
Kabar tentang Marissa yang sudah ditemukan telah sampai ke telinga Vivian, Nathan dan yang lainnya. Saat ini gadis itu di rawat di rumah sakit pusat di kota Seoul.
Meskipun sempat merasa cemas, namun Vivian tidak berniat untuk menjenguknya. Setidaknya Marissa sudah ditemukan.
Bersama Nathan, Vivian memasuki sebuah toko kue yang tak jauh dari kampus. Nathan berniat membawa Vivian ke rumahnya untuk makan malam.
Awalnya Vivian menolak karena dia merasa malu dan tidak enak, tapi dia tidak bisa menolak ketika Nathan memberitahunya jika itu adalah permintaan ibunya. Ya, memang Jesslyn yang meminta Nathan untuk membawa Vivian ke rumah mereka.
Vivian ingat jika Jesslyn sangat menyukai cheese cake, dan dia berniat membelinya untuk oleh-oleh. Vivian juga membeli kue coklat, karena menurut Nathan Lovely sangat suka kue coklat.
"Lalu untuk paman Luis apa?"
"Tidak usah, Daddy tidak suka cake dan segala makanan manis. Jadi tidak perlu beli apapun untuknya, sudah dapat semua kan? Ayo kita bayar," Vivian mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke kasir untuk membayar dua cake tersebut. Nathan menahan tangan Vivian ketika dia hendak membayar, lalu dia mengeluarkan sebuah platinum card dari dompetnya dan memberikan pada kasir.
"Biar aku saja, simpan kembali uangmu." Pinta Nathan, Vivian mengangguk.
Diam-diam Vivian menarik sudut bibirnya. Ternyata berpacaran dengan pemuda dingin seperti Nathan tidak membosankan sama sekali.
Meskipun Nathan tidak pernah bisa bersikap romantis, tetapi dia selalu memiliki cara untuk menunjukkan rasa cintanya. Dan betapa beruntungnya Vivian memiliki kekasih seperti Nathan.
-
-
Luis memperhatikan Jesslyn yang sedari tadi terlihat sangat sibuk. Dia menyiapkan begitu banyak masakan, membuat kue, puding, mengupas buah dan masih banyak lagi. Luis tidak tau siapa tamunya malam ini, tapi kelihatannya sangat spesial.
Ayah dua anak itu kemudian menghampiri sang istri untuk bertanya. "Sayang, tumben masak banyak sekali hari ini. Memangnya rumah kita mau kedatangan tamu?" Tanya Luis setibanya dia di meja makan.
Jesslyn menatap suaminya lalu tersenyum lebar. "Untuk menyambut calon menantu," jawabnya, membuat Luis memicingkan mata.
"Maksudmu?"
"Malam ini Vivian akan ikut makan malam bersama kita. Aku meminta Nathan untuk mengajaknya kemari," jawab Jesslyn bersemangat.
"Teman masa kecilnya itu?" Jesslyn mengangguk dengan antusias. "Sayang sekali, padahal aku berencana menjodohkan dia dengan Tasya, putri tuan Wang dari Wang Group."
Sontak Jesslyn menoleh. Ditangannya menggenggam sebuah spatula. "Jangan macam-macam apalagi berniat menjodohkan putraku dengan gadis lain. Nathan hanya untuk Vivian dan begitupun sebaliknya, jika kau berani menjodohkan dia dengan gadis lain. Aku tidak akan segan-segan memotong habis senjata tempurmu!!" Ancam Jesslyn bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Setuju dengan Mami, awas saja kalau Daddy berani menjodohkan kakak dengan gadis lain. Aku akan berhenti jadi Putri Daddy," ucap Lovely menimpali.
Luis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa mereka ibu dan anak kompak sekali. Padahal dia kan hanya bercanda. "Aku tidak serius, kenapa kalian berdua serius sekali." Ucap Luis.
Jangankan Jesslyn benar-benar memotong senjata tempurnya, membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Dan Luis tidak tau bagaimana nasibnya jika dia sampai kehilangan senjata tempurnya.
"Mi, boleh Lovely membantu?"
"Tentu saja, Sayang. Kau boleh menyusun buah yang sudah Mami kupas ke dalam mangkuk ini. Kakakmu bilang, Vivian sangat menyukai salad buah. Dan ini spesial Mami buat untuknya."
"Oya, Mi. Kemarin saat ke Mall dengan paman Tao, Lovely juga membeli sesuatu untuk kak Vivian. Semoga saja dia menyukainya."
"Oya, memangnya apa yang Lovely beli untuknya?" Jesslyn menatap putrinya itu penasaran.
"Aksesoris, Lovely lihat kak Vivian suka memakai anting dan kalung. Jadi aku membelikan untuknya." Jawab Lovely.
