Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Tidak Terima


__ADS_3

Selaku kapten tim basket Busan University, Boy tentu tidak dapat menerima kekalahannya begitu saja dari tim S.N.U. Tim Busan mengalami kekalahan telak. Tim Boy tidak di berikan sedikit pun kesempatan untuk mencetak angka sepanjang pertandingan.


Apa yang terjadi hari ini sungguh jauh dari apa yang telah Ia rencanakan, susah payah Ia menumbangkan tim inti dan mengeluarkan banyak uang untuk rencana manisnya itu. Tapi semua rencananya hancur berantakan karna kemunculan sekelompok pria yang menyebut diri mereka sebagai Red Devil.


Boy mengepalkan kedua tangannya, memandang benci pada sosok-sosok pria yang baru saja mengalahkan timnya dengan penuh amarah, terutama pada pria bersurai coklat gelap bermata onyx yang Ia ketahui bernama Jordan Tang. Darah dalam tubuhnya mendidih melihat mereka tertawa menyambut kemenangannya, Ia muak apalagi dengan senyum konyol Martin Oh.


Boy akan memberikan sedikit pelajaran pada mereka. Bukan, lebih tepatnya pada Jordan karena dia yang paling banyak mencetak angka. Salahkan kemampuan Tang bungsu itu sendiri, dia terlalu hebat untuk di remehkan.


Sreggg .. !! ..


Buuugg .. !! ..


"JORDAN!!"


Anggota Red Devil memekik keras saat tiba-tiba Boy menghampiri mereka dan menarik lengan Jordan, tanpa berkata apa-apa dia memukul wajahnya hingga dosen muda itu tersungkur. Jordan tidak dalam keadaan siap sehingga tidak bisa menghindari pukulan tersebut.


Martin dan yang lainnya ingin membantu Jordan, tapi langkah mereka di hentikan oleh teman-teman Boy. Kesempatan itu tentu saja tidak di sia-siakan oleh Boy untuk memberinya pelajaran lebih, di tariknya baju basket yang masih melekat di tubuh Jordan dan mendaratkan beberapa pukulan di wajahnya. Pelipis kanannya robek, bibir bawahnya pecah, dan lebam pada tulang pipi kanannya.


"Jordan!!" Jerit Luna histeris melihat yang terjadi pada kekasihnya, dia hendak menghampiri Jordan namun di halangi oleh Tiffany dan Karin. Kedua gadis itu memegang lengan Luna, berusaha agar sahabatnya itu tidak membahayakan dirinya sendiri.


"Kau tidak boleh kesana, di sana berbahaya." Ucap Karin.


"Tidak Karin, lepaskan aku. Aku mohon, dia menghajar, Jordan." Luna terus meronta, berusaha melepaskan dirinya dari Karin dan Tiffany.


"Jangan bodoh, Luna. Kau tidak boleh turun kesana." Ucap Tiffany menegaskan.


"Tapi---"

__ADS_1


"BERENGSEKK."


Luna tergelak mendengar umpatan tajam yang keluar dari mulut Jordan. Jordan menahan kepalan tangan Boy yang kembali di arahkan ke wajahnya. Tubuh Boy terjengkang kebelakang karena dorongan Jordan. "Sial." Boy mendecih lalu berdiri.


Sayangnya Jordan tidak semudah itu membiarkannya untuk berdiri, tubuh Boy kembali terhempas setelah tendangan Jordan mendarat pada perutnya.


"Uggghhh." Boy merintih sambil memegangi perutnya.


"Brengsek, kau sialan!! Uugghh, ka-kau pikir itu tidak sakit." Makinya, Boy berusaha berdiri dengan sedikit bersusah payah.


"Sialan. Memangnya siapa yang memulainya terlebih dulu, brengsekk?!" Bentak Jordan penuh amarah.


Emosi Jordan benar-benar meledak, bahkan Ia menghiraukan statusnya di Kampus ini. Ya, Jordan adalah seorang dosen. Dan sebagai seorang dosen, seharusnya Ia bisa menjaga sikapnya saat berada di lingkungan kampus terutama di depan para mahasiswa-mahasiswinya.


Tapi Jordan tidak akan bertindak sebodoh itu jika Boy tidak menyulut api dan memulai perkelahian terlebih dulu. "Punya masalah apa kau denganku? Sampai-sampai kau memukulku tanpa sebab, Idiot." Lanjutnya dengan emosi tertahan.


