
Tubuh itu terhuyung kebelakang setelah tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang. Beruntung orang itu langsung menahan punggung Jesslyn dengan sebelah tangannya sehingga tubuh gadis itu tidak sampai berciuman dengan tanah.
Jesslyn membungkuk, mengucapkan maaf dan terimakasih. Bagaimana pun juga dia yang salah karena berjalan tidak hati-hati. Dan karena kecerobohannya itu, nyaris saja dia terjatuh.
"Nona, apakah Anda tidak apa-apa?" Tanya orang itu memastikan.
Jesslyn menggeleng. "Tidak, saya tidak apa-apa. Sekali lagi saya minta maaf karena terlalu ceroboh." Ucap Jesslyn penuh sesal. Dia sungguh-sungguh menyesal.
"Tidak apa-apa, Nona. Bukan sepenuhnya salahmu, itu salahku juga. Oya, perkenalkan aku Felix," orang itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri pada Jesslyn.
Jesslyn tak lantas menerima uluran tangan lelaki tampan itu. Kemudian Jesslyn menjabat tangan pria bernama Felix itu. "Aku, Jesslyn. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang." Jesslyn membungkuk dan pergi begitu saja.
Jesslyn tidak mau terlalu menanggapi pria lain disaat dia sudah memiliki suami. Meskipun hanya sekedar suami kontrak, tapi Jesslyn sangat menghargai perasaannya. Dia tidak ingin membuat Luis salah paham, apalagi menganggap telah melanggar kontrak.
Felix tersenyum tipis. "Semoga kita bisa bertemu lagi," kemudian dia beranjak dan masuk ke dalam mobil yang terparkir ditepi jalan. Felix adalah seorang pebisnis, jadi tentu saja dia sangat sibuk.
-
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Luis yang sedang sibuk berkutat dengan lembaran kertas yang penuh dengan uang. Pria itu mengangkat wajahnya seraya berseru, mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya untuk masuk.
Pria tampan lengkap dengan setelan jas hitamnya terlihat memasuki ruangan itu. Menghampiri Luis yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak berubah sama sekali, tetap saja menjadi workaholic," komentar pria itu seraya mendaratkan pantatnya di depan meja kerja Luis.
Luis mengangkat wajahnya dan mendengus berat. "Jika kau datang kemari hanya untuk mengomentari diriku, sebaiknya pergi saja sana. Aku masih banyak pekerjaan dan tidak ada waktu untuk meladenimu!!" Ucap Luis dingin.
"Ck, sahabat macam apa kau ini?! Bukannya disambut baik, sahabat sendiri malah diperlakukan seperti orang lain. Apakah tidak ada pelukan hangat untukku, ayolah Luis cepat peluk aku!!" Pria itu berdiri sambil merentangkan tangannya. Luis mendecih seraya berdiri.
"Dasar Drama King!!" Cibir Luis sambil memeluk sahabat lamanya itu.
"Hahaha... Beginilah diriku. Ngomong-ngomong bagaimana kabarmu?" Pria itu melepaskan pelukannya.
Luis mengangkat bahunya. "Seperti yang kau lihat. Aku begini-begini saja. Kapan kau datang? Aku pikir kau akan menetap di London." Luis menuangkan wine ke dalam gelas kosong di depannya lalu menyerahkan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku tiba kemarin malam. Aku sengaja tidak memberitahumu karena ingin memberi kejutan. Oya, Lu. Apa kau tau, saat dalam perjalanan kemari, aku bertemu dengan seorang bidadari. Dia sangat cantik dan aku langsung jatuh cinta hanya dengan menatap matanya." Tutur pria itu.
Luis mengernyitkan dahinya. "Bidadari? Sepertinya itu hanya ada di dalam dongeng, memangnya di dunia ini ada gadis secantik itu?" Luis meminum winenya.
"Tentu saja ada. Dia memiliki mata berwarna Hazel yang sangat indah, kulit halus dan seputih porselen, rambut panjang yang berkilau, hidung mancung, bibir tipis dan pipi merona alami."
"Ketika berpapasan dengannya, aku bisa mencium aroma bunga sakura menguarkan dari tubuhnya. Dia adalah gadis tercantik yang pernah aku temui." Ujar laki-laki itu sambil membayangkan wajah cantik gadis yang dia maksud tersebut.
