
Nathan menghentikan mobilnya dipusat perbelanjaan. Dia mengantar dan menemani Vivian berbelanja bulanan dan membeli pakaian yang hendak ia pakai malam ini.
Padahal hanya acara makan malam biasa, tapi gadis itu begitu heboh. Vivian mengatakan jika dia tidak boleh kalah cantik dari sang kakak. Dan Vivian tidak ingin memiliki kesan buruk di depan kakak iparnya lalu membuat kakaknya malu karena memiliki adik yang tidak tau bagaimana cara berdandan yang baik.
Perempuan memang sulit dimengerti, sepertinya itu bukan hanya omong kosong belaka. Dan Vivian adalah salah bukti nyata.
"Kau ingin membeli apa dulu? Kebutuhan bulananmu atau pakaian yang mau kau pakai malam ini?" Tanya Nathan setibanya mereka di dalam mall.
"Sepertinya belanja bulanan dulu." Jawabnya.
Nathan mengambil troli kosong lalu membawanya ke hadapan Vivian. "Ayo, aku akan membantumu mendorong trolinya." Ucap pemuda itu yang kemudian dibalas anggukan oleh Vivian. Rak pertama yang mereka tuju adalah rak beras dan minyak sayur.
Vivian memasukkan 3 kantong beras 5 kiloan dan 3 liter minyak sayur kedalam troli, selain berad dan minyak, dia juga memasukkan gula rendah lemak.
Kemudian mereka pindah ke rak buah dan sayur. Setelah mendapatkan buah dan sayur yang dia butuhkan, kemudian mereka pindah ke rak daging dan sebagainya. Dan rak terlahir yang mereka datangi adalah rak makanan ringan.
Dan kurang dari 2 jam, Vivian mendapatkan semua yang dia butuhkan. Tinggal mencari pakaian yang akan dia pakai malam ini. Setelah membayar semua belanjaannya dan menulis alamat rumahnya, gadis itu dan Nathan kemudian pergi ke lantai dua.
Lantai dua adalah surganya para wanita. Karena berbagai jenis barang yang mereka butuhkan ada di sana mulai dari pakaian, sepatu, tas, aksesoris sampai make up pun ada.
"Kalau kau lelah, kau boleh menungguku di cafe," ucap Vivian pada pemuda yang berjalan disampingnya.
Kebetulan cafe juga terletak dilantai dua dan tak jauh lokasinya dari tempat mereka berada saat ini. "Ya sudah, aku tunggu kau di sana saja." Vivian mengangguk. Sebenarnya Vivian merasa tidak enak pada Nathan karena harus terus-terusan merepotkannya.
Dan ketika hendak memasuki boutique langganannya. Tanpa sengaja mata Hazel-nya melihat seorang wanita yang sangat tidak asing baginya. Membuat senyum dibibir Vivian terangkat seketika.
"Kakak..." Seru Vivian dan menghampiri orang itu yang pastinya adalah Silvia.
Silvia menoleh. Dia tersenyum lebar menyambut sang adik. "Kau kesini dengan siapa?" Tanya Silvia.
__ADS_1
"Temanku dan sedang menunggu di cafe. Lalu kakak sendiri datang dengan siapa?"
"Kakak iparmu, dia sedang ke toilet. Apa temanmu itu seorang pria? Sepertinya kau sudah mulai bisa membuka hati kembali untuk orang lain. Dimana dia? Kenalkan Kakak padanya,"
Vivian menggaruk tengkuknya. "Apa yang Kakak bicarakan. Kami hanya berteman, lagipula aku tidak mungkin terus larut dalam kesedihan karena bajingan itu. Dia ada di sana, bagaimana kalau Kakak bawa kakak ipar ke sana setelah ini. Kita ngobrol sambil ngopi,"
"Boleh juga, mau nanti malam ataupun sekarang Kakak rasa sama saja. Ya sudah, tunggu Kakak di sana, oke," Vivian mengangguk.
Gadis itu mengurungkan niatnya untuk membeli pakaian lalu pergi menghampiri Nathan.
.
.
Nathan memicingkan matanya melihat kedatangan Vivian. Bukankah gadis itu bilang mau membeli pakaian. Tapi dia datang tanpa membawa apa-apa, bahkan belum 10 menit sejak mereka berpisah tadi.
"Tidak jadi, kebetulan aku bertemu kakak. Dia dan suaminya ada disini juga. Sebentar lagi mereka juga sampai. Dan itu mere~"
Vivian menggantung kalimatnya saat mata Hazel-nya melihat sosok pria yang berjalan disamping kakaknya.