"Kau~" Jordan mengambil jeda dalam ucapannya, lalu berbalik menunjuk Boy dengan tatapan dinginnya. "Baru saja membangunkan seekor Singa jantang yang sedang kelaparan, dan kau harus bertanggung jawab untuk hal itu." Lanjutnya di iringi seringai mematikan tercetak di sudut bibirnya.


"Memangnya apa yang bisa di lakukan pria tololl berotak udang sepertimu? Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu? Kau sudah bosan hidup? Sepertinya kau tidak tau siapa aku? Jangan-jangan kau sedang bermimpi untuk menghabisi ku?" Boy memandang remeh pada Jordan.


Jordan memandang Boy lebih dingin dari sebelumnya, wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun. Onyx nya semakin mengelap begitu pun aura di sekelilingnya. Suasana di lapangan basket seketika menjadi hening dan mencekam.


"Ya, aku memang akan menghabisi mu, tapi sebelum hal itu aku lakukan. Aku Sarankan agar kau segera menghubungi keluargamu dan katakan pada mereka untuk segera menyiapkan pemakaman untukmu." Nasehatnya dengan suara berat dan dingin.


Tubuh Boy mendadak beku saat menatap langsung pada onyx Jordan, auranya begitu mengerikan membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan karena ada mahluk halus di dekatnya melainkan karna tatapan Jordan yang mematikan.


"Bi-bicara apa kau ini? Ka-kau pikir kau siapa bi-bisa membunuhku dengan mudah? A-aku berkuasa, aku di takuti dan di segani. A-aku mengenal jaringan mafia yang sangat berbahaya." Ujar Boy terbata-bata.

__ADS_1


Jordan menyeringai, jari-jarinya menyeka darah yang terus mengalir dari pelipis kanannya. "Kau tanya siapa aku?" dia mengarahkan bibirnya pada telinga kanan Boy lalu berbisik


"Aku, Jordan Tang. Ketua Red Devil, Iblis merah yang pernah bentrok dengan 100 mafia saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, membuat 25 diantaranya meregang nyawa, 40 sekarat dan 35 yang tersisa mengalami luka-luka. Bagaimana?? Kau masih ingin bermain-main denganku?" Jordan menarik dirinya menjauh dari Boy, menepuk bahunya lalu melenggang begitu saja.


Meskipun hanya sekilas, namun keterkejutan terlihat jelas di wajah pria itu.


Boy mengepalkan kedua tangannya, memandang punggung Jorda penuh amarah "Berhenti kau, brengsekk." Teriaknya.


Jordan menghentikan langkahnya, melirik Boy menggunakan ekor matanya "Ada apa lagi?" Tanyanya dingin.


Boy menyeringai. "Lihatlah kearah sana. Dia gadismu kan? Gadis bersurai coklat terang dan bermata Hazel itu. Dia sangat cantik, bagaimana jika kau serahkan dia padaku? Sepertinya dia menyenangkan untuk di nikmati," seru Boy.


Rahang Jordan mengeras mendengar ucapan Boy, pria itu memberi kode pada teman-teman setimnya agar menyeret Luna ke hadapannya. Karna Boy yakin jika Luna adalah kelemahan Jordan, dengan menahan gadis itu, kaka Akan memudahkannya untuk menghabisi Jordan, begitulah yang Ia pikirkan. Tapi sayangnya boy tidak mengenal siapa Jorda yang sebenarnya.


"Gawattt." Martin menggigit bibirnya cemas.


Boy baru saja membangkitkan monster dalam diri Jordan, Martin tidak tau apa yang akan terjadi pada Boy jika Jordan sampai hilang kendali.


"Kalian jangan diam saja. Cepat lakukan sesuatu." Martin mengguncang tubuh kekeempat temannya secara bergantian. Menatap mereka dengan pandangan memohon.


"BERHENTI KALIAN." Pinta Jordan pada 2 orang pria yang berjalan menghampiri Luna.


Suaranya menggema di gedung olah raga. Tidak ada satu pun yang membuka suara sejak insiden pemukulan Jordan yang di lakukan oleh Boy tadi. Semua memilih diam. Seakan tuli, kedua pria itu mengabaikan perintah Jordan


"Brengsekk. Bergerak sedikit saja, maka akan ku patahkan lehernya."


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2