasakan hidupnya seperti di neraka. Dan dua hari saja sudah cukup membuatnya sadar dan mengerti, jika di dunia ini tidak ada ketulusan apalagi persahabatan sejati.


-


-


Gavin merapikan penampilannya saat melihat Vivian dan Sania sedang berada di kantin untuk makan siang. Tak terlihat sosok cupu Yangs sejak kemarin selalu ada di dekatnya, dengan angkuhnya Gavin menghampiri kedua gadis itu.


"Siapa yang mengijinkanmu duduk disitu?!"


Tapi sayangnya kedatangannya tidak disambut baik oleh Sania. Gadis itu langsung melemparkan sebuah kalimat yang begitu menusuk.


"Perlu ya aku minta ijin padamu, ayahku adalah salah satu donatur terbesar di kampus ini jadi aku bebas dong mau duduk dimana saja. Vivian saja tidak keberatan, jadi kenapa malah kau yang sewot?!"


"Vivian diam karena dia malas harus berurusan dengan manusia menyebalkan dan sok kaya sepertimu!!"


"Diamlah, atau kusumpal mulutmu pakai kaos kakiku!!" Ancam Gavin


"Kenapa aku harus menurut padamu, memang kau siapa sampai-sampai aku harus menuruti kata-katamu. Dasar anak mami!!"


"Kau~"

__ADS_1


"DIAM!!" Bentak Vivian dan menghentikan perdebatan mereka berdua. "Kalau mau ribut jangan disini, mau makan siang saja tidak bisa, kalian KETERLALUAN!!" Vivian bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


Gavin dan Sania langsung diam. Meskipun bibir mereka terus komat-kamit dan saling menyalahkan. Mata mereka juga saling melotot. Bukan rahasia lagi jika mereka berdua selalu bermusuhan.


.


.


"Vivian, tunggu!!"


Gio menahan pergelangan tangan Vivian ketika gadis itu melewatinya. Vivian yang sedang dalam keadaan mood buruk langsung menyentak tangan Gio dan menatapnya tajam.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Sebelumnya kau tidak begini, tapi semenjak si cupu itu datang dan kuliah disini, sikapmu jadi berubah. Sebelumnya kita berteman baik, tapi kenapa dia hari belakangan ini sikapmu jadi sedingin ini padaku?!"


"Jadi kau ingin tau kenapa aku seperti ini?! Karena aku tidak suka kau yang arogan dan sok berkuasa. Jangan mentang-mentang ayahmu adalah rektor di kampus ini, maka kau bisa bersikap sesuka hati. Kau merendahkan orang lain hanya karena penampangnya yang berbeda dari yang lain, apa kau itu pantas?!"


"Bahkan mati-matian kau membelanya."


"Coba satu hari saja kau berada di posisinya, kau pasti akan mengerti." Vivian menyentak tangan Gio dan pergi begitu saja.


Vivian menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Gio katakan. Tangannya terkepal kuat, sorot matanya berubah tajam dan menusuk ketika dia menatap pemuda itu. Dan seringai tampak tercetak jelas disudut bibirnya.


"Untuk apa aku tetap mengingat seseorang yang telah membuangku seperti sampah?! Dan sebaiknya jangan pernah mengungkit apapun lagi tentang dia di depanku. Karena aku sudah muak mendengar apapun tentangnya. Kakakmu dan seluruh keluargamu terlalu pengecut!!"


Rasa cinta yang dulu Vivian miliki untuk laki-laki itu telah memudar dan berubah menjadi rasa benci. Ditinggalkan tanpa ada kata perpisahan membuat Vivian terpuruk, tanpa tau apa alasannya dia membuat hatinya terluka dan berdarah.


Terlalu dalam luka yang orang itu berikan padanya, hingga Vivian tidak percaya lagi pada yang namanya cinta. Karena baginya, cinta hanyalah sebuah hal tabu yang memuakkan.


-


-


Jam dinding baru menunjuk angka 19.00 malam. Seorang pemuda berdiri di depan cermin besar di kamarnya.


Tubuhnya dalam balutan pakaian serba hitam lengan terbuka, style serampangan yang melekat di tubuhnya membuat dia terlihat seperti seorang berandal. Ditambah perban yang menutup pelipis kirinya seperti bekas tawuran.

__ADS_1


Kemudian dia menyambar kunci motor besarnya dan melenggang meninggalkan kamarnya. Dari tangga, pemuda itu melihat seluruh keluarganya sedang berkumpul di meja makan kecuali sang ayah yang masih di kantor.


Nathan menuju meja makan dan bergabung dengan mereka. Tak satupun ada yang mengomentari penampilannya. "Kakak mau pergi kemana dengan style seperti ini?" Tanya Lovely setelah Nathan duduk disampingnya.


"Hanya bertemu teman-teman," jawabnya sambil menepuk pelan kepala Lovely.


"Kak, apa kau dan perempuan bersama Marissa itu berkencan? Sebaiknya putuskan saja, dia bukan gadis yang baik untuk Kakak dan aku tidak suka padanya."


"Kenapa kau berpikir aku dan dia memiliki hubungan khusus?! Kami hanya berteman dan tidak ada yang spesial, lagipula Marissa bukan tipe idealku." Jelas Nathan.


Lovely menghela napas sambil mengusap dadanya. "Syukurlah kalau begitu. Berarti selama ini dia yang kecentilan pada Kakak ya?! Memang gadis tidak tau malu!! Aku benar-benar tidak suka pada gadis seperti itu!!"


"Lovely, cukup!! Jangan bicara lagi, sebaiknya kita makan malam sekarang sebelum makanannya dingin."


"Baik, Mi."


.


.


Gio tiba di lokasi tempat dia dan Nathan akan bertemu. Tapi batang hidung pemuda berkaca mata itu masih belum juga terlihat. Gio tidak sendirian pastinya, dia datang bersama teman-temannya. Dan Vivian juga sudah tiba di sana. Dia baru saja turun dari taksi bersama Sania.


Vivian menyapukan pandangannya dan dia tidak melihat keberadaan Nathan. Dalam hatinya Vivian berdoa semoga dia tidak datang, Vivian tidak mau jika Nathan sampai terlibat perkelahian dengan Gio dan teman-temannya.


"Dimana si cupu itu, kenapa dia belum datang? Jangan-jangan dia takut untuk menghadapi ku,"


"Tidak ada dalam kamusku takut pada sampah sepertimu!!" Sahut seseorang dari belakang.


Sontak Gio dan teman-temannya menoleh pada sumber suara. Seorang pemuda dengan style serampangannya keluar dari balik pohon besar tepat di belakang Gio dan teman-temannya berada.


"KAU?!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2