Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Temani Aku Makan Siang


__ADS_3

Luna merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti detik itu juga, udara di sekelilingnya terasa kosong. Saat Hazel miliknya bertemu pandang dengan onyx milik Jordan. Dosen tampan itu menatapnya tanpa menghentikan kesibukannya dalam menyampaikan materi.


Wajah Luna tiba-tiba bersemu merah, merasa tidak sanggup, gadis itu pun memutuskan untuk mengakhiri kontak mata tersebut.


"Luna Qin, apa kau sakit??"


Luna mendongak saat di rasa suara baritone yang sangat familiar terasa begitu dekat, gadis itu menahan nafasnya dan melupakan caranya untuk bernafas saat mata mereka kembali bertemu pandang dalam jarak yang dekat. Jordan berdiri di sampingnya dalam posisi saling berhadapan, Dosen tampan itu menatapnya dingin dan datar.


"Aku rasa tidak, aku baik-baik saja," Suaranya bergetar, Luna menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan yang selalu Ia lakukan saat merasa gugup.


"Wajahmu memerah, aku pikir kau sakit." Setelah berkata datar. Jordan kembali ke depan kelas, bersandar pada mejanya. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan dan berakhir pada sosok cantik itu yang sedang menundukkan wajahnya.


Ia kembali menerangkan materinya dengan lugas dan jelas. Para gadis tak henti-hentinya mengagumi seorang Jordan Tang itu, dan mereka harus menelan kekecewaan saat mendengar lonceng yang menandakan kelas kedua telah usai. Sedangkan itu menjadi kelegaan dengan Luna.


Tanpa satu kalimat pun, Jordan meninggalkan kelas di ikuti para mahasiswa dan mahasiswi yang mulai berhamburan keluar. Di dalam kelas hanya menyisakan Luna dan kedua sahabat tercintanya.


"Huaaa, akhirnya selesai juga. Berada dalam satu ruangan dengannya lama-lama membuatku gila." Luna mengacak rambutnya frustasi sebelum menjatuhkan kepalanya diatas meja.


Kedua sahabat Luna sontak menoleh padanya. Menatapnya penuh tanya "A-apa?" Luna tampak gugup di tatap seintens itu oleh sahabat-sahabatnya. Gadis itu mendengus kasar.


Tiffany mengerutkan alisnya, muncul per 4 siku-siku di jidatnya. "Hoi Luna, Jangan bilang jika kau---?"


" ... " Luna tidak mengatakan apa pun, dan kembali membenamkan wajahnya.

__ADS_1


" ----Jatuh cinta padanya.??" Sambung Tiffany dengan raut wajah tak percaya.


"Sembarangan, siapa juga yang akan jatuh cinta pada manusia kutub sepertinya!!" sangkal Luna, karena tidak mungkin dia jatuh cinta pada orang seperti Jordan yang dingin bagaikan kutub Utara.


"Aneh juga sih kalau kau sampai jatuh cinta pada orang yang selalu membuatmu kesal. Tapi kalau itu sampai terjadi, aku rela berkeliling kota sambil memakai pakaian badut." ujar Tiffany.


"Sebaiknya terima saja tantangannya, Lun. Kan jarang-jarang kita melihat Tiffany berkeliling kota dengan pakaian badut." Ujar Sunny menyahuti.


"Sepertinya ~"


"LUNA..."


Perhatian ke tiga gadis itu teralihkan, serentak mereka menoleh pada sumber suara. Tampak gadis berhelaian merah berkaca yang muncul tiba-tiba dan mengejutkan mereka bertiga.


"Kenapa sih kalian suka sekali membuatku sesak nafas? Apa kalian ingin membunuhku secara perlahan eo?!" Jerit Luna frustasi.


Luna merasa hidupnya begitu malang. Tidak dosen barunya, tidak sahabat-sahabatnya. Semua tidak ada yang beres. Tidak bisakah Luna memiliki 1 teman saja yang waras tanpa harus membuatnya menderita. Tapi bukan berarti dia benci dengan kehadiran mereka. Karena bagaimana pun juga, mereka adalah sahabat-sahabatnya yang selalu ada saat Ia sedang bersedih dan membutuhkan sandaran.


Getaran pada ponselnya mengalihkan perhatian Luna, dahinya membentuk 4 siku-siku melihat nomor asing tertera di layar ponselnya. Penasaran, segera Ia buka pesan itu.


'Temui aku di atap, kita makan siang bersama '


Luna memiringkan kepalanya, menatap layar ponselnya sekali lagi. Otaknya berfikir keras, memangnya siapa gerangan yang mengiriminya pesan dan mengajaknya untuk makan siang bersama?

__ADS_1


Tidak ingin rasa penasaran membunuhnya secara perlahan, Luna bergegas meninggalkan kelasnya dan berlari menuju atap. Bahkan Ia menghiraukan teriakan para sahabatnya yang memanggil namanya.


.


.


Setibanya di atap kampus. Luna tidak melihat ada siapa pun di sana, tempat itu kosong. Gadis itu menggeram kesal karena merasa di permainkan.


"HIIIAAAAA....!!" Namun saat berbalik. Luna di kejutkan dengan kemunculan seseorang yang kini berdiri di depannya. Hampir saja dia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di lantai jika tidak ada tangan kekar yang lebih dulu merengkuh pinggangnya.


"Jordan," Lirih Luna tertahan. Jordan memejamkan matanya sambil menggumamkan kata andalannya.


Jordan melepaskan pelukannya pada pinggang Luna dan membantunya berdiri. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Jordan memastikan.


Luna menggeleng. "Tidak." Jawabnya singkat.


Jordan mengangkat kotak berbentuk segi empat yang terbungkus kain biru dongker di tangannya, dan mengajak Luna untuk makan siang bersama. Meraih tangan gadis itu lalu membawanya duduk di kursi panjang di sisi kanan pintu.


"Temani aku makan siang."


"Kita benar-benar akan makan siang bersama?"


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2