
Setelah memarkir mobil sport mewahnya, Jordan, Luna dan Martin beriringan memasuki Black Royal Bar. Karena di dalam sana teman-teman mereka sudah menunggu.
Tidak sulit untuk Jordan dan Martin menemukan ruangan itu, karena mereka sering berkumpul di bar milik keluarga Ren, dan hanya ada satu ruangan yang di jadikan markas Red Devil setiap malamnya. Satu ruangan khusus yang memang Ren siapkan untuk Gengnya tersebut.
Cklekkk .. !!
"MAO!!"
Hampir saja Luna terjengkang kebelakang karena ulah Tiffany yang memeluknya dengan tiba-tiba, Jordan pun segera bergabung dengan para pria. Sedangkan Martin langsung menghampiri Karin.
"Aku pikir kau tidak akan ikut, Mao."
"Mana mungkin si jelek itu menolak, jika pangeran esnya yang mengajak." Sahut Key lalu menyikut pelan perut sang Adonis "Bukankah begitu?"
"Hm," sahut Jordan dengan deheman.
"Berisik kau muka mayat." Luna menggerutu sambil menatap tajam Key. Key hanya tersenyum palsu menyikapi gerutuan Luna. Entah kenapa, dia seperti mendapatkan hiburan tersendiri saat menggoda Luna.
Baginya sekarang, Luna adalah adik kecil yang sangat menggemaskan. Ya, dia memang sudah menganggap Luna seperti adiknya. Dan menggodanya, adalah bukti Key menyayanginya. Dia sudah merelakan Luna bersama pria lain, asalkan melihatnya bahagia, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Luna mengamati penampilan para pria. Semua memiliki penampilan yang mirip dengan Jordan dan Martin. Ren dan Dean dengan jaket kulit, celana belel dan t-shirt yang berbeda warna. Key dengan pakaian lengan terbuka seperti Jordan, meskipun penampilan mereka serampangan, namun hal tersebut tak sedikitpun mengurangi ketampanan yang para pria itu miliki.
"Ketua, Key dan Ren berhasil menemukan lawan yang tangguh untukmu. Tapi sayang, 30 menit yang lalu. Dia membatalkannya setelah tau sia lawan yang akan Ia hadapi. Sangat di sayangkan, padahal semangat masa mudaku yang berkobar." Tiba-tiba seorang pria dengan pakaian super ketat mirip Bruce Lee datang dan menghampiri beberapa pria tampan tersebut.
"Oh,"
"Rusa, kenapa respon mu biasa saja mengetahui jika balapan itu di batalkan?" ucap Martin.
Jordan menoleh. "Lalu bagaimana lagi." Jawabnya acuh tak acuh.
"Padahal aku dan si pemalas ini sudah memasang taruhan besar. Tapi acaranya malah gagal." Ren mendengus sebal, dia merasa kesal karena rencananya untuk melihat si malas Dean hidup selama 1 Minggu tanpa rokok gagal total.
"Hahaha, itu karena Dewa Cinta bersamaku." Ucap Dean di iringi tawa renyah.
"Memangnya sejak kapan kau menganut ajaran sesat, Dean?" kaget Martin
"Seperti otaknya sedikit bergeser." Timpal Ren sambil meneguk wine nya.
__ADS_1
"Di pikir-pikir kau memang cocok bersaudara dengan, Reno." Imbuh Key.
"Sialan, siapa juga yang mau bersaudara dengan si sesat itu!" Desis Dean seraya mendelik, menatap teman-temannya tidak suka. Mereka mengangkat bahu acuh
"Jordan, aku dengar kau akan menggantikan David Gege, dan menjadi CEO di Tang group. Aku dengar kau juga akan menjadi ketua yang baru." Ucap Key, sontak saja Martin menoleh menatap Jordan tak percaya.
"Rusa, apa itu benar? Kenapa kau tidak memberi tahuku?" kaget Martin, dia menatap Jordan penuh selidik. Dia membutuhkan penjelasan.
Jordan menyandarkan punggungnya pada sofa, membuat tubuhnya serileks mungkin. "Tang group di sabotase oleh Jimmy dan antek-anteknya. Dia membuat dokumen palsu dan mengklaim jika saham 60% itu adalah miliknya. Selama ini tidak ada yang tau jika akulah pemilik saham itu, dia bekerja sama dengan dua tikus itu untuk menggulingkan posisi David dengan membuat laporan keuangan palsu."
"Untuk alasan itulah, aku memutuskan untuk mengambil alih Tang group dan memberi sedikit kejutan pada, Jimmy Tang. Dia akan segera tau dengan siapa ia berhadapan, aku bukanlah David yang bodoh dan selalu menganggap remeh sebuah masalah." Tutur Jordan panjang lebar.
"Apa pamanku terlibat?" Tanya Key. Jordan membuka matanya lalu mengangguk.
Jordan mengangguk. "Ya, dia adalah orang di balik masalah yang terjadi pada Tang group." Jordan menegaskan.
