
Sebelum membawa Vivian ke makam Aiden. Diam-diam Nathan melakukan tes DNA pada Gio dan mendiang Aiden hanya untuk memastikannya saja. Kebetulan Nathan masih menyimpan beberapa barang milik Aiden, dan salah satunya adalah sisir yang dulu sering dipakai olehnya.
Dan ternyata benar dugaannya. Saudara kembar Vivian adalah Aiden, karena kecocokannya mencapai 99,99%, sementara Gio hanya 30% saja. Hanya kebetulan saja Gio memiliki tanda lahir yang hampir mirip dengan yang dimiliki saudara kembar Vivian.
Nathan tau hal ini pasti sangat menyakitkan bagi Vivian. Dia baru saja mengetahui satu fakta jika ternyata dia memiliki saudara kembar, tapi disaat dia mengetahui hal tersebut, saudaranya justru sudah tiada lagi di dunia ini.
Dan sebagai suami, Nathan harus bisa menguatkannya, apalagi Aiden meninggal demi melindunginya. Dan sudah menjadi tugasnya menggantikan posisi Aiden, yakni melindungi dan menjaga Vivian dengan segenap jiwa dan raganya.
"Kau darimana saja? Kenapa pergi dari pagi dan baru kembali?" Tegur Vivian saat melihat kedatangan Nathan.
Nathan mengecup singkat kening Vivian. "Aku keluar untuk memastikan sesuatu. Tadinya aku ingin memberitahumu, tapi melihatmu yang masih pulas aku jadi tidak tega, apalagi kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh kemarin." Tuturnya.
"Lalu kapan kau akan membawaku ke makan saudaraku?" Tanya Vivian dengan mata berkaca-kaca.
Nathan menarik Vivian ke dalam pelukannya dan menyandarkan dagunya di kepala coklatnya. "Besok pagi kita ke sana, tapi jangan menangis. Atau kita tidak jadi pergi,"
Vivian menggeleng. "Aku tidak menangis, memangnya siapa yang menangis. Tadi aku hanya kelilipan saja." Dustanya. Nathan tak memberikan jawaban apa-apa. Dia memeluk Vivian semakin erat. "Aku sudah menyiapkan makan malam, kau pasti lapar." Vivian melonggarkan pelukannya dan menatap suaminya.
Nathan mengusap kepala Vivian penuh sayang, bibirnya mengurai senyum tipis. "Tapi setelah aku mandi. Aku mandi dulu," Vivian mengangguk. Sambil menunggu Nathan selesai mandi. Vivian hendak menyiapkan buah untuk cuci mulut. Yang semua yang dia masak malam ini adalah makanan kesukaan Nathan.
Dia persis seperti ayahnya. Menyukai makanan pedas, tapi tidak menyukai yang manis. Entah itu makanan ataupun minuman. Dan itulah kenapa Vivian menyiapkan kopi non gula untuknya.
-
-
Tuan Wang mendatangi panti asuhan tempat bayi itu di titipkan. Dia membawa liontin yang tertinggal di rumahnya, yang membuat Gio sempat merasa ragu jika sebenarnya dia memiliki saudara kembar.
Usia Gio dan anak itu hanya berselisih satu bulan saja, karena tak lama setelah anak itu dibawah pulang oleh mendiang istrinya, istrinya melahirkan dan bayi itu adalah Gio.
Mereka merawat bayi itu selama hampir satu tahun, tapi hambatan ekonomi membuat mereka akhirnya menyerahkan bayi tersebut ke panti asuhan. Liontin itu sempat hilang karena istri Tuan Wang lupa menyimpannya, hanya sapu tangan dan selembar foto saja. Tujuannya agar anak itu ketika dewasa bisa menemukan keluarganya dengan petunjuk yang dia miliki.
Agar tidak ada kesalahpahaman lagi, makanya Tuan Wang mengantarkan liontin itu ke panti asuhan tempat Aiden dia titipkan.
"Nyonya, apakah Anda masih mengingat saya?" Sekitar 20 atau 21 tahun yang lalu saya datang membawa seorang bayi laki-laki bernama Aiden yang kemudian dititipkan disini?"
Wanita tua itu memperhatikan wajah Tuan Wang dengan seksama. Itu sudah puluhan tahun berlalu apalagi usianya sekarang sudah tidak muda lagi. Wanita itu mengangguk. "Ya, aku ingat. Pak dosen yang waktu itu kan?"