Ucapan pria itu membuat Luis terdiam. Kenapa semua yang dia katakan merujuk pada Jesslyn, meskipun di dunia ini banyak gadis yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Tapi entah kenapa dia malah berpikir jika yang sahabatnya ini maksud adalah istri kontraknya.
Dering pada ponselnya mengakhiri lamunan Luis. Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Sudut bibirnya tertarik keatas, Luis bangkit dari duduknya dan menerima panggilan tersebut.
"Aku membawakanmu makan siang, aku akan tiba dalam 10 menit. Jangan pergi kemana pun, aku ingin makan siang bersamamu."
"Tunggu aku di parkiran, kita pergi ketempat yang sejuk dan nyaman,"
"Baiklah, aku tutup dulu telfonnya."
Luis kembali setelah mengakhiri panggilan tersebut. "Aku harus pergi sekarang. Kau mau tetap disini atau pergi juga?" Luis menatap temannya itu.
"Aku sudah ada janji dengan orang lain,"
"Anna, ya?" Tebak Pria itu.
Luis menggeleng. "Bukan, aku dan Anna sudah resmi berpisah. Tapi dia adalah istri keduaku. Aku duluan, dia sudah menungguku di parkiran." Luis mengambil kunci mobilnya dan pergi begitu saja.
Luis dan Anna sudah berpisah? Rasanya pria itu tidak percaya. Bukankah dulu mereka saling mencintai? Penasaran seperti apa istri muda Luis, ia pun bergegas menyusul Luis sebelum jauh.
.
.
Langkah kaki pria itu terhenti saat melihat siapa orang yang ditemui oleh Luis di parkiran. Sudut bibirnya naik turun dan matanya berkaca-kaca. Sekalinya jatuh cinta orang itu malah sudah punya suami, parahnya lagi dia adalah istri sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Pria itu 'Felix' mengeluarkan ponselnya lalu memutar lagu yang dia dapatkan ketika berkunjung ke Indonesia, dan menyanyikannya dengan logatnya yang agak sedikit kaku.
Aku ngalah bukan karena diriku tak sayang...
Aku mundur bukan karena cintaku telah hilang...
Namun aku ini mengerti..
Bahwa kamu lebih sayang sama dia..
Aku mundur pelan pelan..
Karena sadar aku siapa..
"Huhuhu, sungguh menyesakkan dada. Sekalinya jatuh cinta dia malah istri orang. Tuhan , hidup ini terlalu tidak adil bagiku!!"
Dengan hati yang setengah lebur, Felix berjalan menuju parkiran tepat setelah mobil Luis meninggalkan tempat luas tersebut. Felix tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan mengorbankan persahabatannya dengan Luis hanya demi seorang gadis.
-
Luis menghentikan mobilnya di area sungai Han. Dia turun begitu pula dengan Jesslyn. Gadis itu tersenyum lebar ketika Luis membantunya mengelar tikar. Mereka duduk ditepi sungai dibawah pohon Cherry Blossom.
Jesslyn mengeluarkan semua makanan yang dia bawa dan menatanya diatas tikar. Sedikitnya ada 4 menu berbeda, jika tau akan makan siang di tempat terbuka seperti ini, pasti Jesslyn memasak lebih banyak lagi.
"Duduklah, ayo kita makan sama-sama. Aku juga membuatkan sup rumput laut untukmu."
Luis memicingkan matanya. "Apakah ada yang berulang tahun hari ini?" Dia menatap Jesslyn penasaran.
Gadis itu menjitak kepala blonde suaminya itu dengan gemas. "Dasar pikun, apa pekerjaan membuatmu lupa segalanya. Jelas-jelas hari ini adalah hari ulang tahunmu sendiri, kenapa kau malah tidak ingat. Kris yang memberitahuku, makanya aku tau. Maaf, tidak bisa membuatkan pesta yang meriah untukmu. Lu, selamat ulang tahun." Ucap Jesslyn sambil tersenyum lebar.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Luis menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat seraya berbisik ditelinganya. "Aku suka dengan kejutan kecil yang kau berikan, terimakasih Jesslyn."
-
__ADS_1
Bersambung.