Dan keterkejutan juga ditunjukkan oleh orang itu yang pastinya adalah Vano. Sedangkan Silvia masih mengukir senyum di bibirnya, karena dia memang tidak tau apa-apa.
Setibanya dihadapan Vivian. Senyum Silvia luntur saat melihat ekspresi wajah adiknya ditambah dengan kedua matanya yang tampak berkaca-kaca. Silvia mengikuti arah pandang Vivian dan ternyata dia menatap suaminya.
"Jadi pria ini adalah suami, Kakak?" Tanya Vivian sambil menunjuk Vano.
Silvia mengangguk. "Ya, dia adalah orang yang dijodohkan oleh papa beberapa tahun lalu. Kenapa, apa kau mengenalnya?" Tanya Silvia memastikan.
"Apa Kakak tau siapa dia? Apa Kakak tau siapa orang yang kau nikahi ini?" Silvia menggeleng. Dia semakin bingung. "Dia.. adalah bajingan yang meninggalkanku beberapa tahun lalu. Orang yang sudah membuatku terpuruk dan nyaris gila. Dia adalah bajingan yang meninggalkanku tanpa kejelasan apalagi salam perpisahan!!"
__ADS_1
Mata Silvia sontak membelalak sempurna."Apa?!" Kemudian dia menoleh pada suaminya yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya. "Apa benar itu, Vano? Jelaskan!!"
Vano mengangguk. "Itu benar, Sil. Vivian adalah kekasihku dan gadis yang aku tinggalkan untuk menikah denganmu. Dan untukmu, Vi. Aku sungguh-sungguh minta maaf, keadaan saat itu sangat darurat."
"Perusahaan keluargaku diambang kebangkrutan dan satu-satunya yang bisa menyelamatkannya adalah ayah Silvia. Makanya aku setuju ketika mama menjodohkan dan menikahkanku dengannya. Aku harap kau bisa mengerti dan tidak menyalahkanku, karena aku adalah korban juga."
"Jangan hanya menyalahkanku, karena Kakakmu juga bersalah. Dia tidak memberitahuku kalau kau adalah adiknya, kalau tau begitu aku akan menolak untuk menikahinya saja, jadi aku bisa menikahi kalian berdua sekaligus. Kan enak tuh, sekalian punya dua istri yang sama-sama cantik dan kaya." Ujar Vano.
"Kau memang bajingan!!" Seru Vivian dan Silvia hampir bersamaan. Dan secara bersama-sama mereka berdua menendang bagian senjata tempur Vano dan memecahkan telornya.
Vano merosot dan langsung berguling di lantai sambil memegangi bagian bawahnya yang sakit luar biasa. "Kau memang sampah!! Aku sungguh menyesal pernah mencintai orang sepertimu!!" Ucap Vivian.
"Kukira kau seorang malaikat, tapi ternyata kau tidak lebih baik dari sekumpulan bakteri. Aku rasa hubungan kita sampai disini saja, kita bercerai dan mulai hari ini kau keluar dari rumahku. Satu lagi, usir wanita yang kau tolong itu. Bagaimana pun juga apartemen itu adalah milikku dan masih atas namaku!!"
"Silvia, kau!! Jadi kau menipuku saat bilang apartemen itu kau berikan untukku?! Jadi selama ini apartemen itu masih atas namamu, dan rumah juga masih belum kau balik nama atas namaku?! Bukankah ayahmu menghadiahkan rumah itu untuk pernikahan kita tapi kenapa masih atas namamu juga, aku adalah pria dan lebih berhak sebagai pemiliknya!!"
"Oh, jadi ini sebenarnya tujuanmu ya?! Sekarang baru ketahuan belangmu, Vano. Jadi tujuanmu dan ibumu sejak awal adalah harta keluargaku. Untung saja aku tidak bodoh. Rumah, mobil, semua adalah milikku. Silahkan kau keluar dan tinggalkan rumahku, kau boleh membawa semua barang-barang milikmu, karena aku tidak butuh!!"
"Kau benar-benar iblis betina. Tau begitu aku balik nama saja sejak awal. Arrrkkkhh, kacau!! Silvia, Vivian kalian saudara kakak beradik yang tidak berotak!!"
"Diam!!" Bentak keduanya bersamaan.
Akhirnya Silvia memiliki alasan untuk berpisah dari Vano. Sejak awal dia sudah sangat tidak nyaman hidup dengan pria itu meskipun dia selalu bersikap baik padanya. Ya meskipun kenyataannya itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Dan dia sudah menepati janjinya untuk memberi pelajaran pada orang yang telah menyakiti adiknya, dan memecahkan telor Vano seperti janjinya.
-
Bersambung.
__ADS_1