
Vivian merasakan kehangatan sebuah keluarga meskipun saat ini ia sedang berada jauh dari keluarga besarnya. Karena keluarga Nathan memperlakukannya dengan hangat, apalagi Jesslyn dan Lovely. Ibu dan anak itu begitu menyukai Vivian, bahkan Jesslyn sudah memiliki rencana melamar Vivian untuk Nathan.
Saat ini Vivian sedang menjadi tawanan Jesslyn dan Lovely. Bahkan tak sedetik pun mereka berdua memberikan kesempatan pada Nathan untuk mendekati gadisnya tersebut.
Jesslyn mengeluarkan semua gaun dan dress terbaiknya yang nantinya akan dia berikan pada Vivian. Jesslyn meminta Vivian untuk memilih gaun dan dress manapun yang dia mau, dan dengan senang hati Jesslyn akan memberikannya.
"Vi, pilihlah gaun dan dress mana saja yang kau sukai, dan kau boleh memiliki semua yang kau suka."
Vivian menggeleng. "Tidak usah, Bibi. Vivian punya banyak gaun dan dress yang belum pernah terpakai sama sekali. Sebaiknya Bibi simpan lagi saja ya, nanti bisa diberikan pada Lovely ketika dia dewasa."
"Jangan begitu, apa kau ingin membuat Bibi sedih. Atau sebenarnya kau tidak serius dan bersungguh-sungguh berpacaran dengan Nathan?"
"Bukan begitu, Bibi. Vivian hanya merasa tidak enak saja. Bibi sudah sangat baik sama Vivian, itu sudah cukup. Tidak perlu pakaian-pakaian ini."
"Kakak ambil saja, Mami adalah seorang pemaksa. Jika Kak Vivian menolaknya, Mami bisa galau sampai 3 hari 3 malam loh, dan bisa-bisa Daddy yang jadi korbannya." Ujar Lovely.
Vivian tersenyum kaku. Kemudian dia memilih dua dress dan satu gaun pesta. "Aku pilih yang ini saja, Bibi." Ucapnya. Jesslyn tersenyum lebar lalu memeluk Vivian.
"Nah, begitu dong. Ini baru calon menantu Bibi. Bibi sungguh berharap kau menjadi putriku, Vi. Sejak kau dan Nathan sama-sama masih anak-anak, Bibi sudah sangat menyayangimu. Pertahankan hubungan kalian, apapun rintangannya jangan pernah menyerah karena cinta butuh perjuangan dan pengorbanan."
Vivian mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jesslyn. "Itu pasti, Bibi. Aku pasti akan mempertahankan hubungan kami. Apapun yang terjadi, kami akan selalu bersama." Ujar Vivian sambil tersenyum simpul.
Benar apa yang Jesslyn katakan. Jika cinta membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Dan apapun yang terjadi, Vivian tidak akan membiarkan hubungannya dan Nathan berakhir begitu saja.
"Mi, bisakah kau lepaskan Vivian sekarang? Ini sudah malam, aku harus mengantarnya pulang." Tiba-tiba Nathan masuk dan menginterupsi obrolan mereka.
Jesslyn memanyunkan bibirnya. "Apa tidak bisa nanti saja, atau biarkan Vivian menginap saja disini, toh banyak kamar yang kosong. Atau dia bisa tidur di kamar Lovely."
Nathan menggeleng. "Tidak baik seorang gadis menginap di rumah pria sebelum resmi menikah. Aku akan mengantarnya pulang sekarang," Nathan tetap bersikukuh untuk mengantar Vivian pulang. Dan Jesslyn hanya bisa pasrah membiarkan calon menantunya itu pergi.
"Bibi tidak perlu sedih, aku akan sering-sering datang kemari."
"Janji ya," Vivian mengangguk.
__ADS_1
Keduanya meninggalkan kediaman Qin. Bukan hanya tiga gaun itu saja yang Vivian bawa pulang, tapi juga puluhan aksesoris yang dibelikan oleh Lovely. Sebenarnya Vivian merasa tidak enak, tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
.
.
Nathan menghentikan mobilnya di area Sungai Han karena Vivian mengatakan tidak ingin buru-buru pulang. Dan dia mengabulkan kemauan kekasihnya itu.
Ting...
Perhatian Vivian teralihkan oleh suara denting pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Mata Hazel-nya memicing, tidak biasa ayahnya mengirim pesan singkat padanya. Penasaran apa isi pesan tersebut. Vivian pun segera membukanya.
