Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Ratu Drama


__ADS_3

Kedatangan Nathan dalam penampilannya yang serampangan membungkam mulut Gio. Pemuda itu sampai tak bisa berkata-kata saat melihat Nathan tanpa kaca mata bulat besar, tompel dan pakaian kedodorannya. Nathan benar-benar terlihat berbeda dengan style serampangannya.


Pemuda itu menghampiri Gio dan taman-tamannya. Namun di hentikan oleh Vivian. Gadis itu menahan pergelangan tangan Nathan seraya menggeleng.


"Jangan ikut campur, Vi. Aku harus memberi pelajaran pada si sombong ini!! Dia pikir dirinya siapa bisa merendahkan dan menghina orang lain dengan seenak jidatnya hanya karena penampilannya."


"Percuma kau membuat perhitungan dengan manusia tak berotak seperti dia. Dia tidak akan pernah kapok, lebih baik tidak usah diladeni, kita pergi saja dari sini." Bujuk Vivian.


Nathan melepaskan genggaman tangan Vivian sambil menatap matanya. "Maaf, Vi. Tapi aku tidak bisa, ini masalah harga diri, jika dia tidak memulainya lebih dulu aku juga tidak akan begini. Karena baru kali ini ada orang yang berani merendahkan seseorang dari keluarga Qin," Tutur Nathan.


Mata Gio membulat sempurna setelah mendengar nama marga yang disebut oleh Nathan. Nama marga yang tentu tidak asing di telinganya. Dan mungkinkah yang ada dihadapannya itu adalah Tuan Muda dari keluarga Qin? Jika benar, Gio benar-benar dalam masalah besar.


"Tunggu, apa hubunganmu dengan keluarga Qin?! Jangan kau pikir bisa menggertakku hanya dengan menyebut nama marga itu!!"


"Apa untungnya juga aku menggertakmu?! Lagipula apapun hubunganku dengan keluarga Qin, itu tidak ada urusannya denganmu!! Dan kalau tidak salah margamu Wang kan? Dan saat ini Qin Empire adalah satu-satunya donatur terbesar di perusahaan milik keluargamu."


"Lalu apa jadinya jika Qin Empire sampai menarik investasinya, apakah perusahaan kecil itu masih bisa berdiri dengan kokoh atau tidak?!" Nathan menyeringai.


"Jangan asal bicara kau?!"


"Oya, aku juga dengar jika posisi ayahmu sebagai Rektor S.N.U juga dalam keadaan yang tidak aman, ada isu yang mengatakan jika dia terlibat dalam penggelapan dana kampus. Jika terbukti, maka boom... dia di pecat dan nama baikmu pun akan ikut tercemar!!"


Gio mengepalkan tangannya. Matanya berkilat penuh amarah. Nathan benar-benar memancing emosinya. "Diam kau!!" Teriak Gio sambil melayangkan tinjunya pada Nathan. Tapi sayangnya berhasil ditahan oleh pemuda itu dengan sangat mudah.


"Kau bukan lawanku, Bung. Pukulan seperti ini, bahkan semut pun tidak akan mati!!" Nathan memberikan pukulan balasan pada Gio, membuat pemuda itu langsung roboh dan tersungkur. "Jika kalian tidak terima, maju dan lawan aku!!" Tantang pemuda itu.


"Kita tidak ikut-ikutan. Selesaikan saja masalah diantara kalian berdua, kita pergi dulu." Ucap salah seorang dari ketiga teman Gio.


Gio pun segera berdiri. Dia menahan agar mereka tidak pergi, tapi ucapannya tidak digubris dan mereka tetap pergi. "YAK!! PENGECUT KALIAN SEMUA!! Ingat, ini belum berkahir. Aku pasti akan membalasmu!!" Gio menunjuk Nathan dan pergi dengan motor besarnya.


"Sebaiknya kalian berdua pulang saja, ini sudah malam." Nathan berbalik dan pergi meninggalkan kedua gadis itu. Motornya terparkir tak jauh dari tempatnya berada saat ini.

__ADS_1


Bukannya menuruti Nathan dan pulang bersama Sania. Vivian justru meminta sahabatnya itu untuk pulang sendiri. Vivian mengejar Nathan yang berjalan entah kemana.


"Nathan, tunggu!!" Seru Vivian dan menghentikan langkah pemuda itu.


"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku memintamu untuk pulang?!"


