Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Semu Peduli Pada Luna


__ADS_3

Boy terus mondar-mandir di kamarnya. Sudah satu hari wanita itu tidak ada kabar. Padahal dia membutuhkan informasi tentang Jordan dan Luna. Ponselnya tidak bisa dihubungi dan itu membuatnya menjadi cemas dan panik.


Decitan suara pintu dibuka mengalihkan perhatiannya. Seorang pria setengah baya menghampiri lalu membungkuk pada Boy.


"Tuan Muda, pengacara baru saja menghubungi saya, beliau mengatakan agar anda segera mencari cara untuk membebaskan Tuan dari penjara. Kondisi kesehatan Tuan sedang menurun karena stress. Untuk itu kita harus segera memikirkan cara untuk membebaskannya." Ucap pria itu.


"Aku juga sedang memikirkan cara bagaimana membebaskan Papa dari tempat sialan itu. Secepatnya aku akan menemui Tang bersaudara tersebut dan berbicara dengan mereka. Siapa tahu mereka setuju untuk meringankan hukuman yang Papa jalani."


"bagaimana caranya, Tuan Muda? Sedangkan hubungan anda dengan mereka tidaklah baik, apa mereka mau memberikan toleransi pada Tuan? Saya rasa tidak," ujar pria paruh baya itu .


Boy menyeringai. "Masalah itu kau tenang saja, biar aku yang mengurusnya. Aku sudah memiliki cara untuk menghadapi Tang bersaudara tersebut, apalagi si sialan Jordan , karena kelemahannya ada di tanganku." Ujar Boy sambil mengepalkan tangannya dan menyeringai tajam.


Ya, kelemahan Jordan adalah Luna, jika dia bisa menggunakannya, maka itu akan memudahkannya Boy untuk mencari tujuannya.


xxx


Kabar tentang Luna yang hampir diracuni telah sampai ke telinga Jesslyn dan Luis. Tentu saja mereka berdua sangat marah mendengar kabar tersebut. Luis pun langsung mengirim beberapa pelayan dari rumahnya untuk bekerja di rumah putri dan menantunya, dan mereka semua terpercaya.


Awalnya Jordan memang ingin menggunakan pelayan dari keluarga Tang untuk bekerja di rumahnya. Tapi Luna menolaknya, dia merasa itu tidak perlu. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengambil pembantu dari sebuah yayasan, tapi siapa yang menduga jika pembantu tersebut adalah mata-mata.


"Pa, apa ini tidak terlalu berlebihan? Aku rasa dua pelayan saja cukup, kenapa harus sebanyak ini? Lagipula sudah ada Jordan yang bisa melindungi ku, jadi tidak perlu bodyguard lagi." Tandas Luna.


"Dan membiarkan hal yang lebih buruk terjadi?" sahut Nathan. Dia baru saja tiba di kediaman Qin bersama Vivian.


"Kakak," seru Luna.


"Ini demi kebaikanmu, Luna. Jordan, harus bekerja dan tidak bisa menemanimu selama 24 jam penuh. Kami tidak bisa melihatmu dalam bahaya, apalagi seseorang ingin membalas dendam padanya. Jadi kami harus bisa melindungi mu dengan baik," ujar Nathan.


Baik Nathan maupun Luis, tidak ada seorangpun dari mereka yang menyalahkan Jordan atas apa yang terjadi. Sama seperti Luna, dia juga tidak memperkirakan hal tersebut akan terjadi. Karena jika dia sejak awal sudah tahu Luna akan dicelakai, pasti Jordan sudah menghabisi orang itu sejak lama.

__ADS_1


"Itu benar, Luna. Kami hanya ingin kau dan janin di dalam perutmu aman dan terlindungi, jadi jangan menganggap apa yang kami lakukan ini berlebihan. Bahaya bisa mengincar mu dimana saja dan kapan saja, untuk itu tidak ada salahnya berjaga-jaga." Ujar Vivian menambahkan.


Jesslyn menghampiri Luna lalu menggenggam tangannya. Sudut bibirnya tertarik keatas. "Ini kami lakukan karena kami sangat menyayangimu, Sayang."


