
"Ma, lihatlah paman dan bibi itu. Usia mereka sudah tidak muda lagi, tetapi mereka berdua terlihat sangat romantis."
Jesslyn dan Luis hanya bisa tersenyum mendengar ucapan anak kecil itu. Puluhan tahun mereka menikah, memang tidak pernah ada pertengkaran yang membuat hubungan keduanya menjadi renggang.
Meskipun faktanya mereka berdua pernah terpisah selama 7 Tahun lamanya, karena kontrak pernikahan mereka yang telah berakhir. Dan akhirnya mereka bersatu kembali karena campur tangan Nathan yang menyatukan kedua orang tuanya.
"Sayang, kau dengar itu. Bahkan anak kecil saja bisa menilai, mana yang pasangan harmonis maupun bukan." Ucap Luis.
Jesslyn tersenyum Seraya menganggukkan kepala. "Itu artinya kita berdua bisa jadi contoh yang baik untuk orang lain." Ucap jesslyn dengan senyum yang sama.
Ibu dua anak itu menyandarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya, mereka sedang menikmati keindahan sungai Seine di sore hari dan menara Eiffel yang menjadi ikonik di kota Paris.
"Lu, ini adalah kota yang sangat indah. Bagaimana jika kita mengusulkan pada Nathan dan Vivian supaya berbulan madu disini?" usul Jesslyn tanpa menatap lawan bicara.
"Kedengarannya tidak buruk, siapa tahu setelah kembali disini mereka berdua bisa memberi kita cucu yang sangat menggemaskan." Jawab Luis menimpali.
Jesslyn tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Luis dengan serius. "Aku tidak setuju!! Mereka masih terlalu muda untuk menjadi orang tua, biarkan kedua anak itu menikmati masa mudanya terlebih dulu belum memikirkan kehadiran sosok Mungil di antara keduanya." Ujar Jesslyn memaparkan.
Jesslyn tidak ingin Nathan dan Vivian kehilangan masa mudanya karena kehadiran seorang bayi di antara mereka berdua, apalagi keduanya masih sama-sama kuliah dan pikiran mereka juga belum terlalu matang. Jadi wajar jika Jesslyn memiliki banyak pertimbangan dalam hal ini.
"Kau benar sayang, lagipula Nathan juga belum bekerja. Ya, kita memang harus memberi waktu pada mereka berdua." Ucap Luis yang akhirnya setuju dengan keputusan Jesslyn.
Membicarakan anak di usia muda, membuat Luis teringat pada teman semasa kuliahnya dulu. Dua teman sekelasnya memutuskan untuk menikah padahal mereka masih sama-sama masih kuliah, kemudian si perempuan hamil dan mereka memiliki anak.
Dan endingnya mereka kerepotan kemudian memutuskan untuk berhenti kuliah karena si pria memilih fokus bekerja, sedangkan si wanita memilih fokus mengurus bayinya. Mereka kehilangan masa depannya, karena keputusannya sendiri.
"Kenapa melamun, apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Jesslyn melihat kediaman Luis.
Luis menggeleng. "Tidak ada, hanya teringat 2 teman lama saat masih kuliah dulu. Sudah hampir petang, setelah ini kami makan malam di mana?" tanya Luis pada sosok bidadari yang duduk disampingnya ini.
__ADS_1
Jesslyn tampak menimbang dan memikirkan dimana mereka akan makan malam. "Em, bagaimana kalau di restoran biasanya saja?" Usul Jesslyn, Luis mengangguk. Dia menyetujui keputusan sang istri. Kemudian keduanya bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Sungai Seine.
Namun sebelum pergi makan malam. Jesslyn berencana untuk mampir ke toko kue langganannya. Dia ingin sekali memakan cheese cake kesukaannya. Dan setiap kali datang ke Paris, Jesslyn tak pernah melewatkannya. Karena menurutnya cheese cake di toko kue itu adalah cake paling enak yang pernah dia makan.
