
Akhir pekan, adalah waktu yang paling Lovely nantikan diantara semua hari. Karana hari itu ia bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya, dan sang ayah selalu berada di rumah selama satu hari penuh untuk menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.
Gadis kecil nan cantik itu terlihat begitu antusias ketika sang ibu mengatakan jika hari ini mereka akan pergi ke bukit angin.
Saat ini Lovely sedang membantu Jesslyn menyiapkan semua bekal makanan yang hendak mereka bawa. Jika biasanya hanya mereka bertiga, kali ini Nathan ikut serta, dan itu atas paksaan ibu mereka. Mendengar kakaknya akan ikut, Lovely menjadi lebih berantusias lagi.
"Mi, apa semua ini sudah bisa aku bawa ke mobil?"
Jesslyn mengangguk. "Pelan-pelan, dan bawa yang ringan saja. Dan panggil Daddy-mu untuk membantu kita."
"Oke,"
Perhatian Jesslyn teralihkan oleh kedatangan putra sulungnya. Sudut bibir ibu dua anak itu tertarik keatas. "Pagi, Sayang." Sapa Jesslyn pada sang putra. Sebuah kecupan sayang mendarat di pipi Jesslyn.
"Pagi juga, Mi. Apa yang bisa aku bantu?"
"Angkat keranjang makanan ini ke dalam mobil. Dan tendanya biar Daddy mu yang mengurusnya. Mami ganti baju dulu," ucap Jesslyn yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Nathan membawa keranjang makanan itu ke depan dan di sana Lovely dan ayahnya tengah sibuk menatap barang bawaan mereka ke dalam mobil. Dan mereka akan berangkat dengan mobil yang terpisah. Karena tidak mungkin Nathan satu mobil dengan orang tua dan adiknya yang jelas sudah penuh dengan barang bawaan mereka.
Selang beberapa saat Jesslyn datang dengan pakaian berbeda. Dan ketika mereka bersiap untuk berangkat. Si kembar dan Tao tiba-tiba muncul dengan barang-barang yang sangat banyak ditangan masing-masing. Saking banyaknya Rio sampai hampir terjungkal.
"Kita ikut!!" Seru ketiganya.
"Kalau begitu bawa mobil sendiri," jawab Luis
menimpali.
__ADS_1
Dia tidak mungkin melarang mereka bertiga untuk ikut. Toh mereka tidak merepotkannya juga. Malah bagus, karena ada yang membantunya dan Nathan membawakan barang-barang menuju bukit.
"Oke, Paman!!" Jawab si kembar dengan kompak.
Lovely semakin bersemangat. Karena liburan kali ini pasti lebih menyenangkan lagi dengan ikutnya mereka bertiga. Gadis itu begitu antusias. Apalagi dengan tingkah konyol mereka yang akan membuat suasana semakin ramai dan meriah
-
-
Vivian duduk dibawah pohon Cherry Blossom yang bunganya terus berguguran sambil memandangi awan-awan yang membentuk gumpalan seperti kapas diatas sana.
Langit masih cerah. Mungkin, terlalu cerah malah. Sejenak, Vivian berbaring diatas rumput hijau. Rumput-rumput tampak asik bergoyang seiring angin yang semakin kencang menerpanya dan rerumputan itu pastinya.
Suasana di bukit ini masih hijau, sejuk, alami dan belum tersentuh tangan-tangan jahil para manusia yang tidak bertanggung jawab. Angin sepoi-sepoi yang berhembus benar-benar memanjakannya. Membuat Vivian sejenak terlena.
Vivian kembali memejamkan matanya sejenak. Membiarkan kedamaian menyeruak di dalam dadanya. Sudah lama sekali ia tak merasa seperti ini, perasaan tenang dan damai.
Vivian mencari obyek yang membawanya kembali ke alam sadar. Dan matanya menangkap kedatangan seorang gadis belia berusia 14 tahun dan seorang wanita cantik yang wajahnya terlihat tidak asing baginya.
"Eo, Mi. Ternyata sudah ada orang lain yang datang lebih dulu dari kita. Padahal aku ingin sekali duduk dibawah pohon itu."