Tuan Wang mengangguk. "Benar, Nyonya. Itu saya," ucapnya.
"Duduklah, ada perlu apa Anda datang kemari? Apa Anda ingin bertemu dengan anak itu? Sayang sudah terlambat, dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."
"Saya sudah mendengarnya. Saya datang hanya untuk mengantar barangnya yang tertinggal agar tidak ada salah paham lagi pada putra saya, mungkin suatu saat keluarganya datang mencari barangnya kemari." Tutur Tuan Wang.
"Beberapa bulan lalu teman-temannya datang kemari untuk memperingati kematiannya. Bagaimana pun juga Aiden tumbuh besar disini, jadi panti ini sudah menjadi rumah baginya."
"Ini ada sedikit uang untuk anak-anak panti, tolong Anda simpan untuk keperluan mereka. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa berguna bagi mereka."
"Terimakasih,Tuan Wang."
"Sama-sama,Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu." Tuan Wang bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Lega rasanya, dia seperti tidak memiliki beban lagi sekarang. Dan dalam perjalanan pulang, Tuan Wang menyempatkan diri untuk singgah sejenak di malam Aiden, bagaimana pun juga dia pernah menjadi bagian hidupnya meskipun hanya singkat.
-
-
__ADS_1
Nathan menghentikan mobilnya di area pemakaman. Ia dan Vivian segera turun dari mobil mewahnya. Mata Nathan memicing melihat seseorang sedang berlutut di depan makam mendiang sahabatnya itu. Baik Vivian maupun Nathan tentu sangat mengenali sosok itu.
Keduanya saling bertukar pandang. Lalu menghampiri pria tersebut yang pastinya adalah Tuan Wang.
Menyadari ada orang yang datang, tuan Wang mengangkat wajahnya. Terlihat dua anak didiknya.
"Nathan, Vivian." Serunya. "Sedang apa kalian disini?"
"Lalu bapak sendiri sedang apa?" Alih-alih menjawab. Nathan malah balik bertanya. "Apa bapak mengenal Aiden?" Dia memastikan.
Tuan Wang mengangguk. "Ya, aku mengenalnya. Dia pernah menjadi putraku meskipun hanya singkat. Sekarang dia sudah tiada dan aku hanya bisa menemuinya di sini." Ujarnya.
Vivian mendekati tuan Wang. "Jadi bapak adalah orang yang dulu dititipi seorang bayi oleh seorang ibu muda yang melahirkan sepasang anak kembar?" Tuan Wang mengangguk. Lalu matanya membelalak.
"Vivian, apakah mungkin kau adalah bayi perempuan di dalam foto itu?! Saudara kembar Aiden?!" Tuan Wang menatap Vivian dengan pandangan tak percaya. Gadis itu mengangguk membenarkan.
"Ya, saya adalah bayi itu. Dan saya juga baru mengetahui tentang Aiden. Awalnya saya berpikir saudara kembar saya adalah Gio, karena dia memiliki tanda lahir yang sama dengan bayi di dalam foto itu. Tapi ternyata bayi itu bukan Gio tapi Aiden." Tutur Vivian.
Tuan Wang tersenyum. "Gio adalah putra kandung bapak, dia lahir satu bulan setelah Aiden masuk ke dalam keluarga kami. Saat itu kami mengalami krisis ekonomi makanya bapak menitipkannya di panti asuhan. Karena bapak tidak sanggup membiayai hidupnya. Belum lagi Gio yang juga membutuhkan susu dan gizi, sedangkan asi ibunya tidak mau keluar. Meskipun sangat berat, tapi bapak terpaksa melakukannya." Ujar Tuan Wang. Penyesalan terlihat di kedua matanya.
Vivian menatap gundukan tanah itu lalu berlutut di depan makan saudara kembarnya. Antara sedih, bahagia dan kecewa semua bercampur aduk menjadi satu.
Dia sedih karena bertemu dengan Aiden setelah ia tiada, bahagia akhirnya bisa mendatangi makamnya dan kecewa karena terlambat mengetahuinya. Tapi Vivian juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena semua sudah menjadi suratan takdir.
-
-
Bersambung.
