
Luna menggenggam tangannya di dada, senyum tak pudar sedikit pun dari bibir merah mudanya. Bahagia, gugup, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Rasanya dia masih tidak percaya jika Iya dan Jordan akan segera menikah. Rasanya baru kemarin mereka berdua bertemu dan saling mengenal.
Decitan suara pintu dibuka dari luar mengalihkan perhatiannya. Luna tersenyum lebar melihat siapa yang datang. "Mami," serunya sambil bangkit dari kursinya.
Jesslyn tersenyum lebar. "Lihatlah Putri Mami yang cantik ini. Luna, rasanya Mami masih tidak percaya jika kau sudah dewasa dan akan segara menikah." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Ya, karena Jesslyn adalah orang pertama yang bahagia dengan pernikahan Luna dan Jordan.
"Jangankan, Mami, bahkan aku sendiri masih tidak percaya jika hari ini akan menikah. Mi, coba cubit lenganku. Aku ingin memastikan ini mimpi atau kenyataan," Luna mengulurkan tangannya, dan meminta Jesslyn agar mencubitnya.
Dan tentu saja permintaan itu dikabulkan oleh sang ibu. "Bagaimana, sakit atau tidak?" tanya Jesslyn memastikan.
Luna mengangguk. "Sakit," jawabnya.
"Itu artinya ini bukan mimpi, tapi kenyataan." Ucapnya sambil tersenyum lebar .
"BIBI!!"
Luna terlonjak kaget oleh suara keras nan melengking yang memanggilnya. Dia menoleh, terlihat Hanny dan Steven memasuki ruangan sambil tersenyum lebar. Hanny langsung menghampiri Luna dan memeluknya.
__ADS_1
"Aigo, Bibi lihatlah dirimu. Kau benar-benar cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin ini, kami yakin calon suamimu pasti akan terpesona saat melihatmu nanti." Ucap Hanny.
"Bibi, selamat untukmu. Akhirnya kau menemukan pasangan hidup juta. Kami bahagia untukmu." Ucap Steven.
Luna tersenyum lebar. Dia membuka kedua tangannya dan mempersilakan kedua keponakannya untuk masuk ke pelukannya, dan memeluknya dengan erat. "Terimakasih, Sayang." Ucapnya tersenyum.
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatian mereka berempat. Luna mengangkat kepalanya dari pelukan Hanny dan Steven, senyum terpatri di bibir merah mudanya saat melihat kedatangan kakak iparnya. Keduanya lalu berpelukan selama beberapa saat.
"Lihatlah dirimu, Luna, kau benar-benar cantik dengan gaun ini. Kau akan menjadi istri paling cantik di tahun ini. Selamat untukmu, sayang." ucap Vivian sekali lagi dia memeluk adik iparnya.
Luna tersenyum lebar. "Terimakasih, Kakak Ipar." Ucapnya. Luna menyeka air matanya. Dia sampai menangis karena kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya. Dimana kehidupan barunya akan segera dimulai.
Dia tampak begitu gagah dalam balutan jas hitamnya. Pesonanya masih terlihat begitu luar biasa meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Terlebih lagi dia telah memiliki dua cucu yang tampan dan cantik. Luna mengangguk. Dia meninggalkan kakak iparnya lalu menghampiri sang ayah.
Jantung Luna berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia belum pernah merasa segugup ini sebelumnya. Padahal belum apa-apa, bagaimana jika dirinya sudah berdiri diatas altar? Dia hanya bisa berdoa semoga nanti tidak pingsan karena terlalu gugup.
Sementara itu....
__ADS_1
Ditempat yang sama namun di lokasi berbeda. Terlihat sang mempelai pria yang sibuk mengenakan jas pengantinnya. Jordan terlihat sangat tampan dalam balutan jas hitamnya. Dia menatap dirinya di depan cermin, sudut bibirnya tertarik keatas, Jordan mengurai senyum setipis kertas.
"Hei! Si tampan sudah selesai!", seru David yang datang bersama teman-temannya. David mengenakan jas resmi berwarna biru dengan celana hitam.
"Ck, Kau terlalu berisik." ucap Jordan sambil menatap sang kakak dengan pandangan sebal. Ini adalah hari bahagianya, dan Jordan ingin happy bukannya badmood m
"Haaaaah, rasanya aku masih tidak percaya jika kau akan segera menikah dan mendahului kakakmu," kata Leo yang memakai tuxedo berwarna silver.
"Tidak heran juga kalau Jordan lebih unggul dari kakaknya, karena dia lebih sat set dan tidak suka menunda-nunda." Timpal Reno.
Nathan tiba-tiba muncul dan menginterupsi obrolan mereka berempat. "Kalian jangan ribut lagi. Luna, sudah meninggalkan kamar riasnya dan menuju altar. Sebaiknya kau segera bergegas, karena kau sudah harus ada di sana sebelum dia tiba." Ucap Nathan.
Jordan mengangguk. Mengambil napas panjang. Kemudian dia melenggang keluar meninggalkan ruang rias dan pergi menuju altar. Dia akan menunggu Luna di sana.
Rasanya Jordan masih belum percaya jika ia dan Luna akan segera menikah. Pria itu tersenyum tipis, saat mengingat awal pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu.
Mereka seperti kucing dan anjing yang selalu ribut saat bertemu. Kemudian mereka tinggal bersama, hingga akhirnya benih-benih cinta tumbuh di hati keduanya. Hubungan mereka berlangsung kurang dari lima bulan, dan tepat dihari ulang tahun Luna ini Jordan memutuskan untuk menikahinya.
__ADS_1
xxx
Bersambung