"Kalau begitu kita ke sebelah sana saja. Kakak cantik itu datang lebih dulu dari kita, jadi kita tidak boleh menyela tempat orang lain, oke." Lovely mengangguk.
Vivian tersenyum sambil mendekati gadis kecil nan cantik itu. "Hai cantik, kau ingin duduk dibawah pohon itu kan? Kau boleh menempatinya, kebetulan Kakak sudah agak lama disini dan sebentar lagi pulang."
Wajah Lovely langsung berbinar mendengar apa yang Vivian katakan. "Benarkah?" Vivian mengangguk. "Wah, Kakak tidak hanya cantik saja, tapi juga baik. Bagaimana kalau Kakak cantik menikah saja dengan kakakku. Aku akan menjadi orang pertama yang merestui kalian berdua." Ujar Lovely.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan. Anak kecil tidak baik membahas tentang pernikahan!!" Sahut Nathan yang baru tiba bersama Luis dan yang lain. "Vi, sebaiknya jangan masukkan kehati kata-katanya. Bocah ini hanya asal bicara."
"Santai saja. Oya, Nathan, jadi dia adikmu yang kau ceritakan padaku hari itu. Dan itu artinya, ini adalah Bibi Jesslyn?" Nathan mengangguk.
"Mi, kau pasti melupakannya. Dia adalah gadis bawel yang sering mengadukan kelakuan teman-temanku disekolah padamu. Gadis berisik yang suka sekali ngintilin kemana pun aku pergi,"
Mata Jesslyn membulat tak percaya."Vivian?!" Serunya dan membuat gadis itu tersipu malu. Kemudian Jesslyn memeluk gadis itu, keduanya saling berpelukan selama beberapa saat.
"Aigoo, lama sekali tidak bertemu dan sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Pantas saja jika Bibi sampai pangling. Apa kau sendirian, kalau begitu bergabung saja dengan kami, kau tidak keberatan bukan?"
"Bibi, aku~"
"Kakak cantik, ayo ikut aku. Aku akan menunjukkan kue lezat hasil karyaku dengan Mami," Lovely menyela ucapan Vivian sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Semua orang hanya bisa melihat mereka dengan tatapan tak percaya. Karena baru kali ini Lovely bisa bersikap baik pada orang lain, apalagi orang itu sebaya dengan kakaknya. Karena biasanya Lovely selalu bersikap dingin dan acuh, termasuk pada teman-teman Nathan.
Tepukan pada bahunya mengalihkan perhatian Nathan. Pemuda itu menoleh dan menatap sang ayah yang sedang tersenyum padanya. "Sejak awal Daddy sudah sangat respect padanya. Jika suatu saat nanti kalian saling suka dan memang berjodoh, Daddy pasti akan memberikan restu."
"Apa yang Daddy katakan, aku dan Vivian hanya berteman saja, tidak lebih. Lagipula mana mungkin dia menyukai pemuda begajulan sepertiku?! Jadi jangan terlalu tinggi berharap padanya!!"
"Cinta itu sebuah misteri, kita tidak bisa menebak kapan datangnya, kapan perginya, pada siapa dan dari orang seperti apa. Dan jika kalian memang ditakdirkan berjodoh, dimana pun kalian berada pasti akan dipertemukan kembali, karena jodoh tidak kemana. Daddy dan Mamimu contohnya. Meskipun sudah terpisah selama 7 tahun lebih, akhirnya kami bersama lagi dan saling mencintai sampai detik ini." Tutur Luis panjang lebar.
"Apa yang Daddy katakan, sungguh tidak jelas." Ucap Nathan dan pergi begitu saja.
Luis terkekeh melihat reaksi putranya saat dia membahas tentang cinta. Nathan memang tidak pernah serius soal percintaan, dan bersama gadis-gadis yang pernah dia kencani itu hanya main-main saja. Sebagai seorang ayah, Luis selalu berdoa untuk kebaikan putra-putrinya. Dan Nathan bisa menemukan cinta sejatinya dimasa depan.
-
__ADS_1
-
Bersambung.