
Luna terus merengek, memohon supaya orang ayah dan ibunya mengajaknya untuk pergi ke luar negeri. Tapi permohonan Luna di tolak oleh mereka, Jesslyn dan Luis ingin agar Luna tetap di rumah dan fokus pada kuliahnya.
"Ayolah Mi, Pi. Ajak aku ikut bersama kalian juga, ya. Jika kalian pergi lalu bagaimana denganku? Aku harus tinggal bersama siapa? Kakak dan kakak ipar sedang berada di China, masa iya aku harus tinggal sendirian bersama para pelayan saja, aku tidak mau hidup nelangsa karena kesepian." Ujar Luna.
Jesslyn menggeleng. "Kami tidak bisa membawamu untuk ikut, Luna. Kau harus fokus pada kuliahmu, masalah dengan siapa kau harus tinggal itu sudah kami pikirkan. Untuk sementara waktu, Papi dan Mami akan menitipkan mu pada putra sahabat Papimu. Sementara kau bisa tinggal bersamanya, setidaknya sampai kami kembali." Ujar Jesslyn.
Luna menatap sang ibu dengan penasaran. "Siapa? Lagipula aku ini bukan barang yang bisa kalian titip-titipkan." Tutur Luna.
"Kau jangan banyak protes. Sebaiknya cepat siap-siap karena dia akan segera sampai, satu lagi... jangan membuat masalah apalagi keributan di sana. Dia seperti Papi mu, orangnya suka suasana yang tenang." Terang Jesslyn.
Luna menghela napas berat. "Kenapa ribet sekali sih, benar-benar menyebalkan!!" ucapnya dan pergi begitu saja.
Jesslyn menggelengkan kepala melihat sikap putri bungsunya. Dia tidak lagi heran karena memang seperti itulah Luna, kekanakan.
Kedatangan seorang pelayan mengalihkan perhatian Jesslyn, pelayan itu memberitahunya jika tamu yang ditunggu-tunggu oleh majikannya tersebut telah tiba. Jesslyn mengangguk, kemudian dia pergi untuk menyambut kedatangan orang itu.
__ADS_1
Jesslyn tersenyum lebar sambil menghampiri orang itu. "Jordan, kau sudah datang?" tegur Jesslyn dengan senyum yang sama. Dia sedang mengobrol dengan Luis.
"Dimana Luna?" tanya Luis.
"Dia sedang bersiap-siap di kamarnya, sebentar lagi juga turun." Jawabnya. Luis mengangguk.
Jordan sedikit terkejut mendengar nama yang baru saja di sebut oleh Luis. Kemudian pandangannya bergulir pada foto besar yang menggantung di dinding, dia semakin terkejut setelah melihat foto tersebut.
Luis menatapnya dengan bingung. "Ada apa, Jordan?" tanya pria itu kebingungan.
Luis mengangguk. "Ya, dialah Luna. Orang yang ingin Paman titipkan padamu. Paman, dan Bibi harus pergi ke luar negeri. Tidak ada yang menjaganya, jadi kami ingin menitipkannya padamu untuk sementara waktu. Paman harap kau tidak keberatan," ujar Luis.
Jordan menutup matanya dan menghela napas. dia tidak tahu bagaimana hidup dia kedepannya jika harus tinggal satu atap dengan orang seperti Luna. Pasti akan banyak masalah yang dia timbulkan.
Menolaknya sudah terlambat, karena dia sendiri yang sudah menyetujui ketika Luis dan Jesslyn meminta tolong padanya, tidak mungkin Jordan mengingkari ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Nah, itu dia sudah datang." Seru Jesslyn melihat kedatangan Luna.
Lantas Jordan menoleh, membuat pandangannya dan Luna saling bersirobok. Pupil mata Luna membulat sempurna. "Omo!! Sedang apa dia di sini? Jangan-jangan orang itu adalah dia? Sial, entah nasib buruk apa yang harus aku alami kedepannya," ucapnya lirih.
Luna benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika dia harus tinggal satu atap dengan Jordan. Dosen killer itu, pasti akan mempersulit hidupnya. Luna menggeleng, Sepertinya dia harus menolak untuk tinggal bersama dengan Jordan. lebih baik mencegah daripada setiap hari makan hati.
"Luna, kemarilah." Luis melambaikan tangan padanya. "Dia adalah Jordan Tang, dan selama kami tidak ada kau akan tinggal bersamanya. Jadi Papi dan Mami harap kau tidak membuat keributan apalagi menciptakan masalah di sana. Jangan mempersulitnya, dan yang terpenting kau harus menurut padanya." ujar Luis.
Dia memberikan nasehat pada putrinya agar dia tidak membuat masalah selama tinggal bersama dengan Jordan, Luis sangat mengenal putrinya itu dengan sangat baik. Maka dari itu Luis tidak ingin Luna sampai menimbulkan masalah selama di sana.
"Pi, Mi, aku tidak mau tinggal bersamanya!!"
xxx
Bersambung
__ADS_1