Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Akhir Yuna Dan Dante


__ADS_3

"Untuk apa kau ingin bertemu denganku?!"


Luis menatap sinis pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Siapa lagi pria itu jika bukan Dante, ayah kandungnya. Dante tersenyum sinis. "Beginikah caramu bersikap pada ayahmu?" ucap Dante dengan nada meremehkan.


"Tidak usah banyak basa-basi. Aku terlalu sibuk untuk mengurusi manusia hina sepertimu!!"


"Tandatangani dokumen ini, aku ingin kau menyerahkan sebagian harta ibumu padamu, sebagai gantinya aku akan memberitahumu dimana makam ibumu!!"


Luis hanya menatap datar dokumen tersebut. Seringai dibibir Dante semakin lebar melihat Luis mengambil berkas dan pulpen yang dia sodorkan. Rencananya akan segera berhasil, satu langkah lagi Dante bisa menyelesaikan masalah besar yang melilitnya saat ini.


"Luis, apa yang kau lakukan?!" bentak Dante terkejut. Diluar dugaannya, Luis malah merobek berkas tersebut.


"Teruslah bermimpi untuk menguasai harta Mama. Karena sampai kau tinggal tulang belulang sekalipun, aku tidak akan memberikannya padamu bahkan hanya sepeserpun. Dan asal kau tau, aku sudah memindahkan makam mama, aku bukanlah orang bodoh seperti yang kau pikirkan selama ini!!"


"Kau!!"


"Nikmati saja kehancuranmu, dan aku akan tertawa keras diatas penderitaanmu. Sampai jumpa sampah tidak berguna!!" Luis menyeringai, dia bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


"LUIS QIN, KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!"


-


-


Byurrr...


Satu ember air yang disiramkan ke wajahnya membuat mata Yuna kembali terbuka. Wanita itu tampak kebingungan, dia menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Tempat yang sangat asing. Yuna tidak tau dimana dia berada saat ini.


Di depannya Dante berdiri sambil memegang sebuah benda yang tampak berkilau saat terkena sinar matahari. Yuna tidak tau apa yang akan dilakukan oleh pria itu. Jangankan untuk bertanya, bergerak saja dia tidak bisa. Dante sudah melakukan sesuatu padanya, dia mem*tong lidah dan juga mengikatnya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Kurang lebih itulah arti dari tatapan wanita itu.


"Kem*tian mu!! Hidupku tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini jika bukan karena dirimu. Kau... Adalah sumber petaka yang terjadi padaku, dan aku... Akan segera mengirim dirimu ke neraka!!"

__ADS_1


"Kau bajingan!! Setelah semua yang aku berikan padamu, begini balasanmu padaku?! Kau memang iblis!!"


"Jangan melotot padaku, jika kau tidak ingin aku sampai menc*ngkel matamu!! Kau, adalah betina yang tidak tau diri. Jika bukan karena diriku, kau tidak akan pernah merasakan kemewahan dan hidup bergelimang harta!! Dan sekarang aku hancur, itu semua karena gaya hidupmu yang s*sat!!"


Dante melepaskan ikatan Yuna lalu menariknya menuju atap gedung. Yuna mencoba memberontak, tapi tamparan dan pukulan yang dia dapatkan. Darah segar yang berasal dari lid*hnya yang terp*tong memenuhi mulut dan mengotori pakaiannya.


"Kemari kau!!" Dante menyeret Yuna untuk berdiri dibibir gedung. "Kau lihat dibawah sana, sebentar lagi kau akan berkahir mengenaskan di sana!! Hidupku akan lebih baik jika kau menghilang dari dunia ini untuk selamanya!!"


Yuna menggeleng. Matanya melotot pada Dante. Dante yang tidak suka langsung men*sukkan belati itu pada mata kanan istrinya, dan membuat Yuna kesakitan. Sekeras apapun dia berteriak, suaranya tetap tidak akan keluar.


"Sudah aku bilang jangan melotot padaku!! Dasar sampah!!"


"Dante, kau b*jingan!! Kau br*ngsek!!" Teriak Yuna dalam hati.


Dante mendorong Yuna ke tepi gedung. Angin kencang membuat rambut dan pakaiannya terus berkibar. Wanita itu menggeleng, dia tidak ingin mati, dia masih ingin hidup. Yuna ingin mencari Eric dan putrinya. Hidupnya harus berubah, mantan suaminya bukan lagi orang miskin. Dia harus menemukan mereka berdua. Dan jika dia mati sekarang. Maka semua akan sia-sia.


"Selamat tinggal istriku tercinta!!" Mata Yuna membelalak, Dante mendorongnya dengan perlahan. Wanita itu menggeleng. Disaat tubuhnya setengah terdorong dia meraih tangan Dante, pria itu hilang keseimbangan dan tubuhnya tertarik ke depan.


Mata Dante membelalak. Pria itu menggelengkan kepala, tubuhnya terjun bebas dari ketinggian 50 lantai gedung. Yuna menyeringai. Jikapun harus mati, dia tidak akan sendirian, Dante harus menemaninya.