Jesslyn tersenyum lebar. Dia mengusap kepala putrinya. Lovely tidak pernah seantusias ini pada teman dekat kakaknya. Tapi pada Vivian dia bersikap berbeda.
Dan Luis yang melihat bagaimana putri dan istrinya begitu mencintai Vivian, sepertinya dia harus membatalkan tentang rencana perjodohan tersebut. Luis tidak mau jika sampai dimusuhi seluruh keluarganya.
-
-
Melihat kegugupan Vivian membuat sudut bibir Nathan tertarik keatas. Pemuda itu menggenggam tangan kekasihnya lalu mengajaknya masuk, ditengah langkahnya, Nathan meyakinkan pada Vivian jika semua akan baik-baik saja.
"Tunggu sebentar, aku panggil Mami dulu." Vivian mengangguk. Dia menunggu di ruang tamu. Vivian benar-benar gugup. Sampai-sampai dia berkeringat dingin.
Nathan menghampiri ibu dan adiknya yang sedang sibuk menyusun berbagai hidangan di meja makan. Jesslyn mengangkat wajahnya ketika dia mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.
"Ya Tuhan, Nathan. Apa yang terjadi pada keningmu. Kenapa sampai diperban seperti ini?" Kaget Jesslyn melihat perban putih melingkari kening putra sulungnya. Ada bercak darah tepat diatas alis kanannya.
"Terjadi insiden kecil tadi. Tapi tidak apa-apa."
"Sungguh?" Nathan mengangguk. "Lalu dimana Vivian?"
"Menunggu di ruang tamu."
"Kenapa malah membiarkan dia di sana sendirian, seharusnya kau langsung membawanya kemari!! Dasar kau ini, kekasih yang tidak perhatian sama sekali. Mia, tolong selesaikan ini, aku mau menemui calon menantuku dulu."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
"Mami, Lovely ikut!!" Seru Lovely dan buru-buru mengejar ibunya.
Nathan menatap ibu dan adiknya dengan tatapan tak terbaca. Melihat sikap Jesslyn dan Lovely, sangat jelas jika mereka menyukai Vivian. Dan jika memang mereka mengijinkannya, Nathan ingin menikahinya dalam waktu dekat.
Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Nathan. Luis berdiri di belakangnya sambil tersenyum tipis. "Jika sudah merasa cocok, sebaiknya jangan ditunda lagi. Karena perempuan tidak bisa menunggu, jika sudah siap, Daddy akan menemanimu untuk menemui keluarganya. Kita lamar dia sama-sama."
Mendengar ucapan ayahnya membuat Nathan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Dan dia pun semakin bersemangat untuk segera menikahi Vivian. Lagipula tidak ada buruknya menikah diusia muda. Apalagi Nathan sudah berkomitmen untuk selalu menjaga dan melindungi Vivian.
Nathan menyusul ibu dan adiknya. Dari kejauhan sia melihat Vivian dan ibunya yang sedang berbincang hangat. Melihat kedekatan mereka membuat Nathan semakin yakin untuk segera meresmikan hubungan mereka.
-
-
Xia Junsu menatap indeks saham dunia dan menghela napas berat. Lagi-lagi posisi pertama dipegang oleh pesaing utamanya, yakni Qin Empire. Memang bukan rahasia baru jika sejak lama Qin Empire dan Xia Empire sudah menjadi rival abadi di dunia perbisnisan.
Sejak zaman nenek buyut mereka. Kedua perusahaan besar itu menjadi rival dan tidak pernah bisa bersatu. Padahal dulunya pendiri kedua perusahaan besar tersebut adalah sahabat baik. Namun ketatnya persaingan di dunia bisnis membuat hubungan baik itu menjadi renggang dan itu berlangsung hingga detik ini.
"Kenapa kau terlihat tidak bersemangat, apa sesuatu terjadi?" Rossa menghampiri suaminya sambil membawa segelas kopi panas yang baru dia seduh.
"Lagi-lagi kita posisi pertama dipegang oleh Qin Empire, padahal aku sudah berusaha dengan keras, tapi tetap saja tidak bisa melampauinya."
"Untuk apa terlalu dipikirkan. Lagipula posisi kita tidak pernah turun dari 3 besar pemegang saham tertinggi dunia. Lebih baik berdamai daripada berseteru seperti ini."
"Tidak bisa!! Ini masalah harga diri dan reputasi. Kakek yang membangun perusahaan ini dengan susah payah dan berharap bisa menjadi perusahaan terbaik di dunia. Tapi selalu menjadi yang nomor dua. Dan aku ingin mewujudkan impiannya itu dengan mengalahkan Qin Empire."
"Dan satu-satunya cara, hanya dengan menarik L-King untuk bergabung dengan perusahaan kita. Dengan begitu Xia Empire menjadi semakin kuat dan kokoh."
"Caranya?!"
"Dengan menjodohkan Vivian dengan Nicholas!!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1