Berbeda dengan Jesslyn yang sangat menyukai Cheese cake. Luis tentu lebih memilik cake rasa macha yang rasanya lebih pahit.
-
-
Suhu udara malam ini semakin menurun. Salju turun lagi diluar sana, ini masih musim dingin jadi wajar jika udara masih dibawah minus derajat.
Sepasang suami-istri yang telah berumur terlihat duduk di depan perapian. Keduanya saling berbincang sambil menikmati secangkir coklat panas yang uapnya masih mengepul, menandakan jika coklat panas itu baru selesai diseduh.
"Kau kedinginan?" Ucap si pria pada istrinya.
Kemudian si pria bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mereka. Tak berselang lama dia kembali dengan sebuah selimut tebal yang kemudian dia tangkupkan pada tubuh istrinya. Wanita itu tersenyum lebar.
"Terimakasih, Lu."
"Sama-sama, Sayang. Kau tidak boleh kedinginan," ucap pria itu yang pastinya adalah Luis.
Begitu besar perhatian yang Luis berikan pada Jesslyn. Cinta dan sayang yang dia miliki untuk sang istri terkadang membuat orang lain merasa iri, dan hal itu adalah sesuatu yang wajar. Mengingat jika Luis dan Jesslyn adalah pasangan paling romantis yang pernah ada.
"Sudah malam, sebaiknya ayo ke kamar dan tidur. Aku lelah, Sayang. Kau juga pasti lelah."
Jesslyn mengangguk. "Baiklah," keduanya lalu pergi ke kamar untuk istirahat.
-
__ADS_1
-
Cicit suara burung yang bertengger di atas dahan pohon menyambut datangnya pagi.
Disebuah rumah mewah, terlihat seorang wanita yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur cantiknya yang super elegan. Wanita itu memiliki kulit seputih porselen dan wajah cantik, meskipun sekarang dia sudah kepala empat.
Perhatiannya sedikit teralihkan oleh kedatangan seseorang. Wanita itu tersenyum lebar ketika sebuah kecupan mendarat mulus di keningnya. "Kopi mu ada diatas meja. Koran pagi juga sudah datang," ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jesslyn.
"Terimakasih, Sayang. Maaf, selalu merepotkanmu." Ucapnya penuh sesal.
Jesslyn menggeleng. "Sama sekali tidak, karena itu memang tugasku. Dan aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." Jawabnya.
Kemudian Luis meninggalkan Jesslyn sendirian di dapur. Ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, baru tiga menu yang ia masak dan kurang dua menu lagi. Akhir-akhir ini Luis mengeluhkan jika dia sedikit kesulitan buang air besar. Itulah kenapa Jesslyn memberinya makanan yang banyak mengandung serat.
Dan setelah hampir satu jam berkutat di dapur. Semua masakan Jesslyn selesai. Wanita itu melepaskan apron-nya lalu memanggil Luis untuk sarapan bersama. Melihat banyak makanan lezat tersusun diatas meja membuat nafsu makannya meningkat. Apalagi tiga diantaranya adalah makanan kesukaannya.
"Selamat makan," ucap keduanya bersamaan.
Dan selanjutnya sarapan mereka lewati dengan tenang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Jesslyn maupun Luis. Hanya dentingan sendok dan piring saling bersentuhan memecah dalam heningnya suasana pagi ini.
Sesekali pasangan itu saling menatap dan melemparkan senyuman hangat disudut bibir masing-masing. Dan tak bisa Luis pungkiri, jika masakan istrinya adalah makanan terbaik yang pernah dia nikmati selama ini.
Tak ada yang bisa menandingi kelezatan masakan Jesslyn, itulah kenapa Luis selalu membawa bekal makannya sendiri ketika pergi bekerja. Karena masakan Jesslyn lebih baik dari rasa makanan di restoran mana pun. Begitulah cara Luis menghargai istrinya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1