Istri Kedua CEO Lumpuh

Istri Kedua CEO Lumpuh
Menikahlah Dengan Kakakku


__ADS_3

Tidak terasa 9 jam telah berlalu. Dan Vivian yang sejak awal memang sudah dekat dengan keluarga Qin tidak kesulitan sama sekali ketika berbaur bersama mereka.


Awalnya dia hendak pulang, tapi Lovely dan Jesslyn melarangnya dan memintanya untuk bergabung. Dan Vivian sendiri tidak bisa menolaknya karena merasa tidak enak pada Ibu dua anak itu yang sudah begitu baik padanya.


Lovely terus saja lengket padanya dan tidak mau jauh dari Vivian. Bukannya merasa risih gadis remaja itu menempel padanya, Vivian justru merasa senang. Vivian sendiri adalah putri tunggal di dalam keluarganya, dia tidak memiliki kakak apalagi adik, Ibunya meninggal saat melahirkannya dan itu yang membuatnya merasa kesepian.


Meskipun dia memiliki seorang ibu sambung yang sangat baik dan tulus padanya, tapi tetap saja rasanya berbeda. Karana yang Vivian inginkan adalah kasih sayang dan pelukan hangat seorang ibu kandung yang tidak pernah dia rasakan sama sekali.


"Kak, menurut Kak Vivian kakakku bagaimana? Dia tampan atau tidak?"


"Tampan, namanya juga laki-laki. Tidak mungkin kan, kalau laki-laki itu cantik."


"Jangan salah, meskipun laki-laki ada juga yang cantik kok. Buktinya saja Kak Nathan, coba Kak Vivian perhatikan dengan seksama. Sebenarnya dibandingkan tampan, Kak Nathan justru terlihat cantik." Ujar Lovely.


"Benarkah?" Lovely mengangguk.


Vivian tidak terlalu memperhatikannya, meskipun sering bersama dengan Nathan, dia juga jarang menatap wajahnya apalagi melihatnya secara intens, meskipun mereka berdua sering melakukan kontak mata. "Kakak tidak terlalu memperhatikannya," jawab Vivian menimpali.


Jesslyn menghampiri keduanya sambil membawa potongan buah segar. "Mami perhatikan dari kejauhan kalian berdua semakin dekat dan akrab saja, apalagi Lovely maunya nempel terus sama Kak Vi. Apa Lovely nyaman didekat kak Vivian?"


Lovely mengangguk. "Sangat, apalagi Kak Vivian sangat baik dan asik diajak ngobrol tidak seperti nenek sihir itu. Kelihatannya saja baik karena ada maunya, dan aku sangat tidak menyukainya. Kak Vi, mau ya menikah dengan Kak Nathan supaya kita bisa jadi keluarga." Mohon Lovely.


Vivian tertawa. "Dasar kau ini, kenapa pemaksa sekali. Kakak belum kepikiran untuk menikah dan berumah tangga, karena Kak Vi mau fokus sama kuliah dulu." Jawab Vivian.


"Ya, setidaknya kalian pacaran saja dulu. Kalian berdua benar-benar cocok sekali, aku berani bersumpah,"


Vivian hanya tersenyum menyikapi ucapan Lovely. Dia tidak terlalu menghiraukannya karena saat ini Vivian hanya ingin fokus pada kuliahnya. Dia tidak mau memikirkan tentang percintaan dan semacamnya, karena Vivian lebih nyaman sendiri.


"Sudah sore, sebaiknya aku antar kau pulang," ucap Nathan yang entah sejak kapan sudah ada diantara ketiga perempuan cantik itu.


Gadis itu mengangkat wajahnya kemudian mengangguk. Setelah berpamitan pada Jesslyn, Luis dan yang lain. Vivian pun segera menuruni bukit bersama Nathan. Sebenarnya Vivian sudah ingin pulang dari tadi, tapi dia tidak enak pada Jesslyn dan Lovely. Apalagi gadis kecil itu yang maunya nempel terus padanya.

__ADS_1


"Aahhh,"


Dengan refleks Nathan memeluk perut rata Vivian saat ia tidak sengaja terpeleset karena jalanan yang cukup licin. Vivian yang menjadi salah tingkah buru-buru melepaskan pelukan Nathan pada perutnya. "Hati-hati, jalannya sedikit licin." Kata Nathan mengingatkan.


"Aku tau, ini juga sudah sangat hati-hati," jawab Vivian membela diri.