Luna menyeka air matanya. Dia benar-benar terharu karena semua orang sangat peduli padanya. Dia merasa beruntung karena terlahir ditengah-tengah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang, dia merasa hidupnya begitu sempurna.


"Terimakasih Ma, Pa, Kak, Kakak Ipar, aku sangat beruntung memiliki kalian semua." Ucapnya sambil menyeka air mata.


"Sama-sama, Sayang."


xxx


Tingg..


Sebuah pesan masuk ke ponselnya sedikit menyita perhatian Jordan dari laptopnya. Nama Luna tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Tanpa membuang banyak waktu, Jordan segera membuka pesan singkat tersebut lalu membacanya.


"Aku di rumah, Mama. Nanti jemput aku di sana."


Tingg...


Tak berselang lama, pesan balasan dari Luna masuk. "Anggur hijau dan asinan buah. Aku rasa itu saja,"


"Baiklah, aku akan menjemputmu sebelum makan malam."


Setelah mengirim pesan balasan untuk Luna. Jordan kembali fokus pada dokumen di depannya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang lebih cepat hari ini.


xxx


Reno dan Reno memicingkan matanya melihat David yang sedang meracik cabe merah campur merica dan beberapa rempah-rempah yang dia beli dari swalayan Indonesia. Mereka berdua tidak tahu David ingin membuat apa dan untuk siapa.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang sedang kau buat? Memangnya untuk apa air cabai sebanyak itu?" tanya Reno penasaran.


David menoleh dan menatap singkat kedua temannya tersebut. "Kalian diam saja, sebaiknya pergi sana dan jangan menggangguku. Aku sedang berusaha membuat eksperimen untuk meracuni seseorang." Ujar Daniel.


Reno dan Leo saling bertukar pandang. Mereka sama-sama memicingkan matanya dan menatap David penasaran. "Maksudmu?" tanya mereka serempak.


David menghela napas. Jika tidak dijelaskan secara terperinci mereka akan terus bertanya dan itu sangat mengganggunya.


"Luna, hampir saja diracuni oleh orang suruhan Boy, dan aku berencana membalas dendam padanya. Sebab dia berani menyentuh adik ipar dan calon keponakanku. Dan jus ini untuknya." Ujar David.


Pupil mata Leo dan Reno membelalak sempurna mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh David. "Apa, luna dan calon bayinya hampir diracuni?" kaget Reno dan Leo. David mengangguk.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus sama-sama memberikan pelajaran pada bajingan itu. Ayo, kita habisi dia sama-sama." Ucap Reno berapi-api.


David menggeleng. "Jangan, dia bisa mati kalau dihabisi secara langsung, sedangkan aku ingin pelan-pelan membunuhnya. Dan kalian ikuti saja rencanaku, aku akan membuat sebuah pertunjukkan yang sangat spektakuler. Kalian bisa menikmati pertunjukkan itu secara gratis." Ujar David dengan begitu bersemangat.


Pria itu beranjak dan meninggalkan mereka berdua. Dan tidak lama kemudian David kembali dengan sebuah kardus ditangannya. "Apa itu?" tanya Leo menunjuk kardus tersebut.


"Kau buta ya, jelas-jelas itu kardus." Sahut Reno.


"Iya, aku tahu itu kardus. Tapi yang aku tanyakan adalah isinya." Ucap Leo.


"Sudah-sudah kalian berdua jangan bertengkar." Seru David menengahi perdebatan kedua sahabatnya tersebut. Kemudian dia menyerahkan sebuah pakaian maid lengkap dengan wig dan aksesoris pada Reno dan Leo. Membuat mereka berdua kebingungan dan bertanya-tanya. "Aku butuh bantuan kalian berdua."


"Apa ini?"


"Ikut denganku dan kita bekerja sebagai maid di rumah bajingan itu."


Pupil mata Reno dan Leo membulat sempurna setelah mendengar apa yang David sampaikan."APA, MENJADI MAID?!"

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2