Sebelum membawa Vivian ke makam Aiden. Diam-diam Nathan melakukan tes DNA pada Gio dan mendiang Aiden hanya untuk memastikannya saja. Kebetulan Nathan masih menyimpan beberapa barang milik Aiden, dan salah satunya adalah sisir yang dulu sering dipakai olehnya.
Dan ternyata benar dugaannya. Saudara kembar Vivian adalah Aiden, karena kecocokannya mencapai 99,99%, sementara Gio hanya 30% saja. Hanya kebetulan saja Gio memiliki tanda lahir yang hampir mirip dengan yang dimiliki saudara kembar Vivian.
Nathan tau hal ini pasti sangat menyakitkan bagi Vivian. Dia baru saja mengetahui satu fakta jika ternyata dia memiliki saudara kembar, tapi disaat dia mengetahui hal tersebut, saudaranya justru sudah tiada lagi di dunia ini.
Dan sebagai suami, Nathan harus bisa menguatkannya, apalagi Aiden meninggal demi melindunginya. Dan sudah menjadi tugasnya menggantikan posisi Aiden, yakni melindungi dan menjaga Vivian dengan segenap jiwa dan raganya.
"Kau darimana saja? Kenapa pergi dari pagi dan baru kembali?" Tegur Vivian saat melihat kedatangan Nathan.
Nathan mengecup singkat kening Vivian. "Aku keluar untuk memastikan sesuatu. Tadinya aku ingin memberitahumu, tapi melihatmu yang masih pulas aku jadi tidak tega, apalagi kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh kemarin." Tuturnya.
"Lalu kapan kau akan membawaku ke makan saudaraku?" Tanya Vivian dengan mata berkaca-kaca.
Nathan menarik Vivian ke dalam pelukannya dan menyandarkan dagunya di kepala coklatnya. "Besok pagi kita ke sana, tapi jangan menangis. Atau kita tidak jadi pergi,"
Vivian menggeleng. "Aku tidak menangis, memangnya siapa yang menangis. Tadi aku hanya kelilipan saja." Dustanya. Nathan tak memberikan jawaban apa-apa. Dia memeluk Vivian semakin erat. "Aku sudah menyiapkan makan malam, kau pasti lapar." Vivian melonggarkan pelukannya dan menatap suaminya.
Nathan mengusap kepala Vivian penuh sayang, bibirnya mengurai senyum tipis. "Tapi setelah aku mandi. Aku mandi dulu," Vivian mengangguk. Sambil menunggu Nathan selesai mandi. Vivian hendak menyiapkan buah untuk cuci mulut. Yang semua yang dia masak malam ini adalah makanan kesukaan Nathan.
Dia persis seperti ayahnya. Menyukai makanan pedas, tapi tidak menyukai yang manis. Entah itu makanan ataupun minuman. Dan itulah kenapa Vivian menyiapkan kopi non gula untuknya.
-
-
Tuan Wang mendatangi panti asuhan tempat bayi itu di titipkan. Dia membawa liontin yang tertinggal di rumahnya, yang membuat Gio sempat merasa ragu jika sebenarnya dia memiliki saudara kembar.
__ADS_1
Usia Gio dan anak itu hanya berselisih satu bulan saja, karena tak lama setelah anak itu dibawah pulang oleh mendiang istrinya, istrinya melahirkan dan bayi itu adalah Gio.
Mereka merawat bayi itu selama hampir satu tahun, tapi hambatan ekonomi membuat mereka akhirnya menyerahkan bayi tersebut ke panti asuhan. Liontin itu sempat hilang karena istri Tuan Wang lupa menyimpannya, hanya sapu tangan dan selembar foto saja. Tujuannya agar anak itu ketika dewasa bisa menemukan keluarganya dengan petunjuk yang dia miliki.
Agar tidak ada kesalahpahaman lagi, makanya Tuan Wang mengantarkan liontin itu ke panti asuhan tempat Aiden dia titipkan.
"Nyonya, apakah Anda masih mengingat saya?" Sekitar 20 atau 21 tahun yang lalu saya datang membawa seorang bayi laki-laki bernama Aiden yang kemudian dititipkan disini?"