Tangan Key terkepal kuat, Ia benar-benar geram dengan masalah yang di timbulkan oleh Bryan. Meskipun Bryan adalah Pamannya, namun dia tidak pernah suka padanya.
"Aku akan membantumu." Ucap Key penuh keseriusan. Matanya berkilat penuh amarah.
Jordan menyeringai. "Mari kita beri sedikit kejutan untuk mereka bertiga." Tandasnya, Jordan menuang kembali wine ked alam gelasnya yang telah kosong."Mereka terlalu meremehkan, Tang."
"Ge, di mana toiletnya?" Luna bangkit dari duduknya, membuat Jordan yang duduk di sebelahnya mau tidak mau mendongak.
"Perlu aku antar?" Tawarnya.
Luna menggeleng. "Tidak perlu, aku pergi sendiri saja." Ucapnya.
"Aku akan ikut dengannya." Sahut Tiffany yang juga sudah berdiri dari duduknya.
"Baiklah, aku titip Luna padamu." Ucap Jordan,
Luna mencerut bibirnya. "Aku bukan anak kecil yang masih perlu dititipkan pada orang lain." Gerutunya.
Jika ini bukan tempat umum apalagi di depan teman-temannya, pasti Jordan sudah menyerang Luna dan melumatt habis bibir ranumnya. Sayangnya dia harus menahan diri karena sadar dengan posisinya saat ini.
"Jangan lama-lama." Pesan Jordan dan dibalas anggukan oleh Luna.
__ADS_1
xxx
"Chheeerrsss."
Empat orang, 3 pria dan seorang wanita tampak bersulang di ruangan mewah. Mereka adalah Jimmy, Bryan dan putranya serta Laura. Malam ini mereka berpesta untuk merayakan kemenangan Jimmy yang berhasil memegang kendali atas Tang group.
"Sudah kubilang, menyewa Aldo adalah keputusan yang sangat tepat." Kata Bryan bangga.
"Ya, dan tidak sedikit uang yang harus aku keluarkan untuk si licik itu." Sahut Jimmy.
"Tapi itu setimpal dengan kemenangan yang kau dapatkan bukan?" Imbuh Laura.
Bryan menyeringai, sebanyak apa pun uang yang keluarkan oleh Jimmy, itu tidak menjadi masalah. Toh bukan dia yang mengeluarkan uang, karena Bryan tak akan sudi mengeluarkan uang sepeser pun.
"Sayangnya, aku tidak berhasil meyakinkan bocah sialan itu. Jika dia mau mengeluarkan uangnya untuk hal ini, pasti ini akan lebih menguntungkan untuk kita." Gerutu Jimmy.
"Kau memang bukan manipulator yang handal, Paman." Cibir Laura.
"Itu karena bocah sialan itu lebih percaya pada David yang bodoh itu dari pada dirimu, apalagi dengan hubungan kalian yang tak pernah harmonis sama sekali. Terlebih lagi kau adalah dalang di balik kematian orang tuanya, ya meskipun aku ragu jika bocah sialan itu mengetahui jika kaulah pembunuh orang tua, Key." ujar Albert dengan seringai andalannya.
"Sudah tidak ada batu sandungan lagi untukku. Si tua Tang Yuan sudah tidak lagi berguna, sejak dia bersumpah tidak akan ikut campur dengan segala urusan Tang group. Dia tidak akan bisa ikut andil untuk menyelamatkan perusahaan tercintanya. Dan akulah bidaknya, sementara mereka adalah caturnya. Aku akan memainkan para catur seperti yang aku inginkan, dan David bodoh itu tidak akan memiliki keberanian untuk melawan pemilik saham terbesar." Tutur Jimmy panjang lebar.
"Lalu bagaimana dengan cucu bungsu Tang Yuan, apa kau yakin jika dia benar-benar tidak berbahaya?" Kini giliran Laura yang membuka suara.
Jimmy menyeringai. "Tentu saja." Jawabnya penuh keyakinan.
"Mengenai ucapan, pria itu. Apakah itu bisa di percaya? Aku dengar yang membuat anakmu babak belur adalah Jordan Tang, sampai-sampai Boy masuk rumah sakit dan mengalami patah tulang." Jimmy menatap Bryan dengan pandangan bertanya,
Dia mendesah panjang. "Ya, kabar itu benar, aku juga tidak tau bagaimana bocah itu bisa mengalahkan, Boy. Jelas-jelas dia adalah pemegang sabuk hitam." tuturnya
"Aku jadi meragukan jika si bungsu itu adalah orang yang bisa di remehkan, bagaimana jika dia tiba-tiba membuat kekacauan dan mempersulit kita?" Laura menatap ketiga pria itu dengan pandangan khawatir.
"Jika itu terjadi, langsung lenyapkan saja." Jawab Jimmy sambil mengepalkan tangannya.
"Yosh, sebaiknya sekarang kita bersulang lagi."
"Cheerrrsssss."
__ADS_1
xxx
Bersambung