"Kau harus bertanggung jawab. Aku belum sempat makan malam tadi, dan sekarang traktir aku makan."


Nathan mendengus berat. "Baiklah, kau ingin makan malam dimana?"


"Ada kedai sederhana didekat sini tapi makanannya enak dan tempatnya juga bersih, kita makan di sana saja bagaimana?"


"Terserah kau saja."


-


-


Beberapa gadis terlihat memasuki sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari Lotte mall dengan langkah tergesa-gesa. Mereka sendiri adalah para mahasiswi S.N.U, dan mereka datang untuk menyelamatkan teman kampus mereka yang hampir dilecehkan.


"Marissa," panggil kelima gadis itu seraya menghampiri gadis yang bersimpuh di lantai sambil berurai air mata tersebut.


Melihat kedatangan mereka membuat tangis Marissa pecah. Dia menangis semakin keras dan langsung berhambur memeluk kelimanya. "Huhuhu, aku takut. Aku benar-benar takut,"


"Tenanglah, kami ada disini. Kami berlima akan melindungimu, bagus kau membuat postingan di media sosial jika kau dalam bahaya, jadi kita berlima bisa langsung mengetahuinya."


"A..Aku bingung harus meminta pertolongan pada siapa, jadi aku mengunggahnya di media sosial biar semua orang bisa membaca dan mengetahuinya jika aku dalam bahaya."


"Jangan takut dan cemas, semua orang pasti sudah membacanya. Dan para pelakunya akan segera mendapatkan karmanya. Sebaiknya kita pulang," Marissa mengangguk.


Sebelum pergi. Dia menjatuhkan sebuah amplop coklat yang ukurannya lumayan tebal. Dan tak lama setelah kepergian mereka berenam, beberapa pemuda keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka tersenyum lebar, hanya perlu melakukan sebuah trik dan mereka mendapatkan bayaran besar.

__ADS_1


Sebenarnya itu hanya akal-akalan Marissa saja supaya dia diperhatikan oleh semua orang, termasuk Nathan. Saat ini Nathan sedang marah dan kecewa padanya. Tapi Marissa yakin dengan berita tersebut pemuda itu pasti akan simpatik padanya. Marissa telah mengatur skenarionya sebaik mungkin, agar semua orang percaya jika dia benar-benar seorang korban.


-


-


"Omo!!"


Nathan mengangkat kepalanya setelah mendengar pekikan keras Vivian. Pemuda itu memicingkan matanya dan menatap gadis di depannya tersebut penasaran. "Ada apa?"


Kemudian Vivian menunjukkan sebuah berita pada Nathan. Berita yang sedang panas dan menjadi trending topik saat ini. "Marissa hampir saja dilecehkan, demi meminta pertolongan, dia membuat unggahan di media sosial." Jelas Vivian.


"Basi, itu adalah trik lama untuk membuat orang bersimpatik padanya. Dan ini bukan pertama kalinya Marissa melakukan trik semacam itu," Tutur Nathan.


Vivian memicingkan matanya dan menatap Nathan penuh selidik. "Sepertinya kau mengenalnya dengan sangat baik. Apakah dia adalah mantan kekasihmu?" Tebak Vivian.


"Ngaco!! Kami hanya berteman dan tidak lebih, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak!!" Jawab Nathan menegaskan.


"Benarkah? Tapi sepertinya dia menyukaimu, apa jangan-jangan kau yang tidak peka dengan perasaannya? Kau ingat saat di kelas tadi, matanya menunjukkan sebuah penyesalan yang sangat dalam. Jadi sangat jelas sekali jika dia~"


Nathan membungkam bibir Vivian dengan sesendok makanan sebelum dia semakin banyak bicara. Dan apa yang pemuda itu lakukan tentu saja membuat gadis bermarga Xia tersebut kesal setengah mati.


"Nathan, apa-apaan kau ini?!" Vivian melayangkan protesnya.


"Kau sudah terlalu banyak bicara. Sebaiknya segera habiskan makan malam-mu dan jangan ngoceh terus, apalagi membahas sesuatu yang tidak penting!!"


Vivian mempoutkan bibirnya seraya menatap Nathan kesal. "Dasar menyebalkan!! Nathan jelek, jelek, jelek!!" Teriak Vivian. Dan pemuda itu hanya mendengus seraya menggelengkan kepala melihat tingkah teman masa kecilnya.


"Dasar kekanakan!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2