Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Dosen Baru


__ADS_3

"Luna, di sini!!" seru seorang wanita sambil melambaikan tangannya pada Luna.


Luna tersenyum lebar. Luna pun menghampiri orang yang memanggilnya sambil tersenyum lebar. "Oya, aku dengar akan ada dosen baru, ya? Sepanjang jalan mereka selalu membicarakannya," ucap Luna sambil menganggukkan kepala.


"Ya, itu memang benar, dan asal kau tahu saja dia sangat tampan," ujar Tiffany sambil bersorak kegirangan.


Luna mendengus sebal. Memangnya apa sih istimewanya pria tampan? Padahal mereka biasa saja. Dan Luna sangat penasaran dengan dosen baru itu, setampan apa dia sampai-sampai banyak orang yang begitu heboh membicarakannya.


"Akhirnya , setelah sekian purnama, kampus kita tercinta ini kedatangan dosen yang sangat tampan. Jujur saja aku sudah bosan melihat dosen botak dan gendut, membuatku malah datang ke kampus. Tapi sekarang aku bersemangat lagi karena dosen baru itu," ujar Tiffany sambil berputar-putar seperti orang mabuk.


Luna mendengus dan menatap sahabatnya itu dengan geli. Mengabaikan Tiffany, dia pun melenggang pergi menuju kelasnya. Kelas pertama hampir di mulai, dan dari informasi yang Luna dengar, dosen baru itu yang akan mengisi kelas pertama hari ini.


"Omo!! Kemana perginya gadis itu? Yakk!! Luna, tunggu aku!!" seru Tiffany sambil berlari mengejar sahabatnya itu. Karena terlalu asik dengan dunianya sendiri, sampai-sampai dia tidak sadar ditinggalkan.


xxx


Luna memasuki sebuah ruangan yang sudah hampir penuh dengan teman-teman satu angkatan dengannya. Hampir semua yang berada di ruangan itu tampak asyik dengan kesibukan masing-masing, ada yang berceloteh, ada juga yang memainkan ponsel nya, melakukan berbagai hal yang membuat mereka senang.


Tanpa disadari, seorang dosen muda memasuki kelas itu tanpa bersuara. Dosen muda itu memperhatikan mereka satu persatu, hingga dia perlu berdehem keras untuk membuat mereka menyadari kedatangannya.

__ADS_1


Dan tentu saja kedatangannya mengejutkan para mahasiswa di kelas itu. Bukannya diam, mereka justru semakin riuh, bahkan ada yang sampai berteriak histeris menyampaikan kekagumannya. Hingga dosen muda itu perlu mengeluarkan suara tegas untuk membuat semua yang berada di ruangan itu diam seketika.


"DIAM, ATAU AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN SEMUA?!"


Iris hitam nya fokus pada satu titik dimana salah satu mahasiswi yang memiliki surai blonde panjang sedang asyik dengan ponselnya tanpa peduli dengan tatapan sang dosen yang mengintimidasinya.


Dosen itu melemparkan bolpoin kearah mahasiswi tersebut dan mengundang kemarahannya.


"Yakk!! Apa-apaan kau itu?!" teriaknya dengan kesal. Sontak dia mengangkat kepalanya dan... "KAU-" mahasiswi itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna memekik keras sambil menunjuk dosen tersebut yang pastinya adalah Jordan Tang.


"Letakkan ponselmu sekarang juga atau keluar dari kelasku," dia memberikan dua pilihan pada Luna. Antara meletakkan ponselnya atau keluar dari kelasnya.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? Kau pikir dirimu siapa bisa mengaturku seenak jidat? Kau masih memiliki hutang maaf padaku, apa kau lupa apa yang kau lakukan lagi tadi kepadaku?!" Luna memberikan tatapan menantang pada Jordan, baru kali ini ada dosen yang berani menegurnya.


"Oke, aku akan keluar sekarang juga!!" Luna menyambar tasnya dan pergi begitu saja.


Jika saja dosen baru itu bukan pria menyebalkan seperti Jordan, sudah pasti Luna akan bersikap lebih sopan padanya. Tapi sayangnya dosen itu adalah pria menyebalkan yang tadi pagi menabraknya tanpa meminta maaf padanya, dia malah bersikap arogan dan justru menyebutnya tak punya mata.


Jordan menoleh dan menatap kepergian Luna dengan tatapan tak terbaca. Jordan menghela napas, kemudian dia melanjutkan kegiatan mengajarnya dan mengabaikan Luna yang baru saja meninggalkan kelasnya.

__ADS_1


.


.


Luna meninggalkan kelasnya sambil terus menggerutu tidak jelas. Gadis itu benar-benar kesal setengah mati, dia sangat menyesal kenapa dosen barunya harus manusia menyebalkan seperti Jordan, apa tidak ada dosen lain di dunia ini selain dia?!


"Luna," panggilan itu menghentikan langkahnya. Sontak Luna menoleh dan mendapati seorang laki-laki berjalan menghampirinya.


"Devan, sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau mengikuti jam pertama?" ucap Luna sambil menatap pemuda itu 'Devan'


Devan menghela napas. "Miss Salsa, mengeluarkan ku dari kelasnya dan dia melarang ku supaya tidak mengikuti semua mata pelajarannya. Lalu bagaimana dengan dirimu? Bukankah seharusnya sekarang adalah jam pelajaran dosen baru itu? Jangan bilang jika kau dikeluarkan juga olehnya?!" tebak Devan 100% benar.


"Ya, dosen menyebalkan itu mengusirku keluar dari kelasnya. Aku mau menemui rektor dan melayangkan protes padanya, bisa-bisanya dia memasukan dosen menyebalkan seperti orang itu ke kampus ini!!" ujar Luna.


Devan menahan pergelangan tangan Luna ketika dia hendak melenggang pergi. "Jangan aneh-aneh, kau cari mati, ya. Sebaiknya kau diam saja dan jangan cari masalah dengan rektor killer itu, amit-amit tujuh turunan, Jangan sampai kita terlibat masalah dengan orang sepertinya." Ujar Devan menasehati.


Luna menghela napas. "Betul juga. Aku lapar, sebaiknya temani aku ke kantin sambil menunggu jam berikutnya." Ucap Luna sambil menarik lengan Devan bawahnya pergi ke kantin kampus. Devan tidak bisa menolaknya, menolak pun percuma saja karena sudah pasti Luna akan tetap memaksanya.


"Iya, tapi pelan-pelan, kau membuatku hampir terjungkal!!"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2