Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Memandikan Jesslyn


__ADS_3

Jesslyn meringis sambil memegangi perutnya yang terasa ngilu. Lukanya belum kering dan sesekali masih mengeluarkan darah, gadis itu hendak pergi ke kamar mandi. Sekujur tubuhnya terasa lengket karena dua hari tidak tersentuh air.


Dokter menyarankan agar lukanya jangan sampai terkena air. Dan oleh sebab itu Luis melarangnya untuk mandi, meskipun Jesslyn memohon tapi dia tetap tidak memperbolehkannya untuk mandi.


Jesslyn tidak memiliki pilihan selain menurut karena Luis mengancam akan mengembalikannya ke rumah sakit. Mumpung Luis belum pulang kerja, makanya Jesslyn buru-buru untuk mandi.


"Kau mau kemana?" Jesslyn terlonjak kaget, nyaris saja dia roboh jika saja Luis tidak menahannya dengan cepat. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Jesslyn terkejut setengah mati.


"Hampir saja kau membuatku terkena serangan jantung, bisa tidak kalau muncul jangan seperti hantu. Tiba-tiba dan mengejutkan orang," gadis itu menggerutu.


"Hn,"


"Dasar manusia planet. Kenapa kau suka sekali menggunakan bahasa alien yang sulit aku pahami," lagi-lagi Jesslyn menggerutu.


"Kau mau kemana?"


"Kamar mandi. Aku ingin mandi, Luis!! Sekujur tubuhku lengket semua, sudah dua hari dan rasanya sangat tidak nyaman. Boleh ya," mohon Jesslyn.


Luis mendengus. Melihat wajah memohon gadis itu membuat Luis tidak tega sendiri. Ia pun akhirnya mengijinkan Jesslyn untuk mandi, tapi dengan syarat pastinya. "Kalau begitu aku akan membantumu,"


Jesslyn menggeleng cepat. "Ti..Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau cukup menungguku diluar saja. Aku akan berhati-hati supaya lukanya tidak sampai basah." Tuturnya.


Bagaimana bisa dia membiarkan Luis membantunya. Dia tidak siap jika harus bulat di depan Luis, meskipun status mereka adalah suami-istri. Walaupun hanya diatas kertas.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kau bisa membawa besi untuk berjaga-jaga jika aku sampai macam-macam padamu. Kau boleh memukulku sampai mati,"


Jesslyn menatap Luis, sebenarnya dia memang membutuhkan bantuan seseorang. Tapi haruskah orang itu adalah Luis?! Mia sedang sakit, jika saja pelayannya itu ada disini, Jesslyn bisa meminta bantuan padanya.


"Baiklah kalau begitu,"


Jesslyn melirik Luis yang berdiri dibelakangnya dari ekor matanya. Laki-laki berdarah China itu membantu Jesslyn menyiapkan air hangat untuk dia mandi. Kemeja putih di tubuhnya pun sudah dia tanggalkan, hanya menyisakan singlet putih.


"Apa yang kau tunggu, lepaskan pakaianmu. Aku akan membantu menggosok punggungmu,"


Gadis itu mengangguk. Jesslyn membuka resleting pada dress-nya lalu menanggalkan kain berharga mahal itu dari tubuhnya. Lalu beralih pada bra hitamnya, hanya menyisakan c*lana d*lam yang Jesslyn biarkan tetap ditempatnya.

__ADS_1


Luis membeku ditempatnya. Tubuh indah, kulit sehalus dan seputih porselen.


Jantung Jesslyn berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat merasakan jari-jari Luis yang agak dingin menyentuh kulit punggungnya yang terbuka. Gadis itu melirik laki-laki itu dari ekor matanya.


Jesslyn gugup setengah mati. Sepanjang hidupnya, ini pertama kalinya dia tel*njang di depan orang lain, apalagi orang itu adalah seorang pria.


Dengan lembut Luis menggosok punggung Jesslyn, dia sedang bertarung dengan perasaannya yang saat ini sedang bergejolak hebat. Bagaimana pun juga Luis adalah pria normal dan siapa yang tidak tertarik melihat perempuan bulat di depan matanya.


"Aku sudah menggosok punggungmu, selanjutnya lakukan sendiri dan hati-hati dengan luka di perutmu," ucap Luis seraya bangkit dari posisinya.