"AAARRRKKHHH!!"


Dante berteriak histeris. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya, dia jatuh diatas besi-besi tajam. Dan Dante meregang nyawa detik itu juga.


-


Kabar kematian Dante dan Yuna telah sampai ke telinga Luis dan Jesslyn. Bukannya merasa sedih dan berkabung, Luis justru menyesali kematian mereka, padahal dia belum puas balas dendamnya. Tapi setidaknya kematian mereka bukan dengan cara yang mudah.


Saat ini Tuan Eric telah bersiap untuk menghadiri pemakaman mantan istrinya tersebut. Meskipun dia sangat sakit hati pada Yuna, tapi bagaimana pun juga dia adalah orang yang telah melahirkan putrinya.


Tuan Eric pergi dengan di temani Tao, Jesslyn dan Luis menolak untuk memberikan penghormatan terakhirnya pada mereka berdua. Jesslyn terutama, dia tidak perlu memberikan penghormatan apapun pada wanita itu.


"Untuk apa wine itu?" Tunjuk Luis pada wine di tangan istrinya.

__ADS_1


Jesslyn mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar. "Merayakan kematian mereka, bukankah ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Jadi kita harus merayakannya," ujarnya.


"Dasar gila!! Tapi ide mu boleh juga,"


Keterlaluan... Mungkin itu adalah sebutan yang tepat untuk mereka berdua. Bukannya berkabung dan bersedih, Jesslyn dan Luis malah merayakan kematian Yuna dan Dante. Tapi untuk apa juga mereka berkabung, toh mereka bukanlah orang yang penting.


"Pasti di surga ibumu sedang tersenyum lebar melihat dua orang yang menghancurkan keluarganya akhirnya mendapatkan karmanya."


"Hn, aku rasa begitu. Sekarang Mama bisa pergi dengan tenang. Karena dua sampah itu akhirnya mendapatkan karmanya."


Jesslyn meraih tangan Luis dan menggenggamnya. "Satu persatu masalah yang terjadi berhasil diatasi, bagaimana kalau kita memberi adik untuk Nathan. Aku rasa sudah saatnya dia memiliki seorang adik."


Luis menggeleng. "Tidak!! Waktuku bersama Nathan baru saja dimulai, aku tidak bisa membagi kasih sayangku untuk siapapun. Biarkan aku membahagiakanmu dan Nathan terlebih dulu, baru kita memikirkan soal anak lagi." Ujar Luis.


Jesslyn tersenyum lebar. Dia sungguh terharu dengan jawaban Luis. Jesslyn mengangguk, wanita itu meletakkan gelas wine-nya lalu berhambur ke dalam pelukan suaminya.


"Terimakasih sudah menjadikanku dan Nathan sebagai prioritas utamamu. Semoga keluarga kecil kita selalu dilimpahi kebahagiaan,"


Luis mengecup kening Jesslyn. Sama seperti wanitanya ini. Itu juga yang Luis harapkan dalam hidupnya. Kebahagiaan yang melimpah untuk keluarga kecilnya.


"Tunggu, aku rasa kita masih memiliki beberapa batu sandungan lagi. Roona, Frangky dan Leo, bagaimana jika mereka bertiga tiba-tiba kembali dan berusaha merusak kebahagiaan kita?"


"Kau tidak perlu cemas akan hal itu. Roona dan Frangky tidak bisa mengganggu kita lagi. Roona tidak bisa masuk Korea lagi, sedangkan Frangky di penjara seumur hidup. Masalah mantanmu itu, aku akan segera mengurusnya. Jadi kau hanya perlu fokus padaku dan Nathan saja. Tidak perlu mencemaskan apapun,"


Lega mendengarnya. Satu persatu masalah telah teratasi, baik itu yang ringan maupun yang berat sekalipun. Jesslyn tau jika suaminya selalu bisa diandalkan, apalagi Luis memiliki Kris dan Tao yang sangat berperan penting dalam keberhasilannya selama ini.


"Kalau begitu bagaimana kalau adik Nathan kita cetak 2-3 tahun lagi, jangan salah tangkap maksudku. Bercocok tanam masih perlu dilakukan sesering mungkin, hanya saja merubah kecebong jadi berudu tunggu sampai 2-3 lagi." Jesslyn buru-buru memberi penjelasan sebelum Luis salah tangkap ucapannya.


Laki-laki itu tersenyum geli. Dengan gemas Luis menarik ujung hidung Jesslyn. "Dasar kau ini. Masalah adik untuk Nathan, kita bicarakan lain waktu. Simpan kembali sisa minumannya, bersiap-siaplah ayo kita jemput Nathan di sekolahnya." Luis bangkit dari duduknya diikuti Jesslyn.


Hari ini Luis sendiri yang harus menjemput Nathan, karena Kris sedang ada urusan penting di luar kota. Tao dan si kembar ikut tuan Eric menghadiri pemakaman Yuna dan Dante. Meskipun terpaksa, Tuan Eric tetap pergi juga.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2