"Sudah tau jalannya agak sulit, tapi masih saja memaksakan diri pakai heels, kau benar-benar mencari perkara, Vi."


"Tadinya aku tidak berniat kemari, tapi ditengah perjalanan aku malah ingin menikmati pemandangan di bukit angin."


"Kau lapar tidak? Apa perlu kita makan malam dulu setelah ini?"


Vivian menggeleng. "Aku masih kenyang. Lovely terus saja memberiku makanan dan buah-buahan, sepertinya aku harus memulai progam diet ku lagi. Berat badanku bisa baik drastis karena kebanyakan makan." Ujar Vivian.


"Menggelikan!! Badan sudah kecil begitu malah mau diet, apa kau ingin terbang terbawa angin!!"


"Sembarangan!! Kau itu laki-laki, jadi mana tau. Lagipula kelebihan berat badan itu tidak enak. Tapi kenapa malah jadi kau ngatur, badan-badanku sendiri, terserahlah aku mau diet bagaimana juga. Itu tidak ada hubungannya denganmu!!"


-


-


Marissa terus menatap layar ponselnya. Sudah satu hari satu malam, tapi belum ada juga panggilan dari Nathan ataupun pesan singkat darinya yang menanyakan bagaimana keadaannya saat ini.


Permintaan tolong yang dia unggah di medsosnya sudah dilihat ribuan orang, banyak yang merasa simpatik dan kasihan padanya, tapi Nathan malah tidak menghubunginya sama sekali. Marissa yakin jika Nathan sudah melihatnya juga, apakah dia benar-benar tidak peduli padanya.


Penasaran, Marissa mencoba menghubungi Nathan tapi ponselnya malah tidak aktif. Nomornya berada diluar jangkauan.


Gadis itu menggigit kukunya dengan gusar, jika Nathan tidak melihatnya, maka artinya apa yang telah dia lakukan sia-sia saja. Apalagi Marissa harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk rencananya tersebut.


Tokk... Tokk... Tokk...

__ADS_1


Suara ketukan pada pintu rumahnya membuat Marissa terkesiap. Yakin itu adalah Nathan yang datang. Ia pun buru-buru keluar, tapi sungguh betapa kecewanya Marissa saat melihat yang datang ternyata bukan Nathan.


Marissa menatap sinis pemuda yang berdiri di depannya itu. "Mario, sedang apa kau disini?"


"Aku datang karena mencemaskanmu. Maaf, aku baru tau apa yang telah menimpamu. Jika aku tau lebih awal. Pasti sudah dari semalam aku datang menemuinu. Tapi kau tidak apa-apakan? Mereka tidak melakukan sesuatu padamu bukan?"


Marissa menyentak tangan pemuda bernama Mario tersebut. "Jangan sembarangan menyentuhku!! Aku baik-baik saja atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu!! Pergi sana, kedatanganmu tidak diterima disini!!" Kata Marissa menegaskan.


"Tapi Marissa,"


"Pergi sekarang atau aku akan memanggil warga untuk mengusirmu pergi?!" Ancam Marissa.


"Baiklah aku akan pergi, ini aku bawakan buah-buahan dan makanan untukmu. Aku pergi dulu."


Marissa berdecak sebal. Bukannya membawa makanan dan buah-buahan itu masuk ke dalam. Marissa malah membuangnya ke tempat sampah. Karena menurutnya itu tidaklah penting sama sekali.


-


-


Vivian dan Nathan duduk bersebelahan di bangku taman. Mereka berdua sedang melihat pemandangan air mancur yang dihiasi ratusan lampu-lampu kecil berwarna-warni. Keduanya duduk dalam diam ditengah suasana hening yang mengikat.


Sesekali Vivian menatap pemuda yang duduk disampingnya. Nathan hanya menatap lurus ke depan. Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Tiba-tiba Vivian mengulurkan tangannya pada wajah Nathan dan membuat pemuda itu terkejut.


Dengan refleks Nathan menggenggam pergelangan tangannya sambil mengunci manik matanya. "Aku hanya ingin merekatkan plester dipelipismu yang terbuka." Vivian memberikan penjelasan sebelum Nathan salah paham.


"Bisakah kau mengganti perbannya sekalian, aku menggantinya pagi tadi dan belum menggantinya lagi sampai sekarang. Ada kotak P3K di mobilku, kita ke sana saja."


Vivian mengangguk. "Baiklah."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2