"Aku mengerti, terimakasih sudah membantu menggosok punggungku."


Hanya menyisakan Jesslyn sendiri. Gadis itu memeluk tubuhnya yang terbuka. Saat ini jantungnya tidak baik-baik saja. Dan Jesslyn sedang mencoba untuk mengendalikannya.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Jantungku, kenapa harus berdebar secepat ini?"


-


-


Dengan bantuan warga sekitar. Akhirnya m*yat wanita muda itu berhasil diangkat naik. Mereka menemukan bercak darah pada pakaian yang dikenakannya. Selanjutnya mayat tersebut akan dibawa rumah sakit untuk kemudian dilakukan otopsi.


Dan sementara itu...


Dua wanita terlihat berlari meninggalkan kerumunan itu dan kembali ke klinik. Dari raut wajahnya, menunjukkan jelas jika mereka sedang panik. Seorang bidan muda yang berada di klinik menatap keduanya dengan bingung.


"Ada apa dengan wajah kalian? Kenapa kalian terlihat panik begitu?" Tanya bidan itu.


"Kita harus segera pergi dari sini. May*t wanita itu berhasil di temukan. Kita bisa dalam masalah besar jika tidak segera melarikan diri." Ujar salah satu dari kedua perawat itu.


"Apa?! Bagaimana bisa?! Sial, kenapa semua jadi kacau balau begini?!" Bentak bidan itu.


"Kami juga tidak tau!!"


"Segera kemasi barang kalian, ayo kita pergi dari sini."

__ADS_1


"Baik!!"


Baru juga hendak meninggalkan klinik. Beberapa polisi sudah berdiri di depan pintu. Ketiga wanita itu terkejut dan membelalakkan matanya. Apa bukti-bukti itu sudah ditemukan secepat ini?! Rasanya tidak percaya.


Mereka bertiga pun diringkus dan dibawa ke kantor polisi. Dan ketiganya tidak memiliki kesempatan untuk membela diri. Bayaran yang mereka terima dari Leo, membuat mereka tiga tidak bisa membuka mulut akan siapa yang menyuruh mereka bertiga.


-


-


Jesslyn menundukkan wajahnya saat melihat Luis yang sedang memangku laptopnya. Muncul rona merah di kedua pipinya, Jesslyn berjalan dengan gugup melewati laki-laki itu. Momen di kamar mandi kembali berputar di kepala Jesslyn. Tidak tau bagaimana harus berhadapan dengan Luis setelah ini.


"Ahhh,,,"


Rintih kesakitan yang keluar dari bibir Jesslyn mengalihkan perhatian Luis. Pria itu meletakkan laptopnya kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Jesslyn.


Luis berlutut di depan gadis itu duduk. Jesslyn terkejut saat tangannya bersinggungan dengan jari-jari besar milik Luis. Jesslyn menatap Luis yang sedang melepas perban diperutnya.


"Jika tidak bisa melakukannya sendiri. Kenapa kau tidak meminta bantuan ku?" Luis mengangkat wajahnya dan matanya langsung bersirobok dengan sepasang Hazel milik Jesslyn.


"Aku pikir kau sedang sibuk, jadi aku tidak enak jika harus merepotkanmu lagi." Jawabnya.


"Apa yang kau katakan?! Apa masih perlu kata sungkan dan merepotkan? Kita adalah keluarga, Jess. Meskipun nantinya kita menjadi orang lain, aku harap hubungan kita tetap baik seperti ini." Ucap Luis tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.


Jesslyn tersenyum simpul. "Tentu saja tidak, jika hubungan kita memburuk, lalu siapa yang akan menjadi ATM berjalanku?!" Canda Jesslyn sambil terkekeh. Luis ikut tersenyum juga.


"Kau bisa menjadi adik angkatku jika kau mau, bukankah hubungan saudara jauh lebih erat dari hubungan kita saat ini?" Jesslyn mengangguk.


Tapi dihatinya ada rasa tidak rela ketika Luis mengatakan hubungan saudara. Entah perasaan apa yang Jesslyn rasakan saat ini, apakah sudah ada sedikit perasaan di hati Jesslyn untuk Luis? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2