
Nathan hanya menatap sinis pada beberapa anak yang menghadang langkahnya. Bocah laki-laki itu tak merasa takut ataupun gentar sedikit pun. Mereka terlalu sering mengganggunya dan Nathan sudah terbiasa.
Diwaktu yang bersamaan. Seorang anak perempuan muncul, dia menarik Nathan dan membawanya menjauh dari anak-anak nakal itu.
"Vivian, kau mau membawa bocah itu kemana?!" Seru seorang anak bertubuh gembul pada gadis kecil itu yang ternyata bernama Vivian.
"Kalian semakin hari semakin keterlaluan saja, Nathan tidak pernah mencari masalah dengan kalian tapi kenapa kau-kau orang suka sekali menindasnya?!" Vivian menghentikan langkahnya dan menatap ketiga anak itu satu persatu.
"Karena anak itu memang pantas ditindas, dia pikir dengan datang dengan mobil mewah bisa bersikap sombong!! Bisa saja kan orang yang mengantarnya adalah tamu ibunya. Kata Mamiku, ibunya kan wanita mur*han!!"
"Hahaha!!!"
Gyutt..
Nathan mengepalkan tangannya. Bocah laki-laki itu tidak peduli jika yang dihina adalah dirinya, tapi ini sudah menyangkut ibunya dan Nathan tidak terima. Dia melepaskan genggaman Vivian pada pergelangan tangannya.
Dengan emosi yang sudah sampai ubun-ubunnya. Nathan menghampiri ketiga anak itu lalu memukul wajahnya hingga dia jatuh terduduk. Mata Vivian membelalak, pasalnya ini pertama kalinya dia melihat bocah laki-laki itu melakukan perlawanan.
"Jangan hina mamiku!! Kalian bisa menghinaku sesuka hati, tapi jangan dia. Aku tidak peduli kalian siapa, jika kalian menghinanya lagi, maka aku tidak akan tinggal diam. Dan asal kalian tau, pria yang mengantarku tadi adalah ayahku!!"
"Yakk!! Berani sekali kau memukulku!!!" Teriak anak yang duduk di lantai itu. Dia berdiri dan hendak membalas Nathan, tapi dihalangi oleh Vivian.
"Aku akan melaporkan perbuatan kalian pada kepala sekolah. Kamu, kamu dan kamu, akan dihukum berat. Nathan, ayo pergi dari sini. Jangan hiraukan mereka lagi."
Nathan menyentak tangan Vivian. "Jangan sok baik, Itu sangat memuakkan. Mulai sekarang jangan mendekatiku lagi!!" Nathan lalu pergi begitu saja.
Vivian tidak merasa tersinggung, dia sudah terbiasa dengan sikap Nathan yang seperti itu. Gadis kecil nan cantik itu mengangkat bahu acuh, dia segera pergi ke kelasnya.
-
-
Luis mendatangi sebuah toko perhiasan yang letaknya tak jauh dari sekolah Nathan. Pernikahannya dan Jesslyn hanya tinggal dua hari lagi, sementara Luis belum memiliki cincin. Jadi hari ini dia membelinya.
__ADS_1
Rencananya Luis akan memberikan pernikahan yang meriah untuk wanita yang telah memberinya satu anak itu. Tapi Jesslyn justru menolaknya, dia menginginkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan orang terdekat mereka saja.
Setelah dari toko perhiasan dan mendapatkan cincin yang dia inginkan. Luis tidak langsung pulang, dia kembali ke sekolah Nathan.
Ada beberapa hal yang harus dia selesaikan, salah satunya adalah membuat perhitungan dengan orang tua para anak yang selama ini selalu menindas putranya dan menghina Jesslyn.
"Paman!!" Pria itu menghentikan langkahnya setelah mendengar panggilan seorang gadis kecil yang Luis ketahui bernama Vivian.
Luis mensejajarkan posisinya dengan gadis kecil itu. "Ada apa gadis kecil?"
"Paman, apa kau ayah kandung Nathan? Dia bilang jika Paman adalah ayahnya. Jika Paman memang ayahnya, sebaiknya beri peringatan pada anak-anak yang selalu mengganggunya. Mereka senior, tapi kelakuannya sangat menyebalkan!!"
"Terimakasih sarannya, anak manis. Paman memang berencana memberi hukuman pada anak-anak nakal itu. Apa kau melihat, Nathan?"
"Dia ada dikelasnya. Tadi anak-anak itu mengganggunya lagi, Nathan sangat marah karena mereka menyebut Bibi Jesslyn dengan sebutan yang tidak pantas," Vivian memberi tau Luis apa yang terjadi tadi.
"Ya sudah, Paman selesaikan dulu ya. Kau adalah gadis yang baik, terimakasih sudah menjadi teman Nathan dan peduli padanya. Ini hadiah kecil dari Paman untukmu," Luis memberikan sebuah coklat pada Vivian sebelum pergi meninggalkan gadis kecil itu.
.
.
Beberapa wanita berkumpul di ruang kepala sekolah. Mereka bingung kenapa dipanggil oleh pihak sekolah. Padahal mereka merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Setelah menunggu selama 10 menit, pintu ruang kepala sekolah terbuka dan sosok muda nan tampan memasuki ruangan itu. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar.
"Tuan Qin, silahkan duduk(Dalam bahasa Inggris)." Kepala sekolah itu mempersilahkan Luis untuk duduk.
"Saya akan langsung pada intinya, keluarkan anak-anak pembully itu dari sekolah ini. Sekolah ini adalah sekolah elit dan paling terkenal di kota ini, tidak seharusnya ada kekerasan dan pembullyan. Jika ingin nama baik sekolah ini tetap terjaga, maka keluarkan ketiga anak tidak bermoral itu!!"
"Atas dasar apa kau ingin mengeluarkan putraku dari sekolah ini?! Siapa kau, kau hanya orang asing, jadi jangan bertindak sesuka hati!!" Salah satu wanita itu tidak terima dengan permintaan Luis. Dia melayangkan protesnya.
Luis menatap dingin wanita itu. "Aku adalah ayah dari murid yang selalu dibully oleh anak-anak kalian. Dan sebagai orang tua, kalian tidak seharusnya mengajarkan hal tidak bermoral seperti itu pada mereka!!"
__ADS_1
"Nathan, anak itu adalah putraku. Dan mulai hari ini Qin Empire bukan lagi penyuntik dana terbesar di perusahaan kalian bertiga. Kerjasama kita berakhir hari ini!! Qin Empire akan menjadi donatur terbesar untuk sekolah ini, jika permintaanku kau kabulkan. Permisi!!"
Dirasa tidak ada lagi urusan di sana, Luis meninggalkan ruang kepala sekolah. Sementara ketiga wanita pribumi itu langsung lemas dan pucat, bagaimana tidak, mereka telah menyinggung orang yang salah. Dan perusahaan suami mereka kini berada di ujung tanduk.
-
-
"Tao!! Kau benar-benar cari mati ya?!"
Keributan kembali terjadi di dapur Tuan Eric, siapa lagi jika bukan Jesslyn dan Tao. Tao membuat wanita itu marah lagi, dia mengambil sebuah mentimun dari dalam lemari pendingin.
Sebenarnya Jesslyn tidak sudi membeli apalagi menyimpannya di dalam kulkas. Tapi mentimun adalah sayuran kesukaan ayahnya, daripada ribut, Jesslyn memilih mengalah.
"Ayolah, Nyonya Bos. Genggam dan rasakan sensasinya, kau pasti akan suka saat merasakan teksturnya." Ucap Tao membuat Jesslyn semakin bergidik ngeri.
"Kembalikan mentimun itu ke tempat semula atau aku akan membakarmu hidup-hidup!!" Ancam Jesslyn bersungguh-sungguh.
Ditangannya memegang sebuah gelas yang siap dia lemparkan pada Tao. Tapi Tao seolah tak peduli, dia terus saja memancing emosi Jesslyn dengan menyodorkan mentimun itu padanya.
"Ayolah, Nyonya Boss. Bayangin saja mentimun ini adalah senjata tempur Tuan, nanti kau pasti langsung menyukainya."
"Dasar panda gila!! Mati saja kau!!" Teriak Jesslyn lalu melemparkan gelas itu pada Tao. Mata Tao membelalak, refleks dia berjongkok dan...
Sekarang giliran Jesslyn yang membelalakkan matanya. Bukannya Tao, tapi gelas itu justru memakan korban lain, membuat pelipis orang itu terluka dan mengalirkan darah. Jesslyn memekik kencang.
"Luis!!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1