Wanita tua itu memperhatikan wajah Tuan Wang dengan seksama. Itu sudah puluhan tahun berlalu apalagi usianya sekarang sudah tidak muda lagi. Wanita itu mengangguk. "Ya, aku ingat. Pak dosen yang waktu itu kan?"
Tuan Wang mengangguk. "Benar, Nyonya. Itu saya," ucapnya.
"Duduklah, ada perlu apa Anda datang kemari? Apa Anda ingin bertemu dengan anak itu? Sayang sudah terlambat, dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."
"Saya sudah mendengarnya. Saya datang hanya untuk mengantar barangnya yang tertinggal agar tidak ada salah paham lagi pada putra saya, mungkin suatu saat keluarganya datang mencari barangnya kemari." Tutur Tuan Wang.
"Beberapa bulan lalu teman-temannya datang kemari untuk memperingati kematiannya. Bagaimana pun juga Aiden tumbuh besar disini, jadi panti ini sudah menjadi rumah baginya."
"Ini ada sedikit uang untuk anak-anak panti, tolong Anda simpan untuk keperluan mereka. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa berguna bagi mereka."
"Terimakasih,Tuan Wang."
"Sama-sama,Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu." Tuan Wang bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Lega rasanya, dia seperti tidak memiliki beban lagi sekarang. Dan dalam perjalanan pulang, Tuan Wang menyempatkan diri untuk singgah sejenak di malam Aiden, bagaimana pun juga dia pernah menjadi bagian hidupnya meskipun hanya singkat.
-
-
Nathan menghentikan mobilnya di area pemakaman. Ia dan Vivian segera turun dari mobil mewahnya. Mata Nathan memicing melihat seseorang sedang berlutut di depan makam mendiang sahabatnya itu. Baik Vivian maupun Nathan tentu sangat mengenali sosok itu.
Keduanya saling bertukar pandang. Lalu menghampiri pria tersebut yang pastinya adalah Tuan Wang.
Menyadari ada orang yang datang, tuan Wang mengangkat wajahnya. Terlihat dua anak didiknya.
"Nathan, Vivian." Serunya. "Sedang apa kalian disini?"
"Lalu bapak sendiri sedang apa?" Alih-alih menjawab. Nathan malah balik bertanya. "Apa bapak mengenal Aiden?" Dia memastikan.
Tuan Wang mengangguk. "Ya, aku mengenalnya. Dia pernah menjadi putraku meskipun hanya singkat. Sekarang dia sudah tiada dan aku hanya bisa menemuinya di sini." Ujarnya.
Vivian mendekati tuan Wang. "Jadi bapak adalah orang yang dulu dititipi seorang bayi oleh seorang ibu muda yang melahirkan sepasang anak kembar?" Tuan Wang mengangguk. Lalu matanya membelalak.
"Vivian, apakah mungkin kau adalah bayi perempuan di dalam foto itu?! Saudara kembar Aiden?!" Tuan Wang menatap Vivian dengan pandangan tak percaya. Gadis itu mengangguk membenarkan.
"Ya, saya adalah bayi itu. Dan saya juga baru mengetahui tentang Aiden. Awalnya saya berpikir saudara kembar saya adalah Gio, karena dia memiliki tanda lahir yang sama dengan bayi di dalam foto itu. Tapi ternyata bayi itu bukan Gio tapi Aiden." Tutur Vivian.
Tuan Wang tersenyum. "Gio adalah putra kandung bapak, dia lahir satu bulan setelah Aiden masuk ke dalam keluarga kami. Saat itu kami mengalami krisis ekonomi makanya bapak menitipkannya di panti asuhan. Karena bapak tidak sanggup membiayai hidupnya. Belum lagi Gio yang juga membutuhkan susu dan gizi, sedangkan asi ibunya tidak mau keluar. Meskipun sangat berat, tapi bapak terpaksa melakukannya." Ujar Tuan Wang. Penyesalan terlihat di kedua matanya.
Vivian menatap gundukan tanah itu lalu berlutut di depan makan saudara kembarnya. Antara sedih, bahagia dan kecewa semua bercampur aduk menjadi satu.
Dia sedih karena bertemu dengan Aiden setelah ia tiada, bahagia akhirnya bisa mendatangi makamnya dan kecewa karena terlambat mengetahuinya. Tapi Vivian juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Karena semua sudah menjadi suratan takdir.
-
-
__ADS_1
Bersambung.