"Vivian, pulang ke London malam ini juga."
Muncul perempat siku-siku di kening Vivian. Kenapa tiba-tiba sekali ayahnya memintanya untuk kembali ke London. Apakah ada sesuatu yang terjadi sana, tapi kenapa ayahnya tidak menghubunginya malah mengirim pesan singkat.
"Ada apa?" Tanya Nathan melihat kediaman Vivian. Lalu Vivian menunjukkan pesan singkat itu pada Nathan.
"Papa memintaku untuk kembali ke London malam ini juga. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya memintaku untuk kembali malam ini juga,"
"Kau yakin? Tapi bagaimana dengan paman Luis dan bibi Jesslyn, apa mereka akan mengizinkanmu pergi?" Tanya Vivian sambil mengunci manik mata Nathan.
"Atau begini saja, kita ke sana dengan jet pribadi milik keluarga Qin. Kebetulan Daddy ingin bertemu langsung dengan ayahmu untuk membahas hubungan kita. Karena jika ayahmu setuju, aku akan segera menikahimu!!"
"Nathan," Vivian menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca. "Jadi kau benar-benar serius dengan hubungan kita,"
"Menurutmu aku hanya main-main? Tentu saja aku serius, sangat serius malah. Aku akan menghubungi Daddy sekarang juga, agar dia bisa mempersiapkan keberangkatan kita ke London."
Vivian mengangguk. "Baiklah."
Bukannya merasa bahagia, Vivian justru ingin menangis. Entah kenapa dia merasa hal buruk akan segera terjadi. Dan Vivian berharap itu hanya perasaannya saja. Dalam hatinya dia berdoa semoga semua baik-baik saja.
-
__ADS_1
-
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Akhirnya Vivian dan seluruh keluarga Qin tiba di London. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Xia. Vivian mengatakan pada ibunya jika akan ada tamu agar mereka bisa mempersiapkan penyambutan.
Semakin dekat jarak rumahnya. Semakin tak menentu perasaannya. Jantungnya berdetak kencang, Vivian merasa cemas, takut dan gugup.
Disampingnya, Nathan terus menggenggam tangannya. Ia sendiri juga bingung melihat kecemasan yang tersirat di raut wajah Vivian.
Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki gerbang utama.
Di dalam mobil yang dia naiki, Luis memperhatikan sekelilingnya, dia seperti mengenali tempat ini.
Lalu mobil itu berhenti dan membuat mobil yang ditumpangi oleh Nathan dan Vivian ikut berhenti juga. Luis terlihat turun dari mobil dan menghampiri mobil dibelakangnya. Vivian dan Nathan juga turun dari mobil tersebut.
"Vivian, ada hal penting yang ingin Paman tanyakan padamu dan ini mengenai keluargamu. Margamu Xia kan?" Vivian mengangguk. "Apa mungkin kau adalah putri dari Xia Junsu dan cucu dari Xia Minho?" Lagi-lagi Vivian mengangguk.
"Bagaimana Paman bisa tau siapa ayah dan kakekku? Apa Paman dan papa sudah saling mengenal?" Tanya Vivian memastikan.
"Vivian, maaf sekali. Tapi Paman tidak bisa memberikan restu pada hubunganmu dan Nathan. Nathan, Jesslyn, masuk ke mobil. Kita kembali ke Seoul sekarang juga!!"
Nathan menahan lengan ayahnya ketika Luis hendak beranjak pergi. "Tunggu, maksud Daddy apa? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini? Memangnya apa yang salah pada hubunganku dan Vivian?" Tanya Nathan meminta penjelasan.
Luis menggeleng. "Tidak ada yang salah pada hubungan kalian berdua. Yang salah adalah dia putri dari musuh bebuyutan keluarga kita. Seperti air dan minyak, keluarga Qin dan Xia selamanya tidak akan bisa bersatu. Dan Daddy sudah memutuskan untuk melanjutkan perjodohanmu dengan Tasya, jadi putuskan semua hubunganmu dengan gadis ini. Kita kembali ke Seoul!!"
"Tidak!!" Nathan menjawab cepat. "Aku tidak menyetujui perjodohan itu dan aku tidak akan meninggalkan Vivian. Jadi lupakan saja tentang rencana gilamu itu!!!"
"NATHAN!!"
"Aku sudah dewasa, dan berhak untuk menentukan jalan hidupku. Kau tidak berhak untuk mengaturnya. Vivian, ayo temui ayahmu dan sama-sama kita beritahu dia jika kita saling mencintai!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.