
Pasangan Luis dan Jesslyn, mampu menginspirasi para pasangan muda melalui ketulusan cinta dan kasih sayang yang satu sama lain memiliki.
Meskipun sudah puluhan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, akan tetapi hubungan mereka berdua tetap harmonis dan romantis. Tak jarang orang lain merasa iri dan cemburu pada pasangan itu.
Bagaikan surat dan perangko, di mana ada Luis di situ pasti ada Jesslyn, dan begitupun sebaliknya. Karena mereka berdua tercipta untuk saling memiliki.
Meski pun terkadang, ada saja pertengkaran kecil yang mewarnai kebersamaan mereka berdua. Namun hal tersebut tak mengurangi sedikitpun kasih sayang dan cinta tulus yang satu sama lain miliki.
"Astaga, mentang-mentang sedang tidak bekerja. Jam segini malam masih tidur?!" Jesslyn menggelengkan kepala melihat kebiasaan buruk suaminya ketika hari libur tiba.
Ayah dua anak itu masih terlelap meskipun matahari sudah membubung tinggi. Jesslyn yang kesal segera menghampiri suaminya dan membangunkannya. Wanita itu menarik selimut yang dipakai oleh Luis dan memaksanya untuk bangun.
"Luis cepat bangun, ini sudah siang. Apa kau tidak lapar? Cepat bangun, kita sarapan bersama." Jesslyn mengguncang lengan terbuka suaminya dan memaksanya untuk bangun.
"Sayang jangan keterlaluan, ini hari libur jadi biarkan aku tidur sebentar lagi." Pinta Luis memohon.
"Tidak ada alasan hari libur, kau harus cepat bangun kemudian mandi dan kita sarapan. Jangan jadi pemalas!!"
Luis menghela nafas berat, dengan terpaksa dia menuruti permintaan istrinya. Karena jika tidak dituruti, bisa terjadi hal yang sangat mengerikan, karena bagaimanapun juga Luis mengenal sifat Jesslyn dengan baik.
"Luis!!"
"Iya, iya. Aku bangun sayang," ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.
Jesslyn menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. Setelah membereskan tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuk Luis, Jesslyn meninggalkan kamar mewah itu untuk menyiapkan sarapan.
Tak ada yang spesial pada sarapan mereka berdua kali ini. Hanya ada Jesslyn dan Luis, tidak ada Lovely ataupun si kembar, karena saat ini mereka berdua sedang berada di luar negeri. Jesslyn menemani suaminya untuk sebuah perjalanan bisnis di Eropa. Dan rencananya mereka baru kembali ke Korea akhir musim dingin ini.
"Nah begini kan lebih enak dipandang," ucap Jesslyn saat melihat kedatangan Luis yang lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
Luis menarik tengkuk Jesslyn dan mencium singkat bibirnya. "Hn, aku anggap itu sebuah pujian." ucap Luis sesaat setelah mengakhiri ciuman singkatnya.
"Sudah jangan bicara lagi. Ayo sarapan selarang sebelum makanannya berupa dingin," ucap Jesslyn yang kemudian dibalas anggukan oleh Luis.
Selanjutnya pasangan romantis itu melewati sarapannya dengan tenang. Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdentingan.
-
-
Udah sarapan, pasangan itu memutuskan untuk pergi jalan-jalan keluar, karena memang tidak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan di rumah. Luis sedang tidak bekerja, dan Jesslyn terlalu malas jika hanya berdiam diri di rumah seharian tanpa melakukan apa-apa.
Keduanya pergi ke pusat perbelanjaan. Jesslyn berencana membeli persediaan bahan makanan yang mulai menipis. Juga tidak banyak buah-buahan agar ataupun sayuran yang tersisa di dalam kulkasnya.
"Sayang aku lelah. Tidak masalah bukan jika kamu belanja sendirian?! Aku akan menunggu di cafe saja." ucap Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.
Dan lagi pula terlalu ribet jika harus belanja bersama Luis. Pasti dia akan merengek seperti anak kecil memintanya untuk cepat-cepat karena bosan. Jesslyn memang lebih nyaman belanja sendirian daripada ditemani, apalagi yang menemani adalah Luis.
Setelah berkeliling kurang dari 1,5 jam. Akhirnya Jesslyn semua barang yang diperlukan. Mulai dari makanan pokok, buah-buahan, sayuran segar, perbumbuan sampai cemilan.
Dan yang perlu Jesslyn lakukan sekarang adalah menghubungi Luis dan memberitahunya jika ia sudah selesai berbelanja.
Tak berselang lama Luis pun datang. Dia menghampiri Jesslyn yang sedang menunggunya kedatangannya. "Sayang, apa cuma Ini belanjaanmu?" Jesslyn mengangguk. Memang tidak terlalu banyak yang ia beli hari ini.
-
-
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, langit biru yang menggantung di atas sana telah berganti warna menjadi kemerahan yang menandakan jika tugas sang surya menemani bumi terakhir. Dan kali ini tugasnya digantikan oleh Sang Dewi Malam.
__ADS_1
Hawa dingin yang berhembus bersama angin senja terasa menusuk hingga ke sumsum tulang. Di sebuah taman dihalaman belakang bangunan berlantai dua tersebut, terlihat seorang wanita yang di bawah pohon sambil menikmati langit senja yang tampak indah di ufuk barat sana.
Sepasang Mata Hazel-nya yang indah tampak berbinar-binar menyaksikan lukisan kanvas langit yang lebih indah dari apapun yang pernah ia lihat dengan matanya. Tidak seperti fajar, senja memang selalu terlihat indah di matanya.
Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit menyita perhatiannya. Ia menoleh pada sumber suara kaki itu berasal dan mendapati sang suami berjalan menghampirinya.
"Udara Disini sangat dingin, kenapa tidak memakai pakaian hangat." ucap lelaki itu sambil meletakkan sebuah mantel hangat di bahu istrinya.
"Aku terlalu malas untuk kembali ke dalam, apalagi pemandangan disini sangat indah." Ucapnya lalu menyadarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya.
Pria itu 'Luis' menggenggam jari-jari lentik Jesslyn yang terasa dingin dengan erat. Mencoba menyalurkan rasa hangat melalui genggaman lembutnya. "Kau lihat bintang itu, apa kau tahu kenapa dia disebut bintang senja?" ucap Jesslyn sambil menunjuk sebuah bintang yang tampak terang diujung barat sana.
"Apalagi jika bukan karena dia muncul nya saat senja tiba," Jawab Luis yang kemudian dibalas anggukan oleh Jesslyn.
"Selain bintang senja, dia juga sering disebut sebagai bintang Fajar. Karena selalu muncul kisah senja dan Fajar tiba." Ucap Jesslyn dengan pandangan lurus pada bintang terang itu.
Selanjutnya tak ada lagi perbincangan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama larut dalam keheningan dan suasana tenang di senja ini. Yang terdengar hanyalah suara detak jantung mereka yang berdetak beraturan.
Di dalam hati mereka masing-masing, Luis dan Jesslyn tentu saja sama-sama memiliki keinginan. Yakni, agar Tuhan memperpanjang usia mereka supaya mereka berdua bisa selalu melihat senja bersama. Baik Luis maupun Jesslyn, mereka selalu ingin seperti ini. Berdua dalam waktu yang lama.
Luis melepaskan rangkulannya pada panggung Jesslyn. "Sudah hampir malam, ayo sebaiknya kita masuk. Udara Disini sangat dingin, aku tidak ingin jika kau sampai sakit dan masuk angin." Jesslyn tersenyum, kemudian menganggukan kepala dan menyetujui ajakan Luis.
Keduanya bangkit dari kursi taman dan melenggang memasuki bangunan megah nan mewah tersebut. Jesslyn dan Luis saling menatap di tengah langkah mereka, saling tersenyum dan menunjukkan kehangatan masing-masing. Betapa mereka berdua sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah disatukan dalam sebuah ikatan cinta yang begitu besar.
-
-
Bersambung.
__ADS_1