Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Resmi Jadian


__ADS_3

"Ternyata kau hebat juga, Luna." Jordan memandang Luna dengan seringainya. Gadis itu memilih untuk diam dan hanya menundukkan wajahnya, matanya bergerak gelisah dan jantungnya berpacu cepat. Mencari kalimat yang tepat untuk membalas ucapan Jordan.


"I-itu?? A-aku hanya mengikuti insting, da-dan aku sering melihatnya di drama yang biasa ku lihat berama Tiffany dan Devan." Ujarnya tergagap. "Ya meskipun aku baru mempraktekannya denganmu." Luna tersipu dan buru-buru menundukkan wajahnya.


Jordan membelai rambut panjang Luna, lalu menyelipkan beberapa helai kebelakang telinganya. Memajukan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga kanannya.


"Tapi pergerakanmu masih terlalu kaku, Sayang." Jordan menarik sudut bibir kanannya.


"Itu karena aku belum begitu berpengalaman." Jawab Luna.


Seringai kembali tercipta, terpatri di wajah tampan Jordan. "Akan ku ajarkan yang lebih padamu." Pria itu kembali menempelkan bibirnya pada bibir Luna, tubuh gadis itu seketika menegang saat Jordan menarik pinggangnya dan membawanya duduk di atas pangkuannya.


Jordan mulai mencium bibir atas dan bawah Luna bergantian. Lidahnya menjulur keluar, menekan bibir gadis itu, memaksanya untuk membuka bibir yang masih terkatup rapat. Menyusupkan lidahnya kedalam mulut Luna. Jordan tidak dapat menahan desahhannya saat lidahnya kembali bertemu dengan lidah Luna.


Suara decakan itu mengisi mini Home teater milik Jordan. Luna merasakan waktu seakan berhenti, tidak ada udara di sekitarnya, semua terasa kosong. Hanya satu yang terasa nyata, kehangatan sentuhan bibir sang dosen tampan.


Mereka sama-sama menikmati reaksi dari tubuh masing-masing. Luna merasakan pelukan Jordan pada tubuhnya semakin mengerat, entah benar atau hanya perasaannya saja. Tangan lelaki itu mulai bergerak di atas punggungnya, tak mau kalah. Luna segara menelusup kan jari-jari lentiknya di helaian coklat gelap milik pria itu.


Jordan menyeringai, di amati wajah ayu Luna. Terutama bibirnya, bibir yang memberikan candu untuknya.


"Gadis nakal, kau sangat menikmatinya. Sayang.?" Bisik Jordan di telinga Luna.


Jordan menjauhkan wajahnya tanpa merubah posisinya. Luna duduk di atas pangkuannya dan tangannya masih memeluk erat pinggang rampingnya.


"Aku lihat kau tadi begitu kesal saat wanita gila itu mencoba menggodaku, apa kau cemburu eh?" Tanya Jordan memastikan.


Deggg .. !!!


Luna tersentak dengan pertanyaan Jordan. Dia seperti seekor kucing yang tertangkap basah sedang mencuri ikan, dia bingung. Ia harus memberi penjelasan apa pada Jordan, karena tidak mungkin Ia mengatakan yang sebenarnya. Meskipun dewi batin nya menjerit kan kalimat

__ADS_1


'Ya, aku cemburu dan aku tidak suka si centil itu mendekatimu'.


Mata Jordan tetap menatapnya, tanpa berkedip. Wajahnya kembali datar, namun Luna sadar tatapan itu penuh intimidasi. Luna tidak bisa bergerak karena Jordan mengurungnya di dalam dekapannya, susah payah menelan Saliva nya. Matanya bergerak liar karena tatapan pria itu yang benar-benar membuatnya gugup. Jordan mendesah panjang


"Jawab aku, Luna." Suaranya terdengar berat dan serak oleh hasrat yang kembali merasuki dirinya.


"Emm, ano? Itu, karena aku tidak su----- hhhmmpp." Belum sempat Luna melanjutkan kalimatnya, Jordan lebih dulu membekap bibirnya.


Lagi, dan ini yang ke 4 kalinya dalam waktu kurang dari 1 jam. Jordan semakin meng-intim-kan tubuhnya pada Luna, hingga tidak ada lagi jarak. Sakura dapat merasakan sesuatu yang keras menempel di sellakang nya.


Jordan teranggsang, Luna tau itu. Gadis itu memang tidak tau, dan tidak berpengalaman sama sekali apalagi soal percintaan. Seperti yang Jordan katakan, Ia memang gadis nakal yang berani membangunkan seekor Singa yang sedang kelaparan. Yang siap menerkamnya kapan saja.


Luna memang tidak seliar Tiffany, tidak sehebat Sunny, dan tidak berpengalaman seperti Karin. Tapi Luna tau jika saat ini Jordan mengalami ereksii. Hingga miliknya mengeras karena teranggsang. Apa Jordan akan melakukannya? Jawabannya tentu saja tidak, se-berengsek apa pun dia. Jordan tidak akan menghancurkan masa depan Luna.


"Songsaenim, kau teranggsang eh?" bisik Luna, saat bibir Jordan beranjak turun ke lehernya.


"Karena aku bukan gadis kecil lagi, memang aku tidak memiliki pengalaman apa-apa. Apalagi soal percintaan dan sejenisnya. Tapi hal semacam ini tentu saja aku tau." Jawab Luna dengan bangganya.


Jordan menatap Hazel itu dengan pandangan bertanya. Ia butuh penjelasan dari mana Luna mengetahui hal semacam itu. "Aku pernah di paksa Tiffany dan yang lain untuk nonton bersama. Dan mereka selalu bercerita soal percintaan masa muda." Ujarnya


"Oh sittt, mereka semua telah meracuni pikiran mu, Luna." Jordan menggeram keras "Gadis-gadis itu sangat berbahaya, kau tahu itu." Lanjutnya, Luna mengerutkan dahinya. Wajah polosnya menatap Jordan penuh tanya.


"Emm maksudmu apa?" tanya Luna. Jordan menghela napas.


Dia menyentil jidat Luna dengan gemas. "Otakmu telah terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak baik, Luna!! Sial, mereka benar-benar menyesatkan."


"Dasar aneh, mereka bukan meracuni otakku. Tapi mereka mengajariku bersik------- emmmppphh." Sekali lagi. Jordan membungkam bibir Luna sebelum dia semakin banyak bicara, gadis itu memekik kaget karna benturan keras bibir Jordan.


Ciuman kali ini jauh lebih frontal dari sebelumnya. Lidah Jordan bahkan bergerak liar di dalam mulut Luna, seperti tidak ada puasnya jika hanya 1 kali saja menciumnya. Dan apakah status mereka akan berubah setelah ciuman panas malam ini?l? Entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya.

__ADS_1


Bibir itu masih menyatu, saling berpagut mesra membagi kehangatan di dalam dinginnya keheningan malam. Tubuh mereka menyatu sempurna, tanpa ada sedikit pun jarak bagi tubuh 2 insan yang sedang di mabuk asmara. Berbagi rasa mendalam yang biasa di sebut cinta.


Tapi mungkinkah ada cinta di antara mereka? Bukankah terlalu cepat untuk menyimpulkan. Namun pancaran mata dan ciuman itu seakan menjawab semuanya. Ya, mereka sama-sama merasakan cinta pada pandangan pertama.


"Setelah ciuman malam ini, hubungan kita tidak akan sama lagi, Luna." Bisik Jordan dengan lirih.


Luna mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Membalas tatapan manik hitam Jordan yang menatapnya tajam. Luna tentu tau, pasti mereka akan sama-sama merasa canggung satu sama lain. Garis itu kembali menundukkan wajahnya, sungguh hal itu tak Ia harapkan sama sekali.


Jika ciuman itulah yang nantinya akan menjadi jarak antara Ia dan Jordan, sungguh. Ia sangat menyesal karena telah melakukannya.


"Aku tau, tapi sungguh. Aku tidak ingin kita saling menjauhi mu, aku-------"


"------Bodoh, memangnya siapa yang bilang jika kita akan saling berjauhan hanya karena ciuman bodoh ini, sayang. Maksudku adalah status kita." Jelas Jordan menyela ucapan Luna. Manik matanya mengunci Hazel milik gadis cantik di depannya.


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Emm maksudmu apakah kita?" Luna menggantung kalimatnya, Hazel-nya bergerak liar


Jordan membelai surai panjang milik Luna tanpa mengakhiri kontak matanya. "Kau menginginkan hubungan seperti itu?" Tanya Jordan. Luna menundukkan wajahnya. Mengakhiri kontak matanya dengan Jordan "Kalau begitu, panggil aku Dan Ge." Pinta Jordan yang lebih terdengar seperti perintah, wajah Luna merona. Memiringkan wajahnya menatap Jordan penuh tanya.


"Em itu artinya---?" Kalimat Luna terputus, matanya membulat. Kedua tangannya membekap mulutnya, memandang Jordan tak percaya.


Jordan menyeringai, lalu membisikkan sesuatu padanya. "Ya, kita pacaran Luna." Jordan mencium pertopangan leher Luna, memberikan sedikit tanda merah agar semua orang tau bila dia adalah miliknya.


"Dan Ge." Jordan tersenyum lalu menarik Luna ke dalam pelukannya.


"Terimakasih Luna, aku berjanji akan selalu menjagamu dan semampuku membahagiakanmu." Jordan tersenyum tipis, memejamkan matanya dan memeluk Luna dengan erat. Seakan takut dia akan lepas dari pelukannya.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2