
"Kenapa kau harus mengatakan nyawamu demi aku, Jess?!"
Jesslyn mengangkat wajahnya dan menatap Luis yang juga menatapnya. Tatapannya dingin dan datar. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya meremas selimut yang menutup kaki sampai sebatas perutnya.
"Karena kau adalah kepala keluarga Qin,"
"Memangnya apa urusannya keluarga Qin denganmu?! Kenapa kau sampai membahayakan dirimu sendiri hanya untuk melindungiku? Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan itu?! Apa kau tidak berpikir jika kau bisa mati karena pisau itu?! Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Asteria Jesslyn?!"
Jesslyn mengambil napas panjang dan menghelanya. "Aku memang tidak ada hubungannya dengan keluarga Qin, tapi kau ada. Jika kau yang tertusuk kemudian tidak selamat, bagaimana dengan keluarga Qin? Apa kau ingin membuat mendiang bersedih disana?"
"Dia menyerahkan tanggung jawab itu padamu, Lu. Dan keluarga Qin akan kacau jika kau sampai tiada. Itulah alasan kenapa aku rela membahayakan nyawaku demi menahan pisau itu untuk melindungimu." Jelas Jesslyn.
"Kau bodoh, Jess. Kau benar-benar bodoh. Lalu apa kau pikir aku akan baik-baik saja jika kau sampai tiada? Dan apa kau tau, bagaimana panik dan cemasnya aku saat melihatmu berlumur darah? Jika sesuatu yang buruk sampai menimpamu, bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri!!"
Tiga bulan mengenal pria bermarga Qin ini. Ini pertama kalinya bagi Jesslyn melihat Luis yang benar-benar kacau, dia melihat ketakutan yang begitu besar dikedua matanya. Apakah sebesar itu ketakutan Luis saat melihatnya terluka di depan matanya.
"Jangan melakukan kebodohan seperti ini lagi, Jess. Atau aku sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku!!" Ancam Luis bersungguh-sungguh.
"Lalu bagaimana dengan, Anna? Kau tidak melakukan sesuatu padanya bukan?"
"Aku memasukkannya ke rumah sakit j!wa setelah membuat kaki dan tangannya lumpuh permanen." Jawab Luis dan membuat kedua mata Jesslyn membelalak tak percaya.
"Kau sungguh-sungguh melakukan hal itu pada Anna?" Luis mengangguk. "Ya Tuhan, Luis. Kenapa kau mengerikan sekali, bukankah cukup dijebloskan saja dia ke dalam penjara. Kenapa harus rumah sakit jiwa dan membuatnya menjadi orang tidak berguna?!"
"Itu adalah hukuman yang paling tepat untuk wanita seperti dia. Dia melukaimu dan hampir membuatmu kehilangan nyawa, jadi mana mungkin aku diam saja. Sudah jangan banyak bicara, kau baru saja siuman. Sebaiknya istirahat supaya keadaanmu bisa segera pulih."
Jesslyn menahan pergelangan tangan Luis ketika pria itu hendak beranjak pergi. "Bisakah kau tetap disini saja, aku phobia pada rumah sakit, jadi aku tidak mau ditinggalkan sendiri disini," mohon Jesslyn.
Luis menggeleng. "Aku tidak akan pergi kemana-mana. Jika kau phobia pada rumah sakit. Aku akan segera mengurus kepulanganmu. Kau bisa melanjutkan perawatanmu di rumah," ujar Luis.
Mata Jesslyn berbinar-binar mendengar apa yang Luis katakan. "Sungguh?" Luis mengangguk. "Terimakasih, Lu. Kau memang yang terbaik." Gadis itu tersenyum lebar. Membuat sudut bibir Luis ikut terangkat juga.
"Biar suster yang membantumu bersiap, aku sudah meminta Kris membawakan pakaian ganti untukmu. Aku keluar dulu," ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.
Jesslyn sangat senang karena akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Dan Jesslyn berharap semoga dia tidak pernah datang ke tempat terkutuk ini lagi. Terlalu lama berada di rumah sakit membuatnya tidak nyaman, karena Jesslyn memiliki kenangan buruk akan rumah sakit.
__ADS_1
-
-
"Leo, untuk apa kau membawaku kemari?"
Rossa menoleh dan menatap Leo dengan tatapan bertanya. Mereka tiba di sebuah klinik yang letaknya jauh dari keramaian kota. Klinik itu berada di sebuah pedesaan kecil dipinggiran kota.
Leo tak mengatakan apapun, dia menarik Rossa secara paksa ke dalam klinik tersebut. Rossa yang ketakutan menggeleng, dia menolak untuk masuk ke dalam. Rossa terlalu takut.
"Aku tidak mau!! Leo, ini adalah anakmu. Aku mohon percayalah padaku,"
"Justru karena ini adalah anakku, makanya aku ingin dia tiada. Jadi kau harus membuat janin ini menghilang untuk selama-lamanya!!"
Rossa menggeleng. "Aku tidak mau!! Aku akan tetap mempertahankan janin ini. Kita sudah melakukan sebuah kesalahan besar, dan aku tidak akan melakukannya lagi," tegas Rossa.
"Banyak omong!!" Rossa di seret paksa oleh Leo untuk masuk ke dalam. Wanita itu terus meronta dan berteriak, tapi Leo tidak mau mendengarnya.
Dua perawat kemudian menghampiri mereka dan menaikkan Rossa secara paksa ke atas ranjang kecil. Tubuh Rossa diikat kuat agar wanita itu tidak melarikan diri dan berontak lagi. Seorang bidan menghampiri Leo.
"Bisa diatur, Anda tenang saja Tuan. Kami akan melakukannya dengan baik." Kemudian bidan itu meninggalkan Leo sendirian diluar.
.
.
"AAAAHHHHH!!!"
Itu adalah teriakan terakhir Rossa sebelum dia menutup matanya untuk selamanya. Rossa menghembuskan napasnya dimeja ab*rsi. Bidan dan kedua perawat itu menjadi sangat panik. Karena pasien tidak bernapas lagi.
Leo yang tidak lagi mendengar teriakan Rossa menerobos masuk ke dalam. Matanya membelalak melihat Rossa yang terbujur pucat tak bergerak. "Dia mat!?" Bidan itu mengangguk. Leo mengusap kasar wajahnya.
"Tuan, kita harus segera melakukan sesuatu. Akan berbahaya jika ada orang yang tau,"
"Buang saja jas*dnya ke dalam jurang. Bukankah dibelakang klinik ini adalah jurang yang sangat dalam?!" Ucap Leo.
__ADS_1
Bidan itu mengangguk. Dia menuruti permintaan Leo, dengan dibantu kedua perawat. Bidan itu kemudian membuang j*sad Rossa ke dalam jurang.
Leo pun segera meninggalkan lokasi. Akan sangat berbahaya jika dia terlalu lama di klinik ini. Rossa sudah mat!. Apa lagi yang perlu dia cemaskan sekarang?! Yang perlu Leo lakukan sekarang adalah membuat Jesslyn kembali kesisinya lagi seperti dulu.
-
-
Sebuah mobil sedan hitam mengkilap memasuki halaman luas Manson mewah yang memiliki tiga lantai. Terlihat sang supir keluar dari balik kemudi kemudian menyiapkan sebuah kursi roda disamping pintu jok penumpang.
"Biar aku sendiri saja, Kris." Luis menahan lengan Kris ketika dia hendak membantu Jesslyn untuk keluar dari mobilnya. Kris pun mengangguk.
Luis mengangkat tubuh Jesslyn lalu mendudukkan dia di kursi roda. Dengan perlahan, kemudian Luis mendorong kursi roda itu masuk ke dalam, dan Kris berjalan mengekor dibelakang.
Elisa yang kebetulan ada di rumah memicingkan matanya melihat Jesslyn pulang dengan memakai kursi roda. Bukan urusannya, dia pun memilih untuk tidak bertanya dan bersikap acuh.
Saat ini Elisa sedang berkumpul dengan teman-temannya di ruang tamu. Luis selaku kepala keluarga dan orang paling berkuasa tentu tidak suka melihat banyak orang asing masuk ke dalam mansion peninggalan kakeknya.
"Kris, bawa Jesslyn ke kamar untuk istirahat," Kris mengangguk.
Luis menghampiri Elisa dan para tamunya. Tanpa banyak berbasa-basi. Luis segera mengusir mereka semua untuk keluar dari tempat tinggalnya. Dan hal itu tentu saja mengundang marah Elisa. Tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena bisa saja Luis mengusirnya.
"Kau keterlaluan!! Lihat saja setelah aku menemukan pemilik saham misterius itu, aku pasti akan mendepak mu keluar dari keluarga ini!!"
"Silahkan saja, kau pikir aku takut pada ancamanmu!!"
"Dasar Iblis kau, Luis Qin!!" Ucap Elisa dan pergi begitu saja.
Luis tak mau ambil pusing, pria itu melenggang pergi dan menuju kamarnya. Jesslyn harus segera